NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Suasana lorong rumah sakit yang dingin dan berbau karbol itu terasa mencekam.

Yudiz yang biasanya selalu tampil tenang dan penuh wibawa, kini tampak hancur.

Kemejanya terkena noda debu dan bercak darah kering milik Rani.

Ia duduk di kursi tunggu dengan tubuh gemetar, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih terasa dingin.

Langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan.

Kyai Abdullah datang bersama sopirnya dengan wajah yang penuh kekhawatiran namun tetap berusaha menjaga ketenangan spiritualnya.

"Yudiz..." panggil Kyai Abdullah lirih.

Mendengar suara ayahnya, pertahanan Yudiz runtuh seketika.

Ia berdiri dan langsung menghambur ke pelukan Kyai Abdullah.

Tangisnya langsung pecah dan ia merasa menjadi seorang suami yang gagal melindungi amanah paling berharga dalam hidupnya.

"Abi, Rani, Abi. Ini semua salahku," isak Yudiz di pundak ayahnya.

"Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi, seharusnya aku menjaganya lebih ketat."

Kyai Abdullah mengusap punggung putranya dengan tangan yang juga sedikit gemetar.

"Istighfar, Yudiz. Jangan mendahului takdir dengan penyesalan. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Sekarang, tugas kita adalah mengetuk pintu langit dengan doa."

Tak berselang lama, pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter dengan wajah lelah keluar sambil melepas maskernya.

Yudiz segera melepaskan pelukannya dan menghampiri dokter tersebut dengan tatapan penuh harap sekaligus ketakutan.

"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Yudiz dengan suara serak.

Dokter menarik napas panjang, memberikan jeda yang terasa seperti ribuan tahun bagi Yudiz.

"Kondisinya cukup kritis saat dibawa masuk tadi. Ada beberapa benturan keras yang mengakibatkan dadanya bengkak, tulang rusuk dan tulang lengan kanannya patah. Namun yang paling kami khawatirkan adalah benturan di kepalanya. Ada trauma kepala yang cukup serius, dan kami harus melakukan observasi ketat untuk memastikan tidak ada pendarahan dalam yang meluas."

Deg!

Jantung Yudiz seolah berhenti berdetak saat mendengar perkataan dari dokter.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghalau rasa sesak yang menghantam dadanya.

Bayangan Rani yang tertawa lebar di atas motor trail-nya, Rani yang canggung saat belajar mengaji, dan Rani yang baru saja ia suapi sup beberapa jam lalu, berputar-putar di kepalanya.

"Istri Anda masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU untuk pemantauan lebih lanjut," lanjut Dokter itu sebelum berpamitan.

Yudiz menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit yang dingin.

Ia merasa dunianya baru saja jungkir balik. Istri yang tadinya begitu lincah dan tak bisa diam, kini terbaring lemah di antara kabel dan peralatan medis.

Kyai Abdullah mendekati Yudiz, membisikkan ayat-ayat penguat jiwa.

"Yudiz, ini adalah sirkuit ujian yang sebenarnya bagimu. Jika Rani tidak menyerah di lintasan balap, maka kamu tidak boleh menyerah di lintasan doa."

Yudiz membuka matanya yang sembab, menatap pintu ICU yang tertutup rapat.

"Aku akan menunggunya, Abi. Berapa lama pun itu. Aku tidak akan membiarkannya berjuang sendirian di dalam sana."

Suasana hening di depan ruang ICU mendadak pecah oleh suara langkah sepatu yang menghentak keras.

Haji Husein datang dengan napas memburu, wajahnya merah padam, dan matanya menyiratkan amarah yang bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa.

Di belakangnya, Umi Siti tampak terisak sambil memegangi lengan suaminya, mencoba menenangkan, namun tak digubris.

Haji Husein berhenti tepat di depan Kyai Abdullah dan Yudiz.

Ia menatap Yudiz dengan pandangan tajam, seolah ingin menghancurkan apa pun yang ada di depannya.

“Apa kalian ingin mempermainkan anakku?!” suara Haji Husein menggelegar, bergetar karena emosi yang tertahan.

Yudiz tersentak. Ia mengangkat wajahnya yang sembab, mencoba bicara namun suaranya tercekat di tenggorokan.

“Husein, tenanglah dulu. Ini ujian dari Allah...” Kyai Abdullah mencoba menyentuh bahu sahabat lamanya itu, namun Haji Husein menepisnya dengan kasar.

“Ujian?!” Haji Husein tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.

“Kyai, aku menyerahkan Rani kepada kalian karena aku percaya kalian bisa membimbingnya! Aku pikir dia akan aman di bawah atap pesantrenmu, di bawah perlindungan anakmu yang kau bilang sholeh ini!”

Haji Husein menunjuk tepat ke wajah Yudiz yang tertunduk lesu.

“Lihat dia sekarang! Baru beberapa hari menikah, Rani masuk rumah sakit karena luka bakar. Dan sekarang? Dia terbaring sekarat di ICU karena kecelakaan! Apa ini yang kalian sebut menjaga amanah? Apa kalian sengaja membiarkannya kembali ke jalanan hanya karena kalian sudah tidak sanggup menghadapinya?!”

“Demi Allah, tidak, Abi...” Yudiz akhirnya bersuara, lirih dan penuh kepedihan.

“Aku tidak pernah bermaksud mempermainkan Rani. Aku mencintainya...”

“Cinta?!” potong Haji Husein pedas. “Cinta itu menjaga, Yudiz! Bukan membiarkan istrimu pergi dalam keadaan luka dan berakhir tragis seperti ini! Kalau aku tahu menyerahkan Rani pada kalian hanya akan membuatnya berakhir di ranjang rumah sakit dengan tulang yang patah, aku lebih baik melihatnya balapan selamanya tanpa pernah mengenal kalian!”

Umi Siti merosot di kursi tunggu, menutupi wajahnya sambil menangis sejadi-jadinya.

“Sudah, Abi. Sudah. Ini bukan saatnya saling menyalahkan.”

“Bukan saatnya, Umi? Anak kita sedang bertaruh nyawa di dalam sana!” Haji Husein kembali menatap Kyai Abdullah dengan tatapan kecewa yang sangat dalam. “Kyai, kita bersahabat sudah puluhan tahun. Tapi hari ini, aku merasa seperti orang asing yang menyerahkan domba ke mulut serigala.”

Kyai Abdullah terdiam, kepalanya menunduk dalam.

Ia menerima setiap hinaan dan amarah itu sebagai cambuk bagi jiwanya. Ia tahu, sebagai orang tua, Husein berhak marah.

Yudiz perlahan bangkit dari kursinya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berlutut di depan kaki Haji Husein.

Hal ini membuat semua orang yang ada di lorong itu terkesiap.

“Abi... pukullah aku, maki aku sepuas Abi. Aku memang gagal. Aku memang suami yang tidak berguna,” ucap Yudiz sambil terisak di depan kaki mertuanya.

“Tapi aku mohon, jangan ragukan niatku. Aku ingin Rani kembali. Aku ingin menebus semua kesalahanku.”

Haji Husein menatap menantunya yang bersimpuh itu dengan dada yang naik turun.

Amarahnya masih membara, namun melihat keruntuhan seorang Yudiz, ada sedikit rasa sesak yang merayapi hatinya.

Umi Siti yang sejak tadi hanya bisa terisak, perlahan bangkit dan merangkul bahu suaminya.

Ia tahu jika Haji Husein terus berada di depan ruang ICU dalam kondisi emosi yang meledak, hal itu hanya akan memperkeruh suasana dan mengganggu ketenangan rumah sakit.

“Abi, istighfar, Abi. Kita tidak boleh begini di depan pintu tempat Rani berjuang,” bisik Umi Siti dengan suara bergetar.

“Ayo, kita ke kantin sebentar. Abi butuh minum, Abi butuh napas. Kasihan Yudiz, kasihan Kyai Abdullah.”

Haji Husein tidak menjawab, namun tubuhnya yang tadi tegang kini mulai melemas.

Amarah yang meledak-ledak itu perlahan berganti menjadi duka yang amat dalam.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah menjadi isakan sesenggukan yang menyayat hati.

Di sudut lorong, Galang yang sedari tadi berdiri mematung dengan perasaan bersalah yang luar biasa, segera melangkah maju.

Sebagai orang yang berada di lokasi kejadian, Galang merasa bertanggung jawab atas hancurnya keluarga ini.

“Om, biar saya bantu,” ucap Galang pelan.

Galang segera memapah tubuh Haji Husein yang tampak sangat lemah.

Pria tua yang biasanya terlihat gagah itu kini seolah kehilangan tulangnya.

Langkahnya gontai, terseret di atas lantai rumah sakit yang dingin.

Umi Siti mengikuti dari belakang, sesekali mengusap air matanya sendiri sambil memegang punggung suaminya.

Sepanjang jalan menuju kantin, Haji Husein terus menggumamkan nama putri semata wayangnya.

“Rani, maafkan Abi, Nak. Abi salah memaksamu...”

Sesampainya di kantin yang sepi, Galang mendudukkan Haji Husein di kursi sudut. Ia bergegas membelikan air mineral dan segelas teh hangat.

“Minum dulu, Om,” kata Galang sambil menyodorkan botol air dengan tangan gemetar.

Haji Husein menerima botol itu, tapi tangannya terlalu lemas untuk membukanya.

Galang dengan sigap membantu. Setelah meminum sedikit air, Haji Husein menyandarkan kepalanya ke meja kantin, menangis sejadi-jadinya tanpa memedulikan tatapan orang di sekitarnya.

“Galang...” panggil Haji Husein di sela tangisnya.

“Iya, Om?”

“Kenapa ini harus terjadi pada Rani? Dia anak baik, Galang. Dia cuma ingin bebas, kenapa jalannya harus sepedih ini?”

Galang tertunduk dalam, air matanya ikut menetes.

“Rani kuat, Om. Dia pembalap yang nggak pernah menyerah di lintasan. Saya yakin, di dalam sana, dia juga sedang memacu 'motornya' sekuat tenaga untuk kembali pada kita.”

Umi Siti menggenggam tangan suaminya erat-erat.

“Kita harus kuat demi Rani, Abi. Kalau kita hancur, siapa yang akan menyambutnya saat dia bangun nanti?”

Sementara itu, di depan ruang ICU, suasana menjadi sangat sunyi setelah kepergian Haji Husein.

Yudiz masih bersimpuh di lantai, menatap lantai marmer dengan pandangan kosong.

Kyai Abdullah mendekati putranya, lalu duduk bersila di samping Yudiz.

Ia mengabaikan martabatnya sebagai seorang ulama besar hanya untuk menemani putranya yang sedang hancur di lantai rumah sakit.

“Yudiz, dengarkan Abi. Kemarahan Husein adalah wujud cintanya yang besar pada Rani. Jangan simpan dalam hati sebagai dendam, tapi simpanlah sebagai pengingat betapa berharganya wanita yang sedang tidur di dalam sana.”

Yudiz menoleh ke arah ayahnya, matanya merah dan bengkak.

“Abi, apakah Allah akan mengembalikan Rani padaku? Setelah semua kebohonganku, setelah aku gagal menjaganya?”

Kyai Abdullah menatap pintu ICU. “Allah adalah sebaik-baik Penjaga. Sekarang, bangunlah. Ambil wudhu. Lantunkan ayat-ayat cinta-Nya di depan pintu itu. Jika suaramu tidak bisa menembus dinding ICU, biarkan doamu menembus Arsy-Nya.”

Yudiz mengangguk pelan dan segera bangkit dengan sisa-sisa tenaga, melangkah menuju musholla rumah sakit dengan satu tekat.

Kalau ia tidak akan berhenti memohon sampai mata Rani terbuka kembali.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!