Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan karena buket bunga mawar
TOK TOK TOK
Fiola mengetuk pintu kamar adiknya pelan. Dari art dia tau kalau papanya berada di rumah. Tidak ingin sampai membangunkan papanya.
Padahal Fiola sudah ingin menggedor pintu kamar adiknya saking sudah tidak sabarnya melihat buket bunga mawar yang ada di foto.
Setelah membiarkan Cakra melakukan yang dia suka, Fiola meminta diantar pulang. Cakra tentu saja menurut. Calon kapolres itu selalu mudah dia taklukkkan dan kendalikan.
"Ada apa, kak?" tanya Febi sambil menguap. Dia baru saja jatuh tertidur ketika kakaknya ngga berhenti mengetok pintu kamarnya hingga membangunkannya.
Tanpa menggubris perkataan adiknya, Fiola segera melebarkan pintu kamar hingga Febi terdorong.
"Ada apa, sih, kak." Dari awalnya mengantuk berubah jadi kaget karena hampir saja jatuh ke belakang karena dorongan keras kakaknya. Kantuknya langsung hilang.
Fiola ngga menyahut, tatapanya mencari buket bunga mawar itu. Ketika manik matanya sudah menangkapnya, jantungnya seperti ditusuk. Apalagi saat membaca nama Jetro di sana.
"Kamu serius berhubungan dengan Jetro Julian Wisesa?" tanyanya dengan suara bergetar. Dia ngga busa menerima ini. Dia yang duluan bertemu Jetro, melayani makan dan minumnya di pesawat. Enak saja adiknya yang malah mendapatkan bunga darinya.
Febi yang sudah tidak mengantuk, terkaget lagi mendengar kakaknya sangat lancar menyebutkan nama lengkap Jetro.
"Kok, Kak Fio tau nama panjangnya? Kak Fio kenal?" Dia malah balik bertanya
Fiola mendengus kesal.
Lebih dari kenal, geramnya dalam hati.
"Kalo papa tau bagaimana? Kamu tega menghancurkan harapan papa?"
"Bukannya ini salah Kak Fio?" Febi balik menantang. Walaupun hatinya lemah kalo menyangkut papanya, tapi dia ingin menyadarkan kakaknya.
Ini salah kakaknya kalo itu terjadi. Bukan salahnya.
Fiola melotot marah.
"Salahku apa? Papa ingin menjodohkan kamu dengan Cakra, tapi kamu malah selingkuh dengan Jetro. Dasar mata duitan. Kamu pasti sudah tau siapa Jetro, kan?!" bentak FIola masih dengan suara tertahan. Kamar papa mereka berada di lantai bawah.
Febi tersinggung dengan makian dan tuduhan kakaknya yang memb@bi buta sampai kehilangan kata untuk langsung membalas.
Fiola tambah merasa terbakar melihat keterdiaman adiknya.
Jadi benar, dia sudah berselingkuh dengan Jetro? Jetro malah memilih berhubungan dengan adiknya? batinnya shock dan harga dirinya yang selalu tinggi kini nyungsep ke tanah.
"Kakak ngga mau tau! Putuskan hubunganmu dengan Jetro. Kakak ngga mau kehilangan papa seperti waktu kehilangan mama karena kamu!"
DEG
Hati Febi langsung sakit parah mendengarnya. Selalu saja dia dijadikan penyebab kematian mamanya. Sekarang dia juga disalahkan kalo papanya nanti meninggal juga kalo memilih Jetro.
Fiola merasa sedikit menang dengan raut kesakitan adiknya. Dia ngga akan melepaskan Jetro.
"Apalagi kalo laki laki itu sampai mempermainkan kamu. Kamu itu hanya sebutir debu bagi dia. Gampang dia campakkan. Buket bunga ini ngga ada artinya buat dia! Kamu hanya akan dimainkan saja!" Dengan geram dan hati yang panas membara, Fiola mengambil buket itu. Menatap Febi penuh benci
"Jangan, kak," seru Febi tertahan sambil berusaha mengambil kembali bunganya.
"Kamu mau bunga ini?!" Fiola mengangkat buket bubga itu tinggi tinggi, kemudian dengan cepat membanting keras ke lantai.
"Makan, tuh!" Seakan belum puas, Fiola bermaksud menginjak buket yang sudah agak berantakan itu dengan heelsnya. Tapi Febi mendorong tubuh Fiola hingga kakaknya terjatuh dan kepalanya membentur pinggiran ranjang ya terbuat dari kayu. Lumayan kuat juga suara benturan itu.
"Aaawww.....!" Kali ini Fiola tidak bisa menahan lagi volume suaranya. Suara jeritan kesakitannya menggema keras.
Febi tidak sempat melihat akibat perbuatannya karena langsung mengambil buket bunga mawarnya yang beberapa kelopaknya ada yang terlepas akibat kuatnya hempasan kakaknya.
Febi heran kenapa kakaknya bisa semarah ini . Padahal Jetro baru mengirim bunga. Belum lagi kalo tau dia jadi pergi mancing bersama pria itu.
Jeritan keras kakaknya menyadarkannya dan segera mendekat setelah menaruh kembali buket bunga itu di atas tempat tidurnya.
"Kak...." Febi shock melihat ada darah mengalir di kening kakaknya. Sekarang timbul penyesalan di dalam hatinya, kenapa harus memberitaukan tentang bunga ini padanya.
"Ada ap..... Fiola! Apa.yang terjadi?" teriakan papanya menggelegar.
Febi dan beberapa art yang ada di sana sampai berjengit kaget mendengarnya.
Febi segera mengambil alkohol, bermaksud membersihkan luka di kening kakaknya. Tapi kakaknya mulai membuat drama. Dia balas mendorong Febi. Untungnya ada art yang nenahan tubuh Febi hingga adiknya tidak sampai jatuh terjengkang.
"Fio! Adikmu mau ngobatin kamu," marah Anggareksa karena kaget melihat sikap kasar Fiola pada adiknya.
Dia meraih kapas yang ada di tangan Febi dan menekan pelan pada luka di kening putri tertuanya.
Terdengar ringisan Fiola.
"Aku begini karena dia, Pa! Dia mendorongku gara gara aku ketemu Cakra," serunya dalam kebohongan yang membuat Febi hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Muak dia denagn kebohongan kakaknya.
"Betul begitu, Febi?" Mata Anggareksa menatap buket bunga yang agak berantakan, berbeda dari yang dilihatnya tadi.
Saat Febi akan membuka mulut untuk menjelaskannya, terdengar ringisan Fio lagi membuat perhatian papanya kembali pada kakaknya
"Aduuh.... Sakit, Pa. Keningku sepertinya robek. Bagaimana ini..... Besok siang aku harus terbang." Fiola menampakkan wajah kalutnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Anggareksa segera memapah Fiola karena darah yang keluar dari keningnya tidak mau berhenti.
Anggareksa memberi isyarat pada Febi yang masih terdiam agar ikut bersama mereka.
*
*
*
Febi duduk menyandar di kursi luar ruang IGD, membiarkan papa dan kakaknya berada di dalam. Luka kakaknya sedang dijahit. Hanya jahit tiga. Ngga nyangka ternyata lumayan parah juga.
Tadi dia juga ikut masuk, tapi sikap kakaknya yang mengusirnya terang terangan membuat papanya memintanya menunggu di luar
"Sabar, ya, mba Febi. Bibik ngga yakin mba Febi sejahat yang dituduhkan mba Fio." Artnya yang usianya sudah hampir enam puluh tahun menghiburnya. Bik Samiati, yang mengurusnya sejak bayi.
"Terimakasih, bik,"
Bik Samiati mengangguk.
"Sama sama, mba."
Febi menghela nafas. Kejadian hari ini berlangsung cepat, sama sekali tidak dia prediksi.
Dia dan Bik Samiati segera berdiri ketika melihat papa dan kakaknya keluar dari ruang IGD.
Sepasang mata Fiola masih menyorot marah pada adiknya.
"Aku cacat karenamu," kecamnya geram.
Febi hanya diam saja. Papanya menatap lelah.
"Angga, putrimu kenapa?"
Anggareksa menatap suara yang menegur barusan.
"Emir...." Dia tersenyum.
"Mau jemput istri?" Anggareksa malah balik bertanya. Ini rumah sakit milik keluarganya, Airlangga Wisesa.
"Iya." Emir memperhatikan kedua gadis yang nampak sebaya. Kemudian beralih lagi pada gadis yang terluka di dahinya.
"Putrimu kenapa?" Emir bertanya lagi.
"Kepeleset, Mir. Oh ya, Fio, Febi, salam sama Om Emir," bohong Anggareksa membuat Fiola melirik papanya ngga terima. Tapi perkataan papanya selanjutnya membuat dia menahan diri.
Fiola yang lebih dulu menyalami Emir, dilanjut Febi.
"Ini yang pramugari, dan ini yang polisi, ya," tebak Emir dengan senyum hangatnya.
"Iya, om," jawab Fiola dan Febi bersamaan.
Emir tersenyum lembut.
"Nanti kalo sudah kering lukanya ke sini lagi, ya. Biar bekasnya bisa dihilangkan," ucap Emir sambil menatap perban kecil di kening Fiola.
"Iya, Om," jawab Fiola sopan. Dia sedang menduga duga siapa laki laki yang seusia papanya ini.
"Aku maunya dia minta ijin, tapi tetap maksa mau terbang besok," curhat Anggareksa.
Emir tersenyum mendengarnya.
"Ngga bisa ijin mendadak, pa," sela Fiola agak manja.
"Ya, papa mengerti." Anggareksa menghembuskan nafas pelan.
"Loh, Fiola, kan, ya?"
"Ibu Adriana," sahut Fiola surprise, ngga mengira ketemu dengan mamanya Jetro. Dia segera menyalim tangan wanita paruh baya itu. Tapi gerak tubuhnya tiba tiba agak sempoyongan karena melakukannya dengan terburu buru. Kepalanya terasa pusing.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Adriana khawatir.
"Dahinya terluka, baru aja dijahit," jelas Emir.
"Ooo...." Adriana memang sudah melihat perban itu. Awalnya dia nelihat keberadaan Emir, hingga mendekat. Ternyata malah bertemu Fiola.
Dalam hatinya ada pertanyaan yang dia simpan karena melihat perban di dahi gadis itu.
"Tidak apa apa, Bu Adriana "
"Kamu kenal juga, ya, Dri?" tanya Emir, sementara Anggareksa juga menatap wanita itu heran.
"Kenal. Fiola beberapa kali jadi pramugari di pesawat yang aku, Kalandra dan Jetro tumpangi." Kini Adriana menatap Anggareksa untuk melanjutkan ucapannya.
"Ini putrimu, ya? Kebetulan sekali," Adriana tersenyum lembut
Febi terpaku melihat kebetulan yang terjadi di depannya.
Jadi ini mamanya Jetro? Cantik sekali.
Sementara Fiola menatap tidak suka pada adiknya yang ikut ikutan menyalami calon mama mertuanya.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,