"Ma, Papa Anin masih hidup atau sudah pergi ke Sur_ga?" tanya bocah cantik bermata sayu yang kini berusia 5 tahun.
"Papa masih hidup, Nak."
"Papa tinggal di mana, Ma?"
"Papa selalu tinggal di dalam hati kita. Selamanya," jawab wanita bersurai panjang dengan warna hitam pekat, sepekat hidupnya usai pergi dari suaminya lima tahun yang lalu.
"Kenapa papa enggak mau tinggal sama kita, Ma? Apa papa gak sayang sama Anin karena cuma anak penyakitan? Jadi beban buat papa?" cecar Anindita Khalifa.
Air mata yang sejak tadi ditahan Kirana, akhirnya luruh dan membasahi pipinya. Buru-buru ia menyeka air matanya yang jatuh karena tak ingin sang putri melihat dirinya menangis.
Mendorong rasa sebah di hatinya dalam-dalam, Kirana berusaha tetap tersenyum di depan Anin.
Sekuat tenaga Kirana menahan tangisnya. Sungguh, ia tak ingin kehilangan Anin. Kirana hanya berharap sebuah keajaiban dari Tuhan agar putrinya itu sembuh dari penyakitnya.
Bagian dari Novel : Jodoh Di Tapal Batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Kelahiran Si Kembar
Kirana ditemukan oleh Dokter Hendrik dan Santi dalam kondisi pingsan di teras rumah. Mereka segera melakukan pertolongan pada Kirana dibantu oleh beberapa sekuriti komplek.
Dalam pekatnya malam, Kirana dibawa ke klinik bersalin milik Dokter Hendrik yang tak jauh dari komplek perumahan tersebut. Setibanya di sana, Kirana disuntik agar segera sadar.
"Kita bersiap operasi, Ki." Ujar Santi seraya menggenggam erat telapak tangan Kirana setelah wanita itu siuman.
"Lakukan," sahut Kirana dengan bibir bergetar dan masih sibuk mengatur nafasnya. Tubuhnya seakan terasa lemas sekali.
"Apa kamu gak hubungi suami atau keluargamu dulu?"
"Gak perlu," tolak Kirana.
Setelah mendapat teror ancaman tadi, Kirana banyak berpikir saat menunggu kedatangan Dokter Hendrik dan Santi ke rumahnya.
Kirana menduga ada seseorang yang sepertinya sengaja memfitnah dirinya berselingkuh. Mulai dari kedatangan petugas polisi Satrio Kuncoro ke rumahnya hingga membuat Aldo salah paham dengannya.
Lantas, Satrio Kuncoro yang mendadak kabur tak jelas setelah bertemu dengannya. Hingga kejadian sore tadi di mana ada wanita yang mengaku sebagai istri sah dari Satrio Kuncoro dan melabrak dirinya karena dituduh sebagai pela_kor dalam rumah tangga wanita itu. Fitnah keji.
Surat ancaman yang akhirnya membuat Kirana ketakutan. Dengan cepat sebelum melahirkan si kembar, ia memutuskan sebuah rencana tersendiri dalam hidupnya. Walaupun ia masih belum tau siapa pelaku dibalik itu semua.
Dokter Hendrik dan Santi cukup mengerti sedikit kondisi Kirana sebagai istri kedua Aldo. Hal itu didapatkan karena selama kehamilan Kirana, Aldo tak pernah mendampingi periksa.
Otomatis Dokter Hendrik dan Santi sempat bertanya pada Kirana. Akhirnya istri kedua Aldo itu pun buka suara. Namun hanya cerita sebatas luarnya saja tak sampai berlebihan.
Kirana masih menjaga nama baik sang suami di mata orang lain. Dokter Hendrik dan Santi pun akhirnya paham. Mereka berusaha bersikap profesional dan tidak mencampuri urusan rumah tangga yang terjadi antara Kirana, Aldo dan Hana.
Santi pun segera meminta tanda tangan Kirana sebelum proses operasi caesar dilakukan. Dokter Hendrik, Santi dan seorang perawat turut membantu Kirana dalam proses persalinan si kembar.
Tak butuh waktu lama, bayi kembar berjenis kela_min laki-laki dan perempuan lahir dengan selamat.
Oek...oek...oek...
Suara tangis si kembar yang baru saja keluar dari rahim Kirana, saling bersahutan. Tak ayal membuat Kirana meneteskan air matanya. Bahagia, terharu sekaligus sedih menyeruak di batinnya kala itu.
Namun, Kirana berusaha menanggalkan kesedihannya. Ia ingin tersenyum di depan kedua bayinya. Kirana tak mau jika si kembar tau bahwa ibunya sedang bersedih hati tanpa kehadiran ayah kandung mereka saat proses melahirkan mereka ke dunia ini.
"Selamat ya, Ki. Akhirnya kamu jadi seorang ibu," ucap Santi.
"Makasih banyak. Aku banyak utang budi sama kamu dan suamimu, San."
"Sudah tugas kami membantu. Sekali lagi selamat dan semoga berbahagia selalu bersama kedua malaikat kecilmu,"
"Aamiin..."
Setelah dibersihkan, Kirana memeluk dan menciumi si kembar secara bergantian dibantu Dokter Hendrik dan Santi.
"Assalammualaikum anak-anak mama. Doa mama, semoga kalian berdua rukun dan bahagia di mana pun berada. Jadi sur_ga di dunia dan akhirat untuk mama-papa. Aamiin..." bisik Kirana lirih di telinga si kembar.
☘️☘️
Tiga hari pasca melahirkan, Kirana mencoba untuk menghubungi Aldo dan Hana. Namun ponsel keduanya sulit dihubungi.
Akhirnya pada hari keempat, Kirana memaksakan dirinya untuk datang ke rumah Hana dengan menaiki taksi. Padahal tubuh Kirana sebenarnya belum pulih benar pasca operasi.
Si kembar sementara dititipkan pada Dokter Hendrik dan Santi ketika ia pergi.
"Apa Bik? Ke luar negeri?" Kirana sontak terkejut mendengar penuturan Bik Etty.
"Benar, Bu Kirana. Pak Aldo dan Bu Hana pergi ke luar negeri sejak tiga hari yang lalu. Pagi sekali Bu Hana telepon saya agar tinggal di sini untuk jaga rumah sampai mereka kembali,"
"Kenapa mendadak sekali perginya? Apa ada urusan penting ke sana?"
"Bu Hana cuma bilang mau pergi berobat ke Singapura. Mungkin Pak Aldo dan Bu Hana berencana program bayi tabung," ujar Bik Etty sekadar menebaknya saja.
"Yang lalu Hana bilang Aldo lagi ke luar pulau. Sekarang cepat sekali pergi ke luar negeri," keluh Kirana.
"Setahu saya Pak Aldo memang ada urusan ke luar pulau, Bu. Tapi sehari sebelum mereka pergi ke luar negeri, Bu Hana sempat hubungi bapak buat cepat pulang. Setelah itu, besok paginya Pak Aldo langsung menemani Bu Hana pergi berobat. Padahal sore hari sebelumnya Pak Aldo baru saja mendarat di Jakarta,"
Kirana akhirnya berpamitan pada Bik Etty dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih.
Saat di dalam taksi perjalanan pulang, Kirana mendapat telepon masuk dari Aisha.
"Halo, Sha."
"Hiks...hiks...hiks..."
"Sha, kenapa nangis?" desak Kirana yang terkejut karena hanya mendengar suara tangis Aisha tanpa ucapan apapun.
"Mbak,"
"Iya, aku di sini Sha. Ada apa?" Kirana mendadak cemas.
"Apa Mbak Kirana bisa pulang ke Malang hari ini juga?"
"Kenapa Sha? Apa penyakit ibu kambuh?"
"Lebih dari itu, Mbak. Hiks..."
"Ibu kenapa, Sha?"
"Aisha harap Mbak Kirana ikhlas. Hiks...hiks...hiks..."
"Ikhlas apa? Tolong jelaskan, Sha!" bentak Kirana secara refleks nada suaranya pun ikut naik.
Semua itu imbas dari rasa kekhawatiran yang mulai menggero_goti hati dan pikiran Kirana perihal kondisi ibunya. Bercampur menjadi satu dalam batin Kirana kala itu pasca melahirkan yang sungguh pelik dan mencekam.
Di mana sebenarnya juga masih meninggalkan sakit baik fisik dan jiwa Kirana sebagai wanita yang baru saja menyandang status sebagai seorang ibu. Namun tanpa suami yang mendampinginya. Sungguh nestapa.
"Ibu..."
Bersambung...
🍁🍁🍁
karna Bastian jatuh cinta PD kirana