Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 29
Seluruh saraf di tempurung kepala Arsyad berdenyut hebat, berpacu dengan detak jantungnya yang liar. Pengakuan Zemima di telepon tadi, meski disampaikan dengan nada datar menghantam pondasi kesombongan yang selama dua tahun ini ia bangun rapat-rapat. Ternyata istrinya selama ini bekerja di kantor pusat sedangkan dia di cabang.
Gedung Altamas Group Pusat? Pemilik Vans Holding?
"Nggak mungkin... Nggak mungkin si Zemima yang sederhana, yang cuma makan tahu-tempe di rumah, yang gajinya pas-pasan itu pemilik Altamas!" gumam Arsyad histeris sendirian di dalam mobil kantornya. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram lingkar kemudi.
"Ini gara-gara si Bayu kayaknya yang bikin aku overthinking..."
Namun rasa panik yang kian membesar mengikis habis logikanya. Arsyad tahu, jika berita ini benar dan ia telah memperlakukan pemilik perusahaan seperti pembantu serta membawa wanita simpanan ke rumah ibunya... hidup dan karirnya tamat seketika.
Ia harus memastikan ini sekarang juga. Sebelum melangkah lebih jauh, ia wajib tahu siapa sosok penguasa tertinggi di balik imperium Altamas Group.
Dengan tangan masih gemetar, Arsyad merengkuh ponselnya. Ia menggeser layar dan mencari kontak Pak Hendra, Direktur Operasional Regional cabang tempat Arsyad bertugas. Pria paruh baya itu adalah atasan langsungnya sekaligus petinggi cabang yang memiliki akses informasi ke jajaran holding pusat.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Halo, Arsyad? Ada apa? Laporan progres proyek Surabaya sudah siap?" suara Hendra terdengar berat di seberang sana.
"Selamat siang, Pak Hendra. Maaf mengganggu waktunya sebentar," tutur Arsyad, berusaha keras menetralkan nada suaranya yang gemetar ketakutan.
"Bukan soal proyek Surabaya, Pak. Ada... ada hal krusial terkait kepemilikan holding pusat yang ingin saya tanyakan."
"Kepemilikan holding? Ada apa memangnya?"
Arsyad membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Ngg... begini, Pak Hendra. Tadi saya mendengar desas-desus di kalangan manajerial mengenai pemilik utama Vans Holding yang membawahi Altamas Group... Apakah Pimpinan Tertinggi Holding Pusat kita itu seorang wanita muda bernama Zemima V.A Pak?"
"Arsyad... kamu tahu dari mana nama itu?" tanya Hendra dengan nada memelan, sarat akan kewaspadaan.
"Saya cuma dengar samar-samar dari rekan kerja, Pak!" sahut Arsyad makin panik, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Apakah itu benar, Pak? Apa benar Ibu Zemima V.A itu pemilik utama Altamas Group?"
Pak Hendra menghela napas panjang di seberang telepon, lalu terkekeh dingin dengan nada bicara yang amat tertutup.
"Arsyad, dengar ya. Informasi mengenai pemegang saham mayoritas dan Pimpinan Tertinggi Holding itu sangat tertutup dan dirahasiakan dari publik. Identitas pemilik utama Altamas Group dilindungi hukum dan privasi tingkat tinggi. Petinggi pusat menutup rapat-rapat struktur kepemilikan dari level staf hingga manajer cabang."
"T-tapi Pak..."
"Tidak ada tapi-tapi," pangkas Pak Hendra tegas.
"Pemilik perusahaan Altamas tidak mau sembarangan bertemu atau identitasnya diketahui orang luar. Kamu belum berhak mendapatkan akses informasi valid soal jajaran pemilik saham tertinggi. Kamu baru akan tahu dan dikenalkan secara resmi dengan Pimpinan Utama kalau kamu sudah memang pada akhirnya terpilih menjadi Pimpinan Cabang bulan depan! Makanya jaga segalanya, karena pemilik perusahaan akan memeriksa setiap rekam jejak kita! Kalau sampai kita berbuat curang sedikit saja akan ketahuan!"
DEG!
"Baik, Pak Hendra... Terima kasih," cicit Arsyad pasrah sebelum panggilan diputus sepihak oleh atasannya.
"Bagaimana kalau ternyata proyek Surabaya ini di audit dan aku ketahuan? Tapi rasanya tidak mungkin ketahuan! Aku memainkan dengan sangat rapi... Bahkan laporan bulanan aku juga selalu aman!" Bisik Arsyad.
Dengan napas memburu dan sejuta keraguan yang menggelayuti kepalanya, Arsyad menancap gas mobilnya, meluncur menuju Altamas Tower Pusat untuk menjemput istrinya dan membongkar kebenaran di balik teka-teki ini.
Di tengah kepalanya yang serasa mau pecah dan napasnya yang memburu kasar di dalam mobil, ponsel Arsyad kembali bergetar heboh di pangkuannya.
DRRRTTT... DRRRTTT...
Arsyad menyambar benda persegi itu dengan geram, berharap itu pesan atau konfirmasi lain dari rekan kantornya. Namun, nama yang tertera di layar sentuh itu justru membuat pelipisnya makin berdenyut nyeri: Dina.
Pria itu menggeram, memijat pangkal hidungnya sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya dengan nada ketus.
"Halo, Din? Ada apa lagi?! Mas lagi pusing banget ini!" sembur Arsyad tanpa basa-basi.
Dari seberang telepon, bukan suara panik atau permintaan maaf yang terdengar, melainkan suara renyah nan manja dengan nada mendayu-dayu yang dibuat-buat.
"Aduh, Mas Arsyad... kok langsung dimarahin sih? Masih siang juga, masa sudah emosi begitu sama calon ibu dari anak kamu?" cicit Dina dengan nada merajuk.
"Mas lagi banyak urusan kantor, Dina! Penting banget!" pangkas Arsyad kasar, memukul lingkar kemudi mobilnya.
"Kamu ada apa telepon-telepon?!"
"Ih, Mas kok jahat banget sih... Niat Dina telepon itu mau ngasih tahu, dedek bayinya tadi nendang-nendang lho, Mas..." ujar Dina, suaranya makin dimanja-manjakan, seolah tak peduli dengan nada frustrasi Arsyad.
"Terus... dedeknya bilang, dia mau makan mi kocok iga sapi yang di Pusat Kota itu lho, Mas. Yang antrenya panjang. Sama dedek juga minta dibelikan perhiasan kalung emas simpel yang tadi Dina kirim foto di WhatsApp... Kata dedek, biar leher mamanya makin cantik pas acara tujuh bulanan minggu ini di rumah Ibu..."
Mendengar rentetan permintaan itu, Arsyad serasa hendak meledak. Di saat ia sedang berada di ambang kehancuran karena teror identitas rahasia Zemima dan ancaman posisinya di Altamas Group, Dina justru bertingkah seolah uang dan waktunya tak terbatas.
"Dina! Kamu bisa ngerti kondisi nggak sih?!" bentak Arsyad, suaranya meninggi hingga memenuhi kabin mobil.
"Emas lagi?! Kemarin kamu baru minta dibelikan tas, sekarang minta kalung emas buat tujuh bulanan?!"
Dina di seberang sana terdengar tersentak, lalu nadanya mendadak berubah menjadi isakan manja yang dibuat-buat, dicampur nada mengancam secara halus.
"Lho... kok Mas malah bentak Dina sih? Mas lupa kalau Dina hamil anak Mas?! Ini bukan Dina yang minta, Mas... Ini ngidamnya anak kamu! Lagipula, Ibu tadi juga bilang ke Dina, pas acara tujuh bulanan nanti Dina harus kelihatan mentereng di depan tetangga biar nggak bikin malu keluarga Mas Arsyad!"
Dina menghembuskan napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada merajuk yang menuntut.
"Lagipula, Mas kan sebentar lagi diangkat jadi Pimpinan Cabang Altamas! Beli gelang emas cuma beberapa gram aja masa nggak sanggup? Uang proyek Surabaya kan masih banyak, Mas... Masa buat calon anak sendiri pelit banget?!"
Uang proyek Surabaya...
Kalimat polos nan ceroboh dari mulut Dina itu bagaikan sembilu yang makin merobek dada Arsyad. Wanita itu tidak tahu bahwa uang proyek yang selama ini Arsyad 'geser' untuk memanjakannya dan membelikan fasilitas rumah ibunya kini sedang berada di ujung tanduk.
"Tutup mulut kamu soal uang proyek, Dina!" ancam Arsyad dengan bisikan tajam penuh ketakutan.
"Jangan pernah sebut-sebut soal uang kantor di telepon!"
"Ya makanya, Mas jangan pelit-pelit!" sahut Dina tak mau kalah, nadanya kembali memanja.
"Jadi gimana, Mas? Nanti sore belikan kalung emasnya ya? Sekalian pas pulang bawain mi kocoknya... Dina tunggu di rumah Ibu ya, Mas Sayang..."
Arsyad memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Sensasi pusing di kepalanya makin menjadi-jadi. Di satu sisi ada Zemima yang bersikap dingin dan penuh teka-teki mengenai Altamas Pusat, dan di sisi lain ada Dina, selingkuhan manja yang terus menuntut dan menguras finansialnya tanpa tahu situasi.
"Tidak ada! Malam ini juga aku gak akan ke rumah ibu! Aku akan bersama Zemima!"
"Lagi? Mas aku ini juga istri kamu!?"
"Kita belum menikah, Dina!"
TUUUUTTT