NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Takdir Cinta Di Tanah Anarki

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:53.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Berita Hangat

Suara langkah itu, semakin lama semakin terdengar mendekat. Bukan hanya sebuah langkah, melainkan langkah yang cukup ramai.

"Kamu mau kemana, Ki?" Tanya Dokter Sisil sambil memegani ujung baju seragam Riki. Sementara, pria itu sudah bersiap dengan pistolnya.

"Saya harus bersiap, Bu Dokter." Jawab Riki yang berdiri sembari menyandarkan tubuhnya di batang pohon besar itu.

Secara refleks, Sisil pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Riki. Jantungnya berdegup keras ketika suara langkah itu kian mendekat.

Suasana semakin tegang ketika langkah itu juga seolah waspada. Langkah waspada seolah tau jika ada bahaya di depan mereka.

Sisil berkomat-kamit membaca doa supaya Allah menjaganya dan Riki dari segala macam bahaya.

"Komandan! Tolong aku..." Teriaknya dalam hati.

Bugh! Bughh!

Terdengar suara pukulan dan tangkisan dengan jelas. Sisil masih memejamkan mata sembari memanjatkan doa. Ia sama sekali tak ingin melihat apa yang terjadi karena rasa takut.

Tiba-tiba tubuhnya ditarik kemudian didekap oleh seseorang. Sontak, Sisil langsung membelalakkan matanya. Namun, ketakutannya seketika lenyap saat tau siapa yang sedang memeluknya dengan erat.

"Komandan..." Lirih Sisil sambil mendongak. Ia kembali memastikan jika wajah yang ia lihat benar-benar wajah Komandan Kaivan.

"Iya, ini aku." Jawab Komandan Kaivan yang masih memeluk erat tubuh Sisil.

"Komandan Kaivan...." Lirih Sisil lagi untuk memastikan jika ia tidak salah.

"Iya Silvana. Ini aku, Sayang." Jawab Komandan Kaivan sambil menangkup wajah Sisil.

Komandan Kaivan menghela nafas penuh kelegaan. Ia benar-benar bersyukur karena bisa memeluk gadisnya.

"Kamu baik-baik aja? Ada yang luka?" Tanya Komandan Kaivan sambil memeriksa tubuh Sisil.

"Aku baik-baik aja. Cuma aku takut." Jawab Sisil yang kembali memeluk Komandan Kaivan.

Sisil merasa nyaman dan tenang saat memeluk Komandan Kaivan. Ia benar-benar tak ingin melepaskan rasa nyaman yang baru ia rasakan setelah terbelenggu rasa takut.

Komandan Kaivan pun tak keberatan saat Sisil kembali memeluknya dengan erat. Ia justru beberapa kali mendaratkan kecupan di puncak kepala Sisil karena perasaan lega.

Sementara itu, sedari tadi Riki memperhatikan Komandan Kaivan dan Sisil yang masih berada di balik pohon. Riki bahkan tersenyum-senyum sendiri saat melihat Komandannya 'bermesraan' dengan si Dokter cantik.

"Sudah puas ko intip kami, Ki?" Celetuk Komandan Kaivan tiba-tiba.

"Siap, Ndan!" Seru Riki yang tertangkap basah.

"Ayo kita pulang." Ajak Komandan Kaivan sambil menggandeng tangan Sisil.

Sepanjang perjalanan, Komandan Kaivan tak melepaskan genggaman tangannya pada Sisil. Semua anggotanya, termasuk Riki pun saling senggol saat melihat kedekatan keduanya yang tak biasa. Terlebih, Riki sempat memergoki Komandan Kaivan yang mengecup puncak kepala Dokter Sisil beberapa kali.

"Saya akan kembali setelah mengantar Dokter Sisil. Kalian tetap berjaga." Titah Komandan Kaivan.

"Siap, Ndan." Jawab semua anggotanya dengan serempak.

Komandan Kaivan kemudian mengantarkan Sisil kembali ke Markas Batalyon. Sementara itu, para anggota yang berada di sana mulai bergosip ria, menggosipkan Komandannya dengan Dokter cantik di Klinik Militer.

"Maaf karena Mas datang terlambat." Ujar Komandan Kaivan.

"Gak apa-apa. Aku lega karena Mas ada di sini sekarang." Jawab Sisil.

"Apa mereka bersikap kasar? Kamu yakin, gak ada yang luka?" Tanya Komandan Kaivan.

"Gak ada, Mas. Aku baik-baik aja. Mereka gak bikin aku terluka. Cuma ancaman mereka saja yang membuat nyaliku cukup ciut." Jawab Sisil.

"Memangnya apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang mereka lakukan?" Tanya Komandan Kaivan.

Sisil kemudian menceritakan apa yang terjadi dan apa yang ia alami dengan Riki. Komandan Kaivan pun mendengarkan cerita Sisil dengan seksama.

"Mas, jangan salahkan Riki. Jangan hukum dia, dia sudah berusaha sebaik mungkin menjagaku." Pinta Sisil.

"Ya, Sayang." Jawab Komandan Kaivan. Jika saja Sisil tak meminta, sudah pasti ia akan menghukum Riki karena keteledorannya.

"Janji ya, Mas. Aku ngambek kalo sampe aku tau Mas menghukum Riki." Ujar Sisil.

"Iya, Sayang. Mas janji." Jawab Komandan Kaivan dengan meyakinkan.

"Istirahat, ya. Jangan kemana-mana. Besok, biar Jopi dan Maria saja yang berjaga di Klinik." Pesan Komandan Kaivan saat mengantar Sisil ke rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari saat mereka sampai di rumah Sisil.

"Iya, Mas." Jawab Sisil dengan patuh.

"Mas langsung ke sana lagi?" Tanya Sisil kemudian yang dijawab anggukan oleh Komandan Kaivan.

"Kenapa? Kamu masih mau ditemani?" Tanya Komandan Kaivan.

"Eng-enggak, Mas. Aku berani sendirian di rumah." Jawab Sisil yang justru gelagapan saat mendengar pertanyaan Komandan Kaivan.

"Mas hati-hati, ya. Jangan sampai terluka." Ujar Sisil yang kembali memeluk Komandan Kaivan.

"Iya, Sayang." Jawab Komandan Kaivan.

"Yasudah, masuk lah. Kunci pintu rumahmu. Mas pergi setelah kamu masuk." Ujar Komandan Kaivan sambil mengusap kepala belakang Sisil yang masih berada di pelukannya.

Sisil segera menjalankan perintah Komandan Kaivan. Ia masuk kedalam rumah dan langsung mengunci pintu rumahnya. Ia lalu mengintip Komandan Kaivan melalui jendela dan melihat Kekasihnya itu kembali ke mobil.

Setelah mobil yang dikendarai Komandan Kaivan pergi, barulah Sisil membersihkan diri dan beristirahat di kamarnya.

...****************...

"Aduhai... Manis sekali saya dengar berita pagi ini, Ndan." Ujar Miko sembari memberikan segelas kopi pada Komandannya.

Komandan Kaivan menerima gelas pemberian Miko, lalu menyeruput kopi hangat yang di buat oleh Ajudannya itu tanpa memperdulikan ucapan Miko.

"Saya dengar Komandan sudah sangat dekat dengan Dokter Sisil." Ujar Miko yang mencoba kembali memancing Komandannya.

"Ko salah dengar." Sahut Komandan Kaivan dengan enteng.

"Ee! Mana mungkin. Ini berita A Satu. Langsung dari saksinya." Sergah Miko.

"Riki salah lihat." Jawab Komandan Kaivan.

"Komandan tau dari mana kalau Riki saksinya? Saya tidak ada menyebutkan nama Riki di percakapan kita." Ujar Miko sambil tersenyum karena merasa Komandannya itu sudah memakan umpannya.

Sementara itu, Komandan Kaivan hanya menghela nafas. Ia kembali menyeruput kopi yang terasa nikmat pagi itu.

"Sejak kapan Komandan menjalin hubungan dengan Dokter Sisil? Kenapa Komandan tak jujur saja dengan saya?" Cicit Miko.

"Sengaja, supaya ko tidak bergosip." Jawab Komandan Kaivan.

"Ch! Ternyata sudah mulai ada rahasia diantara kita. Saya kira Komandan setia, ternyata bisa berdusta juga." Protes Miko.

"Saya setia, dengan pasangan saya." Jawab Komandan Kaivan.

"Jadi, Komandan anggap saya ini apa? Komandan bilang kita sahabat, tapi nyatanya cuma saya saja yang menganggap Komandan sahabat." Cicit Miko lagi.

"Sisil belum mau mengekspos hubungan. Dia tidak mau ada orang yang berspekulasi macam-macam." Jawab Komandan Kaivan.

"Siapa juga yang berani berkomentar macam-macam tentang Komandan? Bisa-bisa bibirnya lengket kalau berani berkomentar macam-macam." Kata Miko.

"Harusnya saya buat bibir ko lengket dari dulu." Jawab Komandan Kaivan yang membuat Miko meringis. Pasalnya, hanya ia yang berani mengomentari dan meledek langsung Komandannya.

1
Kaylaa
😄😄😄😄 kemakan juga sama omongan si Miko 🤭
Murti Puji Lestari
akhirnya ngak sengaja go public ya ndan..
gemes sama mereka berdua, pengen nyubit bibirnya si miko 😅
yuning tyas
awas Lo Ki bintitan kamu ngintipin komandan 🤣🤣
Rahmawati
hahahah skrg ketahuan kl komandan ada hubungan sama dosil, gk bisa ngelak lagi😂
Faqisa Sakila
Iiiiihhhh suka dec...
Authorny lek update cepet 👍👍👍
lanjutkan keromantisanmu komandan,,,
biar akunya jg ikut sneng 💞💞
up lg kk yg bnyak..
Kaylaa
walah..langsung grepcep....🤭
Zuny Achmad
asyiiiiikkkk lanjut akak smngat 💪💪💪
Kaylaa
ich...ada2 aja....tapi cocoklah....mantap..sip dilanjut aja 😄
Kaylaa
oalahhhh... kompak bener tiga orang ini 😄
Kaylaa
jangan pura2 marah lha ndhan.....padahal dalam hati mengiyakan usul si Miko 😄🤭
Murti Puji Lestari
ya ampun tegang banget pas bacanya, tapi seru..
duh penasaran bin penisirin ini
Murti Puji Lestari
semoga itu komandan kaivan bersama anggotanya
rizky tria
bu Dokter ga nurut sama Komandan jd kan 🙄😞
Zuny Achmad
lanjut kak 💪💪💪
Dewi kunti
masih up LG kan ya,kan udah gak mendua
ika
karya othor emang jos jis
ika
ngeri juga ya...
Ebhot Dinni
bagus ceritanya
Nice1808
wah dokter sisil di sandera, jgn takut dokter komandan pasti menyelamatkanmu
Chandhitha Priyanika
jd ikutan tegang neh , mudah²an yg dateng komandan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!