NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: TERAPI DAN HARAPAN

 

Hari ke-1.200. Aryo bangun dengan dada sesak. Bukan sakit. Tapi perasaan aneh yang udah tiga hari ini nggak mau pergi. Seperti ada yang mengganjal. Seperti ada yang tertinggal. Atau seperti akan ada sesuatu yang datang.

Jam 4 subuh. Masih gelap. Lampu minyak di samping dipan masih menyala redup. Aryo duduk perlahan. Kaki kirinya digerakkan hati-hati. Masih pincang. Bekas kecelakaan truk yang hampir merenggut nyawanya dua tahun lalu.

Ia menoleh ke dipan. Dewi tidur dengan posisi miring. Tangannya masih memegang ujung selimut. Rambutnya panjang sebahu, sedikit kusut. Wajahnya tenang. Di sampingnya, Budi. Budi 2 tahun 4 bulan. Ngorok kecil. Lucu. Mulutnya sedikit terbuka. Air liur nempel di pipi.

Dan di sisi lain, Risma.

Risma 4 tahun 4 bulan. Terbaring dengan mata terbuka. Menatap Aryo. Udah dari tadi. Mungkin dari sebelum Aryo bangun. Mungkin semalaman ia nggak tidur, cuma menatap bapaknya.

"Pagi, Nak."

Risma nggak jawab. Tak bisa. Tapi matanya... matanya berkata banyak hal. Aryo nggak tahu apa. Tapi ia merasa. Risma bicara lewat mata. Tentang rindu. Tentang takut. Tentang cinta yang nggak bisa diucapkan.

Ia pegang tangan Risma. Tangan kaku itu. Dingin. Tulang-tulang kecil terasa di balik kulit tipis.

"Bapak hari ini anter kamu terapi ya. Janji."

Risma diam. Tapi jari-jarinya bergerak sedikit. Gerakan nggak terkontrol. Tapi Aryo tahu, itu jawabannya. Seperti dulu, waktu Risma masih bayi, ia sering menggenggam jari Aryo erat-erat. Sekarang? Hanya getaran kecil. Tapi cukup.

"Bapak sayang kamu, Nak."

 

Dari dapur, suara Mbah Kar. "Mas, udah bangun? Aku bikin kopi."

Aryo keluar. Bau kopi hitam menyengat. Wangi yang sudah jadi langganan tiap pagi. Mbah Kar udah tua—mungkin 70 tahun—tapi masih semangat bangun lebih awal. Hanya demi nyiapin sarapan buat mereka. Padahal mereka cuma numpang. Padahal mereka bukan siapa-siapa.

"Makasih, Mbah."

"Kopi item aja, Mas. Nggak ada gula. Gula abis. Nanti siang aku beli."

Aryo tersenyum. "Nggak apa-apa, Mbah. Pahit-pahit juga udah biasa. Hidup juga pahit."

Mbah Kar duduk di sampingnya. Memegang cangkir sendiri. Pahit juga.

"Mas, istriku dulu suka kopi. Tiap pagi, sebelum berangkat jualan keliling, aku bikinin. Sekarang... udah 10 tahun."

Aryo diam. Nggak tahu harus jawab apa. Cuma bisa dengar.

"Mbah kangen?"

Mbah Kar menghela napas. Panjang. Dalam. Seperti menarik semua kenangan dari dasar hati.

"Kangen, Mas. Tapi udah. Hidup terus. Mau kangen-terus juga nggak guna. Yang penting doa."

Mereka diam. Menikmati kopi pahit di pagi buta. Suara jangkrik masih terdengar dari luar. Angin dingin masuk lewat celah dinding.

 

"PA! PA! Aku ikut!"

Budi lari dari kamar. Masih pake piyama bergambar mobil-mobilan. Rambutnya berantakan kayak sarang burung. Matanya masih setengah melek, tapi semangatnya udah full.

"Iya, Nak. Kamu ikut. Tapi mandi dulu."

Budi cemberut. Bibirnya manyun. "Nggak mau mandi! Airnya dingin!"

Dewi keluar dari kamar. Rambutnya diikat asal. "Budi, sini Ibu mandiin. Airnya anget. Janji."

Budi lari. Sembunyi di belakang Mbah Kar. Badan mungilnya bersembunyi di balik kursi. "Nggak mau! Nggak mau! Mbah, tolong!"

Mbah Kar tertawa. Tawa tua yang renyah. "Lah, Mbah nggak bisa nolong. Ibu kamu lebih galak."

Semua tertawa. Budi tetap cemberut. Tapi akhirnya nurut. Digandeng Dewi ke kamar mandi. Sepanjang jalan ngoceh nggak jelas.

Risma di kursi, matanya ke Budi. Mengikuti sampai Budi hilang di balik pintu. Lalu... sudut bibirnya terangkat. Sedikit. Senyum tipis.

Aryo lihat itu. Hatinya hangat. Seperti ada api kecil di dada.

"Ri, lihat. Risma senyum."

Dewi berhenti di tengah jalan. Berbalik. Lihat Risma. Benar. Senyum tipis. Tapi nyata.

"Dia senang lihat Budi, Mas."

"Iya. Dia sayang adiknya. Mungkin lebih dari yang kita tahu."

Dewi balik lagi. Tapi matanya berkaca. Ia cepat-cepat masuk kamar mandi biar nggak keliatan nangis.

 

Pukul 7 pagi, mereka berangkat. Aryo, Risma, Budi. Naik angkutan kota. Mobil tua warna hijau, pintunya bunyi krekesan tiap kali nabrak lubang. Tempat duduknya udah sobek di sana-sini. Bau khas angkutan umum: campuran keringat, kopi, dan rokok.

Risma di gendongan Aryo. Tubuhnya ringan. Terlalu ringan. Untuk anak 4 tahun, beratnya kayak anak 2 tahun. Tulang-tulangnya terasa. Tapi Aryo nggak pernah mengeluh. Ia sudah biasa.

Budi di samping, matanya ke luar jendela. Takjub pada setiap hal yang lewat.

"Pa, lihat! Sapi!"

"Iya, Nak. Sapi."

"Pa, sapi bunyinya gimana?"

"Emoh."

Budi manggut-manggut. Wajahnya serius. Lalu menirukan. "Emoh... emoh..."

Penumpang lain pada senyum. Ada ibu-ibu bawa belanjaan, ada bapak-bapak bawa tas kuli. Mereka lihat Budi, lalu lihat Risma di gendongan. Ada yang iba. Ada yang cuma diam.

Risma di gendongan, matanya ke Budi. Tersenyum. Senyum tipis itu lagi.

Aryo rasanya ingin menangis. Tapi ditahan. Ditahan kuat-kuat.

 

Di klinik, Mbak Wulan udah nunggu. Wajahnya cerah. Senyumnya lebar. Rambutnya diikat rapi. Jas putih bersih. Kontras dengan baju lusuh mereka.

"Pak Aryo, Bu Dewi, selamat pagi. Silakan masuk."

Mereka masuk ke ruang terapi. Ruangan sederhana. Ada matras, alat-alat terapi, dan mainan edukatif. Bau alkohol dan obat. Tapi juga wangi sabun.

Risma diletakkan di matras. Mbak Wulan mulai periksa. Gerakin tangan. Gerakin kaki. Risma diam. Tapi matanya mengikuti.

"Pak Aryo, Bu Dewi, saya mau kasih kabar baik."

Aryo dan Dewi saling pandang. Jantung mereka berdegup. Tangan Aryo berkeringat.

"Risma sekarang menunjukkan perkembangan emosional yang bagus. Respons matanya makin cepat. Senyumnya makin sering. Ini bagus untuk perkembangan otaknya."

Aryo lega. Tapi juga sedikit... kecewa? Ia sendiri nggak tahu persis apa yang dirasa.

"Jadi, Mbak... dia nggak bisa... maksud saya... tengkurap? Duduk?"

Mbak Wulan tahu. Ia pegang tangan Aryo. Matanya lembut.

"Pak, saya tahu Bapak berharap lebih. Setiap orang tua pasti begitu. Tapi Risma nggak akan bisa tengkurap. Nggak akan bisa duduk. Kondisinya terlalu berat. Otaknya rusak di area yang mengontrol gerakan."

Dewi nangis. Nangis di tempat. Air matanya jatuh, membasahi pipi. Tangannya menutup mulut, menahan isak yang nggak tertahankan.

Tapi Mbak Wulan lanjut, "Tapi Bapak lihat matanya? Dia makin hidup. Dia lebih sering senyum. Dia bisa merasa. Dia bisa sayang. Itu luar biasa untuk anak dengan kondisi seberat Risma."

Aryo diam. Ia lihat Risma. Risma di matras. Matanya ke Mbak Wulan. Lalu ke Dewi yang nangis. Lalu ke Aryo.

Matanya... matanya seperti bertanya, "Bapak, Ibu kenapa nangis? Kenapa sedih? Aku di sini. Aku baik-baik aja."

Aryo gendong Risma. Tubuh ringan itu. Hangat.

"Nggak apa-apa, Nak. Ibu senang. Ibu senang karena kamu hebat."

Risma diam. Tapi tangannya meraih. Gerakan tak terkontrol. Menyentuh pipi Aryo. Lembut. Seperti kapas.

Budi lihat dari samping. Ia mendekat. Memeluk kaki Aryo.

"Pa, Kakak sayang Pa."

Aryo nangis. Nangis di klinik. Di depan Mbak Wulan. Di depan Dewi. Di depan anak-anaknya.

Nangis tanpa suara. Tapi air matanya jatuh deras.

 

Pulang dari klinik, udara terasa beda. Langit mendung. Awan hitam bergumpal. Seperti ikut merasakan apa yang mereka rasa. Tapi hati Aryo? Entahlah. Campur aduk. Ada sedih. Ada lega. Ada syukur. Ada kecewa. Semua jadi satu.

Budi tidur di pangkuan Dewi. Capek. Tangannya masih memegang baju ibunya. Risma di gendongan Aryo, matanya lihat langit lewat jendela. Melihat awan. Melihat burung. Melihat dunia yang tak bisa ia jamah.

"Ri, tadi Mbak Wulan bilang... Risma nggak akan bisa apa-apa."

Dewi diam. Matanya ke luar jendela. Lalu berkata, "Aku tahu, Mas. Dari dulu juga udah tahu. Dari pertama kali dokter bilang."

"Tapi kenapa rasanya... setiap dengar lagi, sakitnya sama? Kayak baru pertama dengar?"

"Karena kita orang tua, Mas. Kita selalu berharap. Meski tahu kenyataannya. Kita nggak bisa berhenti berharap."

Mereka diam. Angkutan jalan pelan. Suara mesin tua menemani.

"Mas, kamu nyesel?"

Aryo kaget. "Nyesel? Nyesel apa?"

"Nyesel punya Risma."

Aryo diam. Matanya ke Risma. Risma tidur di gendongannya. Dadanya naik turun. Pelan. Teratur.

"Ri, jangan pernah tanya gitu lagi. Nggak akan pernah aku nyesel. Dia anakku. Darah dagingku. Sakit atau sehat, dia tetap anakku. Sampai mati pun."

Dewi nangis. Tapi kali ini nangis bahagia.

 

Sampai di rumah, Mbah Kar udah nunggu di pintu. Wajahnya cemas. Tangan memegang kain lap.

"Gimana, Mas?"

Aryo tersenyum. Senyum lelah. Tapi tulus.

"Baik, Mbah. Risma sehat. Mbak Wulan bilang, dia maju. Emosinya bagus."

Mbah Kar lega. "Alhamdulillah. Aku masak sayur asem. Sama tempe goreng. Makan yuk."

Mereka makan bersama. Sederhana. Tapi hangat. Meja kecil di ruang tamu. Duduk lesehan di lantai.

Risma di kursi. Disuapi Dewi. Perlahan. Sabar.

Budi makan sendiri. Berantakan. Nasi belepotan di mana-mana. Tapi ia senang.

Mbah Kar sesekali nyuapin Budi. Kadang juga ngelap mulut Budi yang belepotan.

Tiba-tiba, Budi berhenti makan. Ia ambil sendoknya. Mencolek nasi. Lalu menghampiri Risma.

"Kak, makan. Enak."

Ia sodorkan sendok ke mulut Risma.

Semua diam. Aryo, Dewi, Mbah Kar. Mereka lihat Budi yang dengan polosnya menyuapi kakaknya.

Risma lihat Budi. Matanya berbinar. Lalu... ia buka mulut. Sedikit. Budi masukkan nasi. Risma kunyah. Pelan. Tapi mau.

Dewi nangis. "Mas... lihat..."

Aryo nangis. Mbah Kar nangis.

Budi bingung. "Pa, Ma, Mbah, kenapa nangis? Budi salah?"

Aryo geleng. "Nggak, Nak. Kamu nggak salah. Bapak, Ibu, Mbah... senang. Senang lihat kamu sayang kakak."

Budi manggut-manggut. Lalu balik lagi ke tempat makannya. Makan lagi. Berantakan lagi.

Tapi malam itu, mereka makan dengan hati penuh.

 

Malam itu, Aryo nggak bisa tidur. Ia duduk di teras. Rokok murah di tangan. Asap mengepul ke langit. Bintang-bintang berkerlip di atas.

Dewi keluar. Duduk di sampingnya. Tanpa bicara. Hanya duduk.

"Mas, mikirin apa?"

"Mikirin Risma. Mikirin kita. Mikirin masa depan. Mikirin apa yang bakal terjadi kalau kita nggak ada."

Dewi pegang tangannya. "Mas, jangan mikir gitu. Kita masih ada. Kita masih kuat."

"Tapi Ri, kita tua. Nanti kita mati. Risma tinggal sama siapa? Budi? Dia masih kecil. Nanti kalau udah gede, dia punya hidup sendiri."

Dewi diam. Ia nggak tahu jawabannya.

"Mas, kita hadapi aja nanti. Sekarang, yang penting Risma bahagia. Kita bahagia. Budi sehat."

Aryo lihat istrinya. Wajahnya capek. Tapi matanya kuat. Matanya tetap menyala.

"Makasih, Ri. Makasih udah nggak pernah pergi."

Dewi tersenyum. "Pergi ke mana, Mas? Ini rumahku. Kamu suamiku. Risma dan Budi anakku. Mbah Kar keluargaku. Nggak ada tempat lain."

Mereka berpelukan. Lama. Hangat. Di teras rumah kecil itu. Di bawah bintang.

 

Di dalam, Risma tidur. Budi di sampingnya. Tangan Budi memegang tangan Risma. Sejak bayi, Budi selalu begitu. Setiap tidur, ia pasti pegang tangan kakaknya. Seperti takut kakaknya pergi. Seperti takut ditinggal.

Budi bergerak. Masih setengah tidur. "Kak... mimpi... kita main bareng... rame..."

Risma diam. Tapi napasnya teratur. Dadanya naik turun. Hidup. Bernapas. Berjuang.

Aryo masuk. Lihat mereka. Air matanya jatuh lagi. Malam ini, air mata sepertinya nggak mau berhenti.

Ia ingat kata Mbak Wulan tadi. "Risma nggak akan bisa tengkurap. Nggak akan bisa duduk."

Tapi ia juga ingat yang lain. "Dia bisa merasa. Dia bisa sayang. Itu luar biasa."

"Iya, Mbak. Itu luar biasa. Lebih dari cukup."

Aryo tidur di lantai. Beralas tikar. Tapi hangat. Karena di sampingnya, ada keluarga yang utuh. Mungkin nggak sempurna. Tapi utuh.

 

Besok pagi, Aryo bangun dengan perasaan beda. Bukan sedih. Bukan kecewa. Tapi... pasrah? Atau justru lebih kuat? Atau mungkin keduanya?

Ia nggak tahu.

Tapi yang ia tahu, ia harus tetap berjuang. Untuk Risma. Untuk Budi. Untuk Dewi. Untuk Mbah Kar.

Untuk keluarganya.

Ia lihat Risma. Risma sudah bangun. Matanya ke arahnya. Seperti biasa.

"Pagi, Nak. Hari ini Bapak kerja. Nanti sore kita latihan mainan lagi ya. Mainan yang bunyi-bunyi itu. Kamu suka kan?"

Risma diam. Tapi matanya... matanya seperti bilang, "Iya, Pa. Aku suka. Aku tunggu. Aku sayang Pa."

Aryo tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, hatinya terasa ringan. Beban di dada perlahan menguap.

Tapi di ujung hari nanti, ada kejutan yang nggak pernah ia duga.

Seorang pria datang ke rumah. Mengenakan setelan rapi. Bawa map cokelat. Wajah tegang.

"Pak Aryo? Saya dari bank."

Aryo pucat. Tangannya gemetar.

Pria itu mengeluarkan surat. Dengan angka 10 juta. Dan nama Aryo di atasnya.

"Istri dan anak Bapak bisa jadi jaminan."

Malam itu, Aryo nggak tidur.

Dia hanya duduk di teras. Rokok habis. Tangan dingin.

Dari dalam, suara Risma nangis. Budi ikut nangis.

Seperti mereka tahu. Seperti mereka merasakan ketakutan bapaknya.

 

[BERSAMBUNG KE BAB 18]

 

1
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!