NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Ada dua hal yang paling dibenci Nadira Prameswari: orang yang sengaja memelintir fakta dan orang yang merasa berhak mengatur apa yang boleh ia ketahui.

Pengirim pesan misterius itu tampaknya memiliki kedua sifat tersebut.

Nadira duduk di meja kerjanya dengan layar ponsel menyala. Pesan terakhir masih terbuka.

Kamu mulai mempercayainya lagi. Apa kamu yakin ingin mengulangi kesalahan yang sama?

Ia memeriksa nomor tersebut sekali lagi. Tidak ada foto profil, tidak ada nama, dan tidak ada informasi lain yang bisa digunakan untuk mengenali pemiliknya.

Ia mencoba menelepon.

Panggilan tidak tersambung.

Nadira mengetik sebuah balasan.

Siapa kamu?

Pesan terkirim, tetapi tidak ada tanda bahwa penerima sedang mengetik.

Ia menunggu beberapa menit sebelum akhirnya mengunci ponsel.

Baiklah.

Kalau orang itu mengira ancaman samar akan membuatnya berhenti, ia jelas belum mengenal Nadira dengan baik.

Justru sekarang ia semakin ingin tahu.

Namun, satu hal tetap harus ia ingat: rasa penasaran bukan alasan untuk mengambil kesimpulan tanpa bukti.

Ia membuka laptop dan membuat dokumen baru. Di bagian atas, ia menuliskan beberapa poin.

Nomor anonim yang mengirim pesan tentang operasi Ibu.

Petunjuk kode AP-17 dalam arsip Yayasan Adhitama Peduli.

Surat lama yang disimpan Ibu.

Hubungan yang belum jelas antara keluarga Adhitama dan bantuan medis lima tahun lalu.

Nadira berhenti mengetik.

Nama Raka berada di tengah semua itu, tetapi ia tidak tahu sejauh mana laki-laki tersebut terlibat.

Ia tidak akan menuduhnya hanya karena nama keluarganya muncul dalam penyelidikan.

Namun, ia juga tidak akan membiarkan perasaannya membuatnya mengabaikan fakta.

Nadira menyimpan dokumen itu.

Untuk saat ini, ia membutuhkan jawaban, bukan kecurigaan baru.

Di markas ASTRAL, Raka sedang menghadapi lawan yang jauh lebih sulit diprediksi daripada tim esports mana pun.

Ayahnya.

“Besok pukul sembilan,” kata Adrian melalui telepon. “Jangan terlambat.”

Raka duduk di depan komputer, sementara layar permainan menampilkan hasil latihan yang baru saja berakhir.

“Aku sudah bilang akan datang.”

“Ayah ingin kamu mempelajari laporan yayasan sebelum rapat. Ada beberapa program lama yang perlu ditinjau.”

Raka teringat dokumen yang diperlihatkan ayahnya beberapa hari lalu. Di antara laporan-laporan itu, ada nama rumah sakit yang terasa familier, tetapi ia belum menemukan alasan untuk menghubungkannya dengan sesuatu yang penting.

“Kenapa aku yang harus memeriksa laporan lama itu?”

“Karena kamu akan mengambil tanggung jawab lebih besar atas yayasan.”

“Aku bahkan belum menyetujui seluruh rencana suksesi perusahaan.”

“Kamu boleh tidak menyukai rencananya, tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kamu pewaris keluarga ini.”

Raka mengusap wajahnya.

Percakapan seperti ini selalu berakhir dengan cara yang sama: Adrian berbicara tentang kewajiban, sementara Raka berusaha menjelaskan bahwa hidupnya bukan sekadar daftar tanggung jawab keluarga.

“Aku akan memeriksanya besok,” jawabnya. “Tapi aku tidak berjanji akan menyetujui semua yang Ayah inginkan.”

Adrian terdiam sesaat.

“Kadang-kadang, kamu terlalu sibuk mempertahankan pilihanmu sendiri sampai lupa bahwa keputusanmu juga memengaruhi orang lain.”

Kalimat itu mengganggu Raka lebih lama daripada yang ingin ia akui.

Setelah telepon berakhir, Bima mendekat sambil membawa dua botol minuman.

“Masalah keluarga lagi?”

Raka menerima botol yang disodorkan kepadanya.

“Seperti biasa.”

Bima duduk di meja sebelah.

“Lo tahu, kadang-kadang gue penasaran bagaimana rasanya punya keluarga yang setiap percakapannya terdengar seperti rapat direksi.”

“Percayalah, tidak semenarik kedengarannya.”

“Setidaknya kalau gue terlambat makan malam, nyokap gue cuma mengirim pesan berisi foto panci kosong.”

Raka tertawa kecil.

Bima kemudian meliriknya.

“Ngomong-ngomong, Sabtu kemarin berjalan lancar?”

Raka langsung menatapnya.

“Lo dapat informasi dari mana?”

“Dari wajah lo, Kapten. Lo kelihatan seperti orang yang baru menemukan alasan untuk bangun pagi pada akhir pekan.”

“Gue memang punya banyak alasan untuk bangun pagi.”

“Contohnya?”

“Latihan.”

“Alasan yang menyedihkan.”

Raka melempar tutup botol ke arahnya.

Bima tertawa sambil menghindar.

Namun, sebelum kembali ke ruang latihan, ia sempat berkata, “Serius, Rak. Kalau lo memang suka sama dia, jangan cuma mengandalkan kemampuan lo membaca permainan. Hubungan bukan pertandingan.”

Raka tidak menjawab.

Ia tahu Bima benar.

Masalahnya, ia mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang bahkan tidak bisa ia kendalikan dengan kejujuran sekalipun.

Keesokan harinya, Nadira datang ke rumah ibunya lebih awal dari biasanya.

Ratih sedang duduk di ruang tengah, memilah beberapa dokumen lama yang disimpan dalam sebuah kotak.

Ketika melihat putrinya, ia segera menutup kotak tersebut.

Gerakannya begitu cepat hingga Nadira menyadarinya.

“Ibu sedang mencari sesuatu?”

Ratih tersenyum tipis.

“Hanya membereskan barang-barang lama.”

Nadira duduk di sampingnya.

“Ibu masih ingat surat dengan kode AP-17?”

Senyum Ratih perlahan menghilang.

“Ibu ingat.”

“Boleh aku melihatnya?”

Ratih tidak langsung menjawab.

Nadira menunggu, meskipun kesabarannya mulai diuji.

“Aku tidak ingin mengambil atau membaca apa pun tanpa izin Ibu,” katanya. “Tapi kita sudah sepakat untuk melihat dokumen yayasan bersama. Aku rasa surat itu mungkin berkaitan dengan catatan yang sedang kucari.”

Ratih menatap putrinya lama-lama.

“Apa kamu menerima pesan lagi?”

Nadira terdiam.

“Ibu tahu tentang pesan-pesan itu?”

Ratih memalingkan wajah.

“Ada seseorang yang menghubungi Ibu.”

Kali ini, Nadira merasakan tengkuknya menegang.

“Siapa?”

“Ibu tidak tahu.”

“Pesannya mengatakan apa?”

Ratih meremas ujung bajunya.

“Dia meminta Ibu berhati-hati. Katanya, ada hal-hal dari masa lalu yang sebaiknya tidak dibuka begitu saja.”

Nadira mengembuskan napas perlahan.

“Dan Ibu tidak merasa perlu memberitahuku?”

“Ibu takut kamu terluka.”

“Dengan menyembunyikan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan hidupku?”

Ratih menunduk.

“Apa pun yang terjadi lima tahun lalu, Ibu tidak pernah menyesal menerima bantuan itu. Kalau tidak ada bantuan tersebut, mungkin Ibu tidak akan bisa duduk di sini sekarang.”

Nadira meraih tangan ibunya.

“Aku bersyukur Ibu selamat. Aku sungguh-sungguh bersyukur. Tapi aku juga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Ratih menggenggam tangan putrinya lebih erat.

“Ibu tahu.”

Beberapa saat kemudian, ia bangkit dan mengambil sebuah amplop dari kotak kayu kecil di lemari.

Amplop itu sudah menguning, dengan lipatan-lipatan di bagian tepinya.

Ratih menyerahkannya kepada Nadira.

“Ini surat yang Ibu simpan sejak dulu. Ibu belum siap menjelaskan semuanya, tapi Ibu tidak mau terus menghalangi kamu mencari jawaban.”

Nadira menerima amplop itu dengan hati-hati.

Di sudut kiri bawah, tercetak sebuah kode.

AP-17.

Ia tidak langsung membukanya.

“Terima kasih, Bu.”

Ratih mengusap punggung tangannya.

“Tolong ingat satu hal. Orang yang membantu kita belum tentu orang yang menentukan semua keputusan. Jangan menyalahkan seseorang sebelum kamu tahu seluruh ceritanya.”

Nadira mengangguk.

Ia belum tahu apakah ibunya sedang melindungi seseorang atau sekadar takut menghadapi masa lalu.

Namun, setidaknya sekarang mereka mulai bergerak ke arah yang sama.

Di kantor Adhitama Global, Raka membolak-balik sebuah laporan lama tentang program bantuan medis yayasan.

Dokumen itu cukup tebal, terdiri atas ringkasan anggaran, daftar rumah sakit mitra, dan catatan persetujuan dari beberapa pihak.

Ia tidak menyangka bahwa meninjau laporan lama bisa terasa lebih melelahkan daripada menjalani latihan turnamen.

“Program ini sudah berjalan lima tahun lalu,” kata Adrian dari seberang meja. “Kamu perlu memahami bagaimana yayasan menangani bantuan medis dan memastikan prosedurnya tetap transparan.”

Raka mengangguk sambil membaca.

Beberapa halaman berikutnya berisi daftar rumah sakit yang menerima bantuan.

Salah satu nama membuatnya berhenti.

Rumah sakit itu pernah ia lihat sebelumnya.

Raka mengernyit, mencoba mengingat di mana.

Namun, sebelum ia sempat menelusuri ingatannya, Adrian meletakkan dokumen lain di atas meja.

“Periksa bagian persetujuan pendanaan ini juga. Ada beberapa catatan yang belum dirapikan.”

Raka menutup laporan pertama.

“Baik.”

Ia tidak menyadari bahwa nama rumah sakit itu berkaitan dengan sebuah kisah yang sedang berusaha dipecahkan Nadira.

Belum.

Malamnya, ponsel Nadira bergetar.

Nomor yang sama kembali muncul.

Kalau kamu sudah menemukan surat AP-17, jangan percaya pada nama yang tercantum di dalamnya.

Nadira menatap pesan itu tanpa berkedip.

Kali ini, pengirimnya telah mengetahui sesuatu yang seharusnya belum ia ceritakan kepada siapa pun selain ibunya.

Ia mengambil foto amplop tersebut, memastikan kode di sudutnya terlihat jelas, lalu menyimpannya bersama tangkapan layar pesan.

Setelah itu, ia mengetik satu kalimat.

Kalau kamu tahu sebanyak itu, kenapa tidak datang dan menjelaskan semuanya secara langsung?

Pesan terkirim.

Beberapa menit kemudian, balasan muncul.

Karena kebenaran tidak selalu membuat hidupmu lebih baik.

Nadira membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu ia meletakkan ponsel dan membuka amplop dari ibunya.

Di dalamnya terdapat selembar surat lama, ditulis dengan bahasa formal dan ditandatangani seseorang yang namanya sudah mulai memudar oleh waktu.

Nadira belum membaca seluruh isinya ketika matanya tertahan pada satu kalimat di bagian tengah.

Bantuan akan diberikan sesuai persetujuan pihak keluarga dan melalui mekanisme yayasan.

Tidak ada nama Raka.

Tidak ada penjelasan mengenai siapa yang sebenarnya mengambil keputusan.

Hanya sebuah tanda tangan, beberapa nomor referensi, dan kode AP-17.

Nadira bersandar di kursinya.

Ia memiliki lebih banyak petunjuk daripada sebelumnya, tetapi belum satu pun memberinya jawaban yang utuh.

Seseorang ingin ia terus mencari.

Seseorang yang sama juga berusaha mengarahkannya agar tidak mempercayai Raka.

Dan untuk pertama kalinya, Nadira bertanya-tanya apakah pesan-pesan itu benar-benar dimaksudkan untuk melindunginya.

Atau justru untuk memastikan bahwa ia tidak pernah menemukan kebenaran yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!