Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit akhirnya hari ini Despina diperbolehkan pulang karena sudah dinyatakan sehat. Despina masih duduk di atas brankar rumah sakit itu, sedangkan Keyvandi mengemas barang-barang milik Despina ke dalam tas gadis itu. Jika ada yang bertanya mengapa Despina memiliki barang-barang, semua itu karena Keyvandi membelikannya banyak banyak barang untuk Despina, mulai dari baju dan lainnya yang dibutuhkan Despina telah lelaki itu siapkan.
"Sayang, bagaimana perasaanmu karena hari ini sudah boleh pulang?"
Despina tersenyum, gadis dengan rambut ikal itu terlihat sangat bahagia karena pada akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokternya. "Aku sangat senang kak." Tapi kemudian raut wajah gadis itu menjadi sedih, ia memikirkan tentang nantinya ia akan tinggal di mana. Keyvandi yang melihat wajah Despina berubah menjadi sedih pun akhirnya mendekat ke gadis itu.
Keyvandi mengusap puncak kepala Despina pelan, "Ada apa sayang? Mengapa kau sedih seperti itu?" Tanya Keyvandi, ia bingung mengapa Despina seperti itu.
Despina menggelengkan kepalanya, tapi ia kemudian menatap keyvandi, "Aku hanya harus memikirkan di mana aku akan tinggal kak."
Keyvandi menghela napasnya pelan, ternyata gadisnya itu sedih karena memikirkan akan pulang kemana.
"Hei tenanglah, aku akan mengantarkanmu pulang sayang, mungkin saja kedua orangtuamu sedang mencarinu sekarang, atau mungkin orang-orang terdekatmu dengang mencarimu."
Despina menatap Keyvandi dengan mata berkaca-kaca, kemudian gadis itu kembali menundukkan kepalanya, "Kak, aku tidak ingin pulang ke rumah itu, aku tidak mau."
Keyvandi mengerutkan keningny, entah apa sebenarnya yang terjadi dengan gadisnya itu sampai ia tidak ingin pulang ke rumahnya, yang pasti nanti Keyvandi akan mencari taunya sendiri jika Despina tidak ingin bercerita padanya.
"Baiklah sayang, kau boleh tinggal di apartemenku."
Despina menatap Keyvandi lagi, "Tidak kak, aku tidak ingin merepotkan kakak secara terus menerus, mungkin aku akan mencari kos, dan aku juga akan mencari pekerjaan untuk kehidupanku, hanya saja sekarang aku belum memiliki uang untuk itu."
Keyvandi menghela napasnya pelan, "Jangan sayang, kau bisa dengan bebas menggunakan apartemenku, tidak perlu membayarnya, tinggallah di sana senyaman mungkin."
Lagi dan lagi Despina menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa kak,"
"Aku akan tetap memaksamu sayang, kau jarus tinggal di apartemenku, jangan tinggal di tempat lain, jika kau tidak ingin selamanya, mungkin untuk sementara sampai kau menemukan tempat tinggal yang pas."
Despina tampak berpikir, mungkin apa yang dikatakan Keyvandi ada benarnya juga, untuk saat ini memang ia tidak mempunya uang sepeserpun, mungkin sekarang ia harus menerima dan merepotkan Keyvandi lagi. "Baiklah, tapi aku berjanji jika nanti aku sudah memiliki pekerjaan aku akan membayar semuanya kak."
"Tidak perlu membayar ku sayang, cukup kau bersamaku aku sudah senang."
"Tapi kak..."
"Sttt, sudah ya, jangan membantahnya, ini demi kebaikanmu, aku mungkin tidak tau ada apa denganmu dan hubunganmu dengan keluargamu, tapi aku mencoba untuk menjadi yang terbaik bagimu."
Despina hanya bisa mendengar perkataan Keyvandi itu dengan bersyukur dalam hati, ia berterimakasih karena Tuhan telah mempertemukannya dengan Keyvandi. Meskipun ia tau, jika suatu hari nanti Keyvandi tau tentang yang terjadi sebenarnya kepada Despina, mungkin lelaki itu akan jijik padanya dan menjauh darinya.
"Sayang, semuanya sudah siap, sekarang kita pulang saja ya ke apartemen," Ajak Keyvandi pada Despina, tapi sebelum itu seperti biasa, Keyvandi mengenakan masker kemudian hoddie agar tidak ada yang mengenalinya.
Keyvandi menuntun Despina untuk berjalan,.keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit milik keluarga Keyvandi itu, lalu mereka menaiki mobil milik Keyvandi yang sudah terparkir di halaman depan rumah sakit yang di dalamnya sudah ada supir pribadi lelaki itu.
Di dalam mobil,belum ada pembicaraan Anatar keduanya. Keyvandi maupun Despina asik dengan pikiran mereka masing-masing. Keyvandi yang asik memikirkan tentang hal yang terjadi dengan Despina, tapi ia juga sebenarnya tidak ingin mencaritahu, karena ia hanya ingin apa yang Despina alami biar gadis itu yang menceritakannya.
"Kak Vandi."
"Ya?"
Despina menatap lelaki yang merupakan kekasihnya itu, "Apa keluarga kakak tidak apa-apa jika mereka tau aku tinggal di apartemen kakak?"
Keyvandi menari Despina kepelukan lelaki itu, "Tentu saja, kau tidak perlu khawatir, Mami Keana, Daddy Kelvin, Bang Vando, Vara dan juga Karo tidak akan pernah keberatan sayang."
"Aku hanya takut, kakak seorang seleby, dan banyak sekali oemggemar kak Vandi di luar sana, jika mereka sampai tau kakak memiliki hubungan dengan gadis biasa sepertiku mungkin mereka akan marah."
Keyvandi berusaha menenangkan Despina dan juga perasaan takut gadis itu. "Kau tau sayang, di dunia ini ada dua hal yang akan di rasakan oleh manusia dari manusia lainnya, yang pertama yaitu adanya orang yang menyukai kita, dan yang kedua adanya manusia yang tidak menyukai kit, orang yang menyukai kita dan tulus pasti akan tetap berada di pihak kita meskipun kita memiliki pilihan sendiri, mereka akan mendukung kita jika itu positif, dan akan menegur kita jika itu negatif, tapi mereka tidak akan.pernah meninggalkan kita, sedang untuk orang yang memang tidak menyukai kita, sebagaimanapun baiknya kita, dan seberusaha apapun kita mencoba untuk membuat mereka senang, tidak akan mengubah segalanya, yang tidak suka akan tetap tidak suka, begitupun yang tulus dan benar-benar mendukung kita tanpa berniat mengambil sedikitpun keuntungan pasti akan tetap stay, tidak akan ada yang berubah."
Mendengar penjelasan dari Keyvandi itu membuat Despina terdiam, ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu, memang benar, jika seseorang menyukai kita tidak mungkin meninggalkan begitu saja, jika benar mereka akan mendukung dan jika salah akan ditegur untuk memperbaiki, beda dengan orang yang tidak menyukai kita, karena mereka akan memandang apapun yang kita lakukan salah di mata mereka, meskipun kita tidak salah sekalipun.
"Aku mengerti kak,hanya saja, jika nanti ada penggemar kakak yang tau bagaimana? Aku hanya takut akan berpengaruh pada karir kakak."
Keyvandi tersenyum lagi, "Kau tau, rezeki itu sudah ada yang mengatur, dan begitupula hidupku, karirku juga da yang mengatur, aku tidak akan pernah takut jika ada penggemarku mengetahui hunbunganku denganmu, karena bagiku hidupku juga butuh privacy, mereka memang.oenggemarku, tapi bukan berarti mereka bebas mengatur hidupku, aku bersyukur mereka mendukungku sampai akhirnya namaku sebesar ini, tapi sampai kapanpun, aku juga butuh hidupku hanya aku yang tau dan aku yang menentukan pilihan."
Mendengar jawaban bijak dari lelaki itu membuat Despina tidak bisa lagi berkata-kata, Keyvandi adalah lelaki yang bisa berpikiran dewasa, berbeda dengannya yang masih kekanak-kanakan, tapi itu wajar, karena umur Keyvandi yang berjarak kurang lebih 7 tahun jika dibandingkan dengannya, lelaki itu lebih tua.
"Kak, apa aku boleh ke sekolah besok?" Tanya Despina pada Keyvandi, lelaki itu tadi memandang ponselnya, kemudian mengalihkan.lagi perhatiannya pada Despina.
Lelaki itu tampak memikirkan pertanyaan Despina itu. "Emb, boleh, besok aku akan mengantarkanmu."
Desina menghela napasnya pelan, sebenarnya ia ingin berangkat seorang diri, tapi ia mengingat lagi jika ia tidak memiliki uang sepeserpun.
Setelah beberapa waktu kemudian, Keyvandi dan Despina akhirnya sampai di basemen apartemen mewah milik Keyvandi. Lelaki itu langsung turun dati mobil dan diikuti oleh Despina. Keduanya jalan beriringan, sedangkan barang-barang milik Despina dibawa oleh supir pribadi Keyvandi. Keduanya berjalan beriringan, sampai di depan lift, Keyvandi dkeduanya masuk ke dalam lift yang terbuka.
Kemudian Keyvandi memencet tombol lift tempat di mana unit apartemen milik Keyvandi berada.
Ting
Keduanya telah sampai di lantai tempat unit apartemen milik Keyvandi berada, akhirnya Keyvandi maupun Despina keluar dari dalam lift dan berjalan menuju apartemen milik Keyvandi.
Sampai di sana, Keyvandi mengeluarkan kartu yang berfungsi untuk membuka pintu apartemen miliknya itu.
Despina maupun Keyvandi masuk ke dalam, kemudian keduanya duduk di sofa. Tidak lama kemudian supir Keyvandi masuk dan mengantarkan barang milik Despina, lalu pamit keluar kembali.
"Akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit, di sana sangat membosankan."
Keyvandi senang melihat Despina yang menampilkan wajah senyum seperti itu. "Aku juga senang melihatmu sudah kembali seperti semula."
"Terimakasih kak Vandi, aku banyak berhutang Budi pada kakak."
Keyvandi mengusap kepala Despina, entahlah, Keyvandi sangat suka mengusap, mengelus ataupun memeluk gadis itu ada ketenangan yang ia rasakan jika di samping gadis itu.
"Jangan mengucapkan terimakasih terus menerus sayang, aku tulus melakukannya."
Keyvandi menatap mata Despina dalam, tanpa sadar wajah Keyvandi mendekat ke wajah Despina, jarak antara wajah Despina dan juga Keyvandi sangat dekat, tinggal 5 centimeter, bahkan Despina perlahan memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba saja dering ponsel Keyvandi berbunyi, lelaki itu langsung menjauhkan wajahnya dari Despina, Despina reflek membuka matanya.
Wajah gadis itu memerah, tapi ia berusaha menetralkannya.
"Halo?" Ucao Keyvandi dengan nada kesal, bagaimana tidak kesal hampir saja ia mencium Despina tapi malah mendapatjan telepon dari seseorang.
"Kau ini kenapa tidak ada kabar? Aku menunggumu sudah 3 hari ini, banyak sekali jadwalku yang harus ditunda, dan aku harus mengatur ulang semuanya, Rion, aku tidak ingin jika banyak orang yang kecewa, untuk itu, bisakah kau datang ke kantormu sekarang!"
Keyvandi menghela napasnya mendengar Omelan dari Lia, manajer sekaligus asistennya itu. "Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi."
"Tidak ada sebentar lagi, malam ini kau ada jadwal di undang dalam acara sebuah podcast terkenal, jadi aku ingin kau harus siap, lagipula bukankah Tante Keana sudah sembuh."
"Okay, aku langsung kesana."
Tut
Terserah jika Lia mengomelinya karena mematikan teleponnya sepihak, salahnya mengapa harus menelponnya di waktu yang tidak tepat, rasakan itu.
"Huh, menyebalkan."
Despina yang mendengar itu memegang tangan Keyvandi dengan lembut, "Ada apa kak?"
Lelaki itu menoleh kearah Despina, pandangan yang tadinya kesal tiba-tiba berubah melembut, entahlah sihir apa yang ada dalam diri Despina sehingga membuat gadis itu menjadi pemenang untuknya.
"Tidak sayang, jangan khawatir."
Despina menggelengkan kepalanya, "Kak Vandi jangan berbohong padaku, kakak saja boleh membantuku, kenapa aku tidak boleh membantu Kakak. Kak, meskipun aku tidak bisa memberikan.materi pada kakak dan membalas Budi kakak dengan materi, karena aku tidak punya, tapi aku berharap kakak bisa membagi semua keluh kesah kakak padaku, aku ini adalah pendengar yang baik kata Dandelion." Gadis itu menatap tulus mata Keyvandi.
Keyvandi menarik napasnya dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, "Tadi yang menelponku adalah Lia, dia manajer sekaligus merangkap sebagai asistenku, Lia mengatakan jika malam ini aku harus menghadiri undangan salah satu podcast, dan menjalankan semua jadwalku, karena banyak sekali jadwal yang harus diubah karena aku izin tidak bekerja selama beberapa hari ini."
Despina menjadi merasa bersalah mendengarnya, "Kak Vandi, jika itu sudah menjadi kewajiban kakak, jalankanlah, mungkin ini adalah kesalahanku karena aku kakka jadi tidak menjalankan jadwal-jadwal kakak yang seharusnya."
Keyvandi memegang kedua pundak Despina dengan tanganyanya. "Aku tidak pernah merasa direpotkan sekalipun, dan ini juga bukan kesalahanmu, tapi ini adalah kemauanku, aku tidak tega membiarkanmu seorang diri dalam keadaan sakit, kau adalah kekasihku Despina, sudah menjadi kewajiban ku untuk menjagamu."
Saat Despina akan mengucapkan terimakasih, Keyvandi langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Jangan mengucapkan terimakasih lagi sayang, mungkin jika aku mengumpulkan ucapan terimakasihmu itu sangat banyak, aku takut tidak dapat menampungnya, aku cukup kau selalu ada di sampingku saja."
Despina hanya diam, keyvandinyang heran dengan keterdiaman gadis itu langsung melihat gadis itu dan menatap wajah Despina.
"Ciyeee, salting ya?"
Despina menutupi wajahnya yang memerah itu, ya bagaimana tidak salting jika bersama dengan lelaki semanis Keyvandi, bukan orangnya saja yang manis, tapi setiap kata yang keluar dari lelaki itu juga terlalu manis, sampai Despina sendiri tidak bisa menahannya.
"Kak Vandi, jangan menggodaku."
Keyvandi tertawa kencang melihat ajah Despina, gadis itu memang sangat menggemaskan, maka dari itu sampai kapanpun Despina tidak akan pernah melepaskannya. Dan Keyvandi berjanji akan membuat Despina selalu bahagia.
"Kak, lebih baik kakak sekarang berangkat, bukankah kakak harus bersiap."
Keyvandi menepuk jidatnya pelan, ia sampai lupa jika harus bergegas ke kantor untuk bertemu dengan manajernya itu dan bersiap untuk acara podcast malam ini. Huh, baiklah, mungkin ia akan melanjutkan obrolannya atau quality timenya dengan Despina nanti saja, lagipula gadis itu masih akan selalu ada di apartemennya.
"Sayang, aku berangkat dulu, oh ya, jika kau ingin membeli sesuatu gunakan ini." Keyvandi menyerahkan sebuah karti berwarna hitam atau biasa disebut black card kepada Despina m Despina membelalakkan matany, gadis itu kemudian menggelengkan kepala.
"Kak lebih baik kakak membawanya saja, aku biarlah memakan apa yang ada." Benar, lagipula ia tidak ingin lebih jauh lagi merepotkan lelaki itu, cukup diberi tempat tinggal dan makan lalu diizinkan sekolah juga dibayarkan saat di rumah sakit saja ia sudah bersyukur. Tapi ini, lelaki itu malah memberinya hal lebih.
"Hish, jangan menolaknya, pakailah, uangku banyak, tidak akan habis jika kau hanya menggunakannya untuk sekedar makan, atau berbelanja pun tidak masalah, dan juga, aku belum memberimu ponsel, nanti jika ada waktu luang kota akan membelinya untukmu."
Akhirnya, mau tidak mau Despina mengambil black card itu, "Te-terimakasih kak Vandi."
Lelaki itu hanya berdehem, "Jaga dirimu dengan baik, sampai nanti sayang."
Setelahnya Keyvandi pergi dan menutup pintu apartemennya. Sedangkan Despina, ia menatap black card yang diberikan oleh Keyvandi padanya itu, ia sendiri bingung, bagaimana caranya mengucapkan terimakasih pada lelaki itu nantinya, lelaki yang terlalu sempurna, dan ia merasa tidak pantas.
.
.
.
TBC