Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
“Nona, Tuan Edris memanggil Anda,” ujar Naya dengan suara sopan.
Wanita paruh baya itu menyambut Sisi begitu gadis itu kembali dari kantor. Sorot matanya tajam, seolah sudah tahu percakapan ini tidak akan berjalan baik.
Sisi menghela napas panjang.
“Baik, Naya,” jawabnya sambil menarik senyum palsu ke bibirnya.
Ia naik ke kamar untuk berganti pakaian. Gerakannya lambat, seakan tubuhnya menolak turun kembali. Namun, setelah selesai, Sisi tetap melangkah menuruni tangga. Dari kejauhan, matanya langsung menangkap sosok ayahnya yang duduk kaku di sofa ruang tamu, secangkir teh panas digenggam erat di tangannya. Di samping pria itu duduk istrinya, ibu tiri Sisi dengan wajah penuh perhitungan.
“Syukurlah kau sudah turun,” ucap ibu tirinya saat melihat Sisi mendekat.
Sisi tidak menjawab. Ia hanya duduk di sofa seberang mereka, punggungnya tegak, wajahnya dingin.
Atmosfer di ruangan itu terasa berat.
“Ada apa, Ayah?” tanyanya malas. “Aku masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Ayahnya menyeruput teh untuk terakhir kali sebelum meletakkan cangkir itu di meja tengah.
“Keluarga Alastor akan mengadakan pesta kencan buta,” katanya dengan nada serius. “Mereka mengundang seluruh wanita lajang dari keluarga bermarga terpandang untuk berpartisipasi. Tujuannya satu, menjadi istri keenam putra tunggal mereka, Lucien Alastor.”
Sisi tetap diam. Namun alisnya sedikit berkerut.
Istri keenam.
Hampir saja ia tertawa.
Ia bukan perempuan putus asa yang rela menawarkan diri pada pria yang pernikahannya selalu berakhir di meja perceraian. Lima kali gagal. Dan sekarang mencari yang keenam. Baginya itu terdengar lebih seperti kutukan daripada takdir.
Ia sempat bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada para mantan istri Lucien Alastor? Apa pria itu bermasalah? Atau justru berbahaya? Namun apa pun jawabannya, itu bukan urusannya. Tidak akan pernah menjadi urusannya.
“Untuk menghindari perceraian lagi, Lucien harus menikahi wanita dengan marga tertentu,” sambung ibu tirinya.
Sisi hanya mengangkat alis, jelas tidak terkesan.
“Lalu?” tanyanya singkat.
Keluarga Caldwell bukan urusannya, begitulah yang selalu mereka tekankan. Jadi mengapa sekarang ia diseret ke dalam pembicaraan ini?
“Perusahaan kita membutuhkan dukungan keluarga Alastor,” ucap ayahnya akhirnya.
Sisi tertawa kecil, hambar. “Aku tidak ada urusan dengan itu. Aku bahkan tidak mengenal keluarga Alastor. Jadi kenapa kalian menceritakan semua ini padaku?”
Firasat buruk mulai menyusup ke dadanya saat ayahnya terdiam terlalu lama.
“Aku ingin kau mengikuti pesta kencan buta itu, Sisi.”
Rahangnya hampir terjatuh.
Ia menatap ayahnya seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehat.
“Ayah bercanda?” Sisi tertawa, memaksakan nada ringan. Namun senyumnya runtuh ketika melihat dahi ayahnya berkerut.
“Tapi kenapa aku?” tanyanya, suaranya meninggi. “Kenapa bukan Selvara saja? Bukankah ini kesempatan sempurna baginya untuk mendapatkan pria miliarder?”
Nada menghina itu disengaja. Ia tidak peduli.
“KURANG AJAR!” ibu tirinya membentak.
Namun Sisi tidak gentar. Wanita itu tidak pernah berhak menegurnya. Seandainya saja sejak awal ia diperlakukan dengan layak sebagai anak, bukan gangguan, mungkin Sisi tidak akan tumbuh setajam ini.
“Kenyataan memang menyakitkan,” ucapnya ringan.
“Aku tidak bisa membiarkan Selvara ikut,” kata ayahnya tegas. “Aku tidak ingin dia menjadi janda atau perempuan yang diceraikan. Adikmu pantas mendapatkan pria yang lebih baik.”
Tawa pahit lolos dari bibir Sisi.
Adik.
Kata itu terasa asing.
Jika Selvara pantas mendapatkan yang terbaik, lalu bagaimana dengannya? Bukankah ia juga darah daging pria itu?
“Sebegitu pentingnya dia bagimu, Ayah?” Sisi berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Sebegitu besarnya cintamu sampai kau rela mengorbankan anak kandungmu sendiri? Demi perusahaan? Demi anak tiri kesayanganmu?”
Ia berhenti sejenak, dadanya naik turun.
“Kenapa tidak Selvara saja? Setidaknya keberadaan mereka di rumah ini ada gunanya--”
PLAK!
Tamparan itu mendarat keras di pipinya.
Sisi terdiam.
Rasa perih menjalar cepat, tapi yang lebih menyakitkan adalah dadanya yang terasa retak. Ia menatap ayahnya dengan mata kosong, tak percaya.
Ia memegang pipinya yang mulai membengkak.
“Beginikah caramu menyenangkanku, Ayah?” tanyanya lirih, tanpa sadar.
Ibu tirinya menatapnya penuh amarah. Ayahnya, pria yang selama ini ia hormati menatapnya dengan dingin.
“Sikapmu, Sisi!” bentak ayahnya.
Sisi tersenyum tipis. Senyum yang nyaris menyedihkan.
“Aku hanya bertanya,” katanya perlahan. “Sebegitu besarkah cintamu pada anak tiri itu sampai kau menempatkanku di posisi ini? Pria itu sudah lima kali bercerai. Bagaimana jika dia impoten? Ayah, jika Selvara pantas mendapatkan pria yang lebih baik… bagaimana denganku?”
Suaranya meninggi, hampir berteriak.
“Aku lebih pantas daripada Selvara!”
Tangannya mengepal kuat, kuku-kukunya menusuk telapak sendiri.
“Sisi, kau harus mengerti. Selvara tidak cocok untuk--"
“Jadi aku yang cocok untuk pria itu, begitu, Elowen?” potong Sisi tajam, menatap ibu tirinya dengan senyum sinis.