NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: GEMA DI BALIK HUJAN

Dunia tidak langsung menjadi gelap.

Saat suara tembakan itu meledak, hal pertama yang dirasakan Kai bukanlah rasa sakit, melainkan getaran hebat yang merambat dari udara ke dalam paru-parunya. Ia melihat kilatan api kecil dari moncong pistol Yudha—sebuah percikan warna oranye yang sangat tajam, merobek dominasi abu-abu di gang itu.

Kai jatuh terduduk. Bahu kirinya terasa panas, seolah-olah seseorang baru saja menempelkan besi pijar ke kulitnya. Peluru itu menyerempetnya, menghantam daging namun syukurlah tidak menembus tulang atau organ vitalnya. Darah mulai merembes keluar, membasahi seragam teknis birunya, mengubahnya menjadi warna yang gelap dan kental.

Yudha melangkah maju, wajahnya tampak mengerikan di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip. Matanya liar, kehilangan semua sisa kewarasan yang selama ini ia banggakan. "Satu inci lagi, Kai. Hanya perlu satu inci lagi dan kau akan menyusul ayahmu," desisnya sambil kembali mengarahkan pistolnya yang masih berasap ke dahi Kai.

Namun, tangan Yudha gemetar hebat. Amarah yang meledak-ledak tadi kini berganti menjadi ketakutan yang melumpuhkan saat suara sirene polisi terdengar semakin dekat, memantul di dinding-dinding gang.

"Letakkan senjatanya! Sekarang!"

Beberapa sorot lampu senter yang kuat membelah kegelapan gang dari arah belakang Yudha. Sekelompok petugas polisi muncul dengan senjata terkokang. Yudha membeku. Ia menoleh ke belakang, lalu kembali ke arah Kai, menyadari bahwa pelariannya sudah berakhir.

Dalam keputusasaan terakhir, Yudha tidak menembak Kai. Ia tertawa pelan, sebuah suara parau yang menyedihkan, sebelum akhirnya menjatuhkan pistolnya ke genangan air hujan yang kotor. Polisi segera menerjangnya, menekan wajahnya ke dinding bata yang kasar dan memborgol tangannya.

Kai bersandar di dinding, napasnya tersengal. Rasa sakit di bahunya mulai berdenyut secara ritmis, mengikuti detak jantungnya. Ia melihat ke arah Yudha yang sedang diseret pergi. Tidak ada rasa puas yang ia bayangkan sebelumnya. Yang ada hanyalah rasa lelah yang luar biasa dalam—seperti sebuah lukisan yang akhirnya selesai dikerjakan namun meninggalkan pelukisnya dalam keadaan hampa.

"Anda tidak apa-apa?" seorang petugas medis mendekati Kai, mencoba menekan lukanya dengan kain kasa steril.

Kai hanya mengangguk pelan. Ia tidak bisa bicara. Matanya terpaku pada genangan air di bawahnya. Di sana, ia melihat pantulan lampu biru dan merah dari mobil polisi yang berputar-putar. Warna-warna itu tidak lagi membingungkan; mereka tampak sangat nyata, sangat intens, hingga membuat kepalanya pening.

"Ibu..." gumamnya.

"Ibu Anda sudah aman, Pak. Rekan kami sudah mengonfirmasi titik pertemuan dengan tim medis independen," petugas itu mencoba menenangkannya.

Malam itu, Kai dibawa ke rumah sakit yang berbeda—tempat yang tidak berafiliasi dengan perusahaan Yudha. Di bawah pengaruh obat penenang ringan dan perawatan luka, Kai tertidur lelap. Dalam mimpinya, ia kembali ke Oakhaven. Ia berdiri di balkon apartemennya, menengadah ke langit. Namun kali ini, salju yang jatuh bukan lagi berwarna putih, melainkan berwarna-warni; seperti serpihan pelangi yang jatuh untuk menutupi bumi yang lelah.

Keesokan paginya, berita tentang jatuhnya Lumina Corp dan penangkapan Yudha menghiasi setiap layar televisi dan surat kabar. Nama Malik, ayah Kai, direhabilitasi. Publik mulai melihat kebenaran yang selama ini terkubur di bawah beton gedung pencakar langit.

Namun, Kai tidak peduli pada ketenaran itu. Begitu ia diizinkan keluar dari rumah sakit dengan bahu yang dibalut perban, ia langsung menuju ke pinggiran kota, ke sebuah rumah aman di mana Sarah menyembunyikan ibunya.

Pertemuan itu mengharukan. Ibunya, meskipun masih lemah, tampak jauh lebih terjaga setelah pengaruh obat penenang dosis tinggi dari Yudha menghilang.

"Kita akan pergi dari sini, Bu," ucap Kai sambil duduk di sisi tempat tidur ibunya. "Kita akan kembali ke tempat di mana udara terasa lebih jujur."

"Oakhaven?" tanya ibunya lembut.

Kai mengangguk. "Ada seseorang di sana yang ingin aku perkenalkan padamu. Seseorang yang memegang kunci dari semua ini."

Tiga hari kemudian, setelah mengurus semua dokumen hukum dan memastikan Sarah mendapatkan perlindungan saksi, Kai menyewa sebuah ambulans pribadi untuk membawa ibunya ke utara. Perjalanan itu memakan waktu lama, namun bagi Kai, setiap kilometer yang mereka tempuh terasa seperti lapisan beban yang terangkat dari dadanya.

Saat mereka mulai memasuki wilayah pegunungan, pemandangan berubah. Pohon-pohon pinus mulai tertutup lapisan es tipis. Kabut mulai turun, menyambut mereka dengan dekapan dingin yang familiar.

Kai mengeluarkan ponselnya. Ia sudah mematikan ponsel itu selama beberapa hari untuk menghindari kejaran media. Saat ia menyalakannya, ada satu pesan suara yang belum ia dengar. Dari Elara.

Ia menempelkan ponsel ke telinganya.

*“Kai... aku melihat berita itu. Aku tahu kau berhasil. Tapi aku juga mendengar ada keributan di gang itu. Tolong, katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak pernah berhenti memainkan piano ini sejak kau pergi. Lagu ini tidak akan selesai sampai kau kembali untuk melukis baris terakhirnya.”*

Suara Elara terdengar gemetar, ada kerinduan dan kecemasan yang mendalam di sana. Kai meneteskan air mata, namun ia tersenyum.

Saat mobil ambulans itu berhenti di depan stasiun Oakhaven, Kai turun lebih dulu. Udara musim dingin yang tajam langsung menusuk paru-parunya, namun ia menyambutnya dengan tangan terbuka. Ia menengadahkan kepalanya.

Langit Oakhaven masih abu-abu. Namun di mata Kai, abu-abu itu kini memiliki ribuan spektrum; ada warna perak, ada warna mutiara, ada warna besi yang tenang. Ia tidak lagi membutuhkan warna-warna cerah untuk merasa hidup. Ia sudah menemukan warnanya sendiri di dalam hatinya.

Ia berjalan menuju kafe 'The Last Note'. Lonceng di pintu berdenting, dan aroma kopi hangat menyambutnya seperti pelukan lama yang dirindukan.

Di sudut ruangan, di depan piano tua itu, Elara sedang duduk. Ia tidak sedang bermain. Ia hanya menatap tuts piano dengan pandangan kosong. Rambutnya tergerai, dan ia mengenakan syal yang sama dengan saat mereka berpisah.

Kai tidak memanggil namanya. Ia hanya berdiri di sana, di ambang pintu, dengan bahu yang masih diperban dan wajah yang dipenuhi bekas luka.

Seolah memiliki ikatan batin, Elara menoleh. Matanya membelalak. Ia berdiri begitu cepat hingga kursi pianonya berderit keras.

"Kai?" bisiknya, seolah takut bahwa sosok di depannya hanyalah ilusi dari kerinduannya.

"Aku pulang, Elara," ucap Kai dengan suara parau. "Dan aku membawa warna bersamaku."

Elara berlari ke arahnya dan memeluknya erat, tidak peduli pada orang-orang di kafe yang menatap mereka. Kai merintih sedikit karena luka di bahunya tersenggol, namun ia tidak peduli. Ia membenamkan wajahnya di rambut Elara, menghirup aroma lavender dan salju yang selalu menenangkannya.

"Kau berdarah," Elara menarik diri sedikit, melihat perban di bahu Kai.

"Ini hanya sisa-sisa masa lalu yang mencoba menarikku kembali," jawab Kai. "Tapi kunci yang kau berikan... itu lebih kuat dari peluru mana pun."

Malam itu, Kai membawa Elara ke rumah sakit kecil di Oakhaven tempat ibunya dirawat sementara. Di sana, di bawah lampu ruangan yang remang-remang, tiga jiwa yang terluka itu bertemu. Keheningan di ruangan itu tidak lagi terasa menyesakkan; itu adalah keheningan yang penuh dengan penyembuhan.

Namun, saat Kai menatap ke luar jendela rumah sakit, ke arah kegelapan malam Oakhaven, ia menyadari satu hal. Meskipun Yudha sudah dipenjara dan namanya sudah bersih, perjuangannya belum benar-benar berakhir. Ada 41 bab lagi yang harus ia jalani—perjalanan untuk membantu Elara menemukan kembali suaranya, perjalanan untuk menyembuhkan ibunya, dan yang paling penting, perjalanan untuk membangun kembali hidupnya dari reruntuhan.

Musim dingin di Oakhaven masih panjang. Namun bagi Kai, musim dingin bukan lagi tentang kematian. Musim dingin adalah tentang persiapan untuk lahir kembali.

Ia mengambil buku sketsanya yang baru. Di halaman pertama, ia tidak menggambar badai. Ia menggambar sebuah jendela yang terbuka, dengan cahaya pagi yang mulai masuk, dan seorang wanita yang sedang tersenyum ke arah piano.

Ia tidak menggunakan arang lagi.

Ia mengambil sebuah pensil warna biru yang ia beli di ibu kota. Biru Prussian. Ia menorehkan warna itu di bagian langit dalam gambarnya.

"Ayo kita mulai lagi, Elara," bisik Kai. "Bab selanjutnya... adalah tentang kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!