Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Mata Natasha langsung membulat sempurna mendengar ide brilian tersebut.
"Katakan bahwa topeng yang dia pakai itu adalah trik murahan untuk menutupi gerakan bibirnya yang tidak sesuai dengan lagu rekaman," lanjut Pak Surya.
"Dan pastikan kalian menekankan bahwa peretasan audio kemarin adalah cara mereka menutupi suara asli mereka yang sumbang."
Suara tawa serak terdengar dari ujung telepon sebelum panggilan itu ditutup oleh Pak Surya.
Manajer label itu melempar ponselnya ke atas meja dan menatap Dion dengan pandangan puas.
"Masyarakat kita paling benci dengan penyanyi penipu yang menggunakan teknik lipsync," ucap Pak Surya menyeringai.
"Dalam hitungan jam, The Zeros tidak akan lagi dipuja sebagai musisi jenius."
"Mereka akan dihujat, dicaci maki, dan dipaksa mundur dari festival oleh para netizen yang marah."
Dion tertawa pelan dan mengusap wajahnya dengan perasaan lega yang luar biasa.
"Ini rencana yang sangat jenius, Pak Surya!" puji Dion dengan mata berbinar licik.
"Biarkan mereka merasakan bagaimana hancurnya mental akibat hujatan seluruh negeri."
Dua jam kemudian, kedamaian di studio kumuh sayap barat kampus tiba-tiba pecah berantakan.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Ponsel Clara yang tergeletak di atas meja terus-menerus berbunyi tanpa henti.
Puluhan notifikasi masuk secara bersamaan hingga membuat layar ponsel itu sedikit macet.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba banyak sekali yang menandai akun media sosial kita?" gumam Clara dengan kening berkerut.
Ia mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi media sosial yang paling populer.
Senyuman manis di wajah Clara seketika lenyap tanpa sisa dalam hitungan detik.
Wajah gadis itu berubah pucat pasi seperti selembar kertas kosong.
"K-kak Stevan..." panggil Clara dengan suara yang sangat bergetar dan parau.
Stevan yang sedang menyusun kabel di sudut ruangan langsung menoleh.
Ia melihat Clara sedang menatap layar ponsel dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
Stevan segera berjalan menghampiri dan mengambil ponsel itu dari tangan Clara yang gemetar.
Layar ponsel itu menampilkan puluhan tagar yang sedang memuncaki daftar tren sosial media saat ini.
Tagar TheZerosPenipu, BoikotPenyanyiLipsync, dan BukaTopengKalian memenuhi seluruh linimasa.
"Mereka menuduh kita memutar lagu rekaman saat audisi kemarin, Kak," isak Clara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mereka bilang topengku itu sengaja dipakai agar orang tidak tahu kalau aku cuma komat-kamit lipsync."
Stevan membaca rentetan komentar jahat di bawah video audisi mereka dengan tatapan yang luar biasa dingin.
"Dasar grup indie penipu! Pantas saja suaranya terlalu sempurna, ternyata hasil editan studio!" tulis seorang akun anonim.
"Peretas rendahan! Diskualifikasi The Zeros sekarang juga!" tambah akun palsu lainnya.
Komentar-komentar itu ditulis dengan pola bahasa yang sangat seragam dan dipublikasikan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Bagi mata orang biasa, ini terlihat seperti kemarahan publik yang nyata.
Namun bagi Stevan yang telah menguasai Keterampilan Peretasan Jaringan, ini adalah serangan siber bayaran yang sangat amatir.
"Kak, apa yang harus kita lakukan? Semua orang menuntut panitia untuk membatalkan kelolosan kita," ucap Clara dengan nada putus asa.
Gadis itu merasa dunia kembali meruntuhkannya tepat saat ia baru saja mencoba berdiri.
Stevan meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja dengan gerakan sangat tenang.
Tidak ada kepanikan atau ketakutan sedikit pun di raut wajahnya yang tertutup masker.
[TING!]
[Misi baru terdeteksi: Membalikkan opini publik secara mutlak.]
[Deskripsi: Buktikan keaslian kemampuan musik The Zeros di hadapan publik tanpa bantuan perangkat lunak.]
[Hadiah Misi: Kemampuan Manipulasi Suara Instrumental.]
Stevan menatap layar biru sistem itu sejenak sebelum kembali fokus pada Clara yang sedang menangis.
Ia mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan dengan sangat santai, lalu menyodorkannya pada Clara.
"Kenapa kau harus menangis karena rumor murahan yang dibuat oleh orang-orang putus asa?" ketik Stevan di layar.
Clara menghapus air matanya dan membaca pesan itu dengan bingung.
"Tapi Kak, reputasi kita hancur! Mereka semua mempercayai rumor lipsync itu," balas Clara dengan suara serak.
Stevan tersenyum tipis dan mengetik balasan berikutnya dengan cepat.
"Justru ini adalah hal terbaik yang bisa terjadi pada kita sebelum babak semifinal dimulai."
Clara mengerutkan keningnya semakin dalam, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran seniornya ini.
"Hal terbaik bagaimana? Kita sedang dihujat satu negara, Kak," bantah Clara pelan.
Stevan menatap mata Clara dengan pandangan tajam yang penuh dengan strategi licik.
"Semakin tinggi mereka mengangkat isu lipsync ini, semakin banyak mata yang akan memperhatikan kita di babak semifinal nanti," ketik Stevan.
"Mereka sengaja menggali lubang yang sangat dalam untuk kita."
"Tapi mereka tidak tahu bahwa lubang itu akan menjadi kuburan massal untuk kesombongan mereka sendiri."
Clara membaca kalimat penuh metafora namun mengancam itu dengan dada yang berdegup kencang.
"Lalu apa rencana kita untuk membuktikan bahwa kita tidak lipsync, Kak?" tanya Clara yang mulai sedikit tenang.
Stevan berbalik badan dan berjalan mengambil sebuah gitar akustik kayu tua yang menggantung di dinding studio.
Ia membersihkan debu di bodi gitar itu lalu memetik senarnya satu kali dengan pelan.
Jreng...
Suara senar akustik yang sangat alami dan jernih mengalun di ruangan yang sunyi itu.
Stevan kemudian mengetik pesan terakhirnya untuk hari ini dan menunjukkannya dengan postur penuh percaya diri.
"Di babak semifinal minggu depan, kita tidak akan menggunakan musik latar elektronik."
"Kita juga tidak akan memakai distorsi listrik atau orkestra megah."
"Kau hanya butuh suaramu, dan aku hanya butuh satu gitar kayu ini."
Mata Clara terbelalak membaca rencana yang sangat nekat namun luar biasa brilian itu.
"Kita akan membungkam jutaan mulut mereka secara langsung dengan format akustik murni tanpa mikrofon efek," tambah tulisan di layar ponsel Stevan.
Melihat tekad dan ketenangan seniornya, sisa-sisa air mata di wajah Clara mengering dengan sendirinya.
Rasa takutnya kembali digantikan oleh semangat juang yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Mereka berdua akan membuktikan bahwa suara S-Rank dan kejeniusan mutlak tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh rumor murahan.