{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pernikahan ~
"Benar-benar Sial, Kenapa dia masih saja memaksaku."Batin Malia yang merasa kesal sendiri,jika bukan Mama Valia yang bercerita tak mungkin dia mengetahui semuanya.
"Aku tidak mau." Malia tetap saja menolak.
"Baiklah jika kamu tetap menolak,tapi ingat bagaimana reaksi ibumu nanti setelah beliau mengetahui kejadian dimalam itu.Apa beliau tetap menolak atau menerima pertanggung jawabku." Dio sengaja mengancam Malia dengan caranya.
"Kenapa malah balik mengancam saya, seharusnya saya yang marah dengan apa yang Bapak lakukan pada saya."Malia terlihat begitu marah besar.
"Aku hanya menolong, aku juga hanya ingin bertanggung jawab.Jika kamu tetap menolak,aku bisa mengatakan hal itu pada ibumu.Bahkan niatku baik bertanggung jawab padamu, sayang."Dio memakai cara itu agar dia bersedia menjadi istrinya,hanya dengan cara itu dia akan berhasil memiliki wanita itu.
Malia mulai bimbang setelah secara langsung pria itu mengancam dengan cara itu.
"Bagaimana, apa masih berani menolak ku?" Dio balik bertanya pada Malia yang ternyata dibalas dengan tatapan kesal dari Malia.
"DASAR PEMAKSA!" Teriak Malia yang sudah habis kesabarannya,Dio hanya tersenyum melihat ekspresi wajah marah calon istrinya itu.
"Jangan marah begitu sayang."Dio masih santai menjawab, Malia sudah terpojok dengan ancaman yang pria itu katakan.
Beberapa jam kemudian
Akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan mereka, situasi dibuat tanpa asri dengan halaman luas beserta beberapa mainan yang ada di taman. Tepat di depan pintu berdirilah seorang wanita yang saat itu sedang mengawasi beberapa anak kecil di taman.
Malia yang melihat dari dalam mobil secara langsung keluar dari mobil,"Malia." Namanya pun dipanggil oleh wanita paruh baya itu.
"Ibu." Malia berjalan mendekati ibunya, hingga keduanya saling berpelukan.
"Malia, bagaimana kabarmu?" Tanya Ibunya yang begitu merindukan kehadiran putrinya.
"Malia baik-baik saja,Bu."jawab Malia dengan senyuman, seketika pandangan teralihkan pada rombongan orang-orang yang ada di tempat itu.
"Siapa mereka?" Tanya Ibunya pada Malia.
"M-mereka."belum sempat melanjutkan, tiba-tiba saja dari salah satu mereka maju memperkenalkan diri.
"Perkenalkan Saya tuan Fahril dan ini istri saya dan putra kami Dio." Tuan Fahril langsung mengenalkan pada ibunya Malia.
"Oh tuan Fahril, silakan masuk tuan." Akhirnya mereka semua berkumpul diruang tamu berserta beberapa seserahan yang sudah disiapkan.
"Maaf tuan Fahril,Perkenalkan nama saya Ibu Nina ibunya Malia.Ini ada apa,kenapa tuan membawa barang seserahan di tempat ini?" Pertanyaan besar yang ada dipikiran Ibu Nina.
"Kebetulan ada sesuatu hal yang penting yang ingin saya sampaikan pada Ibu." Tuan Fahril menjelaskan secara detail tentang rencana kedatangan mereka semua.Ibu Nona sebenarnya kaget mendengar tujuan mereka semua.
"Bagaimana,apa Ibu Nina setuju?" Tanya tuan Fahril pada Ibu Nina.
"Jujur saya kaget,tapi saya juga bingung semua keputusan ada ditangan putri saya."ucap Ibu Nina yang melirik kearah putrinya.
"Bagaimana,Nak.Apa kamu bersedia menerima lamaran ini?" Tanya Ibu Nina pada putrinya yang sedari tadi terdiam.
Dio diam-diam melirik kearah Malia,dan Malia paham dirinya terus diawasi."Bagaimana ini,pria itu terus mengancamku." Batin Malia yang terdiam ,dia harus berbuat apa.
"Malia." Ibu Nina bertanya lagi.
"Iya Bu,Malia menerimanya." Jawab Malia yang langsung disambut gembira Mama Valia.
Semua orang diruangan itu terlihat begitu bahagia."Akhirnya kita punya mantu ,Pa." Bisik mama Valia dengan suara lirih.
Tuan Fahril hanya tersenyum melihat keluarga begitu bahagia."Terimakasih, sudah menerima putra Mama,sayang." Mama Valia tak bisa menahan rasa bahagia.
Begitu juga dengan Dio,yang kini semakin bahagia akhirnya perjuangan dia tidak Sia-sia.
"Sesuai kesepakatan,saya ingin secepatnya Malia dan putra saya Dio segera cepat menikah.Semua kebutuhan acara nantinya kami yang mengurus." Mendengar permintaan itu,Malia terlihat semakin bingung begitu juga dengan Ibu Nina yang sama kebingungan dengan keinginan mereka.
"Apa tidak terlalu buru-buru Nyonya?" Tanya Ibu Nina.
"Tidak, karena semuanya sudah kami persiapkan dari mahar ada .Bahkan putra saya pun akan memberikan mahar uang 1 milyar untuk pernikahan ini." Mama Valia sengaja memberikan kode pada putranya.
Ibu Nina seketika kaget dengan mahar yang beliau berikan,"Apa 1 milyar."Batin Ibu Nina tak percaya begitu juga.
"Bagaimana,apa Anda setuju?" Tanya Mama Valia pada Ibu Nina.
"Saya tidak bisa menjawab,semuanya akan saya kembalikan pada Malia." Malia hanya terdiam.
"Bagaimana,Malia?" Tanya Ibu Nina yang mengembalikan semuanya pada putrinya.
"Malia hanya bisa mengikuti apa perintah Ibu" Pada akhirnya Malia mengalah,dan langsung dibalas respon mama Valia dengan anggukkan kepala.
"Bagaimana jika 1 Minggu?" Ibu Nina dan Malia semakin terkejut.
"Apa 1 Minggu,apa tidak terlalu buru-buru Nyonya.Apalagi semuanya belum kami persiapkan." Ibu Nina mulai protes dan tak mungkin dalam 1 Minggu selesai.
Mama Valia menjelaskan semua, hingga dari mereka hanya saling melirik.
"Sesuai yang tadi saya katakan,semuanya sudah saya siapkan.Ibu Nina tak perlu khawatir tentang hal itu." Ibu Nina hanya menganggukkan kepala mengerti arahan dari beliau.
"Baiklah,saya mengerti." Tiba-tiba saja Ibu Nina menggenggam tangan putrinya, setelah pembicaraan mereka selesai kini giliran Ibu Nina berbicara empat mata dengan putrinya.
"Malia." Ibu Nina menyapa putrinya.
"Jika itu keputusanmu ibu hanya bisa mengikuti keinginanmu,semoga saja kamu bahagia." Ucap ibu Nina yang begitu bahagia akhirnya putrinya menemui seseorang yang menyayangi dirinya,keduanya saling berpelukan.
"Terimakasih atas kasih sayang yang ibu berikan." Malia menangis terharu pengorbanan dan kasih sayang yang beliau berikan begitu besar.
Ibu Nina tersenyum sembari memeluk putrinya yang dia sayangi,semua pengorbanan yang beliau lakukan menumbuhkan besarnya kasih sayang yang beliau berikan.
Satu Minggu kemudian
Suasana pagi ini sangat cerah,nampak berdiri tegak sebuah dekor yang dihiasi cantik dengan bunga.Hari yang ditunggu akhirnya datang juga, seperti momen bahagia di pagi ini.
Terlihat wanita cantik berbalut gaun putih yang nampak indah dikenakan oleh wanita yang begitu cantik.
Malia begitu terlihat gugup, apalagi hari ini adalah hari sakral untuk kedua pengantin mengucapkan janji setia mereka.
"Ya Tuhan, sebentar lagi aku akan menjadi istri dari dosenku sendiri." Batin Malia yang diliputi rasa gelisah.
Tiba-tiba saja pintu terbuka yang langsung membuat Malia kaget dengan kehadiran ditempat itu.
"Nita."
"Malia." Nita datang mendekat Malia dengan ekspresi menangis.
"Kamu cantik sekali Malia." Nita tak bisa menahan tangisannya.
Malia yang melihatnya pun membalas dengan ekspresi kebingungan."Kenapa kamu menangis?" Tanya Malia pada Nita yang tak bisa menahan tangisannya.