NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Tatapan yang Tak Pernah Merendahkan

Hari-hari Alya di perusahaan Sultan Rahman berjalan lebih teratur dibanding hidupnya sebelumnya. Ia bangun pagi bukan karena bentakan atau ketakutan, melainkan karena tanggung jawab yang ia pilih sendiri. Setiap langkahnya menuju kantor kini terasa bermakna. Untuk pertama kalinya, ia bekerja bukan sebagai kewajiban tanpa penghargaan, tetapi sebagai jalan untuk memulihkan harga dirinya.

Alya dikenal sebagai pegawai yang tenang dan rapi. Ia tidak suka menonjolkan diri, tetapi hasil kerjanya selalu berbicara. Setiap laporan disusunnya dengan teliti, setiap arsip ditatanya dengan cermat. Kesalahan kecil pun jarang luput dari perhatiannya.

“Dia itu pendiam, tapi kalau kerja rapi sekali,” bisik salah satu rekan kerja.

Alya hanya tersenyum kecil jika mendengarnya. Ia tak ingin dipuji berlebihan. Pengalaman masa lalu mengajarkannya bahwa pujian yang salah tempat sering berujung luka.

Sementara itu, Sultan Rahman semakin sering memperhatikan Alya. Bukan sebagai atasan yang sekadar menilai kinerja, tetapi sebagai seorang pria yang mulai penasaran. Ia terbiasa melihat orang-orang yang bekerja dengan ambisi besar—menjilat, mencari muka, atau berlomba menarik perhatian. Namun Alya berbeda. Ia bekerja dengan ketulusan yang tenang, seolah tidak membutuhkan pengakuan siapa pun.

Suatu pagi, Sultan Rahman keluar dari ruangannya lebih awal. Ia berdiri di dekat meja Alya yang sedang sibuk menyusun dokumen.

“Kopi hitam, tanpa gula,” katanya tiba-tiba.

Alya terkejut, namun segera berdiri. “Baik, Pak.”

Beberapa menit kemudian, Alya kembali dengan secangkir kopi. Ia meletakkannya dengan hati-hati di meja Sultan Rahman.

“Terima kasih,” ucap Sultan Rahman.

Satu kata itu membuat Alya sedikit terdiam. Ia menatap Sultan Rahman sejenak, memastikan ia tidak salah dengar.

“Silakan duduk,” lanjut Sultan Rahman, menunjuk kursi di depannya.

Alya ragu. “Di sini, Pak?”

“Iya.”

Alya menurut. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tak terbiasa duduk berhadapan dengan atasan setinggi Sultan Rahman.

“Kamu tidak banyak bicara,” kata Sultan Rahman sambil mengaduk kopinya.

Alya tersenyum sopan. “Saya lebih nyaman bekerja, Pak.”

Sultan Rahman mengangguk pelan. “Itu bukan kelemahan.”

Kalimat itu membuat Alya tercekat. Dulu, ia sering disebut tidak pandai bicara, terlalu pendiam, dan tidak tahu cara menyenangkan orang. Kini, sifat yang sama justru dihargai.

“Kamu pernah bekerja di mana sebelumnya?” tanya Sultan Rahman.

Alya terdiam sejenak. “Saya… lebih banyak bekerja di rumah, Pak.”

Sultan Rahman menatapnya, seolah memahami bahwa ada cerita panjang di balik jawaban singkat itu. Ia tidak memaksa Alya menjelaskan lebih jauh.

“Kalau begitu, kamu belajar cepat,” katanya. “Saya jarang menemukan orang seperti kamu.”

Percakapan itu berakhir singkat, namun meninggalkan kesan mendalam di hati Alya. Ia kembali ke mejanya dengan pikiran yang sedikit bergetar. Ada sesuatu pada cara Sultan Rahman berbicara—tidak merendahkan, tidak menghakimi, dan tidak membuatnya merasa kecil.

Hari demi hari, komunikasi mereka semakin sering terjadi, meski tetap dalam batas profesional. Sultan Rahman kerap meminta Alya mengurus dokumen penting atau mendampinginya dalam rapat kecil. Setiap kali Alya menyampaikan pendapat, Sultan Rahman mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tidak ada kata “kamu hanya staf”. Tidak ada nada meremehkan.

Suatu sore, hujan turun deras. Karyawan satu per satu pulang, sementara Alya masih menyelesaikan pekerjaannya. Ketika ia menutup map terakhir, hari sudah gelap.

Ia keluar kantor dengan langkah cepat, namun hujan semakin lebat. Alya berdiri ragu di teras, memeluk tasnya.

“Belum pulang?”

Suara itu membuat Alya menoleh. Sultan Rahman berdiri beberapa langkah darinya, memegang payung.

“Hujannya deras, Pak,” jawab Alya pelan.

“Saya antar,” kata Sultan Rahman singkat.

Alya terkejut. “Tidak perlu, Pak. Saya bisa menunggu.”

Sultan Rahman menatapnya tegas, tapi lembut. “Sudah malam. Tidak aman.”

Alya akhirnya mengangguk. Di dalam mobil, suasana terasa hening namun tidak canggung. Hujan memukul kaca, menciptakan irama yang menenangkan.

“Kamu tinggal sendiri?” tanya Sultan Rahman tanpa menoleh.

“Iya, Pak.”

“Tidak ada keluarga?”

Alya menarik napas. “Ada… tapi saya sedang memilih sendiri.”

Jawaban itu jujur, meski samar. Sultan Rahman tidak mendesak.

“Kemandirian tidak selalu berarti kesepian,” katanya pelan.

Kalimat itu menembus hati Alya. Ia menatap ke luar jendela, menahan air mata yang hampir jatuh. Dulu, ia merasa sendirian meski dikelilingi keluarga suami. Kini, ia merasa dipahami oleh seseorang yang hampir tidak mengenalnya.

Mobil berhenti di depan kontrakan kecil Alya.

“Terima kasih, Pak,” ucap Alya tulus.

Sultan Rahman mengangguk. “Istirahatlah. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Alya turun dari mobil dengan langkah gemetar. Kata-kata itu sederhana, namun selama ini tak pernah ia dengar dari orang yang seharusnya paling peduli padanya.

Di dalam kamar, Alya duduk di tepi ranjang, memegang dadanya yang berdebar. Ia tahu perasaan ini berbahaya. Ia belum siap mencintai lagi. Luka masa lalu belum sepenuhnya sembuh.

Namun satu hal yang pasti—Sultan Rahman tidak pernah melihatnya seperti keluarga mantan suaminya dulu. Tidak sebagai pembantu. Tidak sebagai perempuan rendah. Melainkan sebagai manusia yang layak dihormati.

Sementara itu, di tempat lain, Arga berdiri di depan rumah orang tuanya dengan wajah muram. Sejak Alya pergi, rumah itu terasa lebih berisik namun kosong. Tidak ada lagi perempuan yang diam-diam memastikan segalanya berjalan rapi.

“Kenapa rumah berantakan begini?” gerutu Bu Ratna.

Arga terdiam. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perempuan yang dulu mereka rendahkan ternyata adalah penyangga rumah itu.

Namun semuanya sudah terlambat.

Di sudut kota, Alya menatap langit malam dari jendela kamarnya. Ia tidak tahu ke mana takdir akan membawanya. Tapi ia tahu satu hal—ia tidak akan pernah kembali menjadi perempuan yang diinjak harga dirinya.

Dan tanpa ia sadari, Sultan Rahman perlahan mulai menempati ruang di hatinya. Bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai seseorang yang mengajarkannya art yang dihargai.

Takdir mulai bergerak, perlahan tapi pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!