Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Musuh dalam Selimut
Udara Jakarta yang gerah terasa semakin menyesakkan bagi Arlan. Setelah mendengar pengakuan Ibu Sarah, setiap wajah yang ia temui di kantor pusat Dirgantara Group kini tampak seperti topeng.
Jika benar ayah Maya dijebak untuk melindungi dokumen perusahaan, berarti ada seseorang di jajaran direksi—seseorang yang sangat dekat dengan ayahnya atau dirinya—yang memegang kendali atas semua kekacauan ini.
Arlan duduk di kursi kebesarannya, menatap layar komputer yang menampilkan aliran dana Yayasan Pelita Kasih. Sandra hanyalah pion kecil. Uang lima puluh juta yang dikirim ke Maya lima tahun lalu bukan berasal dari kantong pribadi Sandra, melainkan dari akun rahasia yang otorisasi tertingginya berada di tangan pamannya sendiri: Hendra Dirgantara.
Tok. Tok.
Maya masuk membawa segelas kopi dan beberapa berkas sketsa. Wajahnya tampak sedikit lebih segar setelah Ibunya dinyatakan boleh pulang minggu depan.
"Lan, kamu sudah menatap layar itu selama satu jam. Kopi ini akan dingin," ucap Maya sambil meletakkan gelas di meja.
Arlan menarik napas panjang, lalu meraih tangan Maya. Ia menatap mata wanita itu dengan intensitas yang berbeda. "May, kalau aku minta kamu pergi dari Jakarta sekarang juga demi keamananmu... apa kamu akan membenciku lagi?"
Maya mengerutkan kening. Ia menarik kursinya mendekat. "Setelah semua yang kita lalui, kamu masih mau memintaku lari? Ada apa, Lan? Apa yang Ibu katakan padamu di rumah sakit?"
Arlan terdiam sejenak. Ia tahu Maya berhak tahu, tapi ia juga takut membahayakan nyawa Maya lagi. "Ibumu bercerita soal dokumen itu. Dokumen yang dipegang ayahmu."
Maya mematung. Wajahnya seketika pucat pasi. "Ibu memberitahumu? Arlan, itu bahaya! Ayahku dipenjara karena itu, dan dia meninggal di sana untuk memastikan dokumen itu nggak jatuh ke tangan yang salah!"
"Dan sekarang aku tahu siapa yang menginginkannya, May," geram Arlan. "Hendra. Paman Hendra yang selama ini aku anggap sebagai mentor. Dia yang menjebak ayahmu, dia yang menyuruh Sandra menerormu, dan dia juga yang kemungkinan besar membakar rumah Dago untuk mencari sisa-sisa dokumen yang mungkin disembunyikan di sana."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.
Hendra Dirgantara masuk dengan senyum lebar yang terlihat sangat palsu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang mahal, tampak seperti pria tua yang bijaksana.
"Arlan! Keponakanku tersayang. Kudengar kamu membawa desainer cantikmu kembali ke kantor pusat? Kenapa tidak mengenalkannya pada Paman?" Hendra menatap Maya dengan pandangan yang membuat bulu kuduk Maya meremang.
Maya berusaha tetap tenang. Ia menunduk sopan. "Selamat siang, Pak Hendra."
"Ah, tidak perlu formal. Panggil saja Paman," Hendra berjalan mendekati meja Arlan, matanya melirik sekilas ke arah layar komputer yang belum sempat dimatikan Arlan. "Jadi, bagaimana progres renovasi rumah Dago? Sayang sekali terbakar, padahal Paman sangat suka sejarah rumah itu."
"Rumah itu akan dibangun kembali, Paman," sahut Arlan dingin. Tangannya di bawah meja mengepal kuat. "Bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Karena pondasinya sekarang bukan lagi kayu, tapi kebenaran."
Hendra tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan menusuk. "Kebenaran adalah barang mewah yang mahal harganya, Arlan. Terkadang, orang harus membayar dengan nyawa untuk mendapatkannya. Ya kan, Nona Maya?"
Maya merasakan ancaman terselubung dalam kalimat itu. Hendra tidak sedang berbasa-basi; dia sedang memberikan peringatan terakhir.
"Saya rasa saya sudah cukup membayar harganya selama lima tahun ini, Pak Hendra," balas Maya dengan suara yang tak terduga tegasnya.
Hendra menyipitkan mata. Suasana di ruangan itu menjadi sangat berat. Sebelum keadaan semakin panas, sekretaris Arlan masuk dengan terburu-buru.
"Pak Arlan, maaf mengganggu. Ada kiriman paket besar untuk Mbak Maya di lobi. Katanya dari 'orang masa lalu' di Hotel Braga."
Darah Maya mendadak seolah berhenti mengalir. Arlan langsung berdiri, melindungi Maya di belakang punggungnya. Hendra hanya tersenyum miring, lalu berbalik pergi tanpa pamit.
"Hati-hati dengan kiriman dari masa lalu, Arlan. Kadang mereka lebih meledak daripada yang kita duga," ucap Hendra sambil berlalu.
Arlan segera menarik Maya menuju lobi, diikuti oleh petugas keamanan. Di tengah lobi yang luas, terdapat sebuah kotak kayu besar yang dibungkus kain hitam. Saat petugas keamanan membukanya dengan hati-hati, bukan bom yang mereka temukan.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah brankas tua yang sudah berkarat, dengan sepucuk surat kecil di atasnya:
"Untuk putriku, Maya. Jika kamu membaca ini, berarti Arlan sudah menjadi tempatmu bersandar. Kunci brankas ini ada di dalam kalung yang selalu kamu pakai. Gunakan untuk menghancurkan iblis yang bersembunyi di balik nama Dirgantara."
Maya menyentuh kalung peraknya. Ia baru menyadari bahwa di dalam liontin kecil itu terdapat sebuah kunci mikro yang selama ini ia kira hanya hiasan.
Arlan memeluk bahu Maya yang gemetar. "Permainan baru saja dimulai, May. Dan kali ini, kita yang akan memegang kendalinya."
Namun, di sudut lobi, sesosok pria berpakaian kurir baru saja mematikan alat penyadapnya. Ia berbisik ke mikrofon kecil di kerahnya.
"Target sudah menerima brankasnya. Lakukan rencana sabotase di apartemen Maya malam ini."