Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
6. TGD.6
Hari kedua di kota besar dimulai dengan ritme yang lebih teratur, namun tantangannya mulai terasa nyata. Shelly terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Kebiasaan bangun subuh di desa ternyata menjadi keuntungan tersendiri di asrama. Saat mahasiswa lain masih terlelap, Shelly sudah selesai mandi dan sedang menyeduh teh hangat di dapur umum asrama yang masih sepi.
Hari itu, Shelly memutuskan untuk lebih mengeksplorasi perpustakaan pusat sebelum kelas dimulai. Ia sadar, sebagai penerima beasiswa, standarnya tidak boleh hanya "sekadar lulus". Ia harus unggul. Namun, sesampainya di perpustakaan, ia kembali terpaku. Rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit membuatnya pusing sekaligus takjub. Ia menghabiskan satu jam hanya untuk belajar cara menggunakan katalog digital untuk mencari referensi buku kesehatan masyarakat yang sempat disebutkan dosen kemarin.
---
Keseharian Shelly di awal semester mulai terbentuk menjadi sebuah rutinitas yang padat dan disiplin. Pagi hari adalah waktu untuk belajar mandiri, siang hari diisi dengan kelas yang menguras otak, dan sore hari ia habiskan di ruang komputer kampus. Karena tidak memiliki laptop sendiri, Shelly harus mengandalkan fasilitas kampus untuk mengerjakan tugas-tugas digitalnya.
"Shel, kamu masih di sini?" tanya Hana suatu sore, menemukan Shelly masih berkutat dengan layar komputer saat matahari sudah hampir terbenam.
Shelly menoleh dan tersenyum tipis. "Iya, Na. Sedikit lagi selesai. Aku mau merapikan format laporannya dulu supaya besok tinggal cetak."
Hana duduk di kursi sebelah Shelly. "Kamu rajin banget, ya. Tapi jangan lupa istirahat. Eh, kamu sudah dengar soal tugas kelompok anatomi yang harus pakai aplikasi simulasi itu? Kalau kamu nggak ada laptop di asrama, kamu bisa pakai punya aku kalau kita lagi kerja kelompok nanti."
Kebaikan Hana membuat dada Shelly terasa hangat. "Terima kasih banyak, Na. Itu sangat membantu."
---
Meski mulai memiliki teman, kehidupan sosial di kota tetap memberikan kejutan budaya bagi Shelly. Suatu siang, teman-teman sekelasnya mengajak Shelly makan di sebuah kafe kekinian di dekat kampus. Shelly sempat melihat daftar menu di papan depan dan jantungnya nyaris berhenti. Harga satu porsi kopi di sana setara dengan uang makan Shelly selama dua hari.
"Maaf teman-teman, sepertinya aku ada urusan di asrama," Shelly berbohong dengan halus. Ia merasa malu, tapi ia lebih takut jika uang kiriman Bapak yang tidak seberapa itu habis hanya untuk segelas minuman manis.
Bayu, yang menyadari gelagat Shelly, mendekat saat teman-teman yang lain sudah berjalan duluan. "Shel, kalau kamu merasa kafe itu kemahalan, nggak apa-apa. Sebenarnya di belakang gedung fakultas ada kantin kejujuran yang murah banget. Besok-besok kita makan di sana saja, ya?"
Shelly tertegun. Ternyata, kejujuran pada diri sendiri jauh lebih menenangkan daripada memaksakan gaya hidup yang bukan miliknya. Sejak saat itu, Shelly mulai berani berkata jujur tentang kondisinya, dan ia justru merasa lebih dihargai oleh teman-temannya karena keteguhannya menjaga prinsip.
---
Setiap malam setelah sholat Isya, rutinitas yang paling dinantikan Shelly adalah menelepon ke rumah. Ia biasanya akan duduk di koridor asrama yang sepi agar bisa berbicara lebih leluasa.
"Iya, Pak. Shelly sudah mulai paham cara pakai komputer. Teman-teman Shelly baik semua, mereka sering bantu," cerita Shelly lewat sambungan telepon.
Di ujung sana, suara Bapak terdengar parau namun ceria. "Bagus, Nduk. Jangan minder sama orang kota. Ilmu itu nggak pilih-pilih siapa yang punya. Oiya, ini si bungsu mau bicara."
"Kakak! Jangan lupa bawa oleh-oleh kalau pulang nanti ya! Aku sudah rangking satu di kelas karena Kakak kirim buku cerita kemarin!" teriak adiknya dengan penuh semangat.
Mendengar itu, rasa lelah Shelly setelah seharian belajar seolah luruh. Buku cerita yang ia kirimkan adalah buku bekas yang ia beli dengan menyisihkan sedikit uang sakunya. Melihat adiknya termotivasi menjadi bahan bakar terbesar bagi Shelly untuk terus bertahan.
---
Namun, awal semester tidak selamanya berjalan mulus. Masuk minggu ketiga, tugas-tugas mulai menumpuk. Shelly sempat menangis di pojok kamar asrama saat ia merasa kesulitan memahami materi statistika yang menggunakan perangkat lunak rumit. Ia merasa bodoh karena harus belajar dua kali lebih keras dibandingkan teman-temannya yang sudah akrab dengan teknologi sejak kecil.
Di tengah keputusasaan itu, ia membuka laci mejanya dan melihat toples sambal teri dari Ibu yang tinggal sedikit. Ia mengambil sesendok, memakannya dengan nasi dingin, dan rasa pedas gurih itu seolah membangkitkan memorinya tentang perjuangan Bapak mencangkul di bawah terik matahari.
"Bapak saja nggak pernah menyerah sama tanah yang keras, masa aku menyerah sama angka di layar?" bisiknya pada diri sendiri.
Shelly menghapus air matanya, mengambil buku catatannya, dan kembali berjalan ke perpustakaan yang masih buka hingga malam. Ia tidak lagi peduli dengan rasa kantuk atau rasa mindernya. Di awal semester ini, ia belajar bahwa kecerdasan mungkin bisa dibawa dari lahir, tapi ketangguhan adalah sesuatu yang harus ditempa setiap hari.
Keseharian Shelly di awal semester adalah sebuah pertarungan sunyi antara rindu rumah dan ambisi besar. Ia mulai terbiasa dengan suara bising klakson, ia mulai hafal rute angkutan kota, dan ia mulai mencintai aroma buku-buku tua di perpustakaan. Ia bukan lagi gadis desa yang gemetar saat melihat gedung tinggi; ia adalah seorang pejuang yang sedang membangun fondasi masa depannya, satu demi satu, dengan keringat dan doa yang tak terputus.