Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Pedas di Negeri Pasir
BAB 24: Pedas di Negeri Pasir
Dubai di bulan Februari 2026 adalah perpaduan antara panasnya gurun yang kering dan dinginnya pendingin ruangan dari gedung-gedung pencakar langit yang menembus awan. Nayla berdiri di depan aula megah Dubai World Trade Centre, tempat berlangsungnya Gulfood Expo, pameran kuliner paling bergengsi di dunia. Di tangannya, ia memegang kartu identitas bertuliskan: NAYLA – CEO MATAHARI FOOD (INDONESIA).
"Nay, besar sekali tempat ini. Apa ada yang mau melihat jualan kita di tengah kemewahan seperti ini?" bisik ibunya, tampak terintimidasi oleh paviliun-paviliun negara lain yang didekorasi dengan layar LED raksasa dan teknologi holografik.
Nayla membetulkan posisi pakaian batiknya yang modis namun tetap sopan. "Jangan takut, Bu. Kemewahan mereka itu buatan mesin. Rasa basreng kita itu buatan hati. Di tempat seperti ini, orang mencari sesuatu yang 'nyata'."
Paviliun Indonesia terletak di area strategis, dan booth Basreng Matahari berada tepat di barisan depan. Nayla telah menyiapkan segalanya. Ia tidak hanya membawa kaleng emas premiumnya, tetapi juga membawa cobek batu kecil sebagai alat peraga. Ia ingin menunjukkan bahwa meski produksinya kini menggunakan mesin, ruh bumbunya berasal dari teknik ulek tradisional.
Begitu pameran dibuka, ribuan pengunjung dari berbagai negara mulai membanjiri aula. Nayla melihat para pesaingnya dari Thailand, Vietnam, dan Tiongkok memamerkan camilan laut mereka dengan kemasan yang sangat futuristik. Awalnya, booth Nayla tampak sepi. Orang-orang hanya lewat, melirik sekilas ke arah kerupuk bakso goreng yang mereka anggap asing.
"Nay, sepi ya..." keluh ibunya pelan.
Nayla tidak tinggal diam. Ia ingat taktiknya di pasar dulu: jemput bola. Ia mengambil sebuah cobek, memasukkan cabai kering dan daun jeruk, lalu mulai menguleknya di depan orang banyak. Suara batu yang beradu dan aroma daun jeruk yang segar serta pedasnya cabai segera menyerbak di udara AC yang netral.
Beberapa orang mulai menoleh. Aroma itu sangat asing namun menggoda bagi lidah warga internasional. Seorang pria Arab berpakaian Thobe putih bersih mendekat, diikuti oleh beberapa rekannya.
"Apa yang kamu buat? Aromanya sangat tajam," tanya pria itu dalam bahasa Inggris.
Nayla tersenyum lebar, rasa gugupnya mendadak hilang saat bicara soal produknya. "This is Basreng, Sir. Traditional Indonesian fried fish cakes. The aroma comes from fresh lime leaves and authentic chili. Would you like to try the 'Sun-Stike' level?" Nayla menawarkan sampel di atas piring kecil yang tertata cantik.
Pria itu mencoba satu keping. Matanya membelalak. Rasa gurih ikan yang kuat berpadu dengan pedas yang meledak namun memiliki aroma jeruk yang segar membuatnya mengangguk-angguk cepat. "Amazing! It’s spicy, but very addictive. I’ve never tasted anything like this in Dubai!"
Dalam sekejap, suara ulekan Nayla menjadi magnet. Orang-orang mulai berkerumun. Nayla dengan lincah menjelaskan proses produksinya di tahun 2026 yang menggabungkan mesin otomatis dengan resep warisan. Ia bercerita tentang Ibu-ibu di desanya yang ikut berdaya melalui bisnis ini.
"Di Indonesia, kami menyebutnya 'Matahari'. Karena kami ingin setiap orang yang memakannya merasa hangat dan bersemangat seperti matahari pagi," ujar Nayla kepada seorang pembeli potensial dari jaringan ritel supermarket di Arab Saudi.
Siang itu, paviliun Indonesia menjadi salah satu yang paling ramai. Ibunya, yang tadinya takut, kini dengan bangga membantu membagikan brosur. Nayla bahkan sempat diwawancarai oleh jurnalis kuliner internasional yang tertarik pada kontras antara kemasan emasnya yang mewah dengan alat ulek batunya yang tradisional.
Namun, tantangan datang saat seorang investor dari India menanyakan soal kapasitas. "Kami butuh sepuluh kontainer per bulan untuk pasar Mumbai. Apakah usaha rumahanmu sanggup?" tanya pria itu dengan nada sedikit meremehkan.
Nayla menatap pria itu lurus-lurus. "Kami bukan lagi usaha rumahan, Sir. Kami adalah industri modern dengan standar audit A-minus dari ritel nasional Indonesia. Sepuluh kontainer adalah target kami selanjutnya, dan dengan dukungan teknologi yang kami miliki, kami siap menyuplai dunia."
Jawaban tegas Nayla membuat pria itu terdiam dan akhirnya memberikan kartu namanya. Nayla merasa takdirnya kini benar-benar telah meluas. Dari gang sempit di Garut, kini ia sedang bernegosiasi untuk pasar Mumbai di tengah kemegahan Dubai.
Malam harinya, di kamar hotelnya yang menghadap ke gedung Burj Khalifa, Nayla tidak langsung tidur.
"Hari ini saya belajar bahwa di panggung dunia, identitas adalah senjata terkuat kita. Jangan pernah malu dengan cobek batumu di tengah layar LED raksasa, karena kejujuran rasa akan selalu menemukan jalannya sendiri. Dubai telah mencicipi pedasnya Indonesia, dan ini barulah permulaan. Matahari tidak hanya terbit di timur, ia menyinari setiap sudut bumi yang berani membuka diri. Besok, pameran hari kedua menanti, dan saya siap membakar padang pasir ini dengan aroma daun jeruk kami."