SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Bab 1

Tiiiit... Tiiiit... Tiiiit...

Suara mesin elektrokardiogram memecah kesunyian di ruangan serba putih itu.

Bau obat-obatan yang menyengat langsung menusuk hidung Stevan Alvaro saat ia perlahan membuka matanya.

Langit-langit rumah sakit terlihat buram sebelum pandangannya perlahan menjadi jelas.

Kepalanya terasa sangat berat dan tenggorokannya terbakar seperti baru saja menelan bara api.

"Kau sudah sadar, Nak Stevan?" tanya seorang pria paruh baya berjas putih.

Pria itu adalah Dokter Hendra, dokter spesialis THT yang sudah lama Stevan kenal.

Stevan mencoba membuka mulutnya untuk menjawab.

"Ah..."

Hanya suara serak yang mengerikan dan menyayat hati yang keluar dari mulutnya.

Stevan panik dan mencoba memegang lehernya dengan kedua tangan yang gemetar.

"Tenang, Stevan. Jangan paksakan dirimu untuk bicara dulu," ucap Dokter Hendra dengan raut wajah muram.

"Apa yang terjadi padaku, Dok?" batin Stevan menjerit.

Ia menatap dokter itu dengan pandangan penuh tanya dan ketakutan yang mendalam.

Dokter Hendra menghela napas panjang dan perlahan melepaskan kacamatanya.

"Aku harus menyampaikan kabar buruk padamu, Stevan."

Jantung Stevan berdegup semakin kencang.

Dug! Dug! Dug!

"Pita suaramu mengalami kerusakan parah akibat zat kimia korosif," jelas Dokter Hendra dengan suara berat.

"Zat itu entah bagaimana masuk ke dalam minumanmu sebelum kau pingsan tadi malam."

Mata Stevan terbelalak sangat lebar.

Zat kimia? Minuman?

Ia langsung teringat bahwa tadi malam adalah pesta perayaan sebelum debutnya sebagai vokalis utama di sebuah agensi besar.

Semua orang di sana bersulang untuk kesuksesannya.

Ia meminum segelas air yang diberikan oleh sahabatnya sendiri, Dion.

Setelah minuman itu mengalir di tenggorokannya, semuanya menjadi gelap gulita.

"Apakah aku masih bisa bernyanyi, Dok?" Stevan memaksakan diri mengeluarkan suara dari tenggorokannya.

Namun yang terdengar hanyalah desisan angin yang kasar dan sangat menyakitkan.

"Maafkan aku, Stevan. Kerusakannya ini bersifat permanen."

Dokter Hendra menundukkan kepalanya karena tidak tega menatap mata pasiennya.

"Bangkit dari kasur pun mungkin kau bisa, tapi untuk bernyanyi lagi... itu sudah mustahil."

Brak!

Stevan memukul pinggiran ranjang rumah sakit dengan keras.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang memerah.

Mimpinya, masa depannya, dan semua kerja kerasnya hancur lebur hanya dalam semalam.

Ceklek.

Pintu ruangan rawat itu tiba-tiba terbuka dari luar.

Seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang masuk ke dalam ruangan.

Itu adalah Natasha, kekasih yang sangat Stevan cintai dan lindungi selama tiga tahun terakhir.

"Natasha..." panggil Stevan di dalam hatinya.

Melihat Natasha datang, Stevan merasa sedikit memiliki harapan dan tempat untuk bersandar dari penderitaannya.

Namun, raut wajah wanita itu terlihat sangat dingin, datar, dan tanpa emosi.

Tidak ada kekhawatiran atau kesedihan sedikit pun di matanya.

Dokter Hendra yang mengerti situasi canggung itu segera pamit untuk keluar.

"Aku permisi dulu, silakan bicara berdua," ucap Dokter Hendra lalu menutup pintu.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat.

"Aku sudah mendengar semuanya dari dokter di luar tadi," kata Natasha memecah kesunyian.

Suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang kekasihnya baru saja tertimpa musibah besar.

Stevan menatapnya dengan pandangan memelas minta dukungan.

Ia mencoba meraih tangan Natasha, tetapi wanita itu justru mundur selangkah.

Srak.

Natasha menarik tangannya dan menyilangkan lengan di depan dada dengan angkuh.

"Kita harus mengakhiri hubungan ini sekarang juga, Stevan," ucap Natasha tanpa ragu sedikit pun.

Mata Stevan membulat sempurna seakan mau melompat dari tempatnya.

Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar.

"Maaf, tapi aku tidak bisa terus bersama pria yang tidak memiliki masa depan," lanjut Natasha dengan nada tajam.

"Kau tahu sendiri betapa keras dan kejamnya dunia hiburan."

"Tanpa suaramu yang berharga itu, kau bukan siapa-siapa lagi di dunia ini."

Stevan membuka mulutnya lebar-lebar, mencoba meneriakkan pembelaan.

Namun tenggorokannya hanya bisa mengeluarkan suara serak seperti rintihan hewan yang terluka.

"Kenapa? Kau marah padaku?" tanya Natasha sambil tersenyum sinis.

"Sadarlah, Stevan. Aku mau bersamamu selama ini hanya karena kau adalah calon bintang besar."

"Sekarang kau hanyalah orang cacat yang bahkan tidak bisa bicara dengan normal."

Kata-kata itu menusuk hati Stevan lebih tajam dari ribuan jarum.

Wanita yang selama ini ia sayangi dengan sepenuh hati ternyata membuangnya begitu saja di saat ia jatuh.

Ia membuangnya persis seperti sampah yang tidak berguna.

"Aku sudah menerima tawaran agensi untuk dipasangkan dengan Dion."

Mendengar nama itu membuat darah Stevan mendidih seketika.

Dion!

Sahabat bermuka dua yang memberinya minuman beracun itu!

"Dion akan menggantikan posisimu untuk debut bulan depan," ucap Natasha dengan senyum bangga.

"Dia jauh lebih realistis dan punya masa depan yang lebih cerah daripada dirimu."

Natasha membalikkan badannya dan melangkah anggun menuju pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh ke arah ranjang untuk terakhir kalinya.

"Jangan pernah berani mencariku lagi. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal."

Blam!

Pintu ditutup dengan bantingan keras, meninggalkan Stevan sendirian dalam kehampaan yang sunyi.

Dunia Stevan benar-benar runtuh seutuhnya.

Pengkhianatan dari sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara.

Kehilangan suara yang menjadi satu-satunya senjatanya.

Dan sekarang, ia ditinggalkan oleh wanita yang ia pikir akan menemaninya selamanya.

Semua usahanya selama bertahun-tahun berlatih vokal siang dan malam hancur tak berbekas dalam sekejap.

Ia meremas selimut rumah sakit dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

"Kenapa..." batin Stevan menjerit pilu dalam kesunyian.

"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?"

"Apa salahku hingga mereka begitu tega melakukan hal kotor ini?"

Ia membenci dirinya sendiri yang terlalu naif dan begitu mudah percaya pada orang lain.

Ia membenci Dion yang menusuknya dari belakang demi sebuah posisi debut.

Ia juga sangat membenci Natasha yang ternyata tidak lebih dari wanita materialistis.

Rasa putus asa mulai menyelimuti seluruh isi pikirannya, menelannya ke dalam jurang kegelapan tanpa dasar.

Untuk apa lagi ia terus hidup di dunia ini?

Musik adalah udara baginya, dan bernyanyi adalah detak jantungnya.

Tanpa musik, ia merasa jauh lebih baik mati saja malam ini.

Di saat kesadarannya mulai memudar karena rasa sakit dan keputusasaan, sebuah suara aneh terdengar.

Suara mekanik yang sangat jernih tiba-tiba bergema, bukan dari luar ruangan, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.

[TING!]

[SISTEM PINTAR TELAH TERIKAT.]

Stevan tersentak kaget hingga punggungnya tegak.

Matanya melihat ke sekeliling ruangan yang kosong, berusaha keras mencari sumber suara aneh tersebut.

Namun ia benar-benar tidak menemukan siapa-siapa di sana selain dirinya sendiri.

[Mendeteksi gelombang otak tuan rumah.]

[Analisis fisik selesai. Terdapat kerusakan permanen pada pita suara tuan rumah.]

"Siapa itu?" batin Stevan yang masih dalam keadaan kebingungan luar biasa.

Sebuah panel layar transparan berwarna biru neon tiba-tiba muncul entah dari mana di depan matanya.

Layar itu melayang di udara, menampilkan tulisan bercahaya yang sama persis dengan suara yang baru saja ia dengar.

[Tuan rumah memiliki potensi luar biasa dalam bidang seni.]

[Sistem Pintar akan membantu tuan rumah mencapai puncak tertinggi dunia hiburan.]

[Apakah tuan rumah ingin membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkanmu?]

Mata Stevan terpaku tak berkedip pada kalimat terakhir di layar biru tersebut.

Balas dendam.

Kata itu bagaikan bensin yang memicu percikan api di dalam hatinya yang sebelumnya sudah mati kedinginan.

Bayangan senyum licik Dion dan wajah dingin Natasha kembali melintas dengan jelas di benaknya.

"Ya," batin Stevan merespons dengan tekad yang bulat.

"Aku ingin membalas mereka semua dan membuat mereka menyesal."

[Pilihan diterima oleh sistem.]

[Misi pertama: Bangkit dari keterpurukan.]

[Deskripsi: Kembalilah ke Institut Musik Nusantara dan buktikan eksistensimu yang baru.]

[Hadiah Misi: Pemahaman Teori Komposisi Tingkat Menengah.]

Stevan menatap layar itu lekat-lekat mencoba memahami keajaiban yang ada di depannya.

Sistem ini memang tidak secara langsung menjanjikan suaranya akan kembali seperti semula.

Namun sistem magis ini menawarkan sebuah jalan lain.

Sebuah jalan di mana ia bisa menjadi seseorang yang mengatur segalanya di balik layar.

Jika ia memang tidak bisa bernyanyi di bawah lampu sorot panggung, maka ia akan menciptakan musik yang akan menguasai dunia.

Ia akan membuat Dion dan Natasha bertekuk lutut memohon belas kasihan di bawah kakinya kelak.

Stevan mengepalkan tangannya dengan sangat kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan.

Air mata kesedihannya telah mengering sepenuhnya, digantikan oleh sorot mata yang tajam, gelap, dan sangat dingin.

Malam ini bukanlah akhir dari kisah seorang Stevan Alvaro.

Malam ini adalah permulaan dari sosok baru yang akan jauh lebih berbahaya dari siapa pun.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!