Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
“Denyut jantungnya stabil.”
“Otaknya kembali bekerja,”
“Suster, tolong perbaiki infusnya.”
Samar-samar Karina mendengar suara beberapa orang saling bersahutan bersamaan dengan aroma obat yang menyusup masuk ke indera penciumannya.
Kelopak matanya yang sejak tadi tertutup bergerak-gerak pelan, membuka lalu menutup lagi, mengerjap-ngerjapkan pupilnya untuk menyesuaikan cahaya dengan cahaya lampu yang terang.
“A–aku dimana…?” Suaranya keluar serak dan lirih, nyaris berupa bisikan ketakutan.
Seorang dokter mendekat, wajahnya tenang. Dengan senter kecil di tangannya, ia memintanya tetap membuka mata. Cahaya singkat itu menyentuh pupil, berpindah dari satu mata ke mata lainnya, mengamati reaksi yang halus namun berarti. Di sekelilingnya, perawat mencatat dengan cepat, memastikan setiap respons tertangkap dengan benar.
“Dia sudah sadar sepenuhnya, perlahan kondisinya akan membaik.” Kata dokter tersebut. Setelah melakukan pemeriksaan, dia pun keluar diikuti seorang perawat. Sekarang hanya tinggal ia dan satu perawat dalam ruangan serba putih ini.
“Bu Karina, anda bisa istirahat kembali. Kalau butuh sesuatu anda bisa menekan tombol disamping ranjang.” Kata suster tersebut, lalu setelah tersenyum singkat diapun keluar.
Rumah sakit.
Ya, pasti ia sekarang berada di rumah sakit. Tapi siapa yang membawanya kemari? Apakah Hugo?
“Bagaimana perasaanmu sekarang?”
Karina menoleh, melebarkan matanya saat mendapati Hugo sudah berdiri di ambang pintu. Pria itu menutup pintu, lalu mendekat.
“Kamu yang membawamu ke rumah sakit?” Tanya Karina mengikuti pergerakan Hugo dengan matanya. Pria itu berhenti beberapa langkah darinya, matanya menatap Karina dengan tatapan misteriusnya.
Hugo mengangguk. “Ya, seseorang menemukanmu tergeletak penuh luka dekat pagar belakang. Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan, Karina? Ada banyak sekali luka memar sampai berdarah di tubuhmu.”
Pagar belakang? Tidak, ia tidak pingsan di halaman belakang. Ia ada di ruang bawah tanah, melihat Tasya yang di rantai dan juga menemukan ruangan penuh tengkorak. Ia pingsan karena melihat tengkorak-tengkorak tersebut.
“Aku nggak pingsan di halaman belakang, aku pingsan di ruang bawah tanah penuh tengkorak itu.” Ujar Karina.
“Ruang bawah tanah?” Hugo tertawa keras seolah baru saja mendengar sesuatu yang lucu atau… tidak masuk akal. “Nggak ada ruang bawah tanah di rumahku, kamu pasti berhalusinasi.”
Dahi Karina mengerinyit, dengan hati-hati menyibak selimutnya untuk melihat lututnya. Ia ingat ada luka berdarah di bawah lutut tersebut, jika semua yang ia lihat itu hanyalah halusinasi maka luka itu tidak akan ada.
Namun saat menyibakkan selimut, perhatiannya teralihkan pada secarik kertas yang tergeletak setengah terhimpit oleh pahanya.
“Istirahatlah, jangan terlalu banyak berpikir.” Kata Hugo mengusap lembut rambut Karina, setelah tersenyum tipis Hugo pergi.
Suara pintu yang ditutup pelan membuat Karina menghela nafas lega, segera ia ambil secarik kertas itu.
Oh, ternyata itu bukan secarik kertas melainkan sebuah foto. Foto yang ia ingat sekali ia temukan dalam peti kecil. Foto perempuan yang mirip dirinya.
“Tunggu… aku menggenggam foto ini saat aku pergi, aku tidak memasukkan ke dalam peti itu. Kalau foto itu ada disini, ruang bawah tanah atau apapun yang aku lihat saat itu bukanlah halusinasi.” Gumam Karina.
Karina turun dari ranjang, badannya masih terasa sakit namun ia tidak peduli. Ia harus pergi, karena inilah satu-satunya kesempatan untuk kabur dari Hugo.
Sambil menahan nafas, tangannya meraih selang infus yang menempel di pergelangan tangannya. Setiap tarikan terasa sakit, tapi ia menahan suara yang ingin keluar. Jarum itu akhirnya lepas, meninggalkan bekas merah yang membuatnya meringis sejenak. Namun rasa sakit itu tak seberapa dibandingkan dengan rasa lega yang mulai menyebar di dadanya.
Ia menahan tubuh yang terasa lemah, dan melangkah menuju pintu. Setiap langkah adalah pertaruhan, tapi hatinya berteriak lebih keras bahwa kebebasan lebih penting daripada kenyamanan yang palsu. Ia menatap ruang itu untuk terakhir kali, lalu membuka pintu.
“Semoga Hugo nggak ada di luar,” gumam Karina menutup pintu dibelakangnya hati-hati. Ia menyusuri lorong rumah sakit yang ramai.
Saat dua orang suster melihat kearahnya dengan tatapan curiga, Karina dengan cepat berbelok ke arah taman.
Ia duduk di salah satu bangku taman, menatap kearah atap gedung rumah sakit. Langit diatas cakrawala agak mendung, awan kelabu membentang sejauh mata memandang.
Ia tatap lagi foto di tangannya, foto yang membuatnya meyakinkan diri berkali-kali bahwa itu bukan dirinya.
Namun, sekuat apapun ia mencoba menyangkal, ada bagian dari perasaannya yang merasa begitu akrab dengan sosok dalam foto itu.
"Duh... Karin, kamu mikirin apa sih? Nggak mungkin ini foto kamu," Karina menggeleng sambil memasukkan foto tersebut ke dalam saku baju. Ia berdiri lagi dan kali ini berjalan cepat menuju pintu gerbang rumah sakit.
Karina menghela nafas lega, akhirnya ia keluar dari rumah sakit tersebut. Sekarang ia hanya perlu mencari taksi atau apapun namanya itu yang bisa membawanya pergi ke apartemennya. Ia akan mengemasi barang-barangnya lalu pulang ke desa. Ia akan bersembunyi disana untuk sementara waktu.
Tidak lama kemudian taksi berhenti di depannya, Karina segera masuk. "Ke apartemen Bougenville ya pak," katanya duduk di kursi penumpang.
Supir itu hanya mengangguk.
Karina menyandarkan punggungnya, menatap keluar jendela namun tak berselang lama hidung mencium aroma diffuser yang begitu kuat sehingga membuat perutnya bergolak mual.
"Maaf, pak, diffusernya bisa di simpan aja nggak pak? Saya mual." Pinta Karina lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, mencegahnya memuntahkan isi perut disini.
"Kalau mual ada kantong yang diletakkan disamping, kamu bisa gunakan itu." Kata supir dengan suara teredam.
"Tapi..." Karina yang sudah tidak tahan pun mengambil kantong kresek hitam, "Hoek... Hoek..." Lalu memuntahkan isi perutnya ke dalam kantong tersebut.
Tetapi saat tak sengaja menatap lebih lama ke dalam kantong tersebut, matanya seketika melotot. Bukan makanan yang ia muntahkan melainkan gumpalan-gumpalan darah yang setengah membeku.
"Aaaa...." Tangan Karina gemetaran, membawa sebelah tangannya ke mulut. Ia mengusap mulutnya yang agak basah oleh bekas muntahan.
Ia menatap telapak tangannya dan melihat ada darah disana. Itu artinya, ia benar-benar muntah darah.
...***...
...like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor