Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN ESENSI VOID DAN TATAPAN SANG PENGUASA PLANET
Sisa-sisa kehancuran Aula Cakrawala Suci masih mengepulkan asap hitam. Di tengah kawah raksasa yang tercipta dari amarah Arkan, keheningan menyelimuti segalanya. Namun, ini bukan keheningan damai; ini adalah keheningan sebelum ledakan besar berikutnya. Arkan berdiri di pusat kawah, jubahnya yang koyak kini perlahan menyatu kembali, dijahit oleh serat-serat energi kehampaan yang keluar dari pori-porinya.
Liem-Banyu, Srikandi-Tan, dan Cici berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tubuh mereka gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sisa energi Yun-Tian yang meledak tadi masih liar di atmosfir, menekan paru-paru mereka.
"Duduklah," perintah Arkan tanpa menoleh. Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang mampu menghentikan aliran sungai. "Dunia ini sudah tidak memiliki tuan. Tapi di luar atmosfer ini, ada mata yang mulai terbuka. Jika kalian tidak melampaui batas kalian sekarang, kalian hanya akan menjadi debu di bawah kaki mereka."
Arkan mengangkat tangan kanannya ke langit yang masih gelap.
[Teknik Kosmik: Ekstraksi Galaksi - Pemurnian Massal]
Seketika, titik-titik cahaya pelangi yang bertebaran di udara—sisa-sisa esensi Yun-Tian dan ribuan murid sekte yang tewas—mulai berputar liar. Arkan menggunakan Black Hole di dalam jantungnya sebagai magnet raksasa. Energi yang tadinya liar dan beracun itu ditarik paksa, diperas oleh gravitasi jutaan ton, dan disaring dari segala kotoran karma masa lalu.
Di telapak tangan Arkan, muncul empat buah bola energi (Orbs) yang berdenyut kencang. Warnanya bukan lagi pelangi, melainkan telah bermutasi menjadi warna-warna yang lebih pekat dan murni.
"Liem, ambil Esensi Petir Hitam ini. Srikandi, ini Inti Gravitasi Tanah yang sudah kumurnikan. Dan Cici..." Arkan menatap gadis itu, matanya berkilat ungu. "Kau akan menerima sisa-sisa Hukum Langit yang pernah dicuri Yun-Tian. Ini akan membakarmu, tapi jika kau selamat, kau akan lahir kembali sebagai Ratu Nirvana."
Tanpa menunggu jawaban, Arkan menjentikkan jarinya. Ketiga bola energi itu melesat masuk ke dalam dada mereka masing-masing.
"AAAAAARRRRGGHHH!"
Teriakan pertama datang dari Liem-Banyu. Tubuhnya mendadak diselimuti oleh petir hitam yang merayap seperti ular berbisa. Kulitnya pecah, mengeluarkan darah yang langsung menguap oleh suhu listrik yang ekstrem. Namun, di bawah bimbingan aura Arkan, petir itu mulai meresap ke dalam tulang sumsumnya. Jiwanya yang tadinya berada di Soul Realm mulai ditarik paksa menuju Earth Realm. Pedangnya yang tergeletak di sampingnya berdengung hebat, seolah-olah ikut mengalami evolusi.
Srikandi-Tan mengalami hal yang berbeda. Tubuhnya tidak meledak, melainkan mendadak menjadi sangat berat. Tanah di bawahnya amblas sedalam tiga meter hanya karena berat badannya yang meningkat drastis. Zirah perunggunya meleleh dan menyatu dengan kulitnya, menciptakan tekstur metalik yang gelap. Inilah proses pembentukan Indestructible Void Body tahap lanjut. Ia sedang mendaki menuju Earth Realm dengan fondasi fisik yang tak tertandingi.
Dan yang paling mengerikan adalah Cici.
Tubuh Cici meledak dalam api ungu yang membentuk pilar raksasa hingga menembus awan. Sayap kristalnya rontok satu per satu, hanya untuk digantikan oleh sayap baru yang terbuat dari api abadi yang berkobar. Suhu di sekitar kawah meningkat drastis hingga batu-batu marmer berubah menjadi lava cair.
"Kak... panas..." rintih Cici di tengah kobaran api.
"Tahan, Cici!" bentak Arkan, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang dalam. "Jangan lawan apinya, jadilah api itu sendiri! Kau bukan lagi pelayan, kau adalah hukum yang berjalan! NIRVANA bukan tentang bertahan hidup, tapi tentang membakar masa lalumu!"
Arkan sendiri tidak tinggal diam. Ia menelan bola energi terbesar yang berwarna hitam pekat. Begitu bola itu masuk ke tenggorokannya, seluruh ruang di sekitar Arkan mendadak membeku. Arkan tidak berteriak. Ia hanya menutup matanya saat kesadarannya ditarik masuk ke dalam dimensi terdalam Black Hole-nya.
Di sana, ia melihat jutaan garis takdir yang saling bersilangan. Ia mulai memahami esensi dari Dao Master. Dao bukan hanya soal kekuatan, tapi soal bagaimana seseorang mendikte realitas. Arkan mulai menenun "Hukum Kehampaan"-nya sendiri. Ia bukan lagi sekadar pengguna gravitasi; ia menjadi tuan atas ruang itu sendiri.
DUMMM! DUMMM! DUMMM!
Tiga ledakan energi terjadi secara berurutan.
Liem-Banyu bangkit. Matanya kini tidak memiliki pupil, hanya berisi kilatan petir hitam. Ia mengayunkan tangannya, dan sebuah tebasan energi membelah gunung di kejauhan tanpa menyentuhnya. Earth Realm - Awal!
Srikandi-Tan berdiri dengan tenang. Setiap langkahnya membuat bumi bergetar ritmis. Ia merasa bisa mengangkat seluruh benua ini jika ia mau. Earth Realm - Awal!
Dan terakhir, pilar api ungu itu mengecil, masuk kembali ke dalam tubuh Cici. Cici mendarat dengan anggun, rambutnya yang hitam kini memiliki semburat ungu di ujungnya. Auranya begitu agung hingga Liem dan Srikandi secara tidak sadar menundukkan kepala. Nirvana Realm - Awal!
Namun, perayaan itu hanya berlangsung sesaat.
Tiba-tiba, langit yang tadinya dipenuhi bintang meskipun siang hari, mendadak "terbelah". Bukan retakan biasa, melainkan sebuah mata raksasa berwarna merah darah yang terbentuk dari formasi awan dan energi kosmik. Ukurannya begitu besar hingga menutupi seluruh cakrawala planet.
"Siapa... yang berani... menyentuh... benihku?"
Suara itu tidak datang dari udara, tapi bergema langsung di dalam jiwa setiap makhluk hidup di planet tersebut. Suara itu adalah kehendak dari Leluhur Planet (Planet Ancestor), sang penguasa sejati yang selama ini tertidur dan menggunakan Sekte Awan Langit sebagai ladang untuk memanen energi.
Tekanan dari mata itu begitu dahsyat hingga Liem dan Srikandi langsung jatuh berlutut, memuntahkan darah. Bahkan Cici yang baru saja mencapai Nirvana harus menggunakan seluruh energinya hanya untuk tetap berdiri.
Arkan mendongak. Ia tidak berlutut. Ia justru tertawa dingin, sebuah tawa yang menantang sang pencipta hukum planet itu sendiri.
"Benihmu?" Arkan melayang perlahan ke udara, jubah hitamnya berkibar menentang tekanan gravitasi sang Leluhur. "Kau menyebut ribuan nyawa manusia sebagai benih? Kau menyebut penderitaan kami sebagai pupuk?"
"Semut tetaplah semut," suara sang Leluhur menggelegar, dan sebuah tangan raksasa yang terbuat dari material meteorit mulai turun dari atmosfer, siap untuk meratakan seluruh pegunungan itu beserta isinya.
Arkan merentangkan kedua tangannya. Di belakang punggungnya, muncul bayangan raksasa berbentuk cakram hitam yang berputar cepat—sebuah representasi dari Dao Master miliknya.
"Liem, Srikandi, Cici! Masuk ke dalam domainku!" perintah Arkan.
Saat tangan meteorit itu hampir menyentuh puncak gunung, Arkan melepaskan kekuatannya yang sebenarnya.
[Hukum Dao: Singularitas Penelan Dunia]
Seluruh cahaya di planet itu mendadak hilang selama satu detik. Sebuah ledakan kegelapan meledak dari tubuh Arkan, menghantam tangan raksasa sang Leluhur. Bentrokan itu menciptakan gelombang kejut yang bisa dirasakan hingga ke sisi lain planet.
"Leluhur Planet..." Arkan berbisik di tengah badai kehancuran itu, matanya menyala dengan kengerian yang tak terbatas. "Tunggu aku di sana. Setelah aku meratakan langit ini, aku akan datang untuk mencungkil mata kotormu itu."
Arkan menoleh ke arah pengikutnya yang kini sudah berada dalam pelindung gravitasinya. "Perjalanan di tanah ini sudah berakhir. Sekarang... kita naik ke tempat di mana para bajingan ini bersembunyi."
Dengan satu sentakan tangan, Arkan merobek ruang dimensi, menciptakan sebuah lubang cacing raksasa yang menuju ke alam yang lebih tinggi. Mereka berempat melesat masuk, meninggalkan planet yang kini sedang gemetar ketakutan menghadapi amarah seorang kultivator yang membawa kehampaan di tangannya.
Arkan: Dao Master (Puncak) - Siap menuju Sovereign.
Cici: Nirvana Realm (Awal) - Memiliki Eternal Purple Flame.
Liem & Srikandi: Earth Realm (Awal).