NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: DIAM YANG BERBAHAYA

Kantor terlihat normal.

Terlalu normal.

Rapat berjalan seperti biasa. Laporan masuk sesuai jadwal. Tidak ada suara tinggi, tidak ada konflik terbuka.

Namun bagi Arlan, ketenangan seperti ini justru mencurigakan.

Ia berdiri di ruangannya, menatap layar monitor yang menampilkan sistem keamanan internal perusahaan. Grafik akses data bergerak stabil. Tidak ada lonjakan mencolok.

Dan justru itu masalahnya.

Orang yang ceroboh membuat kesalahan.

Orang yang cerdas menunggu.

“Aktifkan protokol pembatasan tingkat tiga,” ucapnya pada kepala IT melalui sambungan langsung.

“Level tiga, Pak? Itu cukup sensitif.”

“Lakukan.”

Beberapa detik kemudian, layar menampilkan folder baru.

Project Helios.

Nama yang sengaja dipilihnya pagi tadi.

File di dalamnya berisi rencana ekspansi fiktif—angka investasi besar, strategi akuisisi, dan jadwal rapat tertutup.

Semuanya palsu.

Namun dibuat terlalu detail untuk terlihat sebagai umpan.

“Batasi akses hanya untuk lingkaran eksekutif,” lanjut Arlan. “Dan catat setiap login sampai tingkat perangkat.”

“Baik, Pak.”

Sambungan terputus.

Arlan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Ia tidak akan mengejar.

Ia akan menunggu.

Di sisi lain lantai, Aira bekerja seperti biasa.

Terlalu biasa.

Tidak ada lagi pertanyaan kecil yang dulu ia ajukan pada Arlan tanpa ragu. Tidak ada lagi komentar ringan yang terkadang membuat suasana kaku mencair.

Kini setiap kalimatnya terdengar seperti laporan resmi.

“Pak, dokumen revisi sudah saya kirim ke email Anda.”

“Pak, jadwal sore dipindahkan ke pukul empat.”

“Pak, ini ringkasan audit terbaru.”

Tidak ada nada personal.

Tidak ada tatapan yang bertahan terlalu lama.

Arlan menyadarinya sejak pagi.

Dan itu lebih mengganggunya daripada yang ia perkirakan.

Saat Aira masuk membawa berkas siang itu, ia bahkan tidak menunggu perintah duduk.

Ia berdiri, menjelaskan poin-poin penting dengan suara stabil, lalu selesai.

“Jika tidak ada tambahan, saya permisi.”

“Duduk.”

Aira berhenti.

Lalu duduk perlahan.

Arlan menatapnya.

“Kau berubah.”

“Saya hanya bekerja sesuai posisi saya, Pak.”

Jawaban yang rapi.

Jawaban yang aman.

Dan sangat jauh dari perempuan yang dulu berani membantahnya dengan mata berkilat.

Arlan menyilangkan tangan.

“Apakah keputusan kemarin membuatmu tidak nyaman?”

“Tidak, Pak.”

“Kau yakin?”

Aira mengangkat wajahnya.

Tatapannya tenang.

Terlalu tenang.

“Saya belajar sesuatu kemarin,” katanya pelan. “Di tempat seperti ini, perasaan tidak ada nilainya. Jadi saya menyesuaikan diri.”

Kalimat itu sopan.

Tapi jelas.

Arlan merasakan sesuatu yang asing di dadanya.

Bukan marah.

Bukan tersinggung.

Tapi kehilangan kontrol atas sesuatu yang tidak bisa ia ukur dengan angka.

“Keluar,” katanya akhirnya.

Aira berdiri.

Tanpa melihatnya lagi.

Pukul 16.27.

Notifikasi pertama muncul di layar Arlan.

Access detected: Project Helios.

Ia tidak langsung bergerak.

Hanya menatap waktu login.

16.27.13

Perangkat internal.

Lantai tujuh.

Divisi kerja sama strategis.

Sudut bibirnya nyaris tak terlihat bergerak.

Umpan pertama disentuh.

Namun bukan itu yang ia tunggu.

Beberapa menit kemudian, notifikasi kedua muncul.

Access copied externally.

Kali ini melalui jaringan terenkripsi.

Jejaknya lebih halus.

Lebih hati-hati.

Arlan menekan tombol panggil.

“Kirimkan ID perangkat yang mengakses Helios pukul 16.27 dan 16.31. Lengkap dengan riwayat login minggu terakhir.”

“Siap, Pak.”

Ia berdiri.

Langkahnya tenang saat keluar dari ruangannya.

Di lorong, ia melihat Clarissa berbicara dengan salah satu manajer. Senyumnya tetap elegan.

Terlalu elegan.

Tatapan mereka bertemu.

“Rapat tadi cukup menarik,” ujar Clarissa ringan.

“Ya,” jawab Arlan singkat.

“Kamu terlihat sibuk akhir-akhir ini.”

“Aku selalu sibuk.”

Clarissa tersenyum tipis. “Semoga proyek barumu berjalan lancar.”

Arlan tidak bereaksi.

Hanya satu detik.

Namun cukup baginya untuk tahu—

dia menggigit.

Sementara itu, di meja kerjanya, Aira mencoba menenangkan pikirannya.

Ia tidak bodoh.

Ia tahu Arlan sedang bergerak.

Ia bisa merasakannya.

Atmosfer berubah sejak pagi.

Ada sesuatu yang sedang dipancing.

Dan entah kenapa, perasaan tidak nyaman itu kembali muncul.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari rumah sakit.

Kondisi ibu stabil hari ini.

Aira mengembuskan napas lega.

Setidaknya satu hal tidak berantakan.

Ia berdiri mengambil minum.

Namun saat kembali ke meja, kartu aksesnya tidak terdeteksi.

Bunyi bip pendek.

Merah.

Ia mencoba lagi.

Merah.

Beberapa rekan menoleh.

“Error mungkin,” salah satu dari mereka berkata canggung.

Aira memaksakan senyum kecil.

“Sepertinya begitu.”

Ia berjalan ke meja resepsionis internal.

“Sistem Anda aktif, Bu,” kata staf IT setelah mengecek cepat. “Tidak ada pemblokiran.”

“Tapi kartu saya—”

“Normal.”

Kata itu terasa ganjil.

Normal.

Namun tidak bisa digunakan.

Di ruangannya, Arlan menerima notifikasi lain.

Attempted access to personal ID routing.

Mata Arlan mengeras.

Seseorang tidak hanya mencoba mengambil data Helios.

Mereka mulai bermain dengan akses individu.

Dan nama yang muncul di sistem target—

Aira Senja.

Tangannya mengepal pelan.

Permainan ini mulai bergeser.

Bukan lagi hanya strategi bisnis.

Sore itu, Arlan memanggil Aira kembali.

“Kartu aksesmu bermasalah?” tanyanya datar.

“Ya, Pak. Tapi sudah dicek, sistem katanya normal.”

Arlan menatapnya beberapa detik.

“Mulai besok, gunakan akses khusus dari lantai eksekutif.”

Aira sedikit terkejut. “Tidak perlu, Pak. Saya bisa urus sendiri.”

“Itu perintah.”

Hening sejenak.

Aira menunduk tipis. “Baik.”

Namun saat ia hendak pergi, Arlan berkata tanpa melihatnya:

“Jangan pulang terlalu malam.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi bagi Aira—

itu bukan nada seorang atasan.

Ia tidak menjawab.

Hanya keluar.

Dan Arlan menyadari—

ia tidak lagi tahu bagaimana membaca diamnya Aira.

Pukul 21.03.

Laporan IT masuk lengkap.

ID perangkat yang menyalin Project Helios.

Terhubung dengan laptop yang terdaftar atas nama perusahaan Mahendra Holdings.

Arlan menutup layar perlahan.

Bukan terkejut.

Hanya memastikan.

Permainan ini resmi terbuka.

Namun sebelum ia sempat menyusun langkah berikutnya—

notifikasi lain muncul.

Personal data ping detected. Target device leaving corporate zone.

Target device.

Aira.

Dan ada perangkat lain yang mengikuti sinyalnya.

Arlan berdiri.

Matanya berubah.

Tenang.

Tapi sangat berbahaya.

Diamnya—

akhirnya bergerak.

DIAM YANG BERBAHAYA

Arlan tidak pernah bereaksi berlebihan.

Ia tidak panik. Tidak berteriak.

Ia hanya mengambil jasnya.

“Tracking real-time,” perintahnya singkat pada tim keamanan melalui sambungan langsung. “Device Aira Senja. Dan perangkat yang berada dalam radius 50 meter darinya.”

“Baik, Pak.”

Layar ponsel di tangannya menampilkan titik biru bergerak menjauh dari gedung.

Motor.

Itu yang terdeteksi sistem parkir otomatis beberapa menit lalu.

Tidak mencolok.

Helm hitam. Plat sebagian tertutup bayangan.

Arlan menyipitkan mata.

Kebetulan terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Di luar, angin malam Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya.

Aira berjalan menuju halte tak jauh dari kantor. Ia memilih tidak membawa mobil hari ini karena kepalanya terlalu penuh untuk menyetir.

Lampu jalan memantulkan bayangannya panjang di trotoar.

Ia tidak sadar bahwa di seberang jalan, sebuah motor hitam melaju pelan.

Mengikuti.

Jarak aman.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Aira baru menyadarinya setelah dua persimpangan.

Motor yang sama.

Lampu depan redup.

Helm gelap.

Ia mencoba mengabaikan.

Mungkin hanya arah yang sama.

Namun saat ia mempercepat langkah, motor itu ikut melambat.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia menoleh sekali lagi.

Motor itu tetap di sana.

Sunyi.

Mengikuti.

Di mobilnya, Arlan mengemudi dengan tenang.

Terlalu tenang.

“Radius 30 meter, Pak,” suara dari headset terdengar.

“Teruskan.”

Ia tidak akan menelpon Aira.

Tidak ingin membuatnya panik.

Tapi rahangnya mengeras.

Mereka bukan lagi menyentuh sistemnya.

Mereka menyentuh hidupnya.

Di trotoar, Aira berhenti mendadak di depan minimarket kecil.

Motor itu ikut berhenti beberapa meter di belakang.

Tidak turun.

Tidak pergi.

Hanya diam.

Tangannya mulai berkeringat.

Ia masuk ke dalam minimarket.

Berpura-pura melihat rak minuman.

Dari kaca reflektif, ia bisa melihat bayangan motor itu.

Masih menunggu.

Rasa dingin menjalar di punggungnya.

Ia mengambil ponsel.

Tangannya gemetar sepersekian detik sebelum mengetik satu nama.

Arlan.

Namun ia tidak menekan panggil.

Egonya menahan.

Ia tidak ingin terlihat lemah.

Tidak lagi.

Di mobil, Arlan melihat titik berhenti.

“Kenapa berhenti?” gumamnya.

“Pak, target berhenti di area minimarket. Perangkat kedua juga berhenti.”

Tatapan Arlan berubah tajam.

“Siapkan tim patroli. Jangan terlalu dekat. Jangan membuatnya sadar.”

Ia memutar setir lebih cepat.

Beberapa menit terasa seperti jam.

Aira keluar dari minimarket dengan langkah stabil.

Motor itu bergerak lagi.

Kali ini lebih dekat.

Terlalu dekat.

Lampu depannya menyala terang.

Tiba-tiba motor itu mempercepat dan melintas tepat di sampingnya—

Nyaris menyerempet.

Aira terhuyung.

Tasnya jatuh.

Motor itu tidak berhenti.

Hanya melaju lurus, menghilang di tikungan.

Suara napas Aira tidak stabil.

Beberapa orang menoleh, tapi lalu kembali pada urusan masing-masing.

Ia berdiri.

Berusaha terlihat baik-baik saja.

Padahal lututnya hampir lemas.

Sebuah mobil berhenti mendadak di depannya.

Pintu terbuka.

Arlan keluar.

Langkahnya cepat.

Matanya gelap.

“Kau tidak apa-apa?” suaranya rendah, tapi tegang.

Aira terdiam beberapa detik.

“Aku baik-baik saja.”

Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu—

ia memanggilnya tanpa “Pak”.

Tanpa formalitas.

Karena ia terlalu kaget untuk berpura-pura.

Arlan melihat tas yang jatuh, goresan tipis di pergelangan tangannya.

Rahangnya mengeras.

“Masuk mobil.”

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Masuk.”

Nada itu tidak bisa dibantah.

Aira masuk.

Dan selama perjalanan, tidak ada yang berbicara.

Namun suasananya berbeda.

Bukan dingin.

Bukan canggung.

Tapi penuh sesuatu yang nyaris meledak.

Di dalam mobil, Arlan akhirnya berkata pelan:

“Itu bukan kebetulan.”

Aira menatap lurus ke depan.

“Aku tahu.”

Hening lagi.

“Kenapa kau tidak menelponku?”

Pertanyaan itu terdengar lebih personal dari yang seharusnya.

Aira tersenyum tipis.

“Bukannya perasaan tidak ada nilainya di tempat seperti ini?”

Kalimatnya lembut.

Tapi tepat sasaran.

Arlan terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban cepat.

Mobil berhenti di depan apartemen Aira.

Ia hendak turun.

Namun tangan Arlan menahan pintu.

“Mulai sekarang, kau tidak pulang sendiri.”

Itu bukan permintaan.

Bukan juga sekadar perintah profesional.

Itu keputusan.

Aira menatapnya lama.

Ada ketakutan di matanya.

Tapi juga sesuatu yang lain.

Kepercayaan yang mulai retak… namun belum hancur.

“Aku tidak ingin jadi kelemahanmu,” katanya pelan.

Arlan menatapnya balik.

“Kau bukan kelemahanku.”

Hening.

“Dan itulah sebabnya mereka mencoba menyentuhmu.”

Kalimat itu menggantung di udara malam.

Aira turun dari mobil perlahan.

Dan saat pintu tertutup—

Arlan tidak langsung pergi.

Matanya menatap gedung apartemen itu.

Tenang.

Tapi berbahaya.

Permainan sudah melewati batas.

Dan kali ini—

ia tidak akan menunggu lagi.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!