NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Ini Istriku

Pengenalan yang cukup ekstrem, setelah usai barulah Zain berpikir jika Nadin akan semakin membencinya akibat hal itu. Tak sengaja, andai Nadin tidak mengetuk pintu dan memburunya keluar, mungkin tidak akan sampai begitu.

Nadin tidak akan sampai ganti baju, dan Zain juga tidak akan semakin serba salah lantaran pakaian yang kini jadi penggantinya justru lebih terbuka dari pakaian sebelumnya. Sepuluh menit sudah mereka berada di atas tempat tidur yang sama, sudah pasti dengan guling sebagai pembatas, dan Zain sendiri pencetus ide semacam itu.

Tidur berjauhan, dengan posisi yang saling nembelakangi. Mereka tak ubahnya bak pasangan suami istri yang baru saja ribut besar, tepatnya sangat besar. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, baik Nadin maupun Zain, sama saja.

Keduanya sama-sama bingung, Nadin menunggu, Zain juga menunggu. Mereka belum saling mengenal secara mendalam, jadi apa mau Nadin belum tau sama seperti yang Zain mau.

Cukup lama Nadin menunggu, hingga rasa penasaran itu menguar dan menarik dirinya untuk berbalik. Penasaran, pria itu sudah tidur atau bagaimana, karena sama sekali tidak ada suaranya.

Andai memang sudah tidur, Nadin berencana untuk mematikan lampu karena dia tidak bisa tidur dalam keadaan lampu menyala begini, kecuali jika memang terlalu lelah.

Usai mengumpulkan keberanian, Nadin nekat berbalik pada akhirnya. Tanpa terduga, di saat yang sama Zain juga menghadap ke arahnya hingga pandangan mereka bertemu beberapa saat.

Salah besar dugaan Nadin, hendak kembali berbalik alangkah malunya. Nadin memerah, dia bingung mendapati tatapan Zain yang tertuju ke arahnya. Walau memang ada guling sebagai pembatas, tapi jelas tidak menghalangi pandangan mereka.

"Ehm ...."

Zain yang memulai, Nadin yang kini gugup sontak mengeratkan selimut. Pikirannya sudah macam-macam, terlebih lagi Nadin mengingat apa yang Zain lakukan di kamar mandi. Bukan tak tahu kewajibannya, tapi Nadin masih takut jika diminta malam ini, sungguh.

"Boleh aku matikan lampunya?"

Seketika itu juga, pertanyaan Zain membuat Nadin lega selega-leganya. Sesak yang tadi menguar di rongga dadanya, seketika musnah dan dia mengangguk cepat.

Memang tujuannya menghadap Zain adalah untuk meyakinkan diri lantaran ingin mematikan lampu. Beruntungnya, tanpa harus bicara Zain yang justru bertanya lebih dulu hingga Nadin tidak perlu susah payah memilih kalimat untuknya bicara.

Dalam waktu sekejab, suasana kamar berubah remang-remang, cahaya lampu luar yang menembus ventilasi jendela kamar tak membuat pandangan mereka jadi gulita, hingga keduanya masih mampu menatap satu sama lain.

Posisi Nadin masih tetap sama, sekalipun Zain kembali berbaring di sebelahnya, dia tidak terpikirkan untuk kembali membelakangi sang suami. Jika ditanya alasannya apa, Nadin tidak terbiasa tidur menghadap tembok, itu saja.

Awalnya dia pikir, dengan dimatikan lampu maka akan tertidur segera. Namun, setelah beberapa kali mencoba memejamkan mata, wanita itu kembali terjaga lantaran merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.

"Mas."

Ya, akhirnya panggilan itu lolos dari bibirnya. Susah payah Nadin memulai, akhirnya berani juga. "Bicaralah, aku bisa mendengarmu," sahut Zain dengan mata yang kini terpejam. Entah tidur sungguhan atau bagaimana, Nadin tidak tahu juga.

"Maaf."

Ucapan itu seketika membuat Zain membuka matanya, dia menoleh dan di antara cahaya remang itu kecantikan Nadin tak berkurang sedikitpun. "Maaf untuk?" tanya Zain sejenak mencoba untuk fokus, permintaan maaf Nadin agaknya lebih penting.

"Belum bisa melakukan kewajibanku sebagai istri yang seharusnya."

Singkat, padat dan dapat dimengerti tanpa perlu Zain bertanya lagi apa maksudnya. Otak Zain masih cukup tajam untuk menyimpulkan apa yang terjadi, dia sadar betul kemungkinan besar penyebab Nadin sampai bicara begitu karena ulahnya beberapa saat lalu.

Dia yang tidak mampu menahan naffsu sampai akhirnya melampiaskan hassrat dengan cara tidak wajar. Walau mungkin tidak Nadin ucapkan, tapi penyesalan dan merasa tak berguna sebagai istri jelas saja ada, dan Zain bisa menerka isi hatinya.

Tidak ingin istrinya merasa bersalah, Zain berusaha menegaskan jika semua salahnya. Otaknya terlalu kotor, dia juga sampai berbohong dan mengaku jika memang terbiasa, kecanduan dan sejenisnya hingga pada akhirnya kena ceramah.

"Jangan dibiasakan, otaknya rusak nanti."

"Sudah usaha kuhentikan, tapi tidak bisa ... kecanduan."

"Dosa, Mas, Allah SWT melaknat orang yang menikahi tangannya atau singkatnya onnani. Dan sesungguhnya Allah SWT merusak umat yang bermain alat kemaaluan."

Gleg

Zain meneguk salivanya pahit, sungguh tak pernah terbayangkan olehnya jika ternyata Nadin akan bicara sedalam ini. Walau sebenarnya bukan kebiasaan, Zain tetap tertampar hingga pipinya seolah terasa kebas tanpa ada yang menyentuhnya.

"Ta-tapi gimana? Memang susah berhentinya."

"Puasa, atau kalau memang sudah merasa sangat butuh lebih baik menikah."

"Sudah kulakukan, dan ini istriku," jawabnya santai, tapi lawan bicaranya seketika terdiam.

Tidak bermaksud menggombal, tapi berhasil membuat wanita di sisinya memerah hingga berhenti bicara. Ceramahnya ditutup tanpa salam, Nadin menarik selimut hingga menutupi wajahnya dan hal itu terlalu menggemaskan di mata Zain.

Zain tertawa sumbang, dan hal itu terdengar menyebalkan bagi Nadin yang kini bersembunyi di balik selimut tebal. Dia tengah mengutuk diri sendiri, menyesal lantaran tak seharusnya membahas hal semacam itu pada Zain, lagi pula untuk apa dia menasihati Zain agar segera menikah? "Nadin bodoh!! Wajar saja dapat D."

.

.

Rasa malu Nadin awet sekali, hingga pagi menjelang dia tetap merasakan hal itu. Berbeda dengan Zain yang terlihat santai seakan tidak ada masalah, malah justru senyam-senyum tak jelas entah apa sebabnya.

Nadin mencoba untuk bersikap biasa saja, layaknya sang suami. Menikmati bubur ayam yang Zain beli tadi pagi, dan ini kali pertama karena biasanya sarapan Nadin tidak sesempurna ini.

Pagi pertama yang benar-benar menjalani kehidupan sebagaimana pasangan lain, Nadin dapat merasakan perbedaan Zain bagaimana. Pagi ini, sang suami bangun pagi-pagi sekali, dia juga melaksanakan shalat subuh berjamaah tanpa diperintah, mungkin karena tidak ingin dipaksa.

"Bubur segitu makannya setahun, lambung kamu kecil?" Pertanyaan sarkas dari Zain membuat Nadin berhenti makan.

Dia menatap sang suami sekilas beserta mangkok bubur yang telah kosong itu. Zain terlalu cepat atau dia yang terlalu lambat, Nadin tak tahu juga, yang jelas kebiasaan makan leletnya sudah mendapat protes pagi ini.

"Sabar, aku makannya begini dari dulu."

"Alasan," celetuk Zain yang membuat sang istri mendelik tak suka, jika saja tidak berdosa mungkin dia akan memasukkan melemparkan suiran ayam itu ke mata Zain.

Lirikan maut Nadin membuat pria itu mengerti jika memang ada yang tak beres dengan sang istri. "Mikirin apa? Nilai D?"

Nadin menggeleng, persetan dengan nilai D. Dia tidak peduli lagi, toh dia baru dapat informasi bahwa kakak tingkat yang pernah bertemu Zain justru langganan nilai E, jadi dia santai saja.

"Terus apa?"

Nadin menarik napas dalam-dalam, kebetulan ditanya dan dia merasa sangat perlu dibahas. "Semalam, aku mimpi."

"Hem? Mimpi apa?"

"Seseorang mencium bibirku, rasanya sih nyata cuma wujudnya tidak terlalu jelas ... jin kali ya?"

Uhuk

.

.

- To Be Continued -

1
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NORA SAFITRI
oooooeh, Zain😍😍
Maya Mawardi
somplak emang
Maya Mawardi
mati kutu
Maya Mawardi
menarik dan menghibur banget
Maya Mawardi
ya ampuuun beneran pasangan somplak ini mah ketawa terus jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!