NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - NALURI SEORANG TARUNA

Langkah kaki mereka menginjak kerikil tajam di sekitar bantalan kayu rel kereta tua yang sudah berkarat. Suara riuh gemuruh ledakan dan teriakan histeris dari arah jalan raya perlahan memudar, tergantikan oleh kesunyian yang justru terasa jauh lebih mencengangkan. Pemukiman padat di balik rel ini dipenuhi gang-gang sempit bercabang, di mana jemuran warga masih menggantung kaku di antara lantai dua bangunan kayu. Udara di sini agak lebih bersih dari kabut spora tebal, meski aroma lembap dan bau sangit masih terasa samar di lidah.

Rian berjalan membungkuk dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi seluruh kemeja seragam kafe miliknya, meninggalkan noda hitam berdebu di bahu. Matanya terus bergerak liar, menatap setiap pintu rumah yang tertutup kencang dan jendela kaca yang bergetar pelan tiap kali ada rintihan jauh dari arah luar.

"Pelankan langkahmu, Rian." Luna berbisik seraya menoleh pelan.

"Napasku rasanya mau habis, Luna." Rian menyapu keringat di pelipisnya dengan ujung lengan baju yang lusuh.

"Atur napasmu lewat hidung, buang perlahan lewat mulut. Kalau kamu terus megap-megap begitu, pandanganmu bakal kabur dan pendengaranmu berkurang." Luna menepuk bahu Rian dengan gerakan tegas namun terukur.

Rian mencoba mengikuti instruksi tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan, dan merasakan detak jantungnya yang tadinya berpalu liar perlahan mulai stabil. Di matanya, sosok Luna benar-benar tampak berbeda dibandingkan manusia normal yang ditemuinya selama ini. Saat semua orang berlarian tanpa arah bagaikan ayam kehilangan kepala, wanita muda di hadapannya ini bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Setiap langkahnya tidak bersuara, matanya yang tajam selalu memindai lorong, atap rumah, hingga celah di bawah pintu.

"Kamu... pernah ikut militer ya?" Rian berbisik penasaran di sela langkah mereka.

"Mantan taruna akademi." Luna menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari tikungan gang.

"Pantas saja kamu tidak panik sama sekali dari tadi." Rian bergumam kagum.

"Panik itu kemewahan yang bisa membunuhmu dalam hitungan detik. Di akademi, kami diajari untuk memproses ketakutan menjadi fokus." Luna menunjuk sebuah bangunan rumah toko berlantai dua di ujung gang.

Bangunan ruko bertembok abu-abu itu tampak tenang. Di lantai atas, terdapat jendela berkaca gelap dengan terali besi yang terawat. Itu adalah tempat tinggal rahasia yang disewa Luna selama dua tahun terakhir—sebuah markas kecil yang sengaja ia pilih di dekat pusat latihan memanah dan kompleks militer lama kota.

Luna berhenti di bawah naungan atap seng ruko, mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat agar Rian berhenti total. Nalurinya sebagai taruna militer yang terlatih dalam pengintaian jarak dekat langsung bekerja. Ia menutup matanya sejenak, mengasah pendengarannya di tengah heningnya sore yang kelam. Hanya ada suara gesekan daun kering di lantai aspal dan derit papan iklan yang bergoyang ditiup angin. Tidak ada suara gesekan langkah menyeret atau geraman parau berbau spora.

"Aman. Ikuti aku, mengendap di balik bayangan." Luna berbisik seraya menyelinap menuju pintu samping ruko.

Pintu besi lipat di bagian samping ruko itu memiliki slot gembok ganda. Luna mengeluarkan seikat kunci kecil dari dalam saku celana taktisnya, memasukkannya ke dalam lubang kunci dengan gerakan yang sangat halus agar tidak memicu dentang logam yang keras. Dalam hitungan lima detik, engsel pintu berputar pelan dan terbuka cukup lebar untuk dilewati tubuh manusia.

"Masuk cepat." Luna menarik lengan Rian masuk, lalu segera menutup dan mengunci kembali pintu besi tersebut dari dalam.

Kkrik. Slot besi bergeser mengunci rapat.

Kegelapan langsung menyelimuti mereka di dalam lorong tangga menuju lantai dua. Rian menghela napas lega yang cukup panjang, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin. Bau ruangan yang akrab—harum minyak pembersih logam, kayu pinus, dan aroma kopi kering—langsung menyambut mereka.

"Jangan nyalakan lampu atau ponsel. Kita pakai cahaya remang dari ventilasi saja." Luna memberi instruksi seraya menaiki anak tangga kayu satu per satu.

"Iya, aku mengerti." Rian mengangguk cepat, mengikuti dari belakang dengan sangat hati-hati.

Lantai dua ruko itu berfungsi sebagai apartemen studio sederhana milik Luna. Tidak ada barang mewah di dalamnya. Hanya ada satu tempat tidur busa di sudut ruangan, meja kayu panjang yang dipenuhi peralatan perawatan busur panah, serta sebuah lemari besi berukuran sedang yang tertutup rapat di dekat sudut tembok.

Luna melangkah menuju lemari besi tersebut, menekan kombinasi angka pada kunci digitalnya. Suara bip halus terdengar sebelum pintu besi tebal itu terbuka lebar. Di dalam lemari itu, tersusun rapi perlengkapan survival yang disiapkan Luna sejak masih berada di akademi.

Rian terbelalak menatap isi lemari tersebut. Dua tabung anak panah cadangan terbuat dari serat karbon hitam, tiga lusin mata panah broadhead berlapis baja tahan karat yang sangat tajam, beberapa gulungan tali busur sintetis, lilin pelindung, serta rompi taktis hitam berbobot ringan dengan banyak kantung serbaguna. Di rak bawah, berjejer rapi beberapa kotak amunisi obat darurat, pembalut steril, tablet pemurni air, serta makanan rasio militer padat nutrisi.

"Wah... kamu sudah menyiapkan semua ini dari sebelum wabah?" Rian bertanya takjub.

"Naluri bertahan hidup bukan soal meramal masa depan, tapi siap menghadapi situasi terburuk kapan saja." Luna menjawab datar seraya menarik rompi taktisnya dan mengenakannya di badan.

Luna mengencangkan tali rompi di pinggangnya, memastikan gerakannya tetap leluasa namun dada dan organ vitalnya terlindungi dari sabetan kasar atau gigitan. Ia mengambil tabung anak panah cadangan, mengikatnya kokoh di pinggang kirinya. Jemarinya yang cekatan memeriksa setiap anak panah karbon, memastikan bulu penyeimbang di ujungnya tidak rusak sedikit pun.

"Pakai ini." Luna melemparkan sebuah tas ransel militer berwarna hijau zaitun serta jaket tebal bertekanan kencang ke arah Rian.

"Ini untuk apa?" Rian menangkap tas itu kaget.

"Jaket tebal itu bisa menahan gigitan dangkal di lenganmu. Masukkan semua makanan kaleng yang kamu bawa dari kafe ke dalam ransel ini, lalu bagi bebannya agar seimbang." Luna menjelaskan dengan tenang seraya mengemas pasokan medis dan tablet pemurni air ke dalam kantung rompinya.

Rian segera membongkar tas kainnya dan memindahkan seluruh pasokan makanan ke dalam ransel militer yang jauh lebih kokoh tersebut. Sementara Rian sibuk mengemas, Luna berjalan mendekati jendela kaca yang ditutupi tirai kain tebal. Dengan sangat pelan, ia menyebak sedikit celah kain untuk mengintip kondisi lorong di bawah.

Sinar matahari sore yang mulai kemerahan menembus asap kabut spora. Di lorong bawah sana, tiga sosok manusia yang telah berubah menjadi zombie cordyceps berjalan limbung tanpa arah. Kerak jamur berwarna cokelat kekuningan membesar di area pelipis mereka, membuat gerakan leher mereka kaku dan tersendat-sendat. Salah satu dari mereka meraba-raba dinding dengan jemari yang membusuk, seolah mencari getaran suara.

"Mereka mulai masuk ke area pemukiman ini." Luna berbisik, matanya menajam mengamati pola pergerakan makhluk tersebut.

"Banyak?" Rian mendekat kaku dengan wajah tegang.

"Tiga di lorong bawah. Tapi suara sekecil apa pun dari kita bisa memanggil puluhan lainnya dari jalan utama." Luna menarik kembali tirainya rapat-rapat.

Luna kembali ke meja kayu, mengambil pisau komando berbilah ganda lengkap dengan sarung kulitnya, lalu memasangnya di bagian paha kanan. Nalurinya sebagai mantan taruna bekerja penuh—ia tidak hanya memikirkan bagaimana cara bertahan di ruangan ini, tetapi juga menghitung rute evakuasi sekunder jika ruko ini sampai terdesak oleh gelombang spora.

"Kita istirahat di sini sampai malam makin pekat. Pergerakan dalam gelap jauh lebih aman selama kita tidak memakai obor atau lampu." Luna duduk bersila di lantai kayu, menyandarkan busur recurve-nya di paha.

"Luna..." Rian duduk pelan di dekatnya, menatap lantai dengan pandangan redup.

"Ada apa?" Luna menoleh tipis.

"Keluargaku di distrik timur... kira-kira bagaimana nasib mereka ya?" Rian berbisik dengan suara tercekat menahan tangis.

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi dan hening. Pertanyaan Rian memukul bagian paling dalam dari kenangan Luna sendiri. Dulu, saat simulasi bencana di akademi dan kekacauan awal melanda, ia juga merasakan kecemasan yang sama terhadap keluarganya. Sisi manusiawi Luna yang biasanya terbungkus kaku oleh disiplin militer perlahan melunak.

"Fokus pada dirimu sendiri dulu sekarang, Rian. Di dunia yang hancur seperti ini, kamu tidak bisa menolong siapa pun kalau kamu sendiri mati konyol malam ini." Luna berkata dengan suara pelan namun hangat, memberikan keteguhan.

"Iya... kamu benar." Rian mengusap matanya, mengangguk pelan.

"Makan satu rasio makanan padat ini, lalu tidurlah dua jam. Aku yang akan menjaga gilir pertama." Luna melemparkan satu bungkusan cokelat ke pangkuan Rian.

Rian menerima makanan itu, membukanya dan mengunyah pelan di tengah kegelapan ruangan. Di balik jendela yang tertutup rapat, raungan parau zombie dan sirine kota yang perlahan padam menandai berakhirnya hari pertama peradaban manusia. Namun di dalam studio kecil itu, dengan senjata lengkap dan naluri taruna yang telah terasah tajam, Luna telah bersiap sepenuhnya untuk memimpin pertarungan bertahan hidup di hari-hari mendatang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!