NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Senyum Sang Pemenang

Pagi itu, nama Celine Wang menjadi bahan pembicaraan di kalangan bisnis Shanghai.

Bukan karena ia mengumumkan investasi besar atau mengambil alih perusahaan ternama, melainkan karena sebuah kabar singkat menyebar di antara para eksekutif: Alexander Wu, CEO Wu Group, telah menerobos rapat tertutup Shen Capital hanya untuk menemui mantan istrinya.

Bagi sebagian orang, kejadian itu merupakan skandal kecil. Bagi yang lain, itu adalah pertanda bahwa hubungan antara dua keluarga besar tersebut jauh lebih rumit daripada yang terlihat.

Namun, Celine tidak peduli dengan gosip mereka.

Ia berdiri di depan cermin di ruang kerjanya, merapikan kerah blazer putihnya. Wajahnya tampak tenang, meskipun pikirannya masih dipenuhi tanda tangan Victor Wu pada laporan penyewaan mobil malam kematian ayahnya.

Alexander datang untuk menghentikannya.

Ia menerobos rapat, mempermalukannya di depan para direktur, bahkan mencoba menggunakan hubungan masa lalu mereka untuk mendapatkan jawaban yang tidak lagi berhak ia tuntut.

Tetapi Alexander melakukan satu kesalahan.

Ia mengira Celine masih perempuan yang sama seperti tiga tahun lalu.

Perempuan yang akan menurunkan suara ketika ia marah, mengalah ketika ia bersikap dingin, dan memaafkannya hanya karena ia akhirnya bersedia memberikan sedikit perhatian.

Celine tersenyum tipis pada bayangannya sendiri.

Kali ini, ia tidak akan mengalah.

Pukul sepuluh pagi, Adrian Shen memanggil Celine ke ruang rapat kecil di lantai tiga puluh dua.

Di atas meja sudah tersedia beberapa dokumen dan sebuah layar yang menampilkan perkembangan saham sejumlah perusahaan.

“Aku sudah menerima laporan mengenai kejadian kemarin,” kata Adrian.

Celine menarik kursi. “Kalau kau ingin membicarakan Alexander, aku bisa menjelaskan bahwa dia datang tanpa undangan dan mengganggu rapat.”

“Aku tidak membutuhkan penjelasanmu untuk mengetahui bahwa dia melampaui batas.” Adrian menatapnya serius. “Aku hanya ingin memastikan kejadian itu tidak membuatmu merasa harus meninggalkan proyek ini.”

Celine terdiam sejenak.

Ia tidak terbiasa mendengar seseorang menanyakan keinginannya tanpa berusaha menentukan jawabannya terlebih dahulu.

“Aku tidak akan pergi hanya karena Alexander tidak menyukai pekerjaanku,” jawabnya. “Aku menerima posisi ini karena kemampuan profesional, bukan untuk bersembunyi dari masa laluku.”

Adrian tersenyum kecil. “Bagus. Karena hari ini aku ingin kau memimpin presentasi kepada komite investasi.”

Celine mengangkat alis. “Kau serius?”

“Kau yang menemukan ketidaksesuaian dalam transaksi 0917. Kau juga yang mengidentifikasi risiko pada perusahaan kendaraan yang tercantum dalam laporan lama. Aku ingin para direktur mendengar analisismu langsung.”

“Proyek ini menyangkut Wu Group. Jika aku memimpinnya, orang-orang mungkin menganggapku menggunakan jabatan untuk membalas dendam.”

“Karena itu, semua kesimpulan harus didukung bukti.” Adrian mendorong sebuah map ke arahnya. “Aku tidak memintamu menghancurkan Wu Group. Aku memintamu menunjukkan fakta, meskipun fakta itu tidak menyenangkan bagi siapa pun.”

Celine membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat laporan risiko, riwayat pembayaran, dan rekomendasi untuk menunda investasi pada salah satu perusahaan mitra Wu Group sampai audit independen selesai.

Ia membaca setiap halaman dengan saksama.

“Kalau komite menyetujui rekomendasi ini, nilai saham Wu Group mungkin terpengaruh.”

“Kalau mereka menolak, kita tetap harus menjelaskan risiko yang sudah kita temukan kepada pihak yang berwenang jika terdapat dugaan pelanggaran hukum.”

Celine mengangguk.

“Kalau begitu, aku akan mempresentasikannya.”

Adrian berdiri, lalu mengulurkan tangan.

“Selamat datang di medan perang yang sebenarnya.”

Celine menjabat tangannya.

“Tidak. Ini bukan perang melawan Wu Group.”

Ia menutup map tersebut.

“Ini perang melawan kebohongan.”

Pada pukul sebelas, ruang konferensi utama Shen Capital dipenuhi para direktur dan investor.

Celine berdiri di depan layar besar. Ia mengenakan blazer putih, rambutnya terikat rapi, dan suaranya terdengar jelas ketika presentasi dimulai.

“Bapak dan Ibu, hari ini saya tidak akan meminta Anda mempercayai dugaan pribadi saya. Saya akan menunjukkan tiga ketidaksesuaian yang ditemukan dalam dokumen transaksi.”

Slide pertama menampilkan aliran pembayaran melalui beberapa perusahaan perantara.

Slide kedua memperlihatkan tanggal transaksi yang tidak sesuai dengan catatan pendukung.

Slide ketiga menampilkan perusahaan kendaraan yang pernah menerima pembayaran dari anak usaha Wu Group.

Celine menjelaskan semuanya tanpa meninggikan suara. Ia tidak menyebut Alexander sebagai mantan suaminya, tidak menceritakan luka pernikahan mereka, dan tidak menggunakan kematian ayahnya untuk membangkitkan simpati.

Ia hanya menyajikan bukti.

Salah seorang direktur senior mengangkat tangan.

“Nona Wang, apakah Anda menyadari bahwa rekomendasi ini dapat merusak hubungan bisnis kita dengan Wu Group?”

“Saya menyadarinya, Pak.”

“Dan Anda tetap mengusulkan penundaan investasi?”

“Sampai audit independen selesai, ya. Risiko keuangan tidak menjadi lebih kecil hanya karena perusahaan yang terlibat memiliki nama besar.”

Direktur itu menyipitkan mata.

“Apakah keputusan Anda dipengaruhi masalah pribadi dengan Alexander Wu?”

Pertanyaan tersebut membuat ruangan hening.

Celine sudah memperkirakan kemungkinan itu.

Ia menatap pria tersebut dengan tenang.

“Jika saya ingin membalas dendam, saya bisa membuat tuduhan tanpa memeriksa dokumen. Namun, saya justru meminta audit independen agar tidak ada pihak yang dihukum hanya berdasarkan kecurigaan.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Saya tidak meminta komite mempercayai saya karena saya pernah menjadi istri Alexander Wu. Saya meminta komite menilai pekerjaan saya berdasarkan kualitas bukti yang saya sajikan.”

Adrian, yang duduk di ujung meja, tidak menyela.

Celine melanjutkan presentasinya sampai selesai. Ia menjawab setiap pertanyaan, mengakui bagian yang masih belum dapat dipastikan, dan menjelaskan langkah verifikasi yang diperlukan.

Ketika ia menutup presentasi, tidak ada tepuk tangan berlebihan.

Namun, beberapa direktur mengangguk setuju.

Ketua komite akhirnya menyampaikan keputusan awal: investasi akan ditunda sampai pemeriksaan tambahan dilakukan, sementara tim hukum diminta meninjau apakah temuan tersebut perlu dilaporkan kepada otoritas terkait.

Celine mengucapkan terima kasih, lalu kembali ke tempat duduknya.

Adrian menoleh kepadanya.

“Kau berhasil.”

Celine tersenyum.

Senyum yang tidak lahir dari kekalahan orang lain, melainkan dari keyakinan bahwa ia akhirnya mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Berita tentang keputusan komite mencapai Wu Group sebelum tengah hari.

Alexander sedang memimpin rapat ketika sekretarisnya masuk dengan wajah tegang.

“Tuan Wu, Shen Capital menunda keputusan investasinya. Mereka meminta audit tambahan atas beberapa transaksi anak usaha kita.”

Alexander mengangkat kepala.

“Siapa yang memimpin presentasinya?”

Sekretarisnya tidak segera menjawab.

Alexander sudah mengetahui jawabannya.

“Celine,” gumamnya.

“Ya, Tuan.”

Alexander mengambil laporan itu dan membacanya. Semua rekomendasi disertai catatan pendukung. Tidak ada tuduhan langsung terhadap dirinya, tidak ada pernyataan yang menyerang keluarga Wu secara pribadi.

Justru itulah yang membuatnya sulit mencari celah untuk membantah.

Celine tidak menyerangnya sebagai mantan suami.

Ia menantangnya sebagai seorang profesional.

Dan ia melakukannya dengan kemampuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar dihargai Alexander.

“Hubungi Shen Capital,” perintahnya. “Aku ingin bertemu dengan Adrian Shen.”

“Apakah saya perlu mengatur pertemuan dengan Nona Wang juga?”

Alexander berhenti membalik halaman.

“Tidak.”

Ia menjawab terlalu cepat.

Sekretarisnya mengangguk, tetapi sebelum keluar, ia memberanikan diri mengatakan sesuatu.

“Tuan, dengan segala hormat, Nona Wang tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas dalam laporan ini. Tim kami sendiri belum memberikan dokumen pendukung yang cukup untuk membantah temuannya.”

Alexander menatapnya tajam.

“Kau sedang membela dia?”

“Saya hanya menyampaikan hasil pemeriksaan.”

Setelah sekretarisnya keluar, Alexander melemparkan laporan itu ke meja.

Ia membenci perasaan ini.

Bukan karena Celine tidak kompeten. Ia tahu perempuan itu cerdas. Dulu, beberapa analisis Celine bahkan membantu Wu Group menghindari kerugian besar.

Yang membuatnya marah adalah kenyataan bahwa ia baru benar-benar menyadari nilai perempuan itu setelah kehilangan hak untuk berdiri di sisinya.

Dan Adrian kini menjadi orang yang memberikan kesempatan kepada Celine untuk bersinar.

Sore harinya, Celine keluar dari gedung Shen Capital bersama Adrian.

Beberapa wartawan bisnis menunggu di lobi setelah mendengar kabar penundaan investasi. Mereka segera mengarahkan kamera ketika keduanya muncul.

“Nona Wang, apakah benar Anda memimpin penyelidikan terhadap Wu Group karena perceraian Anda?”

“Apakah hubungan pribadi Anda dengan CEO Wu Group memengaruhi keputusan Shen Capital?”

“Apakah Adrian Shen membantu Anda membalas dendam?”

Celine berhenti berjalan.

Ia tidak menghindar dari kamera.

“Keputusan investasi dibuat berdasarkan evaluasi risiko dan bukti yang tersedia. Saya tidak akan mengomentari kehidupan pribadi saya untuk menjelaskan pekerjaan profesional.”

Seorang wartawan kembali bertanya, “Tetapi bukankah Anda dan Tuan Wu pernah menjadi pasangan suami istri?”

Celine menatapnya.

“Pernah. Namun, status pernikahan saya tidak menghapus kemampuan saya untuk bekerja secara objektif.”

Ia kemudian berjalan menuju mobil yang menjemputnya.

Adrian mengikutinya, tetapi tidak mencoba meraih tangannya atau menunjukkan kedekatan yang bisa disalahartikan.

Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, ia berkata, “Kau tahu, Alexander mungkin akan semakin marah setelah melihat berita ini.”

Celine memandang gedung-gedung Shanghai yang bergerak di balik jendela.

“Dia boleh marah.”

“Dan jika dia mencoba menghalangi pekerjaanmu lagi?”

“Semua tindakannya akan dicatat melalui jalur resmi.”

Adrian tersenyum.

“Kau benar-benar tidak takut kepadanya lagi.”

Celine terdiam sebentar.

“Aku masih bisa merasa takut, Adrian. Aku hanya tidak akan membiarkan rasa takut menentukan hidupku.”

Malam itu, Alexander berdiri sendirian di ruang kerjanya ketika sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Sebuah foto memperlihatkan Celine sedang tersenyum setelah presentasinya di Shen Capital. Di bawah foto itu terdapat tulisan:

“Kau sudah kehilangan istrinya. Sekarang kau sedang kehilangan kendali atas rahasia keluargamu sendiri.”

Alexander segera menelepon nomor tersebut, tetapi panggilannya tidak tersambung.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.

“Jika Celine menemukan dokumen asli transaksi 0917, bukan hanya Victor Wu yang akan jatuh. Kau juga harus menjawab mengapa kau menyimpan surat terakhir William Wang tanpa pernah menyerahkannya kepada Daniel Zhou.”

Alexander membeku.

Surat terakhir William.

Ia memang pernah menemukan surat itu di dalam arsip ayahnya, tetapi belum menyerahkannya kepada siapa pun. Ada satu paragraf yang belum sanggup ia pahami, dan sebuah nama yang ditulis tangan di bagian bawahnya.

Nama yang sama dengan nama seseorang yang selama ini ia percaya.

Alexander membuka laci terkunci dan mengeluarkan amplop berwarna kekuningan.

Ia membaca kembali baris terakhir surat tersebut.

Lalu wajahnya berubah pucat.

Di tempat lain, Celine berdiri di balkon apartemennya, menatap cahaya kota dengan secangkir teh hangat di tangan.

Hari itu, ia telah membuktikan bahwa dirinya bukan lagi perempuan yang hanya dikenal sebagai mantan istri Alexander Wu. Ia telah memenangkan kepercayaan para profesional melalui kerja kerasnya sendiri.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Bukan senyum seorang perempuan yang berhasil membuat mantan suaminya cemburu.

Melainkan senyum seseorang yang akhirnya merebut kembali kendali atas hidupnya.

Namun, kemenangan itu belum sempurna.

Sebab di balik dinding rumah keluarga Wu, Alexander sedang memegang surat yang mungkin mengubah seluruh pemahamannya tentang kematian William Wang.

Dan ketika kebenaran itu akhirnya terbuka, Celine mungkin akan mengetahui bahwa orang yang paling ia curigai bukanlah satu-satunya orang yang menyimpan rahasia.

Bahkan pria yang pernah dicintainya mungkin telah menjadi bagian dari kebohongan itu jauh sebelum pernikahan mereka berakhir.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!