Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Sang Pelindung Yang Pulang Awal
Malam Minggu biasanya menjadi kesempatan untuk berjalan-jalan bagi sebagian besar siswa SMA Kusuma Bangsa, namun tidak bagi penghuni ruang OSIS. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00, namun area lapangan utama sekolah justru terlihat lebih hidup dibanding saat jam istirahat siang tadi. Cahaya lampu tembak yang putih kebiruan membelah kegelapan malam, menyoroti kerangka besi panggung yang mulai berdiri tegak—tulang punggung bagi acara Pentas Seni yang sudah direncanakan berbulan-bulan.
Suara dentingan besi yang beradu dengan baut, deru mesin bor, hingga tawa receh Rayyan yang sesekali memecah keheningan malam menjadi simfoni tersendiri. Bau kayu triplek baru dan aroma kopi instan dari arah kantin kejujuran menyeruak di udara malam yang dingin. Di sudut panggung, anak-anak dekorasi sibuk dengan tumpukan kain satin dan cat semprot, sementara beberapa anggota inti OSIS terlihat serius menatap lembaran rundown di bawah cahaya temaram lampu koridor.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sosok Tari terlihat berdiri tegak di tengah lapangan. Jaket Hoodie-nya tersampir di bahu, matanya yang tajam menatap setiap sudut panggung dengan saksama, memastikan tidak ada satu pun baut yang longgar. Meski gurat lelah terlihat di wajahnya,sebagai sekretaris OSIS dan juga yang diamanahi oleh wakil ketua OSIS dia tetap tersenyum riang. Namun, sesekali pandangannya teralihkan ke arah ruangan OSIS yang terang namun bagi dirinya itu gelap, seolah ingatannya masih tertinggal pada bisikan misterius di koridor beberapa hari lalu. Malam itu, SMA Kusuma Bangsa bukan sekadar sekolah; ia adalah saksi bisu dari kerja keras, peluh, dan rahasia yang tersimpan di balik bayang-bayang panggung pentas seni.
Tari melangkah mendekati sisi kanan panggung, ujung sepatunya bergesekan dengan aspal lapangan yang dingin. Ia menepuk salah satu tiang penyangga besi dengan keras, memastikan kekokohannya.
"Pajar baut bagian bracing bawah jangan cuma dikencengin pake tangan!" teriak Tari, suaranya melengking tegas namun tetap terdengar bersahabat di tengah deru mesin bor. "Ambil kunci pas di kotak tools Raihan. Jangan sampe pas anak-anak dance besok, panggungnya malah ikut goyang itik!"
Pajar yang sedang berjongkok langsung mengacungkan jempol. "Siap, Bu Sekretaris! Galak amat, lagi pms ya?"
Tari hanya membalas dengan cibiran kecil sebelum beralih ke arah Raihan yang asyik bercanda dengan anak dekorasi. "Raihan stop ngeledek kain satinnya, mending kamu bantu angkat speaker ke sisi kiri. Lima menit lagi aku cek, kalau belum pindah, jatah kopi kamu aku kasih ke kucing kantor!"
"Ampun, Ri! Galaknya nular dari siapa sih? Perasaan Ramdan kalem-kalem aja," gerutu Raihan sambil nyengir, tapi tetap bergerak melakukan perintah Tari.
Tari kemudian memutar tubuh, matanya menangkap sosok Kak Arga yang masih berdiri kaku menatap rundown. Tari melangkah mendekat, sengaja mengeraskan suara langkah kakinya. Saat jarak mereka tinggal satu meter, Tari berhenti dan bersedekap.
"Kak Arga," panggilnya tenang namun penuh penekanan. Mending Kakak cek sound system bareng anak perkap, atau... Kakak mau aku siram air Yasin biar nggak 'mematung' terus di sini?"
Kak Arga terdiam sejenak, sebuah senyum tipis hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Kamu bawel juga ya kalau lagi kerja, Ri."
"Aku hanya menjalankan tugas biar nanti Ramdan datang semuanya sudah beres,aku gak mau bikin Ramdan kecewa" kata Tari
Tari langsung berbalik badan sebelum Kak Rian sempat membalas, meninggalkan sang Ketua OSIS yang kini menatap punggung sekretarisnya itu .
Di tengah suara bising mesin bor dan teriakan Raihan yang masih bergema, Tari kembali melangkah ke tengah lapangan. Matanya menyipit, menghitung jumlah lampu par-led yang sudah terpasang di trussing panggung. Namun, tepat saat lampu tembak di sisi kiri panggung berkedip karena masalah teknis, bulu kuduk Tari mendadak berdiri tegak.
Angin malam yang berhembus terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah yang pekat. Tari menoleh ke arah gerbang samping sekolah yang seharusnya sudah terkunci rapat. Di sana, di bawah bayang-bayang pohon beringin besar yang tak tersentuh cahaya lampu panggung, berdiri seorang sosok.
Sosok itu diam membeku. Seluruh tubuhnya tertutup pakaian serba hitam mulai dari hoodie yang menutupi kepala hingga celana kargo gelap. Hanya sepasang matanya yang terlihat memantulkan sisa cahaya lampu panggung, menatap lurus ke arah panggung... atau mungkin, menatap lurus ke arah Tari.
"Vin, Han.. itu siapa?" bisik Tari pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin.
Namun, baik Alvin maupun Raihan tidak mendengar. Mereka masih asyik dengan dunianya masing-masing. Sosok hitam itu mulai melangkah maju dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris tanpa suara langkah kaki di atas aspal. Setiap langkahnya seolah-olah membawa aura kegelapan yang membuat lampu panggung di sekitarnya terasa semakin redup.
Tari merasakan jantungnya berdegup kencang, Keberaniannya mulai error. Ia menoleh cepat ke arah Kak Arga yang masih berada di kejauhan, mencoba mencari perlindungan lewat tatapan mata, namun saat ia kembali menoleh ke arah gerbang, sosok berpakaian hitam itu sudah berpindah tempat, kini berdiri hanya beberapa meter di belakang Raihan yang sedang membelakanginya.
"Han! Di belakang kamu!" teriak Tari akhirnya, memecah keheningan mistis malam itu.
Teriakan Tari barusan bagaikan alarm darurat yang memutus semua aktivitas. Detik itu juga, Alvin menjatuhkan kunci pasnya, sementara Raihan melompat turun dari panggung dengan wajah yang tak lagi jenaka. Sosok serba hitam itu berhenti tepat di batas cahaya lampu panggung, berdiri kaku seperti patung yang mencuat dari kegelapan.
"Woy! Siapa lo?!" teriak Alvin, suaranya menggelegar menantang sunyi. Ia melangkah maju, diikuti oleh beberapa anak OSIS yang masih memegang pipa besi penyangga.
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya sedikit menundukkan kepala, membuat wajahnya semakin tenggelam di balik bayangan hoodie hitamnya yang lebar. Hawa dingin yang dibawa sosok itu seolah-olah membekukan suasana.
Kak Arga bergerak cepat. Ia menyingkirkan kerumunan anak OSIS dan berdiri paling depan, menghalangi pandangan sosok asing itu dari Tari. "Siswa sini? Atau orang luar?" tanya Kak Arga dengan suara rendah yang sarat akan otoritas. "Kalau ada urusan, bicara baik-baik. Tapi kalau cuma mau bikin rusuh, lo salah alamat."
Sosok itu justru terkekeh sebuah suara rendah yang terdengar seperti gesekan amplas. Ia melangkah satu langkah lebih maju, masuk ke dalam lingkaran cahaya.Alvin dan gengnya langsung memasang kuda-kuda, bersitegang. "Berhenti di situ atau kita paksa lo keluar!" ancam Alvin sambil mengacungkan pipa besi.
"Berani juga ya anak-anak OSIS sekarang," suara sosok itu terdengar berat, penuh nada meremehkan. "Ketua OSIS-nya ternyata lebih suka main aman di balik panggung daripada jaga wilayahnya sendiri."
"Maksud lo apa?!" Raihan mulai terpancing emosi. Suasana semakin panas. Udara seolah penuh dengan aliran listrik yang siap meledak kapan saja. Tari mencengkeram ujung hoodie-nya, matanya tak lepas menatap tangan sosok itu yang tersembunyi di balik saku jaket.
"Tahan, semuanya!" perintah Kak Arga tegas, tangannya memberi isyarat agar anak-anak tidak gegabah. Ia menatap lurus ke arah sosok hitam itu. "Buka penutup kepala lo. Jangan jadi pengecut di sekolah orang."
Sosok itu diam sejenak, membuat semua orang menahan napas. Ketegangan memuncak hingga ke titik didih saat tangannya perlahan bergerak menuju tepi hoodie-nya...
Udara malam yang tadinya membeku karena amarah, mendadak hening saat tangan sosok misterius itu bergerak perlahan. Ia melepas kacamata hitamnya lebih dulu, lalu menurunkan masker kain yang menutupi separuh wajahnya. Puncaknya, dengan gerakan satu tarikan pelan, ia menurunkan hoodie hitam yang sejak tadi menyembunyikan identitasnya.
Cahaya lampu tembak panggung langsung menerangi wajah seorang cowok dengan senyum miring yang sangat familiar.
"Ramdan?!" teriak Tari hampir bersamaan dengan Raihan.
Alvin yang tadinya sudah siap mengayunkan pipa besi langsung melongo, menjatuhkan senjatanya ke lapangan dengan bunyi klang yang nyaring. "Sialan! Lo mau mati ya ngerjain kita malem-malem begini?!"
Ramdan terkekeh, ia mengusap rambutnya yang sedikit acak-acakan akibat memakai penutup kepala terlalu lama. "Gue cuma mau ngetes, masih sigap nggak anak-anak OSIS Kusuma Bangsa kalau ada penyusup. Ternyata masih galak, ya?" matanya beralih, menatap Tari dengan binar jenaka yang hangat. "Hai, Ri. Aku datang lebih cepat dari yang di prediksikan .
Tari masih mematung, antara ingin memeluk karena lega atau ingin melempar Ramdan dengan tumpukan kain satin karena kesal. Namun, di sampingnya, suasana tidak lantas mencair sepenuhnya.
Kak Arga, Kak Anisa, dan kak Zahra masih mematung di tempat mereka syok ternyata yang datang malam malam itu adalah Ramdan
"Kok lo udah pulang? kan pengumuman hasil lomba besok?"Tanya kak Arga
" Pengumuman di hadiri sama pak Satria karena aku udah tidak tenang meninggalkan kalian dengan tugas yang bertumpuk " kata Ramdan
"Alah bilang aja kalau kamu kangen sama Tari pake alasan kerjaan lagi " kata Alvin
"Vin , fokus sama kerjaan jangan dulu bicarakan soal hati " kata Ramdan
" Ndan, kamu ih bikin aku takut tahu" kata Tari
"Jangan takut,Ri. Aku sekarang ada di samping kamu. Aku gak akan nge biarin siapapun sakitin kamu gak peduli siapapun itu orangnya,maka hadapilah aku " kata Ramdan
Angin malam di lapangan SMA Kusuma Bangsa semakin menusuk tulang, membuat beberapa siswi anggota dekorasi mulai mengeratkan jaket mereka sambil menggigil. Ramdan, yang baru saja meletakkan tas ranselnya, menyadari gurat pucat di wajah Tari. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat, menghalangi hembusan angin yang mengarah tepat ke arah gadis itu.
"Ri, dan kalian semua yang cewek, mending masuk ke ruang OSIS sekarang," ujar Ramdan dengan suara baritonnya yang tenang namun tak terbantahkan. "Urusan panggung biar gue, Alvin sama anak-anak cowok yang lanjutin. Di dalam lebih anget, ada pemanas air juga kalau kalian mau bikin teh."
Ramdan menatap Tari dengan tatapan yang sangat lembut, seolah hanya ada mereka berdua di tengah lapangan. "Masuk ya, Ri? Aku nggak mau 'Mentari'-ku makin redup gara-gara masuk angin."
YUK JANGAN LUPA KASIH JEMPOLNYA DAN KIRA - KIRA APA YANG AKAN TERJADI DI BAB BERIKUTNYA