NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27: Tamu dari Masa Lalu Lita

Kampung kecil di lereng Gunung Sindoro itu tenang. Udara sejuk, sawah menghijau, dan kehidupan berjalan lambat—berbeda seratus delapan puluh derajat dengan hiruk pikuk Jakarta yang selama ini Lita kenal.

Dua tahun sudah Lita tinggal di sini. Dua tahun sejak ia keluar dari penjara dan memulai hidup baru. Warung kecil miliknya dan ibunya di pinggir jalan cukup ramai. Menjual kopi, mi instan, dan jajanan pasar. Pendapatan pas-pasan, tapi cukup untuk hidup.

Lita duduk di teras warung, menyeruput kopi. Matanya memandangi sawah di seberang jalan. Padi mulai menguning, sebentar lagi panen. Hidupnya juga seperti padi, pikirnya. Pernah jatuh, terpuruk, tapi kini mulai tegak lagi.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aira.

"Lita, apa kabar? Pelangi sudah bisa jalan. Arka juara kelas. Kami baik-baik saja. Semoga kau juga."

Lita tersenyum. Membaca pesan itu berulang. Aira, wanita yang pernah ia sakiti, kini jadi sahabat pena. Setiap minggu mereka berkirim kabar. Tak pernah bertemu, tapi ada kehangatan di setiap kata.

Ia membalas:

"Alhamdulillah, Aira. Aku baik. Warung ramai. Ibu sehat. Doakan selalu."

Pesan terkirim. Lita menyimpan ponsel.

"Lit, ada tamu," panggil ibunya dari dalam.

Lita menoleh. Seorang pria berdiri di depan warung. Pria itu memakai jas hitam, kemeja putih, sepatu mahal. Kontras sekali dengan suasana kampung. Wajahnya tampan, sekitar 40 tahun, dengan sedikit uban di pelipis.

Lita mengernyit. Ia tak mengenalnya.

"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?"

Pria itu tersenyum. "Lita, kan?"

Lita waspada. "Iya. Siapa?"

Pria itu duduk di kursi plastik depan warung tanpa permisi. "Aku Dika. Mungkin kau lupa. Kita pernah bertemu, di Jakarta. Dulu, saat kau masih dengan Andre."

Lita berpikir keras. Dika... Dika... Tiba-tiba ia ingat. Dika adalah pengacara Andre. Yang dulu sering datang ke apartemen, mengurus dokumen-dokumen hukum.

"Dika? Apa yang kau cari di sini?"

Dika tersenyum. Senyum yang tak sampai mata. "Aku datang untuk bicara. Tentang Andre."

Lita menghela nafas. "Andre sudah di penjara. Apa lagi yang mau dibicarakan?"

Dika mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam jasnya. Meletakkannya di meja.

"Ini surat dari Andre. Ia titip pesan."

Lita tak menyentuh amplop itu. "Aku tak mau urusan dengan dia lagi. Sudah cukup."

Dika tertawa kecil. "Lita, kau pikir kau bisa lepas begitu saja? Andre tahu banyak tentangmu. Tentang masa lalumu. Tentang apa yang kau lakukan di Jakarta. Kau pikir dia akan diam saja?"

Lita diam. Dadanya berdegup kencang.

"Dengar, Lita. Andre ingin kau bantu dia sekali lagi. Ini terakhir. Setelah itu, kau bebas. Semua dokumen tentangmu akan dia musnahkan."

Lita menatap Dika tajam. "Apa yang dia mau?"

Dika mencondongkan tubuh. Mendekat.

"Dia mau kau kembali ke Jakarta. Temui Aira. Jadilah temannya. Dapatkan kepercayaannya lagi. Lalu... ambil sesuatu dari rumah Raka."

Lita terbelalak. "Apa?"

"Dokumen. Ada dokumen penting di rumah Raka. Andre butuh itu untuk naik banding. Katanya itu bisa bebaskan dia."

Lita menggeleng. "Aku tak mau. Aku sudah berubah. Aku tak mau kembali ke masa lalu."

Dika tersenyum sinis. "Lita, kau pikir perubahanmu itu berarti? Kau pikir Aira akan terima kau kembali? Mereka hanya kasihan padamu. Kau sampah bagi mereka."

Lita terpukul. Kata-kata Dika menusuk.

"Tapi kalau kau lakukan ini, kau dapat uang. Banyak. Kau bisa hidup enak. Ibumu bisa berobat ke rumah sakit bagus. Kau bisa buka warung besar."

Lita diam. Pikirannya kacau.

"Kau punya waktu seminggu," kata Dika sambil berdiri. "Pikirkan. Kalau setuju, hubungi nomor ini."

Ia meletakkan kartu nama di meja. Lalu pergi, meninggalkan Lita dengan amplop coklat di hadapannya.

---

Malam harinya, Lita tak bisa tidur. Ia duduk di kamar, memandangi amplop itu. Surat dari Andre. Ia tak mau membukanya. Tapi rasa penasaran mengganggu.

Akhirnya ia buka.

Beberapa lembar kertas. Surat tulisan tangan Andre. Panjang.

"Lita,

Jika kau baca ini, berarti kau masih peduli padaku. Atau setidaknya, kau takut padaku. Terserah.

Aku tahu kau benci aku. Tapi kau juga tahu, aku bisa hancurkan kau kapan saja. Aku punya semua bukti. Semua rekaman. Semua foto. Semua percakapan kita dulu. Kalau itu sampai ke polisi, kau akan kembali ke penjara. Hitung-hitungannya, kau bisa dapat 5 tahun lagi.

Tapi aku tak mau itu. Aku hanya ingin kau bantu aku keluar dari sini. Dokumen yang aku maksud ada di rumah Raka. Di ruang kerjanya, di brankas. Kombinasinya pakai tanggal lahir Wulan—adeknya Raka yang mati. Aku tahu itu dari Lita dulu. (Maaf, dari kau sendiri, waktu kau mabuk dan cerita banyak hal).

Ambil dokumen itu. Bawa ke Dika. Dika akan urus sisanya. Setelah itu, kau bebas. Aku jamin.

Atau kau pilih jalan lain: tolak, dan kau lihat apa yang terjadi. Foto-fotomu akan tersebar. Ibumu akan tahu siapa sebenarnya anaknya. Penduduk kampung ini akan lihat wajah aslimu.

Pilih, Lita. Kau bijak.

- Andre"

Lita membaca surat itu berulang kali. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh.

Ia terjebak. Lagi.

---

Dua hari berikutnya, Lita seperti orang kehilangan arah. Ia murung, tak bicara banyak. Ibunya khawatir.

"Lit, ada apa? Sakit?"

Lita menggeleng. "Nggak, Bu. Cuma capek."

Tapi ibunya tahu itu bohong. Seorang ibu tahu saat anaknya bersedih.

Malam harinya, Lita duduk di teras. Memandangi bintang. Ponselnya bergetar. Aira.

"Lita, ada apa? Kok beberapa hari ini pesanmu pendek-pendek? Aku khawatir."

Lita membaca pesan itu. Aira khawatir padanya. Aira, yang pernah ia sakiti, kini peduli.

Ia mengetik balasan:

"Aira, aku baik. Cuma... ada masalah kecil. Tapi tak perlu dikhawatirkan."

Aira membalas cepat:

"Masalah apa? Cerita. Mungkin aku bisa bantu."

Lita menatap layar ponsel. Hatinya perih.

Ia ingin cerita. Ingin jujur. Tapi takut.

"Aira, kalau aku... kalau aku punya rahasia gelap di masa lalu. Dan itu bisa hancurkan hidupku sekarang. Apa yang harus aku lakukan?"

Aira membalas:

"Kita semua punya masa lalu, Lita. Yang penting adalah apa yang kau lakukan sekarang. Jika rahasia itu bisa menyakiti orang lain, lebih baik kau hadapi. Jika itu hanya tentang dirimu, kau bisa pilih untuk menyimpannya atau membaginya dengan orang yang kau percaya. Aku di sini, Lita. Jika kau perlu bicara."

Lita menangis. Ia mengetik:

"Terima kasih, Aira. Kau baik sekali."

"Kita saudara, Lita. Ingat itu."

Lita menyimpan ponsel. Ia memandangi langit. Bintang-bintang berkelip.

Mungkin, pikirnya, inilah saatnya. Saat untuk memilih. Antara kembali ke kegelapan, atau terus berjalan di jalan yang terang.

---

Keesokan harinya, Lita mengambil keputusan.

Ia pergi ke kantor polisi setempat. Melaporkan Dika dan Andre. Menyerahkan surat Andre sebagai bukti. Menceritakan semuanya. Tentang pemerasan, tentang ancaman, tentang rencana jahat mereka.

Polisi bergerak cepat. Dika ditangkap di hotel tempatnya menginap. Andre di penjara mendapat hukuman tambahan karena masih mengatur kejahatan dari balik jeruji.

Lita pulang dengan hati lega. Beban yang selama ini mencekiknya, akhirnya lepas.

Ibunya memeluknya erat.

"Lit, Ibu bangga sama kamu. Kamu berani."

Lita menangis. "Ibu, aku tak mau kembali ke masa lalu. Aku mau jadi orang baik."

"Kamu sudah baik, Nak. Kamu sudah."

---

Malam harinya, Lita menelpon Aira. Untuk pertama kalinya, mereka bicara langsung, bukan lewat pesan.

"Aira, terima kasih."

Aira bingung. "Untuk apa?"

Lita bercerita. Semuanya. Tentang Dika, tentang Andre, tentang ancaman mereka. Dan tentang keputusannya untuk melapor polisi.

Aira diam. Lalu berkata, "Lita, aku bangga padamu."

Lita menangis. "Aira, maafkan aku untuk semuanya. Aku jahat dulu."

"Sudah kumaafkan, Lita. Dari dulu. Sekarang fokus jadi orang baik. Aku doakan."

"Terima kasih, Aira. Kau saudaraku."

"Kau juga saudariku."

Telepon ditutup. Lita duduk di teras, memandangi bintang. Hidupnya, setelah sekian lama dalam kegelapan, akhirnya mulai terang.

Mungkin ini awal baru. Awal yang sesungguhnya.

---

Di Jakarta, Aira menyimpan ponsel. Raka mendekat.

"Siapa tadi?"

"Lita. Dia cerita banyak hal."

Raka mengernyit. "Lita? Cerita apa?"

Aira menceritakan semuanya. Raka diam, lalu tersenyum.

"Dia berubah ya?"

"Iya. Dan aku bangga padanya."

Raka memeluk Aira. "Kau hebat, Sayang. Memaafkan dan tetap peduli pada orang yang pernah sakiti kau."

Aira menggeleng. "Bukan aku yang hebat. Tapi Tuhan yang memberi aku kekuatan. Dan cinta."

Mereka berpelukan. Pelangi merangkak mendekat, ikut memeluk kaki mereka.

Keluarga itu, dengan segala kompleksitasnya, terus berputar.

Dan cinta, tetap jadi porosnya.

---

1
falea sezi
suka deh endingnya g ada cerita lagi kah Thor karena bagus q ksih hadiah
Q. Zlatan Ibrahim: makasihh...udah tamat..membuat novel drama romansa lebih sulit dibanding yg lain.
total 1 replies
falea sezi
lanjut klo aaja raka tergoda vanya berarti dia goblokkk buang berlian demi batu kali
Amy
ayo beraksi aira, laki-laki kalau cuma di ingatkan tdak akan berhasil, mreka harus liat bukti bahwa merek itu kadang cuma di manfaatkan
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!