"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Terlalu pendek, Lea. Ganti!"
Leana mendengus sembari memutar tubuhnya di depan cermin besar butik itu. Gaun merah yang ia kenakan memang membalut tubuhnya dengan sempurna, tapi bagian punggungnya terbuka lebar hingga ke pinggang.
"Ini sedang tren, Jim! Dan warnanya bagus untuk kulitku. Kau tidak lihat bagaimana pelayan butik tadi menatapku?"
"Justru karena aku melihat bagaimana pria-pria di luar sana menatapmu, aku menyuruhmu menggantinya," geram Jimmy.
Ia berdiri di belakang Leana, bayangan tubuhnya yang besar menutupi pantulan Leana di cermin. Tangan kasarnya meraba kulit punggung Leana yang polos, membuat gadis itu meremang.
"Kau tidak akan keluar dari sini dengan punggung telanjang seperti ini. Aku tidak sudi berbagi pemandangan ini
dengan siapa pun."
"Kau ini pengawal atau polisi moral, sih?" Leana berbalik, mengalungkan tangannya di leher Jimmy, sengaja merapatkan tubuh mereka. "Bukankah kakek ingin aku terlihat menawan untuk calon suamiku nanti? Mungkin pria Belanda itu akan menyukainya."
Rahang Jimmy mengeras. Ia mencengkeram pinggang Leana dengan posesif, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka.
"Sebut pria itu sekali lagi, dan aku akan merobek gaun ini tepat di depan matamu, Lea."
"Coba saja kalau berani," tantang Leana dengan nada manja.
Jimmy tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menyambar sebuah gaun hitam berlengan panjang dari rak terdekat, lalu mendorong Leana masuk ke dalam ruang ganti.
"Pakai ini. Sekarang!" perintah Jimmy, ikut masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Jim! Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh masuk ke sini!" pekik Leana dengan pipi merona.
"Aku yang memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sini," bisik Jimmy. Ia membantu Leana menurunkan ritsleting gaun merahnya. "Kau ingin manja denganku, kan? Sini, biarkan aku yang melayanimu."
Saat gaun merah itu meluncur jatuh ke lantai, menyisakan Leana dengan pakaian dalam renda hitamnya, suasana di ruang ganti yang sempit itu mendadak panas. Oksigen seolah menghilang. Mata Jimmy menggelap, menatap setiap inci lekuk tubuh Leana dengan rasa lapar.
"Kau sangat cantik, Lea. Terlalu cantik sampai rasanya aku ingin mengurung mu di sini selamanya," gumam Jimmy dalam hati.
Tangannya yang besar dan hangat mulai menjelajahi kulit paha Leana lalu naik menuju pinggulnya. Leana mendesah pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Jimmy.
"Tadi kau galak sekali di depan Kakek. Sekarang kenapa jadi selembut ini?"
"Karena di depan kakekmu aku adalah anjing penjaga. Sedangkan di depanmu, aku hanya pria gila yang menginginkanmu," balas Jimmy serak. Ia membalikkan tubuh Leana, menekannya ke dinding ruang ganti.
Jimmy menunduk, mencium leher Leana dengan hisa-pan kuat, meninggalkan tanda merah yang kontras di kulit putiha gadis itu. B
"Ini agar pria Italia itu tahu bahwa kau sudah ada yang memiliki."
"Ah... Jim, pelan-pelan..." Leana mencengkeram rambut Jimmy, menariknya agar bibir pria itu segera membungkam miliknya.
Dan saat bibir mereka bertemu, itu bukan lagi ciuman yang ragu-ragu. Itu adalah pagutan yang panas, menuntut, dan penuh dengan gai-rah yang sudah mereka tahan sejak di mansion tadi.
Jimmy menjelajah dengan dominan, sementara tangan Leana merayap masuk ke balik kemeja Jimmy, merasakan otot-otot keras yang berkedut di bawah sentuhannya.
Jimmy mengangkat tubuh Leana, mendudukkannya di atas meja kecil di sudut ruang ganti. Kaki gadis itu melingkar erat di pinggang Jimmy.
"Kau milikku, Leana. Katakan padaku kau milik siapa," tuntut Jimmy di sela ciumannya.
"Milikmu... aku milikmu, Jim," rintih Leana seraya menyatukan kening mereka. Mata indahnya berkaca-kaca karena sensasi luar biasa yang dialirkan Jimmy ke seluruh tubuhnya. "Hanya milikmu."
Jimmy mengecup hidung Leana, lalu beralih ke telinganya. "Bagus. Sekarang pakai gaun hitam itu. Kita akan keluar, membeli barang-barangmu, dan aku akan membawamu pulang untuk menghukum mu lebih jauh karena sudah membuatku cemburu setengah mati hari ini."
Leana tertawa kecil sembari memeluk leher Jimmy erat-erat. "Aku suka dihukum olehmu, Jim."
Jimmy tersenyum tipis, senyum yang sangat jarang ia perlihatkan. Kemudian, ia membantu Leana mengenakan gaun hitam pilihannya, lalu merapikan rambut gadis itu dengan penuh perhatian.
"Hanya begini saja?" tanya Leana dengan bibir cemberut.
"Maksudmu?" Jimmy mengernyit.
"Apa kita tidak bisa melakukan lebih dari—"
"Hilangkan pikiran kotormu itu!" potong Jimmy, menyentil kening Leana dan membuat gadis itu meringis kesakitan.
Apa Leana tidak tahu jika Jimmy sedang menahan mati-matian soal yang satu itu? Rasanya kepala atas bawahnya ingin meledak.
Bukan tak mau menyentuhnya lebih dari sekedar ciuman, Jimmy masih ingat janjinya semalam pada Diego yang memintanya untuk tak menyentuh Lea sebelum mereka menikah.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁