NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 5) Pamitan yang dramatis

Laila masih di ruang tamu, ketika Leo mengulurkan tablet seraya mengatakan, "silahkan ketik nomor rekening tujuannya disini, nyonya."

Dengan perlahan dan hati-hati, Laila mengetik nomor rekening yang ia tuju. Yaitu pihak rumah sakit, tempat dimana Dio suaminya dirawat.

Selepasnya, Leo menulis jumlah uang setoran. Sebesar lima ratus juta. Tidak menunggu waktu lama, bukti transfer itu segera ditunjukkannya ke Laila. Sebuah bukti transaksi atas nama David Mendoza.

"Silahkan difoto, nyonya." Ucap Leo.

Laila pun menjepret bukti transaksi tersebut. Mengirimkannya ke Mira lalu kemudian meneleponnya.

"Iya, nak Laila?" ujar Mira, mengangkat telepon Laila.

"Halo, ibu. Apa ibu sudah melihat bukti transaksi biaya operasi Dio?"

"Iya nak. Ibu sangat senang. Setelah ini, Dio pasti akan langsung dioperasi. Terima kasih, nak Laila." Balas Mira tersengau haru.

"Sama-sama, ibu. Semoga operasinya berjalan lancar." Laila melebarkan senyumnya.

"Amin nak." Sahut Mira penuh harapan. "Ngomong-ngomong, kau dapat uang sebesar itu darimana nak?" tanyanya, mendiamkan Laila sejenak.

Ia lantas mengalihkan sorot matanya ke pria itu. David Mendoza. Pria yang tengah berdiri tegap disebelahnya seraya menatapnya dengan tajam disertai seringai lebar.

Laila rasanya mau menangis. Namun ia berusaha menahan luapan itu dengan paksa, karena takut David tersinggung lalu menghabisi nyawanya ditempat. Laila masih sayang nyawa.

"Aku meminjamnya dari seorang teman," jawab Laila, hampir meledakkan tangisnya. "Dan kebetulan aku menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi disini, ibu. Jadi aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat aku bekerja sebelumya dan tinggal di Brazil sampai satu tahun ke depan, guna melunasi uang lima ratus juta itu."

Deggggh.

Mira terkejut. "Setahun?"

"Iya ibu. Maaf karena ini sedikit mendadak. Namun, hanya inilah satu-satunya cara agar hutang tersebut lunas," tutur Laila. Tanpa ia sadari, akhirnya air matanya mengalir.

"Karena sudah begitu, mau bagaimana lagi nak. Ibu tidak dapat melarangmu. Maaf telah menyusahkanmu semenjak menjadi istri Dio. Semoga kau disana sehat selalu. Makan yang teratur, jangan pilih-pilih. Apalagi di Brazil pasti susah menemukan restoran yang menghidangkan masakan Indonesia," pinta Mira ikut menangis terisak-isak.

"Hiks, jangan lupa kabar-kabaran terus sama ibu terlebih-lebih Dio. Karena setelah siuman, dia pasti akan langsung mencarimu Laila. Terakhir, pulanglah setelah uang itu lunas." Lanjut Mira.

"Hiks, iya ibu. Sekali lagi, maafkan aku." Laila langsung memutuskan panggilan telepon tersebut.

Dengan tangisan yang masih menggebu-gebu, ia memblokir nomor ibu mertuanya. Begitupun Dio. Semua atas kehendak pria itu, David Mendoza.

"Apa kau sudah memblokir nomor mereka?" tanya David, melongok mengintip layar ponsel Laila untuk memastikan.

Laila mengangguk, kemudian dengan paksa menyerahkan ponsel tersebut ke David.

"Bagus." Ucap David sesudah mengecek ponsel Laila. Ia lalu menyerahkan benda itu ke Leo dan memerintahkan, "simpan baik-baik."

Leo mengangguk, "baik tuan." Setelahnya, seorang pelayan muncul membawa nampan yang di atasnya terdapat handphone baru bermerk terkenal.

"Ini tuan," Leo pun menyerahkan hp tersebut ke David.

"Selama setahun ke depan, gunakanlah ponsel ini untuk berkomunikasi." Ujar David menaruh hp itu ke telapak tangan Laila.

Laila tidak dapat berkutik. Sebab, ia sudah berada dalam kendali David Mendoza, suami kontraknya.

Sehabis memutuskan hubungan sementara dengan suami dan ibu mertuanya, tinggal satu langkah terakhir yang belum Laila lakukan.

"Aku ingin bertemu dengan Aini dan nona Bella," pinta Laila.

"Tentu saja my darling," balas David mengangkat dagu Laila. "Tapi ingat. Jangan coba-coba untuk melarikan diri. Karena aku akan mengejarmu, walau ke ujung dunia sekalipun."

Mata Laila memerah, ia rasanya ingin marah. Dengan dingin ia menjawab, "tenang saja. Aku bukan orang yang seperti itu."

"Good girl," lirih David menggertakkan giginya menahan diri, untuk tidak mencium bibir mulus Laila.

*****

Aini nampak mondar-mandir di depan pintu kamar mereka. Ia kelihatan risau, entah bagaimana keadaan Laila yang tengah berhadapan dengan David Mendoza.

"Aini?" Namun kedatangan Laila seketika menenangkan dirinya.

"Laila!" Aini lantas memeluk Laila erat. "Kau, baik-baik saja kan?"

"Iya. Kau bisa lihat sendiri." Jawab Laila tersenyum. "Tapi..." lanjutnya tiba-tiba murung.

"Kenapa Laila?" tanya Aini. "Mending, kita bicarakan saja didalam yuk. Sebab aku pun, juga ingin membicarakan sesuatu padamu."

Laila tersentak. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar. Hanya mereka berdua. Tidak ada Bella.

Setelah mengambil nafas sejenak, Laila menceritakan semua hal yang terjadi padanya di kediaman Mendoza.

Aini tercengang, "jadi sekarang... Kau adalah istrinya David Mendoza?"

Laila mengangguk.

"Dasar rubah licik. Berani-beraninya dia memaksa wanita yang sudah menikah untuk menjadi istrinya," hujat Aini kesal.

"Aini, berjanjilah padaku. Jangan menceritakan ini ke siapapun. Terlebih, ibu mertuaku dan Dio." Pinta Laila, menggenggam tangan Aini.

"Tenang saja, Laila. Aku akan merahasiakannya. Tapi janji ya, harus sering mengontak aku." Aini menunjukkan kelingkingnya.

"Kau dan Bu CEO adalah pengecualian, Aini." Balas Laila mengaitkan kelingkingnya.

Mendengar nama Bella, Aini tiba-tiba memasang raut datar. "Laila."

"Kenapa?" tanya Laila celingak-celinguk, "oh ya. Bu CEO dimana? Aku daritadi belum melihatnya. Apa dia sedang tidur di kamarnya?"

"Iya," balas Aini mengangguk lalu kemudian mengatakan, "aku sedang marah padanya."

"Kenapa? Apa Bu CEO memberimu pekerjaan yang menumpuk lagi, seperti kemarin?" Laila penasaran.

Aini menggeleng. "Tidak. Bukan itu."

"Tadi, ketika aku ke kamarnya untuk memberi laporan, aku tidak sengaja mendapatinya sedang mengirim uang dengan seseorang. Dan kau tahu? Jumlah saldo rekeningnya ada sekitar 27 Milliar. Makanya aku kecewa, andai dia membantu meminjamkan uang padamu, mungkin kau tidak akan menderita begini hingga dipaksa oleh David Mendoza untuk menjadi istri kontraknya." Jelas Aini membuat Laila sedih sekaligus mengira-ngira.

"Mungkin Bu CEO memang sedang mengalami kesulitan keuangan. Jadi, dia hemat-hemat. Akhir-akhir ini, Bu CEO kan banyak pengeluaran." Jelas Laila, berusaha berpikir positif.

"Tapi, tetap saja. Aku kesal. Dia kaya pelit gitu. Padahal, kontribusimu di perusahaannya cukup banyak. Aku saja dengan sisa saldo yang secuil ini, mau membantumu. Masa dia yang menyimpan uang sebanyak itu, enggan menolong karyawannya sendiri?" Celoteh Aini.

"Mungkin, karena dia tidak mempercayaiku Aini." Sambung Laila dengan wajah sendu. Ia menepuk-nepuk punggung Aini yang nampak naik pitam itu, "sudah ya. Jangan marah. Nanti cepat tua."

Meski begitu, Laila tetap kepikiran. Sebelumnya, Bella mengaku kalau dia sudah tidak punya banyak uang karena berbagai pengeluaran. Mengetahui kesaksian Aini, mendadak hati Laila sedikit terluka. Betapa teganya Bella, tidak mau membantunya walau hanya seribu rupiah. Apa benar, dia memang tengah mengalami krisis keuangan? Atau malah, sebaliknya?

"Loh, Laila?" dan panjang umur. Baru saja dibicarakan, orangnya sudah nongol dari balik pintu.

"Selamat sore, Bu CEO." Laila dan Aini meringkuk, memberi hormat.

"Kau tidak kenapa-kenapa kan, Laila?" jawab Bella, duduk. Ekspresinya khawatir.

"Saya tidak apa-apa, Bu." Laila menggeleng. "Jadi karena anda sudah disini, saya mau memberikan ini," lanjutnya menyodorkan dua jenis berkas.

Satunya, kontrak kerjasama yang telah ditandatangani oleh David Mendoza. Sementara yang satu lagi adalah surat pengunduran dirinya.

Laila menatap serius Bella. Seolah ia tengah menguji atasannya itu.

Mulanya Bella terperangah, "kau mengundurkan diri?"

Namun fokusnya seketika teralih ketika melihat surat kontrak kerjasama itu. Bella langsung tersenyum kegirangan, "astaga. Ini mustahil. Seorang David Mendoza mau bekerja sama dengan Miu Corp?"

Haluan tangannya mengarah ke selembaran kontrak tersebut, tanpa peduli lagi dengan surat pengunduran diri Laila. Wajah prihatin yang barusan ia tunjukan ke Laila, mendadak berbinar-binar karena senang.

Tappp.

Tetapi, entah mengapa Laila kesal. Sehingga membuatnya mengulur surat perjanjian kontrak tersebut, ke balik punggungnya.

"Laila?" Bella menganga.

"Ternyata, tandatangan seorang investor jauh lebih berharga bagi Bu CEO daripada nyawa karyawan yang sudah mati-matian bekerja dari pagi sampai malam," batin Laila tersenyum pahit.

Kemudian Laila berkata, "sebelum itu, saya ingin mengatakan sesuatu."

Suasana terlihat mencekam. Laila lantas menceritakan ke Bella, mengenai hari berat yang telah ia lalui di kediaman Mendoza demi sebuah tandatangan.

"Menikah? Dengan David Mendoza?" Ucap Bella shock bukan kepayang, setelah mendengar curhatan Laila.

"Benar, Bu CEO. Jadi saya mengundurkan diri dari Miu Corp. Sebab saya akan tinggal selama setahun di Brazil." Jelas Laila.

"Dan anda harus berjanji, untuk menjaga rahasia besar ini dari keluarga saya. Kalau sampai terbongkar, saya akan meminta tuan David membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaan anda," lanjutnya seperti mengancam.

Bella menyeringai, "Laila. Mengapa kau malah terlihat mengancamku sekarang?"

"Karena hanya itulah yang muncul dipikiran saya. Tidak ada yang lain." Laila dengan lugas menjawab.

Bella terbungkam tak menduga, bahwa Laila bisa berkata demikian dengan wajah datar yang sama sekali belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Mereka sudah setahun bercengkrama, dan baru kali itu Laila berbicara tanpa ekspresi.

Tidak cukup sampai disana, Laila meneruskan, "saya juga mau menagih bonus seratus juta saya, Bu CEO. Tolong segera dikirimkan ke rekening saya secepatnya. Karena sebentar lagi, saya akan pindah ke rumah tuan David Mendoza."

Selepas melalui obrolan yang lumayan rumit, Laila akhirnya berpamit.

"Terima kasih atas kebersamaannya selama ini, Bu CEO... Aini. Aku izin pergi." Laila meringkukkan badannya.

Drapp.

"Jaga dirimu baik-baik Laila," pinta Aini memeluk teman seperjuangannya itu sambil menangis sesenggukan.

"Kantor cabang kita di Sao Paulo, akan selalu terbuka untukmu Laila." Sahut Bella, yang berada dibelakang Aini.

Laila membalas kesan dan pesan tersebut dengan senyuman. Tiada lama kemudian, ia pun menghilang dari pandangan hingga yang tersisa hanyalah kenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!