Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekalahan Manis Sang Ratu Drama
Galang tidak memedulikan interupsi Fiora. Dengan satu gerakan dominan, ia merebahkan kembali tubuh Fiora ke atas kasur empuk itu. Fiora terperangkap di antara lengan kokoh Galang yang mengunci di kedua sisi tubuhnya.
"Ga... Galang, bukankah kau harus menolongnya sekarang?" tanya Fiora dengan suara yang semakin mencicit, mencoba mengingatkan Galang tentang Mira yang sedang "ketakutan" di telepon tadi.
Galang menatap manik mata Fiora dengan intensitas yang membuat napas Fiora seolah terhenti. "Kau tidak dengar, Fiora?" bisik Galang rendah, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah tunangannya. "Itu bisa nanti. Urusan Mira bisa diselesaikan oleh tim keamanan kantor dengan satu telepon."
Galang menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu berbahaya sekaligus memikat. "Tapi kau... kau adalah urusanku yang paling mendesak sekarang."
Glek.
Fiora meremas sprei di bawahnya. Niatnya ingin menggunakan Mira sebagai pengalih perhatian agar ia bisa kabur, justru gagal total. Galang benar-benar tidak melepaskan mangsanya kali ini.
"Kau yang memulai drama ini pagi-pagi, Fiora. Sekarang, tanggung jawablah karena telah merusak konsentrasi tunanganmu sendiri," ucap Galang lagi sambil semakin mengikis jarak di antara mereka.
Di luar sana, pada pagi ini , Mira mungkin sedang menunggu dengan cemas, namun di dalam kamar penthouse ini, Galang telah menetapkan prioritasnya. Dan prioritas itu adalah wanita yang selama ini selalu mencoba memanipulasinya, namun kini justru berbalik menjadi tawanan cintanya.
Galang tidak lagi memberi celah bagi Fiora untuk protes atau membawa-bawa nama Mira lagi. Dengan gerakan yang penuh tuntutan namun tetap terselip kelembutan, Galang mulai melumat bibir Fiora, mengunci semua kata-kata sarkas yang tadinya ingin keluar dari mulut sang Ratu Drama.
"Emhh..." Fiora melenguh tertahan, matanya terbelalak kaget sebelum akhirnya perlahan terpejam karena serangan mendadak yang begitu intens itu.
Sentuhan bibir Galang terasa hangat dan penuh kerinduan yang selama ini terpendam di balik sikap kaku pria itu. Fiora bisa merasakan detak jantung Galang yang sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.
'Gila... ya ampun beneran! Ini beneran Galang Dirgantara?!' batin Fiora berteriak histeris di tengah ciuman itu. Pikirannya mendadak kosong, semua strategi balas dendam dan rencana liburannya ke Taman Safari seolah terbang menguap begitu saja.
Tangan Galang yang tadi mengunci pinggang Fiora kini merambat naik, membelai tengkuk Fiora dengan posesif, memperdalam ciuman yang seolah ingin menegaskan bahwa pagi ini, detik ini, hanya ada mereka berdua. Tidak ada asisten yang malang, tidak ada bisnis butik, hanya ada seorang pria yang sedang menunjukkan jati dirinya kepada tunangannya.
Pada pagi ini, Fiora Gabriela sang pengatur strategi menyadari satu hal: ia telah kalah telak dalam permainannya sendiri. Namun, dalam kekalahan ini, ia merasakan kemenangan yang jauh lebih manis daripada sekadar melihat Mira menangis.
Fiora mulai terbawa suasana, tangannya yang tadi gemetar kini perlahan mengalung di leher Galang, membalas perlakuan tunangannya dengan sisa keberanian yang ia miliki. Malam yang panjang di hotel ini ternyata hanyalah pembukaan dari babak yang jauh lebih panas di pagi hari.
Napas Fiora sudah tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat saat ia berusaha menghirup oksigen di sela-sela dominasi Galang. Galang seolah tidak memberikan ampun, lumatan di bibir Fiora berpindah turun menuju leher jenjang tunangannya itu, meninggalkan sensasi panas yang membuat Fiora benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Namun, di tengah suasana yang kian memanas pada pagi ini, suara nyaring kembali memecah keheningan.
Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel Galang yang tergeletak di nakas berdering lagi untuk kesekian kalinya. Suara getarannya terasa begitu mengganggu di telinga Fiora.
Galang sempat berhenti sejenak, wajahnya masih sangat dekat dengan leher Fiora. Rahangnya mengeras, terlihat jelas ia sangat terganggu dengan interupsi itu.
"Abaikan saja," bisik Galang dengan suara serak yang sangat rendah, hampir seperti geraman. Ia berniat kembali melanjutkan aksinya.
"Ta-tapi Galang... kalau itu penting gimana?" tanya Fiora dengan napas yang masih memburu. Matanya melirik ke arah ponsel itu, dan benar saja, nama Mira kembali muncul di layar.
Fiora mendengus dalam hati. "Benar-benar ya ini kuntilanak satu, nggak tahu waktu banget!"
Galang akhirnya menghela napas kasar. Ia menjauhkan tubuhnya sedikit, memberikan ruang bagi Fiora untuk bernapas. Ia menyambar ponselnya dengan gerakan kasar, melihat layar, lalu mematikan suaranya tanpa mengangkat telepon tersebut.
"Dia benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti," gumam Galang dingin. Matanya kembali menatap Fiora yang kini rambutnya sudah berantakan di atas bantal.
Fiora menatap Galang dengan tatapan menantang namun tetap manja. "Paman... eh, Galang, kayaknya 'debu' kesayanganmu itu beneran butuh pahlawan pagi ini. Apa kau tega membiarkannya?"
Galang tidak menjawab, ia justru melempar ponselnya ke ujung kasur dan kembali mengurung tubuh Fiora. "Saya sudah bilang, keamanan kantor yang akan mengurusnya. Sekarang, fokuslah padaku, Fiora. Jangan sebut nama lain lagi."
Fiora menelan ludah. Ternyata, gangguan Mira justru membuat Galang semakin tidak ingin melepaskannya.