NovelToon NovelToon
Mr. Planet Only Mine!

Mr. Planet Only Mine!

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Duda / CEO / Anak Genius / Romansa / Pengantin Pengganti / Tamat
Popularitas:11.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: kenz....567

Mars Reviano, seorang duda yang akan kembali menikah dengan wanita yang di jodohkan oleh orang tuanya. Sayangnya, di hari pernikahannya calon mempelai wanita tak datang. Situasi sungguh kacau, pernikahan tak bisa di batalkan begitu saja.

Hingga tiba-tiba, kedatangan seorang gadis memakai gaun pengantin mencuri perhatiannya. Aurora Naomi, sosok gadis cantik pemilik senyuman indah. Ia tak sengaja masuk ke dalam gedung acara pernikahan Mars karena menghindari kejaran polisi yang ingin menilangnya.

Entah kebetulan atau tidak, Aurora merupakan keponakan dari asisten pribadi kakek Mars. Mengetahui nama Aurora dan calon mempelai wanita sama, kakek Mars langsung meminta asistennya untuk menikahkan keponakannya dengan cucunya.

"Kenapa Tuan Planet mau menikah denganku?"

"Jangan panggil saya planet! Itu sangat mengesalkan!"

Si gadis pecicilan yang bertemu dengan duda dingin? Bagaimana akhirnya? Di tambah, seorang bocah menggemaskan.

"Ibu tili? Woaah! tantiknaa ibu tili Alkaaan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku akan menjaganya

Sementara itu di dalam kelas, Arkan sedang meladeni pertanyaan teman sekelasnya satu-satu. Ia duduk di kursinya sembari tersenyum lebar, tak lelah ia menjelaskan pertanyaan yang temannya ajukan tentang mommy nya.

"Mommy mu sangat cantik, itu mommy tirimu? Katanya kamu gak mau punya mommy tiri," Ujar seorang anak laki-laki yang memakai kaca mata.

"Mommy Lola baik cama Alkan, nda jahat. Nda pelnah culuh Alkan belecin lumah, Alkan malah di temenin main telus. Enak loh punya Mommy tili!" Seru Arkan dengan semangat.

"Alkan seling di ajak makan nda?" Tanya temannya yang lain.

"Celiiing, di cuapi! Nda pelnah di malahi! Benelan, nda pelnah mommy malah. Di cayang Alkan cama mommy loh! Enak tau punya mommy tiliii." Ledek Arkan pada para temannya.

"Ih, aku mau punya mommy tili kayak Alkan, nanti minta papa beli lah."

"Iya, aku juga mau. Mama ku seling malah-malah, ibu tili nda malah-malah yah Alkan?"

Arkan tersenyum lebar mendengar keinginan para teman-teman nya yang ingin jadi sepertinya. Mereka hanya tahu sebatas apa yang Arkan cerita kan, tak mengerti bagaimana lebih jelasnya.

"Canaaa, minta mommy tilii. Enak tau, nda pernah malah. Mommy tili Alkan kayak cindelelaaaa, tantiiik, baik, nda pelnah malah. Pokok na kelen mommy na Alkan!" Seru Arkan.

"Arkan ... Arkan! Mommy tiri kamu sama papa aku aja gimana? Aku kasih kamu jajanku." Arkan menoleh ke arah temannya yang memberikan jajanan padanya. Melihat itu, raut wajah Arkan berubah kesal. Ia mendorong kembali jajan itu ke arah temannya dan mendesis kesal.

"Nda mauuu! Cali cendili canaaa! Jangan lepotin olang, Alkan aja kabul dulu balu ketemu mommy kok!" Balas Arkan.

"Dih pelit, kita gak usah temenan lah." Anak itu marah pada Arkan, ia tak ingin lagi berteman dengan Arkan.

"Ih, yacudaaaah. Alkan ada mommy Lola yang ajak Alkan main kok! Lepot kali!" Desis Arkan tak kalah kesal. Mana mau dia menukar tambah mommy kesayangan nya dengan hanya untuk satu wafer? Tentu Arkan tidak mau.

.

.

.

Mobil terhenti tepat di depan sebuah rumah yang sederhana. Aurora tentu mengenal rumah itu, ia segera mengalihkan pandangannya dari Mars yang kini menatapnya. Seolah, Aurora tak ingin turun dari mobil.

"Ayo, apa kamu tidak mau ketemu ayahmu?" Ujar Mars sembari melirik ke arah Aurora.

"Enggak! Enggak mau! Lagian kenapa sih kesini?! Ayo pulang, aku gak mau disini!" Ujar Aurora dengan ketus.

"Aku harus berbicara pada ayahmu, ayo." Ajak Mars kembali.

"Enggak mau! Bicara aja sendiri, jangan ajak aku!" Balas Aurora.

Istrinya sangat keras kepala, Mars tak punya pilihan lain selain memaksanya. Pria itu turun dari mobil, lalu memutari mobil dan membuka pintu bagian Aurora duduk. Tentunya, Aurora kaget.

"Kamu mau ngapain?" Tanya Aurora yang sudah merasa was-was saat Mars sedikit merendahkan tubuhnya.

"HEIII! TURUNKAN AKU!" Teriak Aurora saat Mars tiba-tiba menggendongnya dan membawanya ke depan pintu rumah Ansel.

Mars menurunkan Aurora, ia lalu mencengkram tangan istrinya itu dengan kencang agar tidak kabur. Lalu, ia mengetuk pintu kayu itu. Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Mars pun memundurkan langkahnya.

Cklek!

Terlihat, seorang pria paruh baya memakai jaket rajut membuka pintu rumah. Raut wajahnya terlihat pucat, ia terkejut begitu melihat Aurora dan juga MArs ada di rumahnya. Siapa lagi, kalau bukan Ansel.

"Kalian ...."

"Bisa kami masuk dan berbicara sebentar dengan anda?" Tanya Mars dengan sopan.

"Masuklah." Sahut Ansel tanpa ekspresi. Pria itu lalu membuka pintu dengan lebar dan membiarkan anak dan menantunya masuk.

Mars langsung menatap ke arah Aurora yang masih membuang pandangannya, "Nurut, jika tidak aku akan memakanmu malam nanti." Ancam Mars.

"Dih, Mister Planet gak je ... heii!!" Mars menarik tangan Aurora masuk ke dalam rumah.

Keduanya duduk di sofa berwarna coklat yang ada di ruang tengah, sembari menunggu Ansel yang tidak tahu kemana. Aurora melihat sekeliling, tak ada yang berubah dari keadaan rumah itu. Dulu sesekali ia kesini untuk menumpahkan rasa rindunya pada sang ayah yang tak kunjung pulang.

Tatapan Aurora jatuh pada foto dirinya yang masih bayi. Sebelumnya, ia tak pernah melihat foto itu. Menapa, foto itu terpajang di dinding rumah ini?

Bertepatan dengan itu, Ansel datang dengan membawa dua cangkir teh dan meletakkannya di atas meja. "Tidak perlu repot-repot Tuan Ansel." Ujar Mars dengan sopan.

"Panggil saja ayah, kamu suami putriku." Sahut Ansel tanpa ekspresi. Ia lalu duduk di hadapan keduanya dan menatap putrinya yang justru tak mau menatapnya. Helaan nafas pelan terdengar, Ansel kembali menatap menantunya itu.

"Ada perlu apa kalian kesini?" Tanya Ansel langsung pada intinya.

"Kami datang untuk menjenguk Ayah, dan ingin mengenalkan diri sebagai menantu Ayah. Maaf, kalau saat itu saya menikahi Aurora tanpa kehadiran Ayah." Terang Mars.

Ansel menggeleng, "Tak apa, santai saja. Jangan terlalu formal pada ku," ujarnya.

Mars mengangguk pelan, ia sebenarnya sedikit gugup menghadapi Ansel. Karena, ayah mertuanya itu tak seperti Herman. Ansel memiliki kepribadian yang cuek. Tak ada senyuman sama sekali di wajahnya, pria paruh baya itu hanya menatap datar padanya.

"Apa ayah sedang sakit? Perlu aku antar ke dokter? Sepertinya ayah sedang tidak baik-baik saja saat ini." Perkataan Mars membuat Aurora menatap sang ayah. Memang ia akui, ayahnya terlihat seperti orang yang sakit.

"Hanya masuk angin biasa. Tunggu disini sebentar!" Titah Ansel. Ia lalu beranjak pergi masuk ke kamarnya.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Suara Ansel yang terbatuk membuat Mars dan Aurora saling pandang. Tak dapat di pungkiri, Aurora merasa khawatir. Apalagi, ia tahu jika ayahnya sedang merasa tak enak badan.

"Sepertinya ayahmu sedang sakit, kita bawa ke dokter saja bagaimana?" Saran Mars.

Aurora menggeleng, "Ayahku sangat keras kepala. Batu dan kepalanya lebih keras kepala ayah. Bujuklah dia, sampai kamu menangis darah tidak akan dia dengarkan." Bisik Aurora dengan tatapan penuh keyakinan.

"Jangan begitu! Sopan lah sedikit dengan ayahmu!" Tegur Mars sembari menatap tajam istrinya.

Tak lama, Ansel keluar. Ia membawa sebuah kotak coklat yang terbuat dari kayu. Lalu, ia mendudukkan tubuhnya kembali di sofa. Sejenak, ia memandangi kotak itu dan menatap Aurora yang memandang datar padanya.

"Ayah tak bisa hadir di acara pernikahan mu, maafkan Ayah. Kamu boleh marah pada Ayah, benci pada Ayah, tak masalah. Fokus saja dengan kehidupan mu yang baru, tidak perlu memikirkan Ayah. Ambil kotak ini, dan pulanglah." Ansel meletakkan kotak kayu itu tepat di hadapan putrinya.

Aurora menunduk, ia menatap benda itu dengan mata berkaca-kaca. Perlahan, Aurora mengangkat pandangannya. Ia menatap mata sang ayah yang masih menatapnya tanpa ekspresi apapun. Air mata Aurora luruh, d4d4nya terasa sangat sesak karena menyimpan rasa kecewa yang begitu menumpuk.

"Mudah sekali Ayah meminta maaf. Saat kecil sampai sekarang Ayah tak pernah memperhatikanku. Apa aku salah terlahir di dunia ini? Apa aku penyebab bunda meninggal? Iya Ayah? Ayah membenciku karena merasa aku yang membuat bunda tiada?! Iya kan?!"

"Aurora!" Tegur Mars, ia menatap tajam istrinya itu.

"Apa? Salah jika aku kecewa? Salah jika aku marah? Ayah, kapan kamu menyayangiku? Kapan?! Hiks ... aku gak minta di lahirkan, Ayah! Gak pernah, aku gak pernah mau bunda tiada karena melahirkan ku." Aurora tak sanggup menahan dirinya, ia langsung beranjak pergi meninggalkan Mars yang langsung berdiri.

"AURORA!" Teriak Mars. Tatapan Mars beralih menatap ayah mertuanya yang sedang menundukkan kepalanya.

"Ayah, aku minta maaf. Aku akan mencoba mendidik Aurora dan membuatnya bersikap baik padamu. Aku minta maaf dengan sikapnya, maafkan aku." Ucap Mars sembari menangkupkan tangannya.

Ansel beranjak berdiri, ia berjalan mendekati Mars dan mengangkat pandangannya pada menantunya itu. Mars yang melihat mata Ansel yang merah menahan tangis sungguh membuatnya terkejut. Ansel seolah tengah menahan tangisnya dan air matanya yang hendak luruh. Ia lalu mengangkat tangannya dan menepuk pelan bahu menantunya itu.

"Tolong, bahagiakan Aurora. Ayah tak sempat membahagiakannya, karena setiap kali mengingatnya ... Ayah selalu teringat dengan mendiang bundanya. Jangan buat dia bersedih, jangan buat dia kecewa, cukup Ayah saja yang pernah membuatnya kecewa." Suara Ansel bergetar, membuat perasaan Mars campur adik di buatnya. Melihat tatapan lemah pria paruh baya itu, membuat hati Mars terenyuh. Ia melihat sorot mata penyesalan, sakit, kecewa, bercampur menjadi satu.

"Aku akan ingat permintaan ayah."

Mars berpamitan, ia meraih kotak kayu yang Ansel berikan tadi pada Aurora. Sebelum pergi, ia tersenyum tipis pada ayah mertuanya itu. Ansel membalas senyumannya, ia berjalan mendekati pintu dan menatap putrinya yang sudah masuk ke dalam mobil.

"Ayah tidak membenci mu, hanya saja wajahmu selalu mengingatkan ayah pada mendiang ibumu. Maafkan ayah, maafkan ayah." Lirih Ansel dengan air mata yang luruh membasahi pipinya.

____

1
Zaichik Rania
so sweet nya pak palanet 🤭🤭🤭
Alfi Alfi
Luar biasa
GeviraMP
❤️❤️❤️
GeviraMP
kasian danzell,perjuangannyaaa☹️🥺
GeviraMP
kok kamu tau kaak
GeviraMP
😭😭😭arkaaann
Eli Elieboy Eboy
𝑦𝑎 𝑎𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑖𝑟𝑎 𝑘𝑜𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑏𝑢𝑟𝑢𝑛𝑔 𝑔𝑡𝑢 𝑦𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑜 𝑙𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑝𝑎𝑘𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 🤣🤣🤣
Susanti Susanti
Luar biasa
Susanti Susanti
Lumayan
Eli Elieboy Eboy
𝑦𝑎 𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛 𝑏𝑢 𝑔𝑢𝑟𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑎𝑠𝑖𝑏 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑒𝑡 𝑦𝑎🤣🤣🤣 𝑠𝑎𝑏𝑎𝑟 𝑦𝑎 𝑏𝑢
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝚑𝚖𝚖𝚖 𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚝𝚊𝚖𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚑𝚘𝚛.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐘𝐚 𝐚𝐦𝐩𝐮𝐮𝐧𝐧 𝐀𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐩𝐞𝐭2𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐲𝐚𝐤 𝐠𝐢𝐭𝐮, 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐦𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐮𝐚𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐣𝐠 𝐬𝐮𝐩𝐚𝐲𝐚 𝐠𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐭𝐫𝐬 𝐬𝐦 𝐎𝐥𝐢𝐯𝐢𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐢𝐧𝐝𝐨 𝐭𝐫𝐬.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐥𝐚𝐡 𝐀𝐫𝐥𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐛𝐢𝐜𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐮𝐥𝐮 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐚𝐝𝐝𝐲 𝐦𝐨𝐦𝐦𝐲 𝐦𝐮 𝐣𝐠 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐩𝐮𝐧𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐛𝐤𝐧 𝐨𝐫𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐦𝐮 𝐭𝐩 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐲𝐠 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐛 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧𝐦𝐮 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐀𝐢𝐫𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢 𝐀𝐮𝐫𝐨𝐫𝐚 𝐲𝐠 𝐧𝐠𝐞𝐲𝐞𝐥𝐚𝐧 𝐧 𝐠𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐣𝐠 𝐭𝐚𝐧𝐭𝐫𝐮𝐦, 𝐭𝐫𝐬 𝐁𝐫𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢 𝐌𝐚𝐫𝐬 𝐣𝐚𝐢𝐥 𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐚𝐫 𝐲𝐠 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫 𝐯𝐞𝐫𝐬𝐢 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚... 🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐨𝐰𝐡 𝐋𝐢𝐚𝐧 𝐲𝐠 𝐩𝐨𝐥𝐢𝐬𝐢 𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐮𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐮𝐫𝐨𝐫𝐚, 𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐜𝐞𝐩𝐞𝐭 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐭𝐮𝐡 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐰𝐧𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐥𝐬 𝐤𝐚𝐤𝐚𝐩𝐧𝐲𝐚 𝐦 𝐠𝐚 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐫𝐛𝐚𝐦 𝐥𝐠... 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐠𝐞𝐲𝐞𝐥𝐚𝐧 𝐥𝐠 𝐲𝐚 𝐀𝐢𝐫𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐤𝐞𝐣𝐚𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤 𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐠... 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐰𝐫𝐠𝐚𝐦𝐮.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐧𝐚𝐡 𝐥𝐨𝐡 𝐀𝐢𝐫𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐧𝐠𝐞𝐲𝐞𝐥𝐚𝐧 𝐣𝐝𝐧𝐲𝐚 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐠𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢𝐧 𝐬𝐨𝐝𝐚𝐫𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐭 𝐠𝐚 𝐜𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚. 𝐡𝐚𝐝𝐞𝐮𝐮𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐢𝐤𝐢𝐧 𝐭𝐰𝐩𝐮𝐤 𝐣𝐢𝐝𝐚𝐭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐧𝐨𝐡 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐆𝐞𝐚 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚 𝐒𝐞𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐥𝐠 𝐣𝐚𝐦𝐝𝐚, 𝐙𝐞𝐥.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐡𝐦𝐦𝐦.. 𝐡𝐚𝐦𝐚 𝐧 𝐠𝐨𝐝𝐚𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐮 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝐡𝐚𝐝𝐞𝐮𝐮𝐮𝐡 𝐀𝐮𝐫𝐨𝐫𝐚 𝐠𝐚 𝐝𝐞𝐪𝐚𝐬𝐚 - 𝐝𝐞𝐰𝐚𝐬𝐚 𝐬𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐥𝐛𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐟𝐨𝐭𝐨 𝐚𝐫𝐭𝐢𝐬 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐦𝐛𝐞𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐠𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥, 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐛𝐡 𝐛𝐢𝐣𝐚𝐤 𝐥𝐠 𝐑𝐚, 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢 𝐦𝐮 𝐲𝐠 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐚𝐝𝐚 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐡𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐣𝐠𝐧 𝐬𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐝𝐫 𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐠𝐚 𝐧𝐡𝐞𝐫𝐭𝐢𝐢𝐧 𝐚𝐮𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!