PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Axel yang Tersembunyi
Axel sudah tahu sarapan pagi itu tidak akan berlangsung tenang sejak melihat sebuah folder hitam tergeletak di samping piringnya.
Di sampulnya tercetak tulisan rapi: Rencana Pendidikan dan Pengembangan Bisnis Axel Pratama.
Ayahnya bahkan sudah menyiapkan masa depannya dalam bentuk dokumen.
“Baca setelah sarapan,” kata Arman tanpa mengangkat wajah dari tablet. “Di dalamnya ada beberapa pilihan universitas dan program yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.”
Axel meletakkan sendoknya.
“Kebutuhan keluarga atau keinginan Ayah?”
Arman akhirnya menatapnya.
“Jangan mulai pagi-pagi.”
“Gue cuma nanya.”
“Kamu akan segera lulus. Sudah waktunya kamu berhenti berpikir seperti anak kecil yang bisa menentukan semuanya berdasarkan keinginan sendiri.”
Rahang Axel mengeras. Jarinya mengetuk meja satu kali sebelum ia menarik tangannya ke pangkuan.
Di seberang meja, Maya memperhatikan keduanya tanpa menyela.
“Gue sudah punya rencana sendiri,” kata Axel.
“Rencana apa? Menghabiskan waktu dengan teman-temanmu? Membuat masalah di sekolah?”
“Gue mau kuliah arsitektur.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Arman menurunkan tabletnya perlahan. “Arsitektur?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sudah lama.”
“Dan baru sekarang kamu menyampaikannya?”
Axel ingin menjawab bahwa ia sudah mencoba beberapa kali. Namun, setiap kali pembicaraan tentang masa depan dimulai, ayahnya selalu mengarahkannya kembali pada bisnis keluarga, koneksi, dan tanggung jawab yang menurut Arman tidak bisa ditawar.
Akhirnya, ia hanya berkata, “Karena setiap kali gue bicara, Ayah sudah punya jawaban sebelum gue selesai menjelaskan.”
Maya menghela napas pelan.
Arman menutup tablet.
“Kita akan membicarakan ini lagi setelah kamu menyelesaikan urusan sekolah. Untuk sekarang, baca dokumen itu.”
Axel berdiri, mengambil tasnya, lalu meninggalkan meja tanpa menyentuh folder hitam tersebut.
Ia tidak merasa menang.
Bahkan, sepanjang perjalanan ke sekolah, kalimat ayahnya terus terulang di kepalanya.
Sejak kapan?
Sejak lama.
Hanya saja, selama ini Axel lebih terbiasa melawan dengan kemarahan daripada menjelaskan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Dan rupanya, kedua hal itu sama-sama tidak membuat ayahnya mendengarkan.
Di kelas XII-2, Axel duduk sambil membuka buku catatan yang seharusnya ia gunakan untuk pelajaran pertama.
Alih-alih menulis materi, ia justru menggambar garis-garis bangunan di halaman belakang.
Sebuah rumah dengan jendela lebar, halaman kecil, dan ruang tengah yang terhubung langsung dengan dapur. Tidak ada pagar tinggi atau gerbang besar. Hanya sebuah bangunan sederhana yang terlihat nyaman untuk ditinggali.
“Kalau lo terus gambar begitu, Bu Ratna bisa mengira lo sedang merencanakan renovasi sekolah.”
Suara Dimas membuat Axel menutup bukunya.
“Ngapain lo ngintip?”
“Buku lo kebuka lebar. Gue nggak perlu jadi detektif.”
Dimas menarik kursi di sebelahnya.
“Arsitektur, ya?”
Axel tidak menjawab.
“Serius, X. Gue baru tahu lo suka gambar bangunan.”
“Bukan urusan lo.”
“Benar. Tapi kalau itu sesuatu yang lo inginkan, kenapa malah disembunyikan?”
Axel menatapnya tajam.
Dimas mengangkat kedua tangan. “Oke, gue nggak akan ceramah. Gue cuma penasaran kapan terakhir kali lo benar-benar mencoba mendapatkan sesuatu tanpa harus bertengkar dulu.”
Pertanyaan itu membuat Axel terdiam.
Dimas tidak menunggu jawaban. Ia kembali ke tempat duduknya ketika Bu Ratna masuk kelas.
Axel membuka bukunya lagi.
Di halaman itu, garis-garis bangunan yang belum selesai tampak seperti sesuatu yang tidak pernah berani ia tunjukkan kepada siapa pun.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah selama ini ia menyembunyikan mimpinya karena ayahnya tidak akan menyetujui, atau karena ia sendiri takut menghadapi kemungkinan bahwa penolakannya akan menjadi kenyataan.
Saat jam istirahat, Nadine duduk di perpustakaan dengan beberapa lembar dokumen beasiswa tersusun di hadapannya.
Di sampingnya ada daftar persyaratan yang ia buat sendiri. Beberapa sudah diberi tanda centang, sementara dua lainnya masih kosong.
Surat keterangan penghasilan keluarga.
Dan satu dokumen pendukung yang harus ia urus melalui sekolah.
Nadine memeriksa tanggal pengumpulan sekali lagi.
Waktu yang tersisa lebih sedikit daripada perkiraannya.
“Masih berkutat dengan berkas?”
Axel menarik kursi di seberangnya setelah Nadine mengangguk mengizinkan.
“Bukan berkutat. Gue lagi memastikan nggak ada yang terlewat.”
“Bisa gue lihat?”
Nadine menyerahkan daftar persyaratan, bukan seluruh dokumennya.
Axel membaca setiap baris dengan saksama.
“Yang ini belum selesai?”
“Gue harus minta suratnya ke sekolah. Untuk yang satunya, gue perlu memastikan data penghasilan Ibu sesuai dengan dokumen yang diminta.”
“Kalau butuh bantuan—”
“Gue akan bilang.”
Jawaban itu terdengar biasa, tetapi cukup untuk menghentikan kalimat Axel.
Dahulu, ia mungkin akan langsung mencari orang yang bisa mengurus dokumen tersebut, lalu memberitahukan Nadine setelah semuanya selesai. Baginya, itu cara tercepat untuk menyelesaikan masalah.
Sekarang ia mulai memahami bahwa cara tercepat belum tentu cara yang benar.
Meski begitu, menahan diri ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
“Gue kenal orang yang mungkin bisa—”
“Axel.”
Satu kata itu membuatnya berhenti.
Nadine menatapnya dengan tenang. “Gue menghargai kalau lo mau bantu. Tapi gue perlu tahu apa yang harus gue lakukan sendiri, dan bagian mana yang memang perlu bantuan. Kalau semuanya langsung lo urus, gue bahkan nggak tahu prosesnya.”
Axel menyandarkan punggungnya.
“Oke. Jadi, apa yang bisa gue lakukan sekarang?”
“Kalau lo tahu jadwal pelayanan administrasi sekolah, kasih tahu gue. Selebihnya, biar gue urus.”
Axel mengeluarkan ponsel, memeriksa pesan grup kelas, lalu menunjukkan pengumuman tentang jadwal pengurusan surat.
“Besok pagi sebelum pelajaran pertama.”
Nadine mencatatnya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Percakapan itu selesai tanpa perdebatan. Namun, ketika Nadine kembali memeriksa dokumennya, Axel masih memikirkan satu hal.
Nadine punya daftar, tenggat waktu, dan langkah yang harus ditempuh. Ia tidak menunggu seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Bahkan ketika keadaan memaksanya menerima bantuan, Nadine tetap berusaha memahami dan mengendalikan keputusannya sendiri.
Axel memandang daftar itu sekali lagi.
“Lo sudah punya rencana kalau keterima?”
Nadine mengangkat wajah.
“Sudah.”
“Universitas di luar kota itu?”
“Iya. Gue sedang cari tahu soal tempat tinggal mahasiswa dan perkiraan biaya hidupnya. Beasiswanya penting, tapi gue juga harus menghitung kebutuhan lain.”
“Lo benar-benar serius pergi.”
“Memangnya kenapa?”
Axel terdiam sesaat.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin mengatakan bahwa jarak akan menyulitkan hubungan mereka. Bahwa ia tidak suka membayangkan Nadine berada jauh dari jangkauannya, menjalani kehidupan baru bersama orang-orang yang tidak ia kenal.
Namun, semua itu bukan alasan yang pantas untuk meminta Nadine mengubah rencananya.
“Gue cuma baru sadar lo sudah memikirkan semuanya sejauh itu,” jawabnya.
Nadine kembali merapikan dokumennya.
“Karena masa depan nggak akan menunggu sampai keadaan gue sempurna.”
Kalimat itu sederhana.
Akan tetapi, Axel merasa seolah Nadine baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini ia hindari.
Ia juga punya masa depan yang ingin diperjuangkan.
Bedanya, Nadine sudah mulai bergerak, sementara dirinya masih sibuk memikirkan bagaimana cara menghadapi orang yang mungkin akan menolak keinginannya.
Sore harinya, Axel tidak langsung pulang.
Ia meminta sopirnya menurunkannya di sebuah studio desain kecil yang berada di jalan samping pusat kota. Tempat itu tidak semewah gedung perkantoran milik keluarganya. Dindingnya dipenuhi sketsa, maket bangunan tersusun di rak, dan beberapa meja kerja dipenuhi kertas gambar.
Maya pernah membawanya ke sana ketika ia masih lebih muda.
Studio itu dikelola oleh seorang kenalan ibunya yang bekerja sebagai arsitek. Sejak kunjungan pertama, Axel menyukai tempat tersebut karena orang-orang di dalamnya membicarakan bangunan bukan hanya berdasarkan harga, tetapi juga berdasarkan kebutuhan orang yang akan menggunakannya.
Hari itu, pemilik studio sedang berada di luar kota. Namun, Maya sudah meminta izin agar Axel bisa menggunakan meja kosong di sudut ruangan untuk menggambar.
Axel membuka buku catatannya.
Ia mencoba menyelesaikan sketsa rumah yang dibuatnya saat pelajaran.
Garis atapnya sudah jelas, tetapi ia terus mengubah posisi jendela. Ia ingin cahaya matahari bisa masuk ke ruang tengah tanpa membuat ruangan itu terasa panas. Ia juga memikirkan bagaimana seseorang bisa bergerak dari satu ruang ke ruang lain tanpa merasa terkurung.
“Masih suka menggambar?”
Axel menoleh.
Maya berdiri di dekat pintu sambil membawa dua gelas minuman.
“Katanya Ibu mau pulang duluan.”
“Ibu memang mau. Tapi Ibu penasaran apakah kamu benar-benar datang ke sini.”
Maya meletakkan satu gelas di sampingnya.
Axel kembali memandangi gambar.
“Kenapa Ibu nggak pernah bilang ke Ayah kalau gue sering ke sini?”
“Karena Ibu pikir kamu sendiri yang harus memutuskan kapan ingin membicarakannya.”
“Kalau gue sudah bicara dan dia tetap menolak?”
Maya menarik kursi di sebelahnya.
“Penolakan mungkin tetap terjadi. Tapi setidaknya kamu sudah menyampaikan keinginanmu dengan jelas.”
Axel tertawa pendek tanpa humor.
“Gampang kalau ngomongnya.”
“Memang tidak mudah melakukannya.”
Maya tidak mencoba meyakinkannya bahwa Arman pasti akan berubah pikiran. Ia juga tidak menyuruh Axel mengikuti keinginannya sendiri tanpa mempertimbangkan apa pun.
Ia hanya menunjuk sketsa di hadapan mereka.
“Kenapa kamu menggambar rumah seperti ini?”
Axel memperhatikan gambar itu.
“Gue suka rumah yang terasa nyaman. Nggak harus besar. Gue suka kalau orang yang tinggal di dalamnya bisa merasa punya ruang sendiri, tapi tetap bisa berkumpul kalau mereka mau.”
“Lalu, kenapa kamu tidak pernah menunjukkannya kepada Ayahmu?”
Axel terdiam.
Karena ia tahu ayahnya akan bertanya bagaimana gambar itu bisa menghasilkan uang. Karena ia takut minatnya dianggap tidak berguna bagi keluarga. Karena ia sudah terbiasa membayangkan pertengkaran sebelum percakapan benar-benar dimulai.
“Gue nggak tahu cara menjelaskannya tanpa berakhir bertengkar,” katanya akhirnya.
Maya menatap putranya.
“Kalau begitu, mungkin yang perlu kamu latih bukan hanya keberanian untuk berbicara. Kamu juga perlu belajar mendengarkan jawaban orang lain, sekalipun jawaban itu bukan yang kamu inginkan.”
Axel memutar pensil di antara jemarinya.
“Kalau jawabannya tetap tidak?”
“Kamu boleh kecewa. Kamu boleh tidak setuju. Tapi jangan langsung menganggap satu percakapan menentukan seluruh hidupmu.”
Maya berdiri dan merapikan tasnya.
“Ibu tidak bisa menjanjikan Ayahmu akan menyetujui pilihanmu. Namun, Ibu ingin kamu memperjuangkan sesuatu karena kamu benar-benar menginginkannya, bukan hanya karena kamu ingin membuktikan bahwa kamu bisa melawan Ayahmu.”
Setelah Maya pergi, Axel kembali menatap sketsanya.
Selama ini, ia menganggap kebebasan berarti tidak membiarkan siapa pun menentukan pilihannya.
Namun, mungkin kebebasan juga berarti berani mengakui apa yang ia inginkan, bertanggung jawab atas pilihan itu, dan tetap berdiri ketika orang lain tidak langsung menyetujuinya.
Ia belum tahu bagaimana caranya.
Tetapi setidaknya, kali ini ia ingin mencoba.
Malam itu, Axel meletakkan buku sketsanya di samping folder hitam yang masih tergeletak di meja ruang kerjanya.
Ia mengambil folder tersebut, membuka beberapa halaman, lalu membaca daftar universitas dan program bisnis yang sudah disiapkan ayahnya.
Ada banyak pilihan yang tampak menjanjikan.
Namun, tidak satu pun terasa seperti sesuatu yang benar-benar ia pilih.
Axel menutup folder itu dan mengambil ponselnya.
Axel: Lo biasanya nyiapin rencana cadangan kalau sesuatu nggak berjalan sesuai harapan?
Balasan Nadine tidak datang langsung. Axel sempat meletakkan ponselnya, tetapi beberapa menit kemudian layar itu menyala.
Nadine: Tergantung masalahnya.
Axel: Kalau masalahnya orang yang nggak mau dengerin keinginan lo?
Nadine: Gue coba jelasin dulu. Kalau tetap nggak didengar, gue cari cara lain.
Axel: Sesimpel itu?
Nadine: Nggak sesimpel itu. Tapi marah terus juga nggak bikin masalah selesai.
Axel membaca pesan tersebut dua kali.
Ia hampir membalas bahwa Nadine tidak tahu seperti apa rasanya berhadapan dengan Arman. Namun, ia menghapus kalimat itu sebelum mengirimkannya.
Nadine memang tidak tahu seluruh masalah keluarganya.
Dan Axel tidak berhak mengharapkannya memahami sesuatu yang bahkan belum ia ceritakan dengan jelas.
Axel: Gue tadi ngomong sama bokap soal jurusan yang gue mau.
Kali ini balasan Nadine datang lebih cepat.
Nadine: Terus?
Axel: Belum ada keputusan. Dia bilang bakal dibahas lagi setelah gue lulus.
Nadine: Setidaknya sekarang dia tahu apa yang lo mau.
Axel: Gue belum yakin itu langkah yang bagus.
Nadine: Lo nggak harus langsung tahu hasil akhirnya. Yang penting, lo mulai memperjuangkannya.
Axel menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Axel: Satu langkah dulu, ya?
Nadine: Nah, akhirnya Ketua Geng bisa mengerti kalimat sederhana.
Axel mengembuskan tawa kecil.
Axel: Jangan senang dulu. Gue masih punya banyak kelebihan.
Nadine: Termasuk kebiasaan merasa paling benar?
Axel: Itu bukan kelebihan.
Nadine: Bagus. Berarti masih ada harapan.
Axel tersenyum tipis.
Percakapan itu tidak mengubah keadaan di rumahnya. Ayahnya belum menyetujui jurusan arsitektur, dan folder hitam itu masih menunggu untuk dibaca lebih lanjut.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Axel tidak merasa harus menyelesaikan seluruh persoalannya malam itu juga.
Ia hanya perlu menentukan langkah berikutnya.
Dan kali ini, ia ingin melakukannya tanpa menjadikan orang lain sebagai alat untuk memenangkan pertarungannya.
Keesokan harinya, masalah baru muncul menjelang jam pulang sekolah.
Nadine baru selesai memasukkan dokumen beasiswanya ke dalam map ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Pak Udin mengingatkannya bahwa ada beberapa pesanan fotokopi yang harus diselesaikan sore itu. Nadine segera menghitung waktu. Jika ia berangkat sekarang, ia masih bisa tiba tepat waktu dan menyelesaikan pekerjaannya sebelum malam.
Ia memasukkan map ke dalam tas.
“Lo mau langsung pulang?” tanya Axel yang baru menghampiri mejanya.
“Ke tempat fotokopi. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Axel mengangguk.
“Besok malam ada makan malam lagi di rumah gue.”
Nadine menghentikan gerakannya.
“Dengan keluarga Keisha?”
“Iya.”
“Untuk membahas perjodohan itu lagi?”
“Sebagian besar, mungkin.”
Nadine menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.
Axel tidak langsung menjawab. Ia menyadari bahwa mengabarkan sebuah acara bukan berarti Nadine otomatis harus menghadirinya.
“Bokap gue ingin kita datang,” katanya kemudian. “Tapi gue belum menjawab. Gue mau tahu dulu apakah lo bersedia.”
“Kenapa gue harus datang lagi?”
“Karena kemungkinan besar bokap gue akan kembali membahas hubungan gue sama Keisha. Dan karena lo sudah terlibat dalam situasi ini sejak makan malam kemarin.”
“Gue terlibat dalam kontrak dengan lo, Axel. Bukan berarti gue harus hadir setiap kali keluarga lo mengadakan pertemuan.”
“Gue tahu.”
“Kalau lo tahu, jelaskan apa yang berbeda dari makan malam sebelumnya.”
Axel memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Bokap gue ingin membicarakan rencana setelah kelulusan. Dia mungkin akan meminta gue menjelaskan pilihan kuliah gue. Keluarga Keisha juga akan datang karena pembicaraan bisnis mereka belum selesai.”
“Jadi, ini bukan cuma soal gue sebagai pacar lo.”
“Bukan.”
Nadine mempertimbangkan jawabannya.
Ia tidak keberatan menghadiri acara keluarga sesuai kesepakatan mereka. Namun, ia juga tidak ingin terus-menerus ditempatkan di tengah persoalan yang tidak sepenuhnya ia pahami, terlebih jika kehadirannya hanya dipakai untuk memancing kemarahan Arman atau mempermalukan Keisha.
“Gue bisa mempertimbangkannya,” katanya. “Tapi gue perlu tahu jam berapa acaranya selesai. Gue juga harus memastikan Ibu bisa beristirahat dan pekerjaan gue sudah selesai.”
“Gue kabari begitu jadwalnya jelas.”
“Dan satu lagi.”
Axel menunggu.
“Kalau lo mau membicarakan jurusan kuliah lo di depan keluarga, lakukan karena itu memang yang lo inginkan. Jangan menjadikan gue alasan untuk menentang bokap lo.”
Axel mengernyit sedikit.
“Gue nggak berniat begitu.”
“Bagus. Karena gue nggak mau dipakai sebagai senjata dalam pertengkaran keluarga lo.”
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada yang ia perkirakan.
Namun, Axel tahu Nadine berhak mengatakannya.
“Gue ngerti,” jawabnya.
Nadine mengangguk, lalu mengangkat tasnya.
“Gue harus pergi.”
“Lo mau gue antar?”
“Enggak. Gue bisa sendiri.”
Axel sempat ingin menawarkan lagi. Ia tahu perjalanan menuju tempat fotokopi tidak terlalu jauh dari sekolah, tetapi ia juga tahu bahwa Nadine sudah beberapa kali menjelaskan batasan yang sama.
Akhirnya, ia hanya berkata, “Oke. Hati-hati.”
Nadine berjalan meninggalkan kelas.
Axel memperhatikannya sampai sosok gadis itu menghilang di balik pintu, kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada ayahnya.
Ia ingin memastikan jadwal makan malam besok dan menjelaskan bahwa ia tidak akan datang hanya untuk mengulang pembicaraan yang sama.
Namun, sebelum mengetik lebih jauh, sebuah pesan baru dari Arman masuk.
Besok pukul tujuh malam. Jangan terlambat. Ada beberapa hal penting yang perlu kita bicarakan tentang masa depanmu dan hubungan keluarga Mahendra.
Axel membaca pesan itu dengan dahi berkerut.
Ia membalas singkat bahwa ia akan datang, lalu menatap layar yang kembali gelap.
Besok malam, ia harus berbicara tentang masa depannya di hadapan orang-orang yang selama ini merasa berhak menentukan pilihan untuknya.
Dan jika Nadine ikut hadir, ia harus memastikan gadis itu datang karena memilih untuk datang—bukan karena Axel membutuhkan seseorang untuk berdiri di sisinya.
Untuk pertama kalinya, Axel mulai memahami bahwa memperjuangkan kebebasan sendiri tidak akan berarti banyak jika ia masih memperlakukan keputusan orang lain seolah-olah keputusan itu berada di tangannya.
Sore itu, langit mendung ketika Axel keluar dari gerbang sekolah.
Ia baru saja hendak memanggil sopirnya ketika melihat Nadine berdiri di halte kecil di seberang jalan. Gadis itu memegang tas di depan tubuhnya, sementara tangan lainnya sibuk memeriksa sesuatu di ponsel.
Di dekatnya, Raka baru saja berpamitan setelah menyerahkan beberapa lembar dokumen.
Axel tidak mendengar percakapan mereka. Ia hanya melihat Nadine memasukkan dokumen itu ke dalam map, lalu mengangkat wajah untuk memeriksa langit yang semakin gelap.
Beberapa tetes hujan mulai jatuh.
Axel memandang mobilnya, kemudian kembali menatap Nadine.
Ia bisa saja memanggil gadis itu dan menawarkan tumpangan. Namun, ia teringat penolakan Nadine beberapa menit sebelumnya.
Jadi, ia mengambil ponselnya.
Axel: Lo masih di halte?
Nadine membalas beberapa saat kemudian.
Nadine: Iya. Kenapa?
Axel mengetik, berhenti, lalu menghapus kalimat pertamanya.
Axel: Hujannya mulai turun. Lo mau gue antar ke tempat fotokopi?
Ia menunggu.
Hujan semakin rapat, membasahi jalan dan atap halte. Dari tempatnya berdiri, Axel bisa melihat Nadine memandang ke arah langit sekali lagi sebelum membaca pesan tersebut.
Balasannya muncul beberapa detik kemudian.
Nadine: Kalau nggak merepotkan. Gue harus sampai sebelum pesanan selesai.
Axel memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan menuju halte, mengambil payung dari mobil yang baru saja dibukakan sopir untuknya.
Ia tidak tahu apakah hujan itu akan memberi mereka kesempatan untuk berbicara lebih jauh, atau justru menjadi awal dari persoalan lain.
Yang ia tahu, kali ini Nadine telah memilih untuk menerima tawarannya.
Dan baginya, perbedaan kecil itu penting.
Sebab ia tidak ingin lagi menjadi seseorang yang selalu memutuskan apa yang terbaik untuk orang lain.
Ia ingin belajar menjadi seseorang yang bisa diminta hadir—tanpa harus memaksa dirinya masuk ke dalam kehidupan orang lain.
Ketika Axel tiba di halte, Nadine sudah berdiri di tepi atap, memeluk map dokumennya agar tidak terkena percikan air.
Axel membuka payung.
“Yuk,” katanya. “Gue antar sampai tempat fotokopi.”
Nadine menatap payung itu, lalu wajah Axel.
“Jangan ngebut.”
“Siap, Bu.”
“Dan jangan merasa karena lo nganter gue, gue jadi berutang apa-apa.”
Axel menahan jawaban spontan yang hampir keluar.
“Gue tahu.”
Nadine mengangguk, lalu melangkah ke bawah payung.
Untuk beberapa saat, mereka berjalan berdampingan tanpa bicara. Hujan memukul permukaan payung, sementara jalan di depan mereka mulai dipenuhi genangan kecil.
Axel menjaga jarak secukupnya agar Nadine tidak merasa terdesak. Ia tidak meraih tangan gadis itu, tidak mencoba mendekat hanya karena mereka sedang berada di bawah payung yang sama.
Namun, ketika angin membawa percikan air dari sisi jalan, ia sedikit memiringkan payung ke arah Nadine.
Gadis itu menyadarinya.
“Kalau lo terus begitu, bahu lo sendiri yang basah,” kata Nadine.
“Gue nggak masalah.”
“Gue juga nggak masalah kena sedikit air.”
Axel mengembalikan posisi payung ke tengah.
“Begini?”
“Begitu.”
Jawaban sederhana itu membuat Axel tersenyum samar.
Mungkin ia masih harus belajar banyak hal tentang batasan, kepercayaan, dan bagaimana menjadi seseorang yang pantas berada di sisi orang lain.
Tetapi sore itu, di bawah satu payung yang mereka bagi bersama, ia mulai memahami bahwa kedekatan tidak selalu berarti harus mengambil langkah lebih dekat.
Kadang-kadang, kedekatan justru dimulai ketika seseorang bersedia berjalan berdampingan—tanpa memaksa orang di sebelahnya mengikuti arah yang ia pilih sendiri.