Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memicu Kebencian Laura 17.
Suara tetesan air dari keran yang kurang rapat terdengar seperti detak bom waktu.
Novia mengepalkan jari-jarinya di pinggiran wastafel, merasakan dinginnya keramik menjalar ke telapak tangannya.
Sudut mata Laura yang melengkung tajam memperlihatkan kepuasan yang absolut—jenis kepuasan dari seorang pemburu yang berhasil menyudutkan mangsanya hingga ke ujung tebing.
"Kenapa diam?" Laura melangkah maju dua tapak lagi. Aroma parfum vanilla-nya yang pekat kini mendominasi udara toilet yang pengap. "Nggak punya naskah bohong yang baru? Atau otak lo lagi macet karena cowok yang lo andelin buat bikin tameng nggak ada di sini?"
Rasa lelah yang menumpuk sejak pukul dua pagi tadi mendadak bergolak menjadi rasa panas yang membakar dada Novia.
Kejadian di kantin, nasi goreng yang terbuang sia-sia, hingga tatapan dingin Reyhan yang harus dia telan bulat-bulat, membuat pertahanan emosinya menipis. Dia sudah muak terus-menerus bersikap defensif.
Novia menegakkan tubuhnya. Dia tidak lagi mundur. Dengan gerakan lambat namun penuh penekanan, dia melipat kedua tangan di dada, meniru postur Laura dengan dagu terangkat menantang.
"Kalau iya, kenapa?" sahut Novia, suaranya ketus dan jernih, memotong keheningan toilet. "Mau gue pulang ke tempat Reyhan, mau gue satu atap sama dia, atau mau gue makan malam bareng dia tiap hari, apa urusannya sama lo, Laura? Lo itu cuma rekan kerja dia di OSIS, bukan ibu kos yang berhak minta laporan mutasi warga."
Ekspresi kemenangan di wajah Laura instan luntur. Matanya melebar, terkejut mendengar balasan Novia yang sama sekali tidak bernada takut, melainkan sarat akan provokasi yang menusuk ego tingginya.
"Lo... bener-bener gak tahu diri, ya?" Laura menggeram, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak naik ke ubun-ubun. Dia maju hingga jarak mereka tersisa satu jengkal. "Reyhan itu Ketua OSIS! Dia punya masa depan, punya reputasi yang bersih di sekolah ini! Sementara lo? Cuma cewek pembuat masalah yang kerjaannya bikin dia repot. Lo pikir gue gak tahu kalau luka di tangannya itu gara-gara lo?!"
"Gara-gara gue atau bukan, Reyhan gak komplain tuh," potong Novia sengit, senyum miring sengaja dia pasang untuk memancing emosi lawannya lebih jauh. "Dia malah repot-repot masakin gue nasi goreng pagi-pagi, pakai tangan yang lo sebut luka itu. Jadi, daripada lo sibuk bikin analisis yang gak berguna, mending lo urusin sepatu mahal lo yang bau nasi goreng itu. Permisi."
Novia mendorong bahu Laura dengan kasar untuk membuka jalan.
Namun, Laura yang sudah dibutakan oleh rasa benci dan cemburu tidak tinggal diam.
Tangan Laura bergerak cepat, mencengkeram kuat pergelangan tangan Novia, menahannya dengan sentakan yang cukup keras hingga punggung Novia kembali membentur wastafel.
"Lepas, Laura!" bentak Novia, matanya menyala marah.
"Nggak akan sebelum lo sadar posisi lo!" napas Laura memburu, wajahnya memerah karena emosi yang meluap. "Gue gak peduli apa hubungan lo sama Reyhan di luar sana. Tapi kalau sampai lo bikin nama dia jelek, atau lo berani pamer kedekatan lagi di depan gue... gue bakal bikin hidup lo di sekolah ini kayak neraka, Novia. Camkan itu!"
Novia menepis cengkeraman Laura dengan satu hentakan bertenaga. Rasa sakit di pergelangan tangannya kalah telak oleh rasa muak yang sudah mencapai batas. "Gue gak pernah takut sama ancaman murah lo. Sekarang, buka pintunya, atau gue teriak biar satu sekolah tahu kalau anak emas kesayangan guru-guru ternyata hobi nyekap orang di toilet!"
Laura menatap Novia dengan pandangan sarat kebencian yang mendalam.
Selama beberapa detik yang menegangkan, tidak ada yang mengalah dalam adu tatap itu.
Akhirnya, dengan dengusan jijik, Laura berbalik. Dia menggeser grendel pintu toilet dengan sentakan kasar, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi, menyisakan dentum pintu yang beradu dengan kusen.
Novia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di kerongkongan.
Bahunya merosot seketika. Tubuhnya gemetar hebat—bukan karena takut pada ancaman Laura, melainkan karena syok emosional yang menguras habis sisa energinya.
Dia menyalakan keran lagi, membasuh pergelangan tangannya yang memerah, lalu menatap pantulan dirinya yang tampak sangat berantakan.
"Gue butuh napas," bisik Novia pada diri sendiri. Pikiran tentang rumah atau apartemen terasa begitu menyesakkan. Dia butuh mengalihkan perhatian, butuh melakukan sesuatu yang menguras fisik agar otaknya berhenti memikirkan Reyhan dan segala kerumitan pernikahan rahasia ini.
Dia mengambil ponselnya dari saku rok, jemarinya dengan cepat mengetik pesan di kolom obrolan Caca.
‘Ca, lo masih di kelas? Main padel yuk sore ini. Gue butuh mukul sesuatu sebelum gue bener-bener gila.’
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponselnya bergetar, menampilkan balasan dari sahabatnya.
‘Gasss! Gue juga lagi pusing sama tugas sosiologi. Ketemu di depan gerbang lima menit lagi ya!’
Pesan singkat itu sedikit banyak memberi oksigen baru di dada Novia. Dia segera menyandang tas ranselnya, merapikan rambutnya sekilas, dan melangkah keluar dari toilet dengan langkah yang lebih mantap.
Yang dia butuhkan sekarang hanyalah lapangan, keringat, dan tawa berisik Caca untuk melupakan kenyataan hidupnya selama beberapa jam.
Namun, SMA Pelita Bangsa tampaknya belum selesai menguji kesabaran Novia hari ini.
Saat Novia sampai di area dekat gerbang utama, langkahnya mendadak melambat.
Suasana sore itu agak lengang, hanya ada beberapa siswa yang menunggu jemputan di pos satpam.
Di dekat pohon peneduh, Caca berdiri sambil memeluk tasnya. Namun, sahabatnya itu tidak sendiri.
Sebuah motor sport hitam berkapasitas mesin besar berhenti tepat di depan Caca. Pengendaranya adalah seorang cowok bertubuh tegap yang mengenakan jaket denim. Meski wajahnya tertutup helm full-face dengan kaca gelap, Novia langsung mengenali atribut seragam celana abu-abu yang berbeda dari warna seragam SMA Pelita Bangsa. Itu seragam SMA Garuda, sekolah tetangga yang terkenal sebagai rival abadi sekolah mereka.
Cowok itu membuka kaca helmnya, menampilkan seringai lebar yang disambut dengan senyuman manis—teramat manis—dari Caca.
Novia terpaku di tempatnya berdiri. Matanya mengerjap, memproses pemandangan di depannya dengan rasa tidak percaya yang mendadak menyergap.
Caca, sahabatnya yang setiap hari mengoceh tentang cowok-cowok fiksi di aplikasi bacaan, kini sedang membiarkan tangannya digenggam oleh seorang cowok asli, nyata, dan sialnya berasal dari sekolah rival.
"Novia!" panggil Caca saat matanya tidak sengaja menangkap sosok Novia yang mematung beberapa meter di belakang mereka. Wajah Caca mendadak merona merah, antara senang dan salah tingkah yang luar biasa.
Novia melangkah mendekat dengan lambat, matanya bergantian menatap Caca dan cowok di atas motor sport itu. "Ca... ini siapa?"
Caca menggigit bibir bawahnya, meremas tali tasnya dengan gugup sebelum memberikan cengiran lebar yang terlihat sangat bersalah. "Aduh, Nov... sori banget, sori sekaleee. Gue lupa kalau hari ini punya janji yang gak bisa dibatalin. Kenalin, ini..." Caca melirik cowok di sebelahnya dengan tatapan malu-malu kucing, "...ini beneran pacar gue, anak Garuda. Dan sore ini dia mau ngajak gue ngerayain anniversary dua bulan."
Dunia Novia rasanya runtuh sekali lagi dalam hitungan detik.
Di saat dia membutuhkan pelarian dari segala distorsi emosinya, takdir justru meninggalkannya sendirian di depan gerbang sekolah, menatap sahabatnya yang bersiap pergi dengan motor sport yang siap menderu menjauh.
......................
...****************...
Tbc,