Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sometimes You've Got to See Trouble
Sena dengan sepenuh hati menyatakan, dia sangat tidak menyukai kerja kelompok. Entah itu terdiri dari beberapa orang, berdua, bertiga, atau ber-berapa pun. Kebanyakan dari projek-projek kelompok itu, 99 persen berdasarkan pengalamannya, selalu dipenuhi dengan kericuhan—kecuali jika cukup beruntung menemukan partner yang sepadan.
Kali ini pun Sena harus menghela napas panjang dan mengelus dada saat menemukan namanya disatukan dengan dua nama lain di kelas yang sama. Sena tidak terlalu mengenal dua gadis yang dijadikan satu kelompok dengannya itu. Yang ia tahu, mereka adalah teman baik dan hobi mereka adalah bergosip—tentang apa pun, tentang siapa pun.
Oke, bohong kalau Sena bilang dia tidak pernah bergosip. Selayaknya manusia pada umumnya, dia pernah sesekali membicarakan orang lain bersama teman-temannya. Tapi sepasang sahabat ini sudah ada di level yang berbeda. Mereka gemar membicarakan orang lain di belakang, ketika senyum mereka merekah lebar saat saling berhadapan dengan orang tersebut. Tampaknya, satu-satunya hal menyenangkan yang bisa mereka lakukan di hidup ini hanyalah bergosip dan menyebarkan rumor-rumor tak berdasar.
Sena benci orang seperti itu. Menjengkelkan. Tidakkah mereka punya hal lain untuk dilakukan? Lagipula kan, sama seperti Sena, keduanya juga sudah ada di fase akhir perkuliahan S2.
Kendati demikian, Sena juga tidak ingin menemui mereka dengan terlalu banyak prasangka buruk. Maka, ia menjernihkan pikirannya lebih dulu sebelum menghampiri dua gadis itu. Mereka baru saja keluar dari salah satu ruang kelas ketika Sena menghampiri. Alih-alih menyapa, keduanya menatap Sena dari atas sampai bawah dengan kening berkerut.
Sena dengan rendah hati tersenyum, sedikit membungkuk sopan juga untuk menyapa. "Halo. Aku satu kelompok dengan kalian untuk projek terbaru di kelas Tuan Park."
"Kau Lee Sena?" Salah satu dari mereka, Yena, bertanya.
Sena mengangguk. "Benar."
"Oh, oke." Yena menyahut, acuh tak acuh.
Mengabaikan sikap mereka yang menyebalkan, Sena buka suara lagi. "Kurasa kita perlu duduk bersama untuk membicarakan beberapa hal terkait projek ini."
Gadis yang satunya, Hyemin, menggeleng. "Maaf, tapi kami mau nongkrong, jadi tidak bisa sekarang."
"Iya, kita berdiskusi kapan-kapan saja." Yena menambahkan dengan sentuhan senyum palsu. Dia meraih lengan Hyemin, mengajaknya berlalu. Namun langkah keduanya terhenti saat Sena melesat cepat ke depan, menghadang.
"Apa?" tanya Hyemin, tampak kesal.
"Kita belum menyiapkan apa pun untuk projek ini. Tidak akan lama, cukup 30 menit saja. Bukankah tidak masalah untuk menunda nongkrong selama waktu itu?" tanya Sena, memberikan senyum palsu yang sama seperti yang dia terima beberapa saat sebelumnya.
Hyemin memicingkan mata, sementara Yena menghela napas rendah dan akhirnya berkata, "Baiklah. Ayo."
"Oke!" Sena berseru. Dia mengikuti dua gadis tadi menuju ruang belajar yang disediakan oleh kampus. Sampai di sana, Sena duduk di seberang keduanya dan langsung mengeluarkan laptop.
Sementara Hyemin dan Yena, keduanya malah dengan santainya meletakkan tas di meja, mengempaskan punggung bersandar di kursi dan asyik sendiri menggulir layar ponsel. Sena menatap keduanya tak percaya. Mulutnya sampai hampir ternganga.
Ayolah... bisakah mereka serius sekali ini saja? keluhnya di dalam hati.
Tapi secepat mungkin Sena mengenyahkan keluhan tak berguna itu dari kepalanya. Deadline untuk tugas kali ini tinggal sebentar lagi, dia tidak mau buang-buang waktu memikirkan hal yang tidak penting.
Sena bergantian menatap dua gadis di depannya. Mereka tampak begitu santai berselancar dengan ponselnya, sesekali menertawakan sesuatu yang entah apa. Sudah jelas bahwa mereka sama sekali tidak berniat untuk memberikan kontribusi pada projek ini. Tapi, Sena tidak akan menyerah begitu saja. Dia tidak akan membiarkan dirinya bekerja sendirian, sedangkan rekannya turut mendapatkan nilai dengan usaha yang 0 besar.
"So, guys, kalian punya ide? Ada saran, penelitian mana yang harus kita gunakan sebagai acuan?"
Dua gadis itu menatap Sena, terlihat sedang menjudge diam-diam. Lalu, dengan tidak sopannya, keduanya malah saling tatap dan tertawa meremehkan. Sena menarik napas dalam-dalam, berusaha tidak terprovokasi. Bukannya tidak berani ribut, tapi kalau ribut di pertemuan pertama dalam rangka mengerjakan suatu projek begini jelas tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik nantinya.
Merugilah kalian, wahai manusia-manusia tidak berakhlak. Sena diam-diam mengutuk. Dia ingin memulai projek ini dengan benar sejak awal, agar mereka tidak perlu pusing mencari solusi belakangan, dan mereka bisa mengerjakan bagian masing-masing sebelum nanti bertemu lagi untuk berdiskusi lebih lanjut.
"Tidak."
"Tidak. Aku belum terpikirkan apa pun."
"Oke, kalau begitu ... kita mungkin bisa coba milikku. Aku sudah membaca satu penelitian tentang perilaku burung. Tapi kalian boleh mencari yang lain, nanti kita bahas lagi di pertemuan selanjutnya." Sena mengusulkan.
"Aku takut burung," Hyemin bersuara, terdengar dilebih-lebihkan.
Yemin menunduk, tampak menahan tawa. Sedangkan Sena tetap dengan wajah datarnya meski embusan napasnya terdengar berat.
"Aku hanya mengusulkan," cetusnya. "Sudah kubilang kalian boleh cari penelitian yang lain dan kita akan mendiskusikannya lagi nanti. Biar bagaimanapun, ini kan tugas kelompok."
"Baiklah, terserah. Sekarang bolehkah kami pergi?"
"Tidak." Sena menjawab tegas. Dia menjelaskan bahwa mereka harus mempersiapkan materi dengan sebaik mungkin, agar nanti tidak pusing di kemudian hari. Hyemin dan Yena tidak menyukai ide itu, tapi ujung-ujungnya menyerah juga. Mereka terpaksa duduk lebih lama, mendengarkan Sena berbicara tentang beberapa hal—termasuk kapan mereka harus bertemu lagi—sebelum akhirnya diperbolehkan pergi.
Tanpa menunggu lama, Yena dan Hyemin langsung bangkit, melenggang pergi secepat kilat diiringi tawa menyebalkan yang membuat Sena ingin menginjak kepala mereka detik itu juga. Sayangnya, yang bisa dia lakukan hanyalah memutar bola mata malas dan menghela napas rendah. Entah kenapa dua gadis itu bertingkah begitu menyebalkan, ia hanya bisa berharap semoga mereka bisa diajak bekerja sama di pertemuan selanjutnya.
Dengan mood yang terjun bebas, Sena membereskan barang-barangnya dan bergegas pulang.
...****************...
Membuka pintu depan, aroma masakan menyambut kedatangan Sena, membuat perutnya keroncongan. Pada Nan yang melompat menyambut, ia tersenyum dan sempat mengecup kepalanya singkat, sebelum lanjut berjalan menuju dapur.
Hana sedang berkutat dengan pan dan api menyala besar. Gerakan tangannya lihai, bak seorang ahli.
"Kau lapar?" tanya Hana, menoleh sedikit.
"Tepat sekali," sahut Sena, tersenyum lebar dan menepuk bahu Hana. "Aku ganti baju dulu, ya. Tidak akan lama."
Hana hanya mengangguk dan lanjut memasak, sementara Sena naik ke kamar untuk mengganti pakaian. Jeans yang dikenakannya seharian, diganti dengan celana olahraga longgar. Dia juga membersihkan make up tipis yang menempel di wajahnya dan mengaplikasikan toner, kemudian kembali ke dapur.
"Kau sekelompok dengan siapa untuk projek yang sekarang?" tanya Sena, seraya membantu Hana menata semua hasil masakan ke atas meja makan.
"Minso dan Sungho. Mereka good. Kau sendiri?"
"Yena dan Hyemin," sahut Sena, sedikit lesu.
Hana menunjukkan wajah kesal saat mendengar nama dua orang itu. Dia tida mengenal keduanya dengan baik, tapi berdasarkan pengalaman bersama mereka di masa lalu, Hana bisa bilang bahwa mereka sangat menyebalkan.
"Aku tidak suka mereka. Energi mereka jelek," celetuknya.
Sena mengangguk, mengacungkan sumpitnya ke arah Hana sebagai bentuk persetujuan. "Aku juga. Mereka benar-benar kekanakan. Sibuk dengan ponsel, asyik bercanda, dan sama sekali tidak memikirkan soal projek ini."
"Tuhan..." Hana mendesah keras, mengembuskan napas kasar. "Rasanya pasti seperti berada di neraka."
"Sejujurnya, iya. Aku takut projek ini berantakan jika mereka terus bersikap begini sampai akhir."
"Aku tidak suka orang-orang seperti itu." Hana menggerutu. Mulutnya yang penuh makanan, membuat pipinya menggembung dan bibirnya sedikit maju saat bicara. "Jika memang tidak berniat untuk belajar, kenapa mereka repot-repot datang ke kampus."
Sena mengangguk. "Bukankah itu membuatmu bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa lulus S1 dengan tingkah seperti itu, dan kini mengambil S2?"
"Benar," ujar Hana setuju.
Di meja makan itu, Sena menumpahkan unek-unek yang ditahannya sejak masih bersama Yena dan Hyemin. Hana menanggapinya dengan baik, dan itu membuat Sena bersyukur sekali lagi bisa memiliki kawan sebaik gadis itu.
Bersambung....