NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8: Deklarasi dan Sebutir nasi

Suasana kantin SMA Garuda pada jam istirahat kedua biasanya menyerupai sebuah pasar yang hiruk pikuk. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen, tawa lepas para siswa yang baru saja terbebas dari jeratan rumus matematika, serta aroma gorengan dan soto yang menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Namun, hari itu, hiruk pikuk tersebut tiba-tiba lenyap, berubah menjadi sunyi senyap yang mencekam. Keheningan itu datang begitu mendadak, seolah-olah seseorang baru saja menekan tombol mute secara paksa pada sebuah pemutar musik raksasa.

Semua pasang mata, mulai dari siswi kelas sepuluh yang masih malu-malu hingga para senior yang merasa penguasa sekolah, kini tertuju pada satu titik pusat yang sama. Di sana, di tengah ruangan yang luas itu, Wawan berdiri tegak di atas salah satu meja kantin yang terbuat dari kayu jati. Ia berdiri dengan kaki yang kokoh, wajahnya tanpa beban, dan sorot matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan. Di bawah kakinya, piring-piring plastik bergetar ringan, namun ia tampak seperti seorang raja yang sedang berada di atas panggung kehormatan.

"Perhatian semuanya! Dengar baik-baik, jangan sampai ada satu kata pun yang terlewat dari telinga kalian!" teriak Wawan. Suaranya yang berat dan lantang menggema hingga ke langit-langit kantin yang tinggi, memantul di antara dinding-dinding kaca yang membatasi area indoor dan taman.

Ella, yang saat itu sedang menikmati sesuap nasi goreng hangatnya, tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk hingga air matanya keluar, membasahi pipinya yang mulai memerah. Jalur napasnya terasa perih, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ella tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Firasatnya sebagai siswi berprestasi mengatakan bahwa ketenangan hidupnya yang ia jaga selama tiga tahun ini baru saja menemui titik ajalnya.

"Mulai hari ini," lanjut Wawan dengan nada yang lebih berat, memberikan tekanan pada setiap suku kata. Matanya melirik tajam, memberikan sorot menantang ke arah meja di pojok ruangan—sebuah area eksklusif tempat Rizki duduk bersama Lia dan teman-teman populernya. "Siapa pun yang berani menyentuh, menghina, atau bahkan hanya berani menatap sinis ke arah Ella, artinya kalian berurusan langsung sama gue! Gue nggak peduli siapa kalian! Mau kalian anak populer, jagoan sekolah, atau ketua kelas sekalipun!"

Wawan berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam benak setiap orang. "Di mata gue, Ella adalah perempuan paling berharga di sekolah ini. Dia bukan hanya teman sekolah bagi gue. Dia adalah prioritas. Dan siapa pun yang menyakitinya akan tahu akibatnya dengan tangan gue sendiri!"

Sorak-sorai tertahan dan bisik-bisik mulai pecah. Wawan turun dari meja dengan gaya yang sangat santai, seolah baru saja memberikan pengumuman jadwal piket biasa yang membosankan. Dengan langkah lebar yang percaya diri, ia berjalan menghampiri meja Ella yang masih terpaku bagai patung lilin. Wawan menarik kursi di hadapan Ella dan duduk dengan santai, mengabaikan ratusan pasang mata yang masih memandangi mereka.

"Wan! Kamu sudah gila, ya?!" Ella meledak seketika setelah berhasil mengendalikan batuknya. Ia meletakkan sendoknya dengan suara denting yang sangat keras di atas piring, sebuah tanda kemarahan yang jarang ia tunjukkan. "Apa-apaan maksud kamu teriak-teriak seperti itu di depan semua orang? Kamu pikir ini adegan film drama picisan atau novel romansa yang biasa dibaca anak-anak sekolah? Aku malu, Wan! Aku malu sekali!"

Wajah Ella terasa panas seperti terbakar. Ia bisa merasakan tatapan Lia yang tajam seperti belati dari kejauhan, dan ia bisa mendengar kasak-kusuk teman sekelasnya yang mulai menyebutnya sebagai "gadis peliharaan berandalan".

"Loh, kenapa harus malu? Aku kan cuma sedang memproteksi aset berharga," jawab Wawan tanpa dosa. Dengan gerakan yang sangat santai, ia menjulurkan tangannya dan mencomot sepotong kerupuk udang dari piring Ella, lalu mengunyahnya dengan bunyi kriuk yang menyebalkan.

"Aset apa?! Kamu justru membuatku jadi pusat perhatian yang memuakkan, Wawan!" Ella terus mengomel, suaranya bergetar antara amarah dan rasa malu yang mendalam. "Aku ini maunya tenang! Aku mau sekolah dengan benar, lulus dengan nilai terbaik, dan masuk universitas impian, bukan malah jadi bahan gosip panas satu sekolah karena dilindungi 'satpam' tidak resmi seperti kamu! Kamu benar-benar tidak berpikir dulu sebelum bertindak, ya?!"

Wawan tidak membalas rentetan omelan Ella dengan kemarahan. Ia tidak membela diri dengan kata-kata keras. Sebaliknya, ia justru terdiam. Ia meletakkan sisa kerupuknya dan menatap Ella dengan pandangan yang sangat dalam, lembut, dan penuh arti—sebuah tatapan yang sanggup mengunci semua kata-kata pedas yang sudah siap meluncur dari bibir Ella. Tatapan itu mengandung sebuah janji yang tulus, sebuah pengabdian yang tidak butuh penjelasan panjang lebar.

"Sstt," Wawan tiba-tiba memajukan tubuhnya, mencondongkan dada ke arah meja hingga jarak mereka terpangkas drastis. Jarak wajah mereka mendadak menjadi sangat dekat, hingga Ella bisa merasakan hembusan napas Wawan yang hangat di keningnya.

Ella terdiam seketika. Seluruh saraf di tubuhnya seolah berhenti berfungsi, membeku di bawah tatapan Wawan yang menghipnotis. Namun, jantungnya berkhianat; benda di balik rongga dadanya itu berdegup sangat kencang, memukul-mukul tulang rusuknya dengan liar. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis karena posisi Wawan yang terasa begitu intim di depan publik.

Semua orang di kantin—tanpa terkecuali Rizki yang kini sedang meremas kaleng sodanya hingga besi tipis itu penyok tak berbentuk dan mengeluarkan bunyi gemeretak yang mengerikan—memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan napas tertahan. Atmosfer di sana terasa begitu berat oleh ketegangan yang siap meledak.

Wawan tidak menciumnya, meskipun banyak siswi di sekitar mereka yang sudah mulai memekik tertahan. Namun, dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perasaan, Wawan mengulurkan ibu jarinya yang besar ke arah wajah Ella. Jempol yang permukaannya sedikit kasar itu menyentuh sudut bibir Ella dengan kelembutan yang tak terduga. Ia mengusap sebutir nasi yang tertinggal di sana akibat kejadian tersedak tadi.

Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti aliran listrik bagi Ella. Ia terpaku, matanya membelalak menatap mata Wawan yang tidak berkedip.

"Makan itu pelan-pelan, Sayang. Sampai belepotan begini," bisik Wawan. Suaranya rendah, serak, namun tetap terdengar jelas oleh orang-orang di meja sebelah yang langsung membelalakkan mata dan menutup mulut mereka dengan tangan. Panggilan "Sayang" itu meluncur begitu saja, seolah-olah itu adalah nama tengah Ella.

Setelah mengambil butiran nasi itu, Wawan tidak langsung menjauhkan tangannya. Ia menatap jempolnya sendiri selama satu detik, lalu—dengan gerakan yang sangat berani, tajam, dan penuh provokasi ke arah meja Rizki—ia memasukkan butiran nasi itu ke dalam mulutnya sendiri. Ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring penuh kemenangan yang sangat menyakitkan bagi siapa pun yang merasa memilikinya.

"Manis," gumam Wawan pelan namun tegas, matanya tetap mengunci pandangan ke arah Rizki.

Seisi kantin meledak! Sorak-sorai riuh, siulan nakal, dan bisikan-bisikan histeris memenuhi ruangan dalam sekejap. Para siswa laki-laki mulai memukul-mukul meja sementara para siswi sibuk merekam momen itu dengan ponsel mereka. Ella merasa sekujur tubuhnya membeku bagai es yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin. Tindakan Wawan barusan bukan sekadar candaan atau aksi cari perhatian biasa; itu adalah sebuah klaim kepemilikan yang sangat nyata, sebuah deklarasi perang terbuka yang dilakukan secara sadar di depan publik.

Di ujung ruangan, di meja paling elit, Rizki berdiri dengan kasar. Kursi kayunya terlempar ke lantai dengan suara debam yang keras, menandakan kemarahan yang sudah melampaui batas toleransi. Wajah sang ketua kelas itu gelap sehitam jelaga, urat-urat di lehernya menegang dengan sangat jelas. Matanya yang biasanya tenang dan berwibawa kini menyala oleh api cemburu yang siap melahap apa saja yang ada di depannya.

Rizki berdiri tegak, tangannya mengepal di sisi tubuh hingga buku jarinya memutih. Ia tampak seperti gunung berapi yang hanya tinggal menunggu satu detik lagi untuk meletus hebat dan menghancurkan seluruh kantin. Persaingan ini bukan lagi sekadar tentang siapa yang bisa mendekati Ella secara diam-diam; ini adalah perang terbuka tentang siapa yang berani menunjukkan jati diri di depan dunia. Dan di mata Rizki, Wawan baru saja melintasi garis merah yang tidak akan pernah ia maafkan.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!