Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunci yang Hilang, Pertanyaan yang Menumpuk
[Gus Arya mengikuti Kang Resya ke ndalem barat. Sesampainya di sana, Gus Arya mempersilahkan Kang Resya masuk ke ndalem. Kang Resya duduk di ruang tamu, sementara Gus Arya mencari Bijel di kamar, namun tidak ada. Kemudian, ia melihat Bijel tidur di ruang keluarga, tepatnya di sofa panjang.]
Gus Arya: "Silakan masuk, Kang Resya. Maaf, agak berantakan."
Kang Resya: "Tidak apa-apa, Gus. Terima kasih sudah diizinkan masuk."
[Arya mengambil kunci mobilnya bijel yg diatas hp bijel. stelah ambil kuncinya ia serahkan ke kang Resya, Arya dan kang Resya ngobrol" ringan hingga Gus Arya tanya tentang kejadian bijel ke malang kok bisa kunci mobil ada di dia. kang Resya menceritakan tentang perdebatan panjang itu dan akhirnya Ning bijel lolos. kang Resya pamit ke ndalem lagi.]
[Gus Arya mengambil kunci mobil Bijel yang berada di atas HP Bijel. Setelah mengambil kunci tersebut, ia menyerahkannya kepada Kang Resya. Arya dan Kang Resya terlibat dalam obrolan ringan hingga Gus Arya menanyakan tentang kejadian Bijel pergi ke Malang, dan bagaimana bisa kunci mobil ada di Kang Resya. Kang Resya menceritakan tentang perdebatan panjang itu dan bagaimana akhirnya Ning Bijel bisa lolos. Setelah itu, Kang Resya pamit untuk kembali ke ndalem lagi.]
Gus Arya: (menyerahkan kunci mobil) "Ini, Kang, kuncinya. Terima kasih sudah mau mengantarkan."
Kang Resya: "Sama-sama, Gus. Saya jadi tidak enak karena sudah merepotkan."
Gus Arya: "Tidak apa-apa, Kang. Justru saya yang berterima kasih. Oh iya, Kang, boleh saya tanya sesuatu?"
Kang Resya: "Tentu, Gus. Ada apa?"
Gus Arya: "Bagaimana ceritanya Ning Bijel bisa sampai pergi ke Malang? Kok bisa kunci mobil ada di Kang Resya?"
[kang Resya menceritakan tentang perdebatan panjang itu dan akhirnya Ning bijel lolos]
Kang Resya: (menceritakan dengan detail) "Begini, Gus. Tadi sore, Ning Bijel datang ke ndalem tengah untuk mengambil kunci mobil. Saya tanya mau kemana, Ning Bijel cuma jawab ada urusan sebentar. Saya bilang, kondisi Ning Abigail kan belum sepenuhnya pulih, sebaiknya istirahat saja di ndalem. Tapi Ning Bijel malah marah-marah dan membentak saya. Dia bilang, bukan urusan saya dan meminta saya untuk segera memberikan kunci mobilnya.
Gus Arya: (menghela napas) "Ya Allah, nekat sekali Ning Bijel ini. Maaf ya, Kang, sudah merepotkan."
Kang Resya: "Tidak apa-apa, Gus. Saya cuma khawatir dengan kondisi Ning Bijel."
Gus Arya: "Terima kasih banyak, Kang Resya. Sudah, Kang, istirahat saja. Biar saya yang urus semuanya."
Kang Resya: "Baik, Gus. Kalau begitu, saya pamit dulu. Assalamualaikum."
Gus Arya: "Waalaikumsalam."
[Kang Resya pamit ke ndalem lagi.]
[Setelah Kang Resya pergi, Gus Arya kembali menatap Ning Bijel yang masih tertidur di sofa. Ia merasa semakin khawatir dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ning Bijel. Ia bertekad untuk mencari tahu semua rahasia yang disembunyikan oleh Ning Bijel.]
[Sore harinya Gus Arya bilang ke bijel kalau kunci mobil Bijel sudah diambil kang Resya dan sudah ada di ndalem tengah, dan kalau besok butuh harus izin dan kalau tidak boleh tidak boleh memaksa.]
[Sore harinya, setelah Ning Bijel bangun dari tidurnya, Gus Arya memberitahukan kepadanya bahwa kunci mobil Bijel sudah diambil oleh Kang Resya dan sudah berada di ndalem tengah. Ia juga mengingatkan Bijel bahwa jika besok membutuhkan mobil, ia harus izin terlebih dahulu dan jika tidak diperbolehkan, maka ia tidak boleh memaksa.]
Gus Arya: (dengan nada tenang) "Ning, sudah bangun? Ini saya buatkan teh hangat."
Ning Abigail: (dengan nada dingin) "Ngapain kamu di sini?"
Gus Arya: (dengan nada sabar) "Saya cuma mau menyampaikan sesuatu. Tadi Kang Resya datang ke sini untuk mengambil kunci mobil kamu."
Ning Abigail: (dengan nada kesal) "Kenapa diambil?! Itu kan mobil saya!"
Gus Arya: (dengan nada tegas) "Kunci mobil kamu sudah ada di ndalem tengah. Kalau besok kamu butuh mobil, kamu harus izin terlebih dahulu. Dan kalau tidak diperbolehkan, kamu tidak boleh memaksa."
Ning Abigail: (dengan nada marah) "Kamu siapa berani mengatur-atur saya?! Bukan urusanmu!"
Gus Arya: (dengan nada tenang namun tegas) "Saya hanya ingin mengingatkan kamu, Ning. Kamu baru saja sembuh dari sakit. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau ada apa-apa, saya yang akan susah."
Ning Abigail: (dengan nada sinis) "Saya tidak butuh bantuanmu! Pergi sana!"
[Ning Abigail memalingkan wajahnya dan memunggungi Gus Arya. Gus Arya menghela napas dan meletakkan teh hangat di meja samping sofa. Ia tahu bahwa Ning Abigail masih marah dan belum mau berbicara dengannya. Namun, ia tidak akan menyerah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ning Abigail.]
[Gus Arya keluar dari ndalem barat dengan perasaan campur aduk. Ia khawatir, cemas, penasaran, dan juga merasa bersalah karena belum bisa menjadi suami yang baik untuk Ning Abigail. Ia bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Ning Abigail dan membantunya mengatasi semua masalah yang sedang dihadapinya.]