Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Jangan Berpikir Bisa Lari, Sayang"
Fiora yang awalnya sok berani, seketika kehilangan seluruh nyalinya saat menyadari Galang tidak main-main. Pikirannya mendadak kosong, dan hanya satu kata yang muncul di otaknya:
Kabur!
"K-kaburrrr!" teriaknya dalam hati.
Fiora mencoba melompat turun dari kasur dengan gerakan seribu bayangan, berniat lari menuju pintu keluar. Namun, refleks Galang jauh lebih cepat. Hanya dengan satu sentuhan kuat, tangan Galang meraih pinggang ramping Fiora dan menariknya kembali.
Dalam sekejap mata, posisi berbalik. Fiora kini terduduk tepat di pangkuan Galang, terkunci rapat oleh lengan kokoh pria itu. Jantung Fiora berdegup sangat kencang, seolah ingin meledak tepat di depan wajah Galang.
"Katanya ingin menunjukkan siapa dirimu, Nona Fiora? Kenapa sekarang malah lari?" bisik Galang dengan nada mengejek yang sangat maskulin.
"Le-lepasin aku! Aku be-belum siap, Galang! Tadi itu cuma... cuma akting!" rengek Fiora, suaranya mencicit kecil. Ia mencoba meronta, tapi kekuatan Galang sama sekali tidak tergoyahkan.
Galang menatap mata Fiora dengan intensitas, menyeringai tepat di depan bibir tunangannya. "Tapi saya sudah menunggumu dari tadi, Fiora. Kamu yang memulai permainan ini di kantor, dan kamu juga yang membawaku ke sini dengan sandiwara amnesiamu."
Tangan Galang yang satu lagi naik, merapikan rambut Fiora yang berantakan dengan gerakan posesif. "Sekarang, tanggung jawab dengan kata-katamu sendiri. Kamu bilang kamu emas, bukan? Tunjukkan padaku nilaimu."
Fiora benar-benar terpojok. Ia menyadari bahwa Galang Dirgantara bukan lagi "Paman" yang bisa ia permainkan, melainkan seorang pria dewasa yang sedang menuntut hak atas tunangannya.
"Ga-Galang... janji, jangan galak-galak," bisik Fiora pasrah, wajahnya sudah semerah tomat matang di atas pangkuan pria yang sangat ia cintai sekaligus ia takuti itu.
"Sudah, mandilah sebelum saya sendiri yang mandikan," ucap Galang dengan nada memerintah yang dingin namun sarat akan godaan.
"Ha-hanya itu?" Fiora bertanya dengan sisa keberaniannya, mencoba memastikan apakah dia baru saja lolos dari maut.
Galang menyeringai tipis, matanya menatap Fiora dari atas ke bawah. "Kamu mau lebih? Itu nanti saja setelah kamu mandi, Fiora."
Glekk!
Tanpa menunggu komando kedua, Fiora langsung melompat dari pangkuan Galang dan berlari secepat kilat menuju kamar mandi. Pintu langsung ia banting dan kunci rapat-rapat. Brak!
Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Fiora bersandar di pintu sambil memegang dadanya yang berdegup gila-gilaan. "Bodoh banget lo, Fio! Harusnya tadi nggak usah sok berani pakai pegang-pegang leher segala! Sekarang lo beneran masuk jebakan macan!" rutuknya pada diri sendiri di depan cermin.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar terdengar pelan namun tegas.
"Cepat, Sayang... jangan lama-lama. Saya sudah sangat lapar," suara bariton Galang menembus pintu, membuat bulu kuduk Fiora meremang.
"Omaygoat! Omaygoat! Apa gue di sini aja terus? Gue kunci pintunya sampai besok pagi?" Fiora menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Aaaaaa! Kenapa jadi gini sih? Gue yang bikin skenario, kenapa Galang yang jadi sutradaranya?!"
Fiora menatap shower di depannya dengan bimbang. Di luar sana, Galang Dirgantara—tunangannya yang ternyata seorang predator ulung—sedang menunggu. Dan malam ini, sepertinya akan menjadi malam terpanjang dalam hidup seorang Fiora Gabriela.
Ia harus mandi, atau Galang benar-benar akan masuk dan "memandikannya" sesuai ancamannya tadi. Dengan tangan gemetar, Fiora mulai menyalakan air, berusaha mendinginkan kepalanya yang sudah panas bukan main.
"Astaga! Bathrobe gue ketinggalan di luar!" pekik Fiora tertahan di dalam kamar mandi. Wajahnya yang sudah merah kini makin terasa terbakar. Dengan sisa nyali yang ada, ia mengetuk pintu dari dalam.
"Ga-Galang... Galang!" panggilnya lirih.
"Ada apa, Fiora?" suara berat Galang terdengar tepat di balik pintu, seolah pria itu memang sengaja menunggu di sana sejak tadi.
"Emmm... aku lupa membawa bathrobe-ku. Tolong ambilkan di tas," pinta Fiora dengan suara mencicit.
Di luar, Galang menyeringai lebar. Ia mengambil bathrobe putih yang sudah ia siapkan, lalu mengetuk pintu. "Buka pintunya, Fiora. Atau mau saya yang masuk membawakannya?"
Mendengar ancaman itu, Fiora segera membuka sedikit celah pintu. Hanya kepalanya yang mengintip keluar dengan wajah yang sangat pucat sekaligus malu. Begitu tangannya menyambar jubah putih itu, ia segera memakainya di dalam dan keluar dengan langkah ragu.
Namun, baru satu langkah Fiora keluar dari kamar mandi, Galang yang sudah berdiri tegak di depan pintu langsung menyambar tubuhnya. Tanpa peringatan, Galang kembali menggendong Fiora ala bridal style menuju kasur king size mereka.
"Astaga!" jantung Fiora rasanya hampir copot. Ia hanya bisa mencengkeram bahu tegap Galang saat pria itu merebahkannya dengan sangat lembut namun posesif di atas ranjang.
Malam Rabu ini, di bawah temaram lampu penthouse, Galang menatap Fiora dalam-dalam. "Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk lari, Nona Fiora Gabriela," bisiknya sebelum ikut merebahkan diri di samping tunangannya itu.
Galang membelai pipi Fiora dengan gerakan yang sangat lambat dan lembut, memberikan sensasi hangat yang membuat bulu kuduk Fiora meremang. Tatapan mata Galang kini tidak lagi dingin, melainkan dalam dan penuh perhatian, menciptakan suasana yang membuat Fiora merasa sedikit tidak nyaman.
'Gue harus gimana?! Jantung gue berdebar kencang!' batin Fiora panik. Di tengah kepungan wangi maskulin Galang, otak Fiora mendadak berputar cepat. 'Oh ya! Gue punya ide!'
Galang mulai menunduk, mendekatkan wajahnya.
"Emmmn... Ga-Galang... Tunggu," bisik Fiora sambil menahan dada bidang Galang dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar.
Galang menghentikan gerakannya, menatap Fiora dengan alis yang bertaut, menunggu penjelasan.
"Galang... aku... aku merasa tidak enak badan," ucap Fiora dengan wajah yang dibuat-buat sedih dan penuh penyesalan, padahal di dalam hati ia sedang berharap alasan ini bisa membuatnya tidur dengan tenang malam ini.
Suasana di kamar penthouse mendadak hening. Galang terdiam sejenak, menatap mata Fiora dengan tajam seolah sedang mencari kejujuran di balik mata cokelat tunangannya itu.
"Tidak enak badan?" ulang Galang dengan suara baritonnya yang rendah.
"Iya, tiba-tiba terasa pusing... maaf ya Paman, eh, Galang," tambah Fiora lagi dengan nada manja, berharap alasannya bisa membuatnya tidur dengan tenang tanpa gangguan di sampingnya.
Galang tidak langsung menjauh. Ia justru menyeringai tipis, sebuah senyuman yang membuat Fiora merasa bahwa alasannya mungkin tidak bekerja seampuh yang ia bayangkan. "Oh, begitu ya? Sayang sekali..." bisik Galang, namun tangannya justru semakin erat memeluk pinggang Fiora.