Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: PERTEMPURAN DI ATAS DESA QINGHE
Papan catur ajaib yang mengambang di atas desa Qinghe kini bersinar dengan cahaya yang lebih terang dari sebelumnya—setiap bidak putih dan hitam memancarkan energi yang merambat ke seluruh wilayah. Yin Chen dan Yin Yang berdiri berdampingan di bawahnya, sementara Lan Wei dan para anggota Pencari Kebenaran serta pengikut Yin Yang bersiap di sekitar mereka, siap menghadapi serangan terakhir dari Gelap Suci.
“Sekarang mereka akan muncul dengan penuh kekuatan,” kata Yin Yang dengan suara yang tegas. “Kelompok Gelap Suci tidak akan tinggal diam setelah mengetahui kita bekerja sama. Mereka pasti telah menyusun rencana untuk merebut kendali penuh atas permainan ini.”
Yin Chen mengangguk, matanya tetap fokus pada papan catur yang mengambang di udara. “Menurut catatan dari kuil Tianlong, mereka memiliki senjata rahasia yang bisa membatalkan semua aturan permainan jika kita tidak bertindak cepat,” jelasnya. “Kita harus mengakhiri ini sebelum mereka bisa menggunakannya.”
Saat itu, angin tiba-tiba bertiup kencang, membawa dengan diri awan gelap yang menutupi langit. Dari balik awan tersebut muncul sosok-sosok besar yang mengenakan baju hitam pekat dengan simbol kepala ular di dada mereka—para pemimpin Gelap Suci yang telah menyembunyikan diri selama bertahun-tahun. Di depan mereka berdiri seorang wanita tua dengan wajah yang penuh dengan dendam, mengenakan mahkota besi yang sudah lapuk.
“Ini adalah akhir bagi kalian berdua,” ucap wanita tua tersebut dengan suara yang menggema seperti guntur. “Saya adalah pembuat Permainan Cermin yang tersisa—dan saya tidak akan membiarkan kalian mengubah apa yang telah saya dirikan dengan darah dan air mata. Dunia hanya bisa diselamatkan dengan kekuatan mutlak, bukan dengan permainan anak-anak seperti ini!”
Tanpa berbicara lagi, Yin Chen dan Yin Yang secara bersamaan mengangkat kalung mereka. Cahaya kebiruan dan ungu menyatu menjadi satu, membentuk sebuah lingkaran cahaya yang melindungi seluruh desa Qinghe. Para pengikut Gelap Suci mulai menyerang dengan serangan yang ganas, namun mereka langsung terhalang oleh cahaya pelindung dari kalung kedua saudara kembar tersebut.
Lan Wei dengan gesit memimpin kelompok Pencari Kebenaran untuk melawan pengikut Gelap Suci. Pertempuran fisik dan energi terjadi di setiap sudut desa—pedang bertabrakan dengan senjata ajaib, sementara energi alam mulai menyatu dengan mereka yang berjuang untuk kebaikan. Yin Chen melihat salah satu bidak hitam pada papan catur mulai bergerak sendiri—bidak ratu yang siap menyerang kotak kunci yang bisa menyebabkan bencana besar jika mencapai tujuan.
“Saudara, kita harus menghentikan bidak itu sekarang!” teriak Yin Chen kepada Yin Yang.
Kedua saudara kembar kemudian mengangkat tangan mereka secara bersamaan. Cahaya dari kalung dan perisai yang mereka miliki menyatu dengan papan catur ajaib. Mereka merasakan bagaimana kekuatan leluhur mengalir melalui tubuh mereka—memberikan pengetahuan tentang cara mengubah arah permainan tanpa merusak semuanya.
“Kita harus menggabungkan kekuatan kita!” teriak Yin Yang sambil mengarahkan energi ke arah bidak ratu hitam yang sedang bergerak. “Jika tidak, seluruh wilayah sekitar akan tenggelam dalam kegelapan abadi!”
Sebelum bidak ratu hitam bisa mencapai tujuannya, kedua saudara kembar tersebut melompat ke udara bersama-sama. Cahaya dari kalung dan perisai mereka membentuk sebuah bentuk besar yang menyerupai naga putih dan hitam yang bersatu. Saat mereka menyentuh bidak ratu hitam di papan catur ajaib, energi yang luar biasa kuat meledak ke seluruh dunia—seolah-olah matahari baru saja muncul di tengah malam.
Di seluruh dunia, orang-orang yang merasa lemah mulai merasakan kekuatan yang mengalir kembali ke dalam tubuh mereka. Penduduk desa Wanli yang dulu lesu kini merasa energi mereka kembali, sementara di kuil Tianlong, makhluk-makhluk kuno yang tinggal di sana mulai muncul untuk menyaksikan pemulihan alam yang terjadi. Bahkan di hutan bambu Mengyou, makhluk kecil yang pernah membantu Yin Chen muncul dengan wajah penuh kegembiraan.
“Sekarang kita tahu kebenaran yang sebenarnya,” kata Yin Chen sambil mendarat kembali di tanah bersama saudara kembarnya. “Permainan Cermin tidak diciptakan untuk dimenangkan atau dikalahkan—melainkan untuk menjaga agar kita selalu ingat akan pentingnya keseimbangan dan kerja sama antara segala sesuatu yang ada di dunia ini.”
Yin Yang mengangguk, matanya kini kembali cerah dan tidak lagi penuh dengan kegelapan. “Kita akan menjaga permainan ini bersama,” ucapnya dengan suara yang penuh rasa hormat. “Setiap gerakan akan kita bahas bersama agar tidak ada lagi konsekuensi yang tidak diinginkan bagi dunia yang kita cintai.”
Para pemimpin Gelap Suci yang menyerang mulai merasa lemah seiring dengan hilangnya energi yang mereka harapkan untuk kuasai. Wanita tua tersebut melihat dengan mata penuh pemahaman bahwa dia telah salah mengartikan legenda lama tersebut. Tanpa perlu dikatakan lagi, para pengikutnya mulai mundur, sementara beberapa bahkan bergabung dengan pihak yang benar untuk menjaga keseimbangan dunia.
Lan Wei mendekati kedua saudara kembar dengan senyum hangat. “Sekarang kita memiliki tujuan yang jelas—menjaga Permainan Cermin dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dalam permainan tersebut selalu untuk keseimbangan dan kebaikan bersama,” jelasnya. “Kelompok Pencari Kebenaran akan selalu siap membantu dalam setiap cara yang bisa kita lakukan.”
Yin Chen mengambil kalungnya dan melihat ke arah langit yang kini sudah mulai cerah kembali. “Kita masih memiliki banyak perjalanan untuk melakukan dan banyak orang yang perlu kita bantu,” katanya dengan suara yang penuh keyakinan. “Namun sekarang kita tahu bahwa kita tidak akan pernah sendirian lagi.”
Mereka berjalan bersama keluar dari desa Qinghe, dengan tujuan baru untuk menjelajahi wilayah lain yang mungkin terkena dampak Permainan Cermin. Di kejauhan, mereka bisa melihat bahwa ada lagi tempat-tempat lain yang membutuhkan bantuan mereka. Matahari bersinar terang menerangi jalan mereka menuju masa depan yang lebih baik—suatu masa di mana manusia dan alam hidup berdampingan dalam keharmonisan yang sebenarnya.
Di tengah langit, papan catur ajaib kembali bersinar dengan lembut—sebuah pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan dan bahwa setiap makhluk hidup memiliki peran penting dalam dunia yang luas ini. Permainan Cermin telah memasuki babak baru yang penuh dengan harapan dan kerja sama, bukan persaingan yang sia-sia.