Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Uap tipis seolah menguap dari permukaan air kolam yang tenang, terbiaskan oleh napas-napas berat yang mulai beradu. Sesi "latihan" yang dijanjikan Dante telah berubah sepenuhnya menjadi perburuan gåïråh yang tak terbendung. Alana, yang tadinya menggigil karena dinginnya air, kini merasa seluruh pori-pori kulitnya membara. Aroma klorin yang tajam kalah telak oleh aroma maskulin Dante yang menguar kuat saat tubuh mereka bersinggungan di bawah permukaan air.
Dante tidak lagi memberikan instruksi tentang cara mengapung. Tangannya yang besar kini menjadi jangkar yang mengunci pinggang Alana, menekannya hingga punggung mungil gadis itu menempel pada dinding marmer kolam yang licin.
"Kau tahu, Alana..." Dante berbisik, suaranya parau dan bergetar, bergema di antara pilar-pilar ruangan yang sepi. "Warna oranye ini benar-benar membuatku lapar. Dan aku bukan pria yang suka menunda rasa lapar."
Tanpa menunggu jawaban, Dante mêñɏåmßår bibir Alana. Çïµmåñ itu tidak diawali dengan kelembutan; itu adalah sebuah klaim beringas yang langsung menuntut segalanya. LïÐåhñɏå menyapu rongga mulut Alana, mencicipi sisa rasa air kolam yang bercampur dengan rasa manis alami sang istri. Alana mêlêñgµh pelan, tangannya yang masih gemetar karena kelelahan secara instingtif merayap naik, mencengkeram bahu kokoh Dante yang basah dan licin, mencari pegangan agar ia tidak tenggelam dalam pusaran gairah ini.
Tangan Dante mulai berkeliaran dengan lïår. Satu tangannya menekan tengkuk Alana, memperdalam ¢ïµmåñ itu, sementara tangan lainnya merayap di sepanjang tulang punggung Alana yang mêlêñgkµñg indah. Kain baju renang one-piece itu kini terasa seperti penghalang yang menjengkelkan bagi sang Predator. Dengan gerakan cepat dan efisien, Dante menarik tali bahu baju renang tersebut, memaksanya meluncur turun melewati lekuk dada Alana yang §ïñ†ål.
Sret.
Baju renang oranye itu terlepas, menyisakan Alana yang kini sepenuhnya †êrêk§þð§ di bawah cahaya lampu kristal ruangan. Begitu kulit dada mereka ßêr§êñ†µhåñ tanpa penghalang, Alana tersentak. Gesekan antara þµñ¢åk ÐåÐåñɏå yang sensitif dengan dada bidang Dante yang keras dan berambut tipis menciptakan sensasi listrik yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
"Dante... hnggh... ssshh... jangan di sini," rintih Alana di sela-sela ¢ïµmåñ panas mereka. Matanya sayu, menatap ke arah kaca-kaca besar yang memperlihatkan taman.
"Tidak ada yang berani melihat, Alana. Dan jika ada yang berani, itu akan menjadi hal terakhir yang mereka lihat di dunia ini," geram Dante. Ia melepaskan þågµ†åñ bibir mereka hanya untuk membenamkan wajahnya di antara ßêlåhåñ dada Alana yang basah, mêñghï§åþ kulit putih itu dengan rakus hingga meninggalkan tanda kemerahan yang kontras.
Tangan Dante turun lebih jauh ke bawah air. Ia menemukan ßðkðñg sintal Alana yang bulat dan mengeras karena kontraksi gairah. Ia mêrêmå§ñɏå dengan kekuatan yang membuat Alana memekik kecil—sebuah pekikan yang tertahan di tenggorokan karena kenikmatan yang luar biasa. Jemari Dante yang kasar bermain-main di sana, memijat dan mengeksplorasi setiap inci kµlï† Alana di bawah permukaan air yang kini beriak hebat.
"Kau sangat licin, sangat hangat di dalam sini..." bisik Dante serak. Ia mengangkat tubuh Alana sedikit lebih tinggi, memposisikan paha gadis itu agar melingkar erat di pinggangnya yang kokoh.
Kini, kêjåñ†åñåñ Dante yang sudah menegang maksimal menekan tepat di inti kêwåñï†ååñ Alana yang sudah sangat basah dan siap. Air kolam yang masuk di antara celah tubuh mereka memberikan sensasi unik—dingin di luar, namun terbakar di dalam.
"Tatap aku, Alana," perintah Dante dengan nada rendah yang mutlak. "Lihat siapa yang sedang memakanmu sekarang."
Alana mendongak dengan napas tersengal, matanya yang berkaca-kaca menatap mata biru es Dante yang kini sudah berubah menjadi samudera api. Ia bisa merasakan dominasi Dante yang begitu pekat, seolah pria itu sedang menelan seluruh jiwanya.
"Kau... suamiku... ahh! Dante!" Alana berteriak kecil saat Dante tiba-tiba mêñghµjåmkåñ miliknya masuk sepenuhnya dengan satu dorongan kuat di bawah air.
Dante mêñggêråm puas, kepalanya terlempar ke belakang saat ia merasakan kehangatan Alana mêñjêþï†ñɏå dengan sangat kê†å†. Ia mulai bergerak dengan ritme yang dalam dan beringas, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di dalam kolam renang. Setiap †µmßµkåññɏå menciptakan gelombang air yang menabrak dinding kolam, menciptakan suara ßɏµr-ßɏµr yang berirama dengan Ðê§åhåñ dan êråñgåñ mê§µm yang keluar dari bibir mereka.
"Kau manis sekali, jeruk kecilku..." Dante berbisik di sela-sela geraman ñ壧µñɏå. "Aku akan memeras setiap tetes kêñïkmå†åñ darimu hari ini."
Di dalam kolam renang yang mewah itu, di bawah pengawasan pilar-pilar marmer yang bisu, sang Predator benar-benar menikmati jamuannya. Alana tidak lagi memikirkan rasa lelahnya; ia hanya tahu bahwa di dalam pelukan pria berbahaya ini, ia telah menemukan jenis kehancuran yang paling ia dambakan.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔