Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Seburuk Itu
Abi menatap tajam wanita yang ada di depannya itu. Berani-beraninya wanita di depannya ini mengatainya lebih menakutkan dari setan. Sedang Zella terlihat sangat menyesali ucapannya, wajahnya meringis masam antara menyesal dan malu.
Zella langsung berdiri dan berlari kearah belakang kursi roda Abi. Dia mendorong kursi roda itu agar keluar dari kamarnya.
Pergerakan Zella yang tiba-tiba membuat Abi tak sempat meraih tuas rem kursi rodanya. "Hei! Kamu mau apakan saya!" seru Abi.
"Tidak baik laki-laki dan perempuan berduaan di kamar!"
"Kenapa takut sama setan?? Bukannya saya lebih menakutkan dari setan??" ucap Abi bernada kesal.
Tanpa menjawab pertanyaan Abi, Zella menutup pintu kamar itu, keduanya terpisah oleh daun pintu kamar tersebut.
"Maaf, saya tahu ini rumah Anda, tapi saya nggak nyaman berduaan dengan Anda." ucap Zella sopan.
Abi berulang kali membuka mulutnya untuk berkata, namun mendengar nada bicara Zella yang lebih sopan saat ini membuat lidahnya terasa kelu. "Am- Kamu sudah dikabari Anjani tentang rencana hari ini?"
Zella membuka perlahan daun pintu itu, dia hanya membuka sedikit celah pintu itu. "Sudah. Saya minta izin pada Anda untuk mengunjungi Ayah saya di rutan. Saya juga mungkin akan mengada-ngada cerita agar Ayah saya tak keberatan dengan rencana saya untuk menikah sebagai istri kedua."
"Bukankah pernikahan kita belum tentu terjadi??" ledek Abi.
"Itu urusan belakangan! Yang jelas saya ingin memulai skenario ini, lanjut atau tidak bukan urusan saya!"
"Kenapa kamu bisa begitu sopan dan lembut pada mama dan Rihana? Tapi kenapa kamu begitu judes sama saya?"
"Saya bersikap sebagaimana orang lain bersikap pada saya!"
"Maksud kamu, saya menyebalkan sebab itu kamu balas menyebalkan??" tanya Abi.
"Mana saya tahu, kan saya orang bukan kedelai!" balas Zella.
"Kamu??" Abi kembali kesal.
"Ada lagi yang mau di bahas? Soalnya saya mau bersiap!"
"Tidak ada. Itu saja. Saya hanya ingin katakan kemana saja kamu mau hari ini, kamu yang atur."
"Oke!" Zella langsung menutup rapat pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban Abi.
***
Pagi itu seakan diatur sedemikian rupa oleh Anjani dan Arumi. Mereka berdua sudah pergi entah kemana. Hingga di meja makan yang menikmati sarapan pagi saat ini hanya ada Abi dan Zella. Keduanya fokus pada piring mereka masing-masing. Membuat bi Fifi yang melayani mereka merasa kikuk.
Tanpa bicara keduanya fokus menikmati sarapan, hingga isi piring mereka bersih.
"Bagaimana saya membantu Anda masuk dan keluar mobil?" tanya Zella.
"Tak perlu dibantu. Mobil saya sudah dimodifikasi sedemikian nyaman buat disabilitas seperti saya."
"Oh oke." Zella mengangguk faham.
"Am ... yang nyetir siapa?" tanya Zella.
"Kamu!" jawab Abi santai.
"Aduh, saya nggak bisa baca maps sambil nyetir mobil, dan satu lagi, kalau mobilnya canggih sepertinya saya juga tak bisa."
"Ada Asisten kepercayaanku yang akan menyetir. Dia sudah menunggu di luar. Kamu tinggal sebut saja tujuan kamu kemana saja."
"Pertama saya mau beli makanan buat Ayah, lalu ke lapas--" Zella menahan perkataannya. Entah mengapa ada perasaan tak enak membawa Abi ke lapas menemui Ayahnya.
"Apa Anda keberatan mengunjungi lapas? Jika Anda keberatan, jalan-jalan kita ditunda dulu, rencana jalan-jalannya setelah saya membesuk Ayahku," usul Zella.
"Saya tidak keberatan. Bagus juga kan bisa mengenal Ayahmu."
"Permisi Tuan Abi. Mobilnya sudah siap, ada yang mau disiapkan lagi?" ucap seorang pemuda yang muncul tiba-tiba.
"Miko, perkenalkan ini Nyonya Zella, dan Zella perkenalkan itu Miko supir yang akan mengantar kita ketempat tujuan kita."
Zella menyapa sopan pemuda itu.
"Rute perjalanan kita kamu tanya saja sama wanita ini," jawab Abi.
Zella langsung mengatakan tujuannya hari ini. Supir pribadi Abi mendengarkan serius ucapan Zella. Perjalanan mereka pun di mulai, menelusuri jalanan sesuai arahan Zella. Kini mereka tiba di rutan tempat Ayah Zella ditahan.
"Permisi Nyonya Zella."
Merasa namanya dipanggil, Zella langsung menoleh. "Ada apa Miko?"
"Saya akan bantu mendaftar dulu, bisa sebutkan nama keluarga yang akan dikunjungi?" tanya Miko.
Zella merasa heran dengan pertanyaan Miko. Dia menoleh pada Abi menunggu respon laki-laki itu.
"Biar nanti kita langsung masuk ke ruang kunjungan. Pendaftaran di urus Miko dulu," terang Abi.
"Oh maaf. Saya jadi gagu karena saya terbiasa melakukan segalanya sendiri." Zella mengambil kertas dari dalam tasnya dan menulis nama Ayahnya di sana.
"Ini." Zella memberikan secarik kertas itu pada Miko.
Miko langsung turun dari mobil dan berlari menuju tempat pendaftaran tamu. Sedang di mobil tinggal Zella dan Abi.
"Sejak kecelakaan yang menimpaku dan membuat kedua kakiku lumpuh, sejak itu kesehatanku semakin buruk. Dulu melakukan perjalan jauh antar kota, provinsi, bahkan antar negara bagiku itu hal biasa. Sekarang ...." Abi menghela napasnya panjang, sambil menepuk pelan bagian lututnya, mengisyarat pada kelumpuhan yang dia alami.
"Sekarang sulit untukku melakukan perjalanan jauh atau berada lama di ruangan tak ber AC, sebab jika kepanasan saja aku bisa pingsan." lanjut Abi.
"Aku mengerti, ini sebabnya kita menunggu di mobil agar kamu tak terlalu lama berada diluar?"
Abi mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Zella. "Karena tak ada AC diruang tunggu, aku harus memperkecil waktu agar aku nggak drop."
"Aku takut perjalanan ini akan memperburuk kesehatanmu. Apa kita batalkan saja?" saran Zella.
"Tidak perlu. Kamu tinggal sebut saja ingin kemana, nanti Miko yang akan mencari tahu apakah tempat itu bisa lama aku kunjungi atau tidak."
Zella tidak menyangka keadaan Abi seburuk ini. Dirinya merasa bersalah karena baru tahu hal ini.
"Kau sangat menyayangi Ayahmu?" tanya Abi.
Zella menatap Abi penuh selidik. Entah pertanyaan Abi membuat Zella bingung harus menjawab apa.
"Aku bertanya padamu memakai bahasa kita, bukan bahasa luar. Apa kamu tidak mengerti pertanyaanku?" ucap Abi.
"Aku tak tahu harus menjawab pertanyaanmu dengan jawaban iya atau sangat! Karena aku tak tahu perbuatanku mencerminkan jawaban yang mana, iya aku sayang atau aku sangat menyayangi Ayahku."
"Menarik, sedalam itu rasa sayangmu pada Ayahmu?" Abi memasang mimik wajah serius.
"Ayahku sangat mencintaiku. Dia telah meninggalkan segala kebahagiaannya hanya untuk membahagiakanku. Melihat betapa besarnya cinta Ayahku padaku membuatku rela melakukan apa saja demi melindunginya. Menempati jawaban apa perasaanku ini?"
Abi teringat akan kedua anaknya. Seketika ada muncul harapan anaknya mau menyayanginya seperti anak-anak lain yang sangat mencintai Ayahnya. Tapi apakah ini mungkin? Sedang dirinya lama mengabaikan anaknya dan tak memberikan cinta pada dua anaknya. Permasalahan hidupnya membuatnya sengaja menyibukan dengan urusannya dan menghindari anak-anaknya.
"Aku akan melakukan apa saja demi Ayahku. Jadi aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaanmu, 'apakah aku sayang pada Ayahku?' Aku tak bisa menjawabnya." Zella membalas tatapan kosong Abi yang tersorot padanya.
"Menurutmu, apakah ini termasuk iya aku sayang pada Ayahku? Atau aku sangat sayang pada Ayahku?" tanya Zella pada Abi.
"Rasa sayang kalian tak bisa diwakilkan oleh kata-kata." Abi menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Berarti masa kecilmu selalu diratukan oleh Ayahmu, sehingga kamu sangat mencintai dia."
"Tidak." Zella menjawab dengan expresi dingin.
"Hah? Lalu?"
"Saat aku kecil aku tak mengenal sosok Ayah, hanya ada almarhumah Nenek yang menjagaku, dan jerih payah dari ibuku yang kami gunakan untuk kehidupan sehari-hari kami. Saat anak lain merasa nyamannya pelukan Ayah, sewaktu aku kecil aku tidak merasakan itu."
Abi heran melihat expresi Zella, wanita itu tetap tersenyum padahal dia menceritakan hal yang menyedihkan.
Zella menatap lembut kearah Abi. "Saat aku kecil bahu Ayahku terlalu keras untukku, tak bisa jadi bantalanku. Tapi saat aku dikecewakan laki-laki yang kucintai sepenuh hati, bahu Ayahku yang keras itu ternyata begitu kokoh untuk ku pijak, dia memang tak bisa memberikan bahu yang lembut sebagai tempat nyaman untukku bersandar, tapi dia memberikan bahunya yang keras itu untuk menjadi pijakanku naik meraih kebahagiaan baru."
Air mata Zella selalu terlepas jika mengingat momen pengkhianatan Akhsan padanya. Bukan tak memaafkan, tapi rasa sakit itu tak mudah hilang. Air matanya menetes bukan semata karena rasa sakit saja, tapi rasa haru pada semua keluarga yang berdiri teguh bersamanya, membantunya untuk bangkit, dan ini berhubungan langsung dengan Ayahnya yang paling besar perannya.
Mengingat semua perjuangan Ayahnya untuk dirinya dan Tifa, lalu mengingat keadaan Ayahnya saat ini, bagaimana air mata itu tak meluncur bebas?
Abi terpaku melihat wanita yang dia anggap sombong, angkuh dan judes itu terisak di depannya. Tangannya sedikit terangkat berniat mengapus air mata Zella, namun kesadaran yang tersisa menahan gerak tangan itu.