NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Hujan di Musim yang Berbeda

Suara statis di telingaku perlahan berubah menjadi detak jam dinding yang membosankan. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman, seolah berusaha menyeret kesadaranku keluar dari kegelapan yang hampa. Aku mencoba menggerakkan ujung jariku, merasakan tekstur sprei katun yang kasar dan dingin di bawah telapak tanganku.

Mataku terbuka perlahan. Langit-langit putih bersih menyambutku, disinari oleh cahaya sore yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup sempurna. Ini bukan aspal jalanan yang basah. Ini bukan lampu depan truk yang membutakan itu.

Aku menarik napas panjang, merasakan paru-paruku mengembang dengan beban yang terasa asing. Ingatan terakhirku adalah teriakan seorang gadis kecil dan hantaman logam yang mengakhiri segalanya. Seharusnya aku sudah hancur. Namun, di sini aku berada, menatap pantulan diriku di cermin kecil yang tergantung di dinding samping tempat tidur rumah sakit.

Wajah itu masih wajahku, namun lebih muda. Garis rahangnya lebih tegas, matanya memiliki binar tajam yang tidak pernah kumiliki saat bekerja lembur di kantor dulu. Rambut hitamku berantakan, menutupi sebagian dahi yang berkeringat.

[Sistem Evolusi Pekerjaan Diaktifkan]

[Integrasi Jiwa: Selesai]

[Status Pengguna: Ren Saiba]

[Identitas: Siswa Kelas 3 SMA - Akademi Sakura (Pindahan)]

[Hadiah Paket Pemula Telah Dikirim:]

* Keahlian Penulis Novel [Master]

* Keahlian Bermain Musik [Master]

* Keahlian Memasak [Master]

* Keahlian Olahraga [Master]

* Keahlian Bela Diri Taekwondo Jin Mori [Senior]

[Pekerjaan Saat Ini: Pengangguran]

[Target Berikutnya: Membuka Template Pekerjaan Pertama]

Aku menatap teks transparan yang melayang di udara itu tanpa ekspresi. Tidak ada keterkejutan yang berlebihan. Mungkin karena usia mentalku yang sudah melewati masa-masa remaja yang naif, atau mungkin karena rasa dingin yang menjalar di nadiku membuatku tetap berpijak pada realita.

"Ren Saiba..." aku menggumamkan nama itu. Suaraku terdengar lebih dalam, sedikit serak namun memiliki nada yang menenangkan.

Pintu kamar rawat itu bergeser terbuka dengan sentakan kecil. Seorang gadis dengan seragam SMA—rok pendek berlipat dan blazer yang pas di tubuhnya—berdiri di sana. Rambutnya diikat rapi, namun wajahnya menunjukkan campuran antara kemarahan dan kelegaan yang luar biasa.

"Kau bodoh! Benar-benar bodoh!"

Dia melangkah masuk, kakinya menghentak lantai dengan suara yang menggema di ruangan yang sunyi itu. Itu adalah Rin Saiba, adik perempuanku di dunia ini. Sifat tsundere-nya terpampang nyata dari caranya meremas tas sekolahnya hingga buku-bukunya sedikit menekuk.

Aku hanya memperhatikannya dengan tatapan tenang, menyandarkan punggungku pada bantal yang ditumpuk. "Suaramu lebih berisik daripada mesin truk yang menabrakku, Rin. Kecilkan sedikit volumenya."

Rin tertegun. Dia biasanya mengharapkan aku meminta maaf atau terlihat merasa bersalah, tapi tanggapanku yang santai dan sedikit sarkastik membuatnya terdiam sejenak. Pipinya merona merah karena kesal.

"Kau hampir mati karena menolong orang asing di jalan, dan hal pertama yang kau katakan adalah mengomentari suaraku?" Dia mendekat ke sisi tempat tidur, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha keras menyembunyikannya di balik tatapan tajam. "Jika kau mati... siapa yang akan memasakkan sarapan untukku? Siapa yang akan membayar tagihan listrik jika tabungan ayah habis?"

Aku mengulurkan tangan, sebuah gerakan spontan yang didorong oleh insting protektif yang tiba-tiba muncul. Aku mengusap kepala Rin perlahan, mengacak rambutnya yang tertata rapi. "Dunia ini terlalu membosankan untuk kutinggalkan begitu saja, apalagi meninggalkan adik kecil yang bahkan tidak bisa menyeduh teh tanpa menumpahkannya."

Rin membeku. Sentuhanku biasanya akan ia tepis dengan umpatan, tapi kali ini ia membiarkannya. Kehangatan yang kuberikan seolah meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun sejak aku dilarikan ke rumah sakit.

"Aku bukan anak kecil lagi," bisiknya pelan, kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. "Dan jangan berani-berani mati sebelum kau melihatku lulus."

Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung makna lebih dalam dari sekadar janji kakak-adik. "Aku tidak punya niat untuk tunduk pada takdir secepat itu, Rin. Lagipula, aku baru saja mulai menyukai pemandangan di sini."

Jendela di belakangku menunjukkan pemandangan kota yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Akademi Sakura, sekolah baruku, menunggu di sana. Dunia ini bukan lagi sekadar cerita dalam buku atau layar kaca. Ini adalah panggungku sekarang. Dan sebagai Ren Saiba, aku tidak berencana menjadi pemeran figuran yang hanya numpang lewat.

"Cepatlah sembuh," Rin meletakkan keranjang buah di meja samping tempat tidur dengan kasar, seolah ingin menutupi rasa malunya. "Sepupu kita, Eriri, terus-terusan meneleponku. Dia bilang dia tidak bisa menggambar jika kau tidak ada untuk dikritik. Dasar merepotkan."

Aku terkekeh pelan. Eriri Spencer, si pirang yang keras kepala itu. Sepertinya hidupku di dunia fusion ini tidak akan sesederhana yang kubayangkan. Namun, di situlah letak seninya.

Hembusan angin sore yang menyelinap melalui celah jendela membawa aroma tanah basah, sisa hujan yang baru saja reda di luar sana. Di dalam kamar rawat, keheningan kembali merayap setelah Rin duduk di kursi kayu samping tempat tidurku. Ia mulai mengupas apel dengan gerakan yang kaku, menunjukkan betapa jarang ia melakukan pekerjaan domestik seperti ini.

Aku memperhatikannya dalam diam. Fokusku bukan pada buah di tangannya, melainkan pada aliran informasi yang mulai mengendap di kepalaku. Memori tentang "Ren Saiba" yang asli mulai menyatu dengan kesadaranku—seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk hingga membentuk gambaran utuh. Ia adalah remaja yang tenang, mungkin terlalu tenang hingga sering dianggap tidak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Namun sekarang, tempat itu telah digantikan oleh sesuatu yang lebih tajam, lebih berat.

"Berhenti menatapku seperti itu," gerutu Rin tanpa mendongak. "Kau terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu yang mesum di kepalamu."

Aku menyunggingkan senyum tipis, menyandarkan kepala pada telapak tangan. "Aku hanya sedang berpikir, bagaimana bisa adikku tumbuh menjadi gadis yang begitu galak padahal aku baru saja kembali dari ambang kematian. Bukankah seharusnya ada pelukan hangat atau setidaknya air mata haru?"

Rin mendengus, meletakkan potongan apel yang bentuknya tidak beraturan ke atas piring kecil. "Mimpilah setinggi langit, Kak. Pelukan itu mahal harganya. Makan saja ini dan diamlah."

Ia menyodorkan potongan apel itu ke arah mulutku. Aku tidak menolaknya. Saat gigi-gigiku melumat buah yang manis dan segar itu, sebuah sensasi aneh menggelitik di sudut mataku. Sebuah jendela transparan muncul kembali, kali ini lebih spesifik.

[Target Terdeteksi: Rin Saiba]

[Status: Adik (Brocon Tersembunyi)]

[Tingkat Kelekatan: Tinggi]

[Misi Pekerjaan Pertama Tersedia]

[Template: Penulis Novel (Mangaka)]

[Tujuan: Tulis draf pertama novel dalam 7 hari]

[Hadiah: Peningkatan Atribut Mental & Poin Evolusi]

Aku mengabaikan teks itu sejenak. Menulis novel, ya? Dengan keahlian tingkat [Master] yang baru saja kuterima, itu bukan perkara sulit. Namun, yang lebih menarik bagiku adalah bagaimana dunia ini tersusun. Eriri yang disebutkan Rin tadi, lalu sekolah bernama Akademi Sakura—semuanya terasa seperti tumpukan literatur yang pernah kubaca di kehidupan sebelumnya, kini menjadi nyata dan bernapas di depanku.

"Besok kau sudah boleh pulang," Rin memecah keheningan, suaranya melembut meski ia masih berusaha membuang muka. "Dokter bilang tidak ada luka internal yang serius. Kau hanya... beruntung. Sangat beruntung."

"Beruntung?" aku mengulang kata itu dengan nada puitis yang sedikit sarkastik. "Mungkin Tuhan merasa neraka belum siap menerima pria sepertiku, atau mungkin surga terlalu takut aku akan mengambil alih takhta mereka."

Rin memutar bola matanya. "Dan sekarang kau mulai bicara seperti pujangga gagal. Hebat sekali."

Aku terkekeh, merasakan denyut kehidupan yang nyata di dadaku. "Rin, ambilkan tasku. Ada sesuatu yang ingin kupastikan."

Dengan wajah bersungut-sungut, ia menyerahkan tas sekolah hitam yang diletakkan di sudut ruangan. Aku merogoh isinya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kosong. Jemariku merasakan tekstur kertasnya, dan secara otomatis, pikiranku mulai merangkai kata-kata. Struktur plot, pengembangan karakter, hingga dialog-dialog yang menggoda mulai mengalir deras seperti air bah di otakku. Inilah kekuatan dari tingkat [Master].

"Kau mau apa? Menulis surat wasiat?" tanya Rin sinis.

"Bukan," jawabku singkat sembari mengambil pulpen. Aku menuliskan beberapa baris kalimat di halaman pertama. "Aku sedang menggambar peta menuju masa depan kita. Masa depan di mana kau tidak perlu khawatir tentang tagihan listrik lagi, dan aku bisa membelikanmu semua novel romansa picisan yang sering kau sembunyikan di bawah bantal itu."

Wajah Rin langsung memerah padam. "K-Kau! Bagaimana kau tahu?!"

"Aku kakakmu, Rin. Tidak ada variabel di rumah itu yang bisa lolos dari pengamatanku," aku mengedipkan mata padanya, sebuah tindakan nakal yang membuatnya melempar sisa kulit apel ke arahku.

Aku menghindar dengan gerakan refleks yang sangat halus—sisa dari kemampuan [Taekwondo Jin Mori] yang sudah menyatu dengan sistem sarafku. Gerakanku begitu efisien, tidak ada tenaga yang terbuang sia-sia. Rin sedikit tertegun melihat betapa cepatnya reaksiku, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan buatan.

"Terserah! Aku pulang duluan untuk menyiapkan makan malam. Jangan berani-berani keluyuran keluar kamar!"

Ia menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia berhenti sejenak di ambang pintu, membelakangiku.

"Jangan... jangan membuatku takut lagi, Ren," bisiknya sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara geseran pintu, sebelum ia menghilang di lorong rumah sakit.

Aku tertegun sejenak. Sifat protektif dalam diriku bergejolak. Gadis itu, meskipun bicaranya tajam, adalah satu-satunya jangkar yang kupunya di dunia baru ini. Aku meletakkan buku catatan itu di pangkuanku, menatap keluar jendela di mana bulan mulai menampakkan dirinya di balik awan.

Akademi Sakura. Utaha Kasumigaoka. Yukino Yukinoshita. Kato Megumi. Nama-nama itu berputar di kepalaku. Aku tidak tahu bagaimana takdir akan mempertemukan kami, tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan menjadi penonton di barisan belakang.

Aku mulai menuliskan judul di halaman depan buku catatan itu dengan tulisan tangan yang sangat indah dan rapi, sebuah karya seni tersendiri.

[When Ordinary Days Refuse to Stay Ordinary]

Aku menyeringai kecil. Judul yang cukup ironis untuk seseorang yang baru saja menipu kematian dan sekarang memegang sistem di tangannya. Malam itu, di bawah cahaya lampu rumah sakit yang remang-remang, seorang pria dengan jiwa berusia 19 tahun dan tubuh yang baru saja diperbaharui, mulai menyusun strategi untuk menaklukkan dunia yang penuh dengan drama remaja ini.

Besok, sekolah dimulai. Dan aku yakin, hari-hari biasa tidak akan pernah sama lagi bagi siapa pun yang berpapasan denganku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!