NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemeriksaan Rutin

“Bianca, ayo kita pulang,"seru Clara sambil mencolek kaki temannya itu. Namun Bianca sudah terlampau mabuk berat. Sejak awal Clara sebenarnya tak ingin datang, tetapi ia tahu Bianca akan marah dan memusuhinya jika ditolak.

Pemandangan di hadapannya membuat Clara muak. Sejak tadi Alex terus menciumi Bianca tanpa tahu malu. Tangannya bahkan tak segan menjelajah tubuh wanita itu secara terang-terangan, seolah mereka berdua tak peduli dengan sekitar.

“Clara, kurasa lebih baik kau pulang saja,"ucap Bianca dengan suara melantur, kata-katanya tak lagi beraturan. “Aku ingin bersenang-senang dengan Alex.”

“Lalu untuk apa kau menyuruhku kemari?” tanya Clara kesal.

“Sudah, pergilah, Clara!" usir Bianca dingin. Ia kembali bermesraan dengan Alex, bahkan kini duduk di pangkuan pria itu, menekan wajah Alex ke dadanya tanpa rasa sungkan.

Tangan Clara mengepal kuat. Jika ia tahu akan berakhir seperti ini, ia tak akan mau datang hanya untuk menyaksikan dua sejoli itu bermesraan di depan matanya. Rasa kecewa dan kesal bercampur jadi satu. Dengan hati panas, Clara bangkit dari tempat duduknya.

“Jika terjadi sesuatu, urus dirimu sendiri," omelnya sambil menatap Bianca tajam. Ia pun pergi tanpa berpamitan pada pria yang merupakan asisten dari Alex.

Gairah Bianca terlihat kian tak terkendali setelah minuman yang ia teguk perlahan mulai bereaksi. Alex memperhatikannya dengan senyum tipis. Obat yang ia campurkan bekerja lebih cepat dari yang ia duga. Tubuh Bianca terasa panas, kepalanya sedikit pening, dan perasaannya kacau, seolah ada dorongan asing yang menguasai dirinya.

“Sayang… tolong sentuh aku,” pintanya lirih. Matanya memerah, napasnya tersengal, sementara tubuhnya bergerak gelisah, tak lagi mampu menyembunyikan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh dirinya.

Alex menahan senyum puas. Tanpa membuang waktu, ia memberi isyarat pada asistennya untuk menyiapkan mobil. Setelah tagihan dibayar, ia segera menggandeng Bianca pergi meninggalkan tempat itu. Membawanya menjauh, menuju rencana yang telah ia susun sejak awal.

"Sayang, kita sudah sampai," bisik Alex sambil merebahkan Bianca ke atas tempat tidur. Tubuhnya langsung terjatuh bersamaan dengan Alex. "Reaksi obatnya begitu cepat dan kuat" gumam nya dalam hati. Bianca sudah seperti ikan yang dipindahkan ke darat. Tubuhnya menggeliat sambil terus menciumi Alex.

Ibarat kucing diberi ikan mana mungkin menolak. Alex segera melepas seluruh baju nya begitupun Bianca. Kini keduanya sama-sama dalam keadaan polos. Merasakan langsung dari kulit ke kulit yang panas dan bergairah.

"Sayang, aku mohon" lirih Bianca. Di bawah sana rasanya sudah tidak dapat membendung hasrat yang membuncah. "Ah!" Bianca berteriak saat milik Alex itu memasuki milik nya. Desahan nakal keluar dari mulut keduanya. Atmosfer itu menjadi sangat panas dengan keringat yang membanjiri tubuh. Sial! Bianca sendiri bahkan mengumpat dalam hati. Ia kehilangan kendali malam ini.

Aroma cokelat yang bercampur dengan adonan lain membangunkan Lisa yang terlelap dari tidur nya. Perlahan mata nya yang terasa lengket itu membuka perlahan. "Uhm, seperti wangi aroma cokelat". Gumam nya sambil mengendus-endus.

Permainan panas semalam yang dilakukan berulang kali membuat Bianca dan Alex sama-sama kelelahan. Gorden tinggi masih tertutup rapat, sementara pendingin ruangan terus menyala, menciptakan udara dingin yang kontras dengan hangatnya tubuh di balik selimut tebal.

Dalam dekapan seorang pria di sampingnya, Bianca perlahan terbangun. Matanya menyapu ruangan yang terasa asing baginya.

“Hah?” Bianca tersentak saat menyadari ia tidur bersama Alex. Kenapa aku bisa berada di sini? umpatnya dalam hati. Rasa terkejutnya semakin menjadi ketika ia menyadari tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Ingatannya hanya berhenti pada saat Alex mengajaknya berkenalan di bar selebihnya kosong, seperti terhapus begitu saja.

“Ponselku” gumamnya pelan.

Dengan hati-hati, Bianca meraih tasnya dan mencari benda itu. Setelah layar ponsel menyala, pandangannya tertuju pada satu pesan yang belum terbaca dari Clara. Isi pesan itu membuat dadanya terasa sesak. Clara menuliskan kekecewaannya. Padahal dia sendiri yang menyuruh Bianca datang, namun setelah baru duduk sebentar, ia justru diusir tanpa penjelasan.

“Astaga, Clara maafkan aku, aku benar-benar tidak sadar semalam," bisik Bianca lirih, mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa ia terjatuh ke pelukan seorang pria yang baru dikenalnya, lalu terjerumus sejauh ini dalam satu malam yang bahkan tak mampu ia ingat dengan utuh.

Berbeda dengan Bianca, Elia dan Dave kini tengah bersiap untuk penerbangan mereka nanti malam. Elia mulai mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke dalam koper. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari internet, Maldives sedang memasuki musim kemarau. Karena itu, ia memutuskan untuk membawa pakaian berbahan ringan, adem, dan mudah menyerap keringat.

"Elia" seru Dave dari ambang pintu kamar.

“Iya?” sahut Elia sambil tetap melipat pakaian di tangannya.

“Tidak usah membawa terlalu banyak barang. Kalau ada yang kurang, kita bisa membelinya di sana,". jelas Dave dengan nada santai.

Elia tersenyum tipis. “Baiklah" jawabnya patuh.

Ya, Elia percaya suaminya memiliki cukup banyak uang. Ia tak perlu mengkhawatirkan kekurangan apa pun selama perjalanan nanti. Lagi pula, ini hanya liburan bukan pindah negara.

Di dalam bilik mandi, Bianca kini membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower. Air hangat mengalir menuruni kulitnya, seolah berusaha menghapus sisa-sisa kejadian semalam yang masih membekas di kepalanya.

Saat bercermin, matanya menangkap beberapa tanda kemerahan di bagian dadanya. Napasnya tertahan sesaat.

“Sialan!” gumamnya lirih. Ini semua karena Dave yang mengabaikan ku, umpatnya dalam hati, diiringi perasaan kesal, kecewa, dan sedikit penyesalan yang bercampur jadi satu.

Bianca mengakui dalam hati bahwa semua ini memang kesalahannya. Seandainya ia tidak merespons pria itu sejak awal, mungkin keadaan tak akan sejauh ini.

Keluar dari bilik mandi, Bianca mendapati Alex tengah menyesap kopi, matanya menikmati panorama kota Bangkok yang bermandikan cahaya pagi.

“Morning, honey," sapa Alex sambil merentangkan kedua tangannya, mengundang Bianca masuk ke dalam pelukannya.

“Aku baru saja selesai mandi,". ucap Bianca singkat, sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk.

Penolakan itu membuat Alex bangkit dari duduknya. Tanpa banyak peringatan, ia meraih pinggang ramping Bianca. Bianca tersentak, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan jika saja Alex tidak menahannya.

“Mulai malam tadi, kau milikku, Bianca,". ucap Alex rendah, disertai kecupan singkat di leher jenjang itu yang masih terasa dingin. Bianca meronta, namun pelukan Alex justru semakin mengerat.

“Alex, lepaskan!” lirihnya, berusaha melepaskan diri.

Gerakannya terhenti ketika Alex mengangkat black card tepat di depan wajahnya. Seketika Bianca teringat tujuan utamanya sejak awal berurusan dengan pria itu. Jangan sampai semua ini sia-sia atau lebih buruk, ia tertipu.

"Ambillah, sayang.”

Dengan tetap mempertahankan raut santai seolah tak terjadi apa-apa, Bianca meraih benda itu. Seketika kedua matanya membulat. Kartu hitam itu warna, logo, bahkan detailnya benar-benar sama seperti yang pernah Dave berikan padanya.

“Kau tidak akan memblokir kartu ini jika aku menggunakannya, kan?” tanya Bianca hati-hati. Ia tidak mau ini hanya akal-akalan Alex demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

Alex terkekeh rendah. “Sayang, kau pikir aku sedang menipumu?”

“Bisa saja. Kau hanya sedang bermain trik" balas Bianca datar, meski dadanya terasa mengencang.

Alex lalu membalikkan tubuh Bianca hingga kini mereka saling berhadapan. Tatapan pria itu menusuk, penuh keyakinan.

“Kau bebas menggunakan kartu ini. Belanja lah apa pun yang kau mau, barang mahal sekalipun" ucapnya, lalu mengecup bibir Bianca sekilas.

“Baik' jawab Bianca singkat. “Aku akan membuktikannya nanti.”

Saat Alex kembali mendekat, Bianca segera menahan dengan jemarinya. “Aku harus bersiap dan pulang,” ucapnya tegas sambil melepaskan diri dari pelukan itu.

Alex mengangkat alis, lalu tersenyum samar.

“Oh ya, semalam kau bilang tempat tinggal mu tidak jauh dari bar, bukan?”

Sial! Bianca mengumpat dalam hati. "Ini pasti karena semalam aku terlalu mabuk dan tanpa sadar menyebutkan alamat".

“Dan kau juga mengatakan" lanjut Alex santai, “kalau kekasihmu mengabaikan mu"

Astaga… Bianca kembali mengutuk dirinya sendiri. "Kenapa aku harus membuka semuanya pada orang asing?"

Pikiran Bianca melayang pada kejadian semalam. Ia heran begitu meneguk minuman yang Alex pesan, tubuhnya langsung dilanda sensasi aneh. Kepalanya ringan, penglihatannya sedikit berputar, seolah ia berada di batas antara sadar dan tidak.

"Semalam, kau mencampurkan apa ke dalam minumanku?” Bianca akhirnya tak mampu lagi menahan emosinya. Meski kartu hitam itu kini berada di tangannya, amarah dan ketidaknyamanan tetap mendidih di dadanya.

Alex terkekeh pelan. Ia bangkit, lalu melangkah mendekati Bianca yang duduk di tepi ranjang.

“Aku hanya menambahkan sesuatu yang membuatmu lebih menikmati malam itu,” ucapnya santai. “Agar kau lebih bersemangat"

Mata Bianca membulat. Dadanya terasa sesak, napasnya seolah tertahan. Ia paham betul maksud ucapan itu. Pria di hadapannya bukan hanya licik tapi juga berbahaya. Bianca sadar, ia harus berhati-hati memilih sikap.

“Kau curang"ucap Bianca dengan suara bergetar. Air mata mulai menggenang, bukan sepenuhnya karena sedih, melainkan karena peran yang sengaja ia mainkan. “Seharusnya kau tidak melakukan itu”

Ia ingin melihat reaksi Alex. Ingin tahu sejauh apa pria itu akan bersikap.

Alex mendengus ringan, seolah ucapan Bianca tak lebih dari keluhan kecil.

“Sayang, semua terjadi karena kita sama-sama mau” katanya tenang. “Aku sudah memberikan apa yang kau inginkan. Jadi menurutku, tidak ada yang dirugikan, bukan?”

Bianca kini mengerti bahwa ia sedang terjebak dalam sebuah pertukaran yang tak pernah benar-benar ia setujui sejak awal. Niatnya semula hanya menggoda Alex demi mendapatkan kartu hitam itu. Namun ia tak pernah menyangka semuanya akan melangkah sejauh ini, padahal mereka baru saling mengenal.

Tak ingin memperpanjang perdebatan, Bianca memilih diam. Ia berniat mengenakan kembali pakaian yang ia kenakan semalam, berusaha mengakhiri situasi canggung itu secepat mungkin.

“Jangan pakai baju itu lagi". ucap Alex tiba-tiba.

Nada suaranya terdengar datar, namun ada kesan posesif yang membuat gerakan Bianca terhenti. Ia menoleh, menatap Alex dengan sorot tak percaya.

“Lalu aku harus pulang mengenakan jubah hotel ini?” sindirnya dingin.

Alex hanya mengulas senyum tipis. “Asistenku sedang membelikan pakaian untukmu. Mungkin sebentar lagi sampai. Jadi tunggu saja.”

Tanpa menunggu tanggapan, Alex bangkit dari ranjang dan melangkah masuk ke bilik mandi. Suara pintu yang tertutup membuat ruangan itu kembali sunyi, menyisakan Bianca seorang diri dengan pikirannya.

Ia menghela napas panjang. Jemarinya menyentuh kartu hitam di genggamannya, seolah memastikan benda itu masih nyata. Bianca sadar, sejak detik ini, semuanya tidak lagi sesederhana rencana awalnya.

Yang ia hadapi bukan sekadar pria berduit, melainkan seseorang yang terbiasa mengatur dan tak suka kehilangan kendali.

Di sisi lain, Albert bersama tim medisnya tengah dalam perjalanan menuju Perusahaan Success Group. Sebelumnya, ia sempat menghubungi Dave untuk memastikan kehadirannya. Namun, temannya itu mengatakan bahwa ia tidak masuk kantor hari ini karena akan pergi berlibur.

Mobil masuk ke dalam halaman gedung perusahaan. Albert sedikit tercengang karena bangunan nya kini bertambah megah. "Wah, setelah sekian lama nya aku baru menginjakkan kaki ke perusahaan Dave" gumam nya dalam hati.

“Selamat pagi, Dokter" sapa Nick dengan sedikit canggung.

“Selamat pagi. Perkenalkan, saya Dokter Albert, pengganti Dokter Edward dari Bangkok Hospital" ujarnya sambil menjabat tangan Nick.

“Oh, kenalkan saya Nick, asisten Tuan Dave,” balasnya sopan. “Mari, Dok, saya akan menunjukkan ruangan pemeriksaan nanti.”

Nick kemudian berjalan lebih dulu, diikuti Dokter Albert bersama kurang lebih sepuluh perawat yang mengekori dari belakang.

Kabar mengenai kedatangan tim medis dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru perusahaan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh, termasuk pengambilan sampel darah.

Lea yang sejak kecil takut pada jarum suntik tampak semakin gelisah. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya dingin oleh keringat. Rasanya ia ingin menghilang saja dari gedung ini.

“Lea, kau sedang apa di sini?” tanya Kiki, salah satu rekan kerjanya, heran karena Lea tak kunjung kembali ke ruangan. Saat Kiki masuk ke toilet, ia mendapati Lea tengah berjongkok di depan wastafel, wajahnya pucat sambil menahan napas.

“Mereka sudah datang ya?” tanya Lea dengan deru napas yang tidak teratur.

Kiki mengernyit heran. “Mereka? Maksudmu siapa?”

“Tim medis yang akan memeriksa seluruh karyawan di sini” ungkapnya dengan nada sedikit gemetar.

“Oh, iya. Mereka sudah berada di ruangan yang disediakan untuk pemeriksaan. Kenapa?” tanya Kiki dengan tatapan menyelidik. Ia lalu terkejut melihat kondisi Lea. “Hei, wajahmu pucat. Kenapa? Kau sakit?!” Kiki refleks memegang kedua lengan Lea yang terasa sangat dingin.

“Tidak, aku tidak sakit. Aku hanya-”

“Hanya apa?”

Lea menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku hanya takut pada jarum suntik".

Kiki tertegun sejenak. Ia lalu cepat menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah. “Kupikir kau kenapa". ujarnya, masih berusaha menahan geli, perutnya terasa menggelitik melihat ekspresi Lea.

“Kau senang sekali melihatku ketakutan". ucap Lea lirih, sedikit cemberut.

“Maaf, maaf. Aku bukan menertawakan mu,” kata Kiki sambil mengangkat kedua tangan. “Tapi wajahmu memang terlihat lucu,"

Kiki memahami apa yang dirasakan Lea. Ia pun berusaha menenangkan rekan kerjanya yang tengah diliputi ketakutan. Dengan suara lembut, Kiki menceritakan sedikit pengalamannya dulu saat harus berhadapan dengan jarum suntik.

“Awalnya, aku juga merasa itu adalah hal yang paling menyakitkan,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Tapi kalau kita mencoba untuk tenang dan tidak melawan, rasa sakit itu akan jauh berkurang.”

Lea mengangkat kepala nya dan memandang Kiki. "Lalu, apa sekarang kau sudah tidak takut dengan jarum suntik lagi?"

Kiki menggelengkan kepala. "Yang paling menakutkan justru saat saldo di rekening kita habis". Ucapnya yang di iringi gelak tawa.

"Ayo, lebih baik sekarang kita ke bawah. Aku akan menemanimu saat pemeriksaan nanti" bujuk Kiki sambil menggenggam tangan Lea. Meski Kiki sudah berusaha menenangkan hatinya tetap saja Lea masih terbayang jarum tipis dan tajam itu menyentuh kulitnya.

Para karyawan satu persatu memasuki ruangan yang memang di buat untuk sebuah acara. Bau alkohol dan obat-obatan semakin membuat Lea tegang. Ia bahkan tidak melepaskan genggaman tangan nya pada Kiki.

"Lea, kamu kemana saja? Dari tadi saya hubungi. Cepat masuk kamu sudah di panggil sejak tadi" ucap Nick saat melihat Lea telah berada di luar ruang pemeriksaan.

"S-saya nanti saja, terakhir Tuan,"

"Lea, semakin cepat semakin baik. Jadi kamu bisa lanjut bekerja. Banyak hal yang harus kita bahas soal meeting kemarin" jelas Nick.

"Ayo Lea, biar ku temani" ucap Kiki memberi semangat

"Baiklah".

Sebelum masuk ke dalam ruangan pemeriksaan Lea di periksa terlebih dahulu tekanan darah nya. Dan hasilnya pun normal. Lanjut setelah itu ia di antar Kiki ke dalam menemui dokter.

"Ayo, kamu pasti bisa"

"Kau mau kemana? Temani aku" ucap Lea menahan Kiki hingga menjadi tontonan karyawan lain yang mengantre.

"Sudah ayo cepat masuk, ingat kau harus rileks. Ok!,"

Kiki mendorong Lea hingga wanita itu tak sengaja menabrak tubuh Albert yang hendak akan kembali ke meja nya setelah memeriksa karyawan sebelumnya. Mata dan mata pun saling memandang detak jantung yang berdegup tadi rasanya berkurang. Ada rasa hangat saat Albert menangkap tubuh Lea.

Albert berdeham. "Nona, anda baik-baik saja".

Namun mata Lea melotot saat melihat ukuran jarum yang begitu besar tepat di atas meja. Seketika ia pun jatuh pingsan.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!