Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Sinar matahari pagi yang masuk ke apartemen keluarga Mandala terasa lebih redup, seolah awan kelabu telah menetap secara permanen di sana. Keheningan yang menyambut Arga saat terbangun bukanlah ketenangan yang damai, melainkan kekosongan yang menyesakkan. Nabila sudah bangun lebih dulu, namun aroma kopi yang biasanya menjadi alarm alami bagi Arga tidak tercium.
Arga melangkah ke ruang tengah dengan hati yang berat. Ia melihat Nabila sedang berdiri di balkon, menatap kosong ke arah gedung-gedung yang mulai diselimuti polusi.
"Nabila..." panggil Arga pelan.
Nabila tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang, bahunya tampak layu. "Mas, ada paket untukku di depan pintu tadi pagi. Tidak ada nama pengirimnya. Hanya tertulis 'Untuk Nabila, dari pengagum rahasia suamimu'."
Jantung Arga mencelos. Ia segera bergegas menuju meja ruang tamu. Di sana terdapat sebuah kotak beludru merah hati yang sangat mewah. Arga membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya melingkar sebuah kalung berlian yang sangat berkilau, jauh melampaui kemampuan finansial Arga saat ini. Di samping kalung itu, terselip sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan feminin.
"Terima kasih untuk malam yang tak terlupakan di vila semalam. Ini hanya tanda kecil untuk kesabaranmu berbagi pria sehebat Arga denganku."
Darah Arga terasa mendidih. Ia meremas kartu itu hingga hancur. "Ini bohong, Nabila! Ini fitnah! Siska sengaja mengirimkan ini untuk menghancurkan kita!"
Nabila berbalik perlahan. Matanya tidak lagi menangis, matanya kini terlihat dingin, sebuah sorot mata yang jauh lebih menakutkan bagi Arga daripada air mata. "Bagaimana dia tahu alamat rumah kita, Mas? Dan bagaimana dia bisa tahu kau ada di vila semalam jika itu memang 'rapat koordinasi' resmi di kantor?"
"Nabila, dengarkan aku..."
"Aku melihatmu, Arga." Suara Nabila tenang, namun tajam seperti sembilu. "Aku mengikutimu ke vila itu. Aku berdiri di depan gerbang. Aku melihatmu masuk, dan aku melihat bagaimana dia mencoba memelukmu di teras saat kau hendak pergi."
Arga terpaku. Lidahnya kelu. Fakta bahwa Nabila ada di sana mengubah segalanya. Semua penjelasan yang ia siapkan di kepalanya mendadak runtuh.
"Aku melihat kau menolaknya di akhir, Mas," lanjut Nabila, suaranya mulai bergetar. "Tapi yang menyakitkan bukan itu. Yang menghancurkanku adalah kenyataan bahwa kau berbohong. Kau memilih untuk pergi ke sana, kau memilih untuk menyembunyikan siapa Siska sebenarnya dariku. Kau membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruang rahasia kita."
"Aku hanya ingin melindungimu, Nabila! Dia mengancam pekerjaanku, dia menyabotase laporanku. Aku tidak ingin kau cemas!" Arga mencoba meraih tangan Nabila, namun istrinya menghindar.
"Melindungiku? Dengan cara membiarkan dirimu menjadi mainannya? Dengan cara membiarkan dia mengirimkan berlian ini ke rumahku untuk meludah di wajahku?" Nabila menunjuk kotak merah itu dengan rasa jijik yang luar biasa. "Ambil benda ini, Mas. Bawa kembali pada pemiliknya. Dan jangan pulang sampai kau bisa memberikan kejujuran yang utuh, bukan kejujuran sisa-sisa."
Arga menyambar kotak merah itu dan meluncur ke kantor dengan kemarahan yang meluap. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan staf atau protokol perusahaan. Ia menendang pintu ruangan Siska hingga terbuka lebar.
Siska sedang duduk dengan santai, menikmati teh paginya. Ia bahkan tidak terkejut melihat kedatangan Arga yang seperti banteng mengamuk.
"Oh, Arga. Kau sudah menerima ucapan terima kasihku?" Siska tersenyum manis, menyesap tehnya dengan anggun.
"Ambil ini, wanita iblis!" Arga melemparkan kotak beludru itu ke atas meja Siska hingga isinya berantakan. "Jangan pernah berani menyentuh rumahku. Jangan pernah berani mengirim apa pun pada istriku!"
Siska meletakkan cangkirnya perlahan. Ia berdiri dan berjalan mendekati Arga, menatapnya dengan tatapan puas. "Kenapa marah, Sayang? Aku hanya ingin membantu istrimu mengerti kasta suaminya yang sebenarnya. Dia pantas tahu bahwa suaminya adalah pria yang sangat berharga... setidaknya bagiku."
"Kau sakit, Siska. Kau butuh bantuan medis," desis Arga.
"Aku memang sakit, Arga. Sakit karena kau menolakku semalam. Dan jika aku tidak bisa memilikimu dengan cinta, maka aku akan membuatmu tidak punya tempat untuk kembali," Siska mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah Arga. "Bagaimana reaksi Nabila? Dia mengusirmu? Dia meragukanmu? Bagus. Itu baru permulaan."
"Aku akan menceritakan semuanya pada Pak Roy. Aku akan membongkar semua kelicikanmu!" ancam Arga.
Siska tertawa terbahak-bahak. "Ceritakanlah. Siapa yang akan dipercaya suamiku? Istri tercintanya yang cantik dan sukses, atau seorang manajer yang frustrasi karena gagal mendapatkan promosi? Aku sudah menyiapkan 'bukti' bahwa kau yang menguntitku ke vila semalam, Arga. CCTV vilaku sudah diedit. Kau yang datang memohon padaku, bukan sebaliknya."
Arga terperanjat. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil telah diprediksi oleh Siska. Ia terjebak dalam jaring laba-laba yang ia buat sendiri saat ia memilih untuk mulai berbohong pada Nabila.
Sore harinya, Arga kembali ke apartemen dengan perasaan hancur. Ia berharap bisa bicara lagi dengan Nabila, namun ia menemukan apartemen itu kosong. Lemari pakaian Nabila setengah kosong. Sebuah surat tertinggal di atas meja makan, tepat di samping noda kopi yang belum benar-benar hilang dari taplak meja.
"Mas, aku butuh waktu. Aku tidak bisa tinggal di tempat di mana kebohongan menjadi tamu yang tidak diundang. Jangan cari aku dulu. Aku harus menata kembali hatiku yang hancur."
Arga jatuh terduduk di lantai dapur. Ia memukul lantai dengan tangannya hingga berdarah. Siska berhasil. Kado misterius itu adalah bom waktu yang menghancurkan rumah tangganya dalam sekejap.
Namun, di sebuah hotel kecil di pinggiran kota, Nabila sedang duduk di depan laptopnya. Matanya merah, namun sorot matanya kini berubah. Ia bukan lagi istri yang lemah. Ia membuka kembali berkas-berkas lamanya saat masih menjadi pengacara magang.
"Kau salah menilaiku, Siska Roy," bisik Nabila pada kegelapan kamar hotel. "Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Jika kau ingin bermain kotor, aku akan menunjukkan padamu bagaimana seorang istri berjuang demi kehormatan suaminya."
Nabila mulai mengetik sebuah nama di mesin pencari - 'Siska Roy - Skandal Luar Negeri'. Ia tahu, setiap predator pasti meninggalkan jejak darah di masa lalunya. Dan Nabila bersumpah akan menemukan jejak itu.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰