NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Kotak Penuh Cerita

Hari-hari aku lalui setelah kepergian Bima terasa seperti berjalan di dalam kabut. Waktu seperti seolah berjalan lebih lambat, dan setiap sudut kota terasa sudah mengingatkanku padanya. Aku tidak pergi ke taman itu selama tiga hari penuh. Rasanya terlalu berat untuk melihat bangku kayu itu sendirian, tanpa senyumnya yang biasa menyambutku. Tapi di keempat hari itu aku akhirnya memberanikan diri untuk melangkah ke sana. Bukan untuk menunggunya lagi, tapi untuk membuka sebuah kotak itu.

Kotak kecil itu ada di dalam tas sejak Rian menyerahkannya. Aku takut membukanya. Takut apa yang akan kutemukan di dalamnya. Takut kalau kebenarannya akan membuat rinduku semakin berat untuk dipikul. Tapi aku pasti tahu aku harus tahu. Bima sudah menyiapkannya segalanya untukku, dan aku berhak untuk mengetahui siapa dia sebenarnya, dari mana dia datang, dan mengapa dia memilihku sebagai tujuannya.

Aku duduk di bangku kayu itu, tempat di mana kita pertama kali menyapa satu sama lain. Tanganku tiba - tiba gemetar saat mengangkat tutup kotak itu. Tidak ada kunci, hanya penutup yang sedikit tersangkut. Saat terbuka, hal pertama yang kulihat adalah selembar foto lama. Foto seorang anak kecil yang tersenyum lebar sambil memegang sebuah buku cerita. Anak itu adalah aku. Aku mengenali pakaian yang kupakai dan taman bermain di latar belakangnya. Itu saat aku berusia sekitar tujuh tahun. Jantungku berdebar kencang. Bagaimana foto masa kecilku bisa ada di tangan Bima?

Di bawah foto itu ada tumpukan surat-surat yang diikat pita sederhana. Ada juga sebuah buku catatan tebal dengan kulit yang sudah mulai mengelupas di bagian sudutnya. Tanganku menyentuh sampul buku itu pelan-pelan, seolah takut merusak sesuatu yang sangat berharga. Aku membuka halaman pertamanya. Tulisan tangan Bima menyambutku di sana, tertulis rapi dan jelas dengan tanggal lebih dari tiga tahun yang lalu.

"Hari ini aku melihatnya. Cewek yang dulu pernah aku temui sekilas saat kami masih kecil. Dia duduk di bangku taman sambil membaca buku. Wajahnya terasa damai. Sejak hari itu aku tahu aku harus menemukannya lagi. Namanya Aurora. Dan ini adalah awal dari 38.000 langkahku menuju dia."

Aku membaca kalimat itu berulang kali. Kami sudah bertemu saat kecil? Aku mencoba mengingat-ingat tapi ingatanku masa lalu terlalu samar. Aku terus membaca halaman demi halaman. Buku itu adalah catatan hariannya selama bertahun-tahun. Di sana tertulis bagaimana dia merencanakan pertemuan kita dengan hati-hati, bagaimana dia berusaha mengenaliku tanpa mengganggu hidupku, bagaimana dia berjuang dengan rasa tidak layak yang sering menghantuinya. Dia bukan orang asing yang tiba-tiba muncul. Dia seseorang yang sudah memperhatikanku dari jauh sangat lama, berjalan perlahan menuju aku tanpa aku sadari.

Ada halaman yang membuat napasku tertahan. Tertulis di sana dengan tinta yang sedikit memudar seolah ditulis saat dia sedang sakit.

"Dokter bilang waktuku mungkin tidak banyak. Tapi aku tidak menyerah. Aku harus bertemu dengannya sekali saja. Aku harus bilang kalau aku mencintainya. 38.000 langkah itu bukan sekadar jarak. Itu sisa hari yang kuhitung. Setiap hari yang kujalani adalah satu langkah lebih dekat ke dia. Kalau aku bisa sampai ke taman itu dan menyapanya, aku sudah menang. Kalau aku bisa membuatnya tersenyum sekali saja, aku sudah berhasil menyelesaikan misiku di dunia ini."

Air mata jatuh membasahi halaman buku itu. Jadi dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak lama bahwa waktunya terbatas. Itulah kenapa dia selalu terburu-buru, selalu menatapku seolah ingin menghafal setiap detik kebersamaan kita. Itulah kenapa dia menyebut setiap pertemuan seperti sesuatu yang berharga yang bisa berakhir kapan saja. Dia berjuang melawan rasa sakitnya sendiri sambil berjalan menuju aku, dan dia tidak pernah sekalipun membiarkan aku melihat betapa beratnya perjuangannya sendirian.

Di bagian akhir buku itu ada surat panjang yang ditujukan khusus untukku. Tertulis rapi di kertas itu yang paling bersih.

*"Kalau kamu membaca ini Aurora, berarti kamu sudah tahu segalanya. Maaf ya kalau aku menyembunyikannya darimu. Aku tidak mau kamu melihatku sebagai seseorang yang akan pergi. Aku mau kamu mengenaliku sebagai Bima yang berjuang, bukan Bima yang lemah dan menunggu akhir hidupnya. Aku ingin kamu mengingatku sebagai seseorang yang berjalan jauh hanya untuk melihatmu tersenyum.

Aku menghitung setiap hari yang kulewati sebagai langkah menuju hatimu. 38.000 langkah itu adalah perjalanan panjang yang kujalani dengan harapan bisa sampai ke tempatmu. Dan aku berhasil kan? Aku sampai di hatimu walau tidak di tempat janjian itu. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Terima kasih sudah menjadi tujuan hidupku, walau hanya sebentar. Terima kasih sudah membuat hari-hari terakhirku terasa penuh makna.

Jangan menangis terlalu lama ya. Hidup terus berjalan, dan cerita kita tidak berakhir di sini. Bagian ceritaku mungkin selesai, tapi ceritamu masih panjang. Pergilah ke tempat yang kita bicarakan. Lakukan hal yang kita impikan bersama. Aku akan selalu ada di setiap langkahmu. Di angin yang menyentuh wajahmu, di sinar matahari pagi yang masuk ke jendelamu, di hujan yang turun lembut. Di semua hal indah yang ada di dunia ini, aku akan ada di sana bersamamu.

Sampai bertemu lagi di langit yang sama, di tempat yang tidak ada perpisahan. Aku mencintaimu, Aurora. Selamanya."*

Aku memeluk sebuah buku itu erat di dadaku seolah dia ada di sana, seolah pelukanku bisa menyatukan kembali kita yang sudah terpisah takdir. Tidak ada yang bisa mengembalikannya kepadaku, aku tahu itu. Tapi sekarang aku mengerti segalanya. Kepergiannya bukan akhir. Dia telah menanamkan bagian dari dirinya ke dalam hidupku, dan itu akan terus hidup selama aku bernapas. Dia memberiku alasan untuk lebih menghargai setiap detik yang ada, lebih berani mengejar apa yang aku inginkan, dan lebih tulus mencintai tanpa ragu.

Matahari mulai terbenam saat aku menutup buku itu pelan dan hati-hati. Aku berdiri dari bangku kayu itu, menyeka sisa air mata di pipi, dan tersenyum tipis ke arah pohon tempat dia dulu berdiri tersenyum padaku untuk pertama kalinya.

"Aku sampai di sini Bima. Dan kamu sudah sampai di hatiku. Selamanya," bisikku pelan pada angin sore yang berhembus lembut membelai rambutku.

Langkahku pulang terasa lebih berat tapi hatiku terasa lebih utuh dari sebelumnya. Rahasianya yang sudah terungkap, dan di dalam kotak itu aku tidak hanya menemukan kisahnya. Aku juga menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup dengan cara yang akan membuatnya bangga, dari mana pun dia sedang melihatku sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!