Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Tak Punya Kesempatan
Rangga langsung terbangun dari tidurnya. Dia mendengus lega, karena semua itu hanya mimpi.
"Cuman mimpi..." gumamnya sambil mengelus dada. Lagi pula tidak mungkin Dita dan Astrid tiba-tiba muncul begitu saja dan menciumnya. Itu sangat absurd terjadi di kenyataan.
Rangga merubah posisi menjadi duduk. Lalu meminum tehnya yang sudah dingin. Dia melihat waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam.
"Astaga... Larut sekali," ujar Rangga.
"Sudah bangun ya?" tiba-tiba Astrid keluar dari kamar. Gilanya dia mengenakan gaun tidur yang persis seperti di dalam mimpi Rangga tadi.
"I-iya... Apa aku sudah lama tertidur?" tanya Rangga.
"Banget! Dari mulai pas aku pergi sampai pulang lagi ke sini. Kau masih tidur nyenyak. Capek banget ya jadi polisi?" jawab Astrid. Dia duduk ke sebelah Rangga.
Rangga menenggak salivanya satu kali dan memalingkan wajah. Sebab belahan dada Astrid tampak terpampang nyata, belum lagi pangkal pahanya yang putih dan mulus.
"Ya begitulah. Katanya sih aku yang terlalu bersemangat. Padahal aku hanya berusaha menangkap penjahat yang sebenarnya," jelas Rangga. Dia kini bergeser untuk menjaga jarak Dari Astrid. "Aku sebaiknya pulang sekarang," sambungnya.
Namun Astrid malah mendekat. Bahkan menggandeng lengan Rangga.
"Sudah larut sekali, Ga. Sebaiknya kau menginap saja," saran Astrid seraya mengelus paha Rangga. Jelas dia sedang melancarkan rayuannya.
"Nggak usah, aku pulang saja." Rangga berusaha menolak baik-baik.
"Kau yakin? Padahal burungmu kayaknya mau keluar sangkar tuh," tukas Astrid sambil menahan tawa.
Sontak Rangga langsung menatap aset pribadinya. Benar saja, benda tumpulnya itu sedang aktif. Terlihat jelas ada sesuatu yang mencuat dari dalam celana. Rangga menggigit bibir bawahnya. Dia yakin itu terjadi karena mimpinya tadi.
"Lupakan! Aku bisa mengurusnya sendiri!" kata Rangga dengan wajah memerah. Dia sigap melepas gandengan Astrid dan berdiri. "Aku pulang sekarang," pamitnya buru-buru.
Belum sempat Rangga meraih gagang pintu, Astrid mengejar dan memeluknya dari belakang. "Kau yakin nggak mau? Kau tahu sendiri bagaimana enaknya kan?" godanya.
Rangga mematung sembari menenggak ludahnya lagi. "Aku tahu... Tapi aku nggak seperti dulu lagi, Trid..." ucapnya.
"Kak Dita sudah lama meninggalkanmu. Apa kau masih mengharapkan cintanya? Padahal ada aku yang selalu ada di sisimu. Apa masih tak ada kesempatan sama sekali untukku?" sahut Astrid.
"Kemarin aku bertemu Kak Dita," ungkap Rangga.
Pelukan Astrid melonggar. Sampai akhirnya dia melepaskan Rangga. "Benarkah? Lalu?"
Rangga berbalik menghadap Astrid. "Aku merasa ada hal yang dia sembunyikan dariku. Dan aku akan mencari tahunya. Makasih tehnya. Aku pergi..."
Rangga pamit dan meninggalkan apartemen Astrid. Sementara Astrid berdiri mematung sambil menatap nanar kepergian Rangga.
Setelah selama bertahun-tahun, ternyata Astrid masih saja tidak bisa punya kesempatan untuk mengambil hati Rangga. Sungguh, jika mengingat itu hatinya terasa sakit seperti diremuk paksa.
Astrid duduk ke sofa sambil menangis. Tangisan itu di awali dengan pelan, sampai berubah menjadi raungan yang menyesakkan.
Astrid memegangi dadanya yang terasa berat. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia menangis begini karena Rangga. Cukup lama dia menangis begitu.
Namun tiba-tiba terdengar suara pintu balkon terbuka. Di iringi juga dengan langkah kaki. Refleks Astrid menoleh ke arah itu.
Mata Astrid membulat sempurna saat melihat sosok berpakaian serba hitam yang menutup wajah dengan masker dan topi. Tanpa harus berpikir lama, Astrid yakin sosok itu adalah penguntitnya yang selama ini mengganggu.
"Siapa kau, hah?!" tanya Astrid. Suasana hatinya sedang buruk sekarang, dan penguntit itu datang di waktu terlemahnya.
Sosok itu berdiri mematung sambil menatap Astrid dari ujung kaki hingga kepala. Sepertinya dia tergoda melihat Astrid mengenakan gaun tidur pendek.
Dari balik maskernya, sosok itu tersenyum miring. Dia melangkah cepat mendekati Astrid dan langsung mendorongnya sampai telentang ke sofa.
Sosok itu tidak mengatakan apapun. Namun jelas dia sedang berusaha menyentuh Astrid secara paksa. Dia tarik gaun yang dikenakan Astrid sampai robek.
"Hentikan! To--" Astrid tak sempat berteriak karena sosok itu membekap mulutnya kuat sekali. Astrid sampai dibuat kesulitan bernafas.
..._____...
*Hayooo... Siapa yang kemarin bilang Astrid bohong? 😆
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄