Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13
Sebelum theo berjalan menuju pintu eca yang refleks langsung naik ke atas kursi untuk menjajarkan dirinya dan theo si manusia jangkun itu, ia melipat kedua tangannya di dada dan mencondongkan badanya tepat di depan wajah theo sembari menatap dekat.
"Hmmm...lo kenapa baik banget sama gue?"
'Tanya eca'
"Gue bisa berangkat sendiri naik bus umum, lo nggak perlu repot antar gue"
"Lo lagi nggak buat gue makin banyak hutang budi sama lo kan?"
Hembusan napas yang menyapu pipinya membuat theo menahan napas seketika. Manik matanya melebar sejenak, menatap lurus ke dalam bola mata yang kini sejajar secara tak terduga. Aksi nekat berdiri di atas perabot usang itu jelas di luar dugaannya, memangkas ruang personal mereka hingga menyisakan jarak beberapa jengkal yang mengintimidasi nuraninya.
Sensasi gelisah yang familier kembali merayap di tengkuk theo, namun arogansinya menolak untuk mundur selangkah pun. Mengunci tatapan perempuan itu dengan ketegasan yang sengaja ia keraskan, theo mendengus tipis, lalu mencondongkan kepalanya sedikit ke depan guna membalikkan tekanan.
"Siapa yang lo sebut baik?"
bisik theo tajam, suaranya terdengar berat dan menusuk di antara keheningan ruang tamu.
Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan sang perawat, berniat menariknya turun sebelum kayu rapuh itu patah.
"Gue cuma nggak mau repot ngurus orang hilang di kota ini gara-gara ketinggalan bus. Turun sekarang, atau gue seret lo keluar ke motor."
Sentak eca terkaget karena theo mencondongkan wajahnya, dengan ketidak stabilan pada tubuhnya yang naik di kursi membuatnya hampir terjatuh, wajah polos eca tiba-tiba memerah malu karena theo.
"Lo,lo terlalu dekat!" seru eca dengan panik
Refleks theo bekerja lebih cepat daripada gengsinya. Ketika keseimbangan gadis itu goyah di atas kayu lapuk, lengannya yang kekar langsung melingkar kuat di pinggang sang perawat, menyentak tubuhnya turun ke lantai sebelum sempat mencium ubin semen. Hantaman gravitasi membawa raga mungil itu menubruk dadanya dengan telak, menyisakan jarak nol sentimeter di antara napas mereka yang memburu.
Aroma manis samar bercampur minyak angin menyeruak, mengacaukan konsentrasi theo seketika. Rona merah padam yang merebak di pipi gadis itu terpampang telanjang di hadapannya, memicu denyut liar tak terkendali di balik tulang rusuknya sendiri. Kendati demikian, sorot matanya tetap ia kunci sedingin baja demi menutupi sengatan gugup yang membakar tengkuk.
"Makanya jangan bertingkah,"
bisik theo ketus, suaranya serak tertahan di depan bibir yang merekah canggung itu. Ia tidak segera melepaskan dekapannya, melainkan mencengkeram kain baju di punggung gadis itu sejenak untuk menstabilkan pijakan mereka berdua.
"Kalau patah tulang sebelum sampai rumah sakit, bukan pasien yang lo rawat, tapi lo yang dirawat."
Perlahan, ia melonggarkan rangkulannya lalu berbalik cepat menuju pintu, menyembunyikan telinganya yang mulai ikut terbakar merah.
"Ambil tas lo, jalan."
Eca yang masih merasakan dentum jantungnya yang berdetak cepat membuat perasaanya tidak karuan.
"Lo beneran mau nganterin gue kerja nih?"
"Nggak perlu, gue udah biasa naik bus sendiri, udah 1 bulan ini gue naik bus jadi nggak mungkin hilang"
"Lagian emang lo nggak di cari teman-teman lo? Dan lo bukannya harus sekolah? Lo masih sekolah kan?" celoteh eca sambil mengambil tas kerjanya
Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat theo mendengus remeh. Sorot matanya menyipit, mengunci sosok perawat yang masih gemar mengoceh seolah ia adalah adik laki-laki yang patut diceramahi. Mengingat statusnya sebagai murid tingkat akhir di SMA Tunas Bangsa yang hobi membolos, omelan barusan hanya terdengar seperti dengung lalat di telinganya.
"Bawel banget,"
tukas theo serak, menyandarkan bahu tegapnya pada kusen kayu yang rapuh.
"Urusan sekolah sama anak-anak bukan hal yang perlu lo pusingkan. Mau bolos atau nggak, itu hak gue."
Ia sengaja melangkah maju satu tapak, memangkas jarak yang baru saja tercipta untuk menekan arogansinya kembali ke permukaan.
Menatap lekat manik mata di hadapannya, seringai tipis terbit di sudut bibirnya—menutupi debaran ganjil yang belum sepenuhnya reda dari dadanya.
"Sekali gue bilang anter, ya gue anter. Lagian halte bus dari sini jauh, dan gue paling benci ngeliat orang lambat buang-buang waktu,"
sambung theo dingin, lalu mengayunkan dagunya ke arah gerbang luar.
"Buruan tutup pintunya. Sebelum gue berubah pikiran dan beneran ninggalin lo lari-lari ngejar angkutan umum."
...****************...
enjoy reading guys🩷
hadir kak, mampir juga ya😊