NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Suara gesekan dawai biola membelah keheningan restoran mewah itu. Nada-nada melankolis membubung tinggi, memantul pada dinding-dinding kaca tebal yang menampilkan pemandangan gemerlap kota dari ketinggian lantai lima puluh.

Tidak ada pengunjung lain di sana. Seluruh area restoran telah dipesan khusus, menyisakan kekosongan yang megah dan hanya diisi oleh dua insan di meja sudut terbaik.

Di atas meja bertutup kain putih bersih, berdiri sebuah kue tar mewah berhias krim vanila lembut dan taburan edible gold.

Di sampingnya, sepasang kekasih tengah hanyut dalam ciuman yang lambat dan lembut.

Dominic Qiel Ashford memejamkan mata, menyesap aroma tubuh wanita di pelukannya. Tangannya menangkup pipi sang kekasih dengan kehangatan yang amat protektif.

Ciuman itu terasa manis, memabukkan, dan seolah waktu terhenti hanya untuk mereka berdua.

Namun, mendadak ketenangan itu terusik.

Wanita di pelukannya mengerutkan dahi di tengah tautan bibir mereka.

Ada sesuatu yang keras, asing, dan dingin terselip di dalam mulutnya—sesuatu yang sengaja disembunyikan di dalam potongan kue yang tadi sempat disuapkan padanya.

Dengan cepat dan perlahan, ia melepaskan ciuman tersebut.

Tangan wanitanya bergerak mengusap bibir basahnya, lalu mengeluarkan benda kecil berkilau itu dari mulutnya.

Sebuah cincin platinum bermata berlian mengilap di atas telapak tangannya yang gemetar tipis.

"Cincin?" tanya wanita itu pelan.

Suaranya terdengar datar, hampir tanpa nada, memecah alunan lembut biola yang mendadak terasa makin menyayat hati.

Wanita itu bernama Florence Nightingale Berres. Matanya yang jernih menatap dingin ke arah sang kekasih.

Di hadapannya, Dominic—pria tampan berusia 32 tahun dengan rahang tegas dan tatapan penuh kerinduan—menatapnya lembut.

Ada keputusasaan yang terselubung rapi di balik binar matanya.

Lagi-lagi cincin lamaran? batin Florence. Dadanya mendadak terasa sesak, bukan karena terharu, melainkan oleh rasa jenuh yang menghantam secara bertubi-tubi.

Namun, bukannya tangis bahagia atau pelukan hangat yang diterima Dominic malam ini, pria itu lagi-lagi hanya mendapati dinding tebal penolakan.

Mereka berdua telah menjalin kasih sejak usia 22 tahun.

Sepuluh tahun bersama—hampir sedekade mereka meniti hari bersama-sama.

Bagi Dominic, waktu sepuluh tahun adalah bukti kesetiaan dan kesiapan untuk melangkah ke babak baru. Namun bagi Florence, waktu sepuluh tahun itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa mereka bisa saling memiliki tanpa perlu sebuah ikatan formal di atas kertas.

Alasan Florence selalu sama, tidak pernah berubah sedikit pun dari tahun ke tahun: ia tidak ingin menikah.

Bagi Florence, akhir dari perjalanan cinta tidak selalu harus berujung di altar. Mereka bisa tetap bersama, saling mencintai, tanpa harus terikat oleh status sosial bernama pernikahan.

Tapi tidak bagi Dominic.

Sampai kapan hubungan mereka harus merayap tanpa kejelasan? Sampai kapan mereka berputar-putar di dalam lingkaran yang sama?

Ketiga saudara kembar Dominic bahkan kini Anaknya sudah menginjak usia remaja, 13 tahun.

Dan setiap hari, tanpa absen, Dominic harus menahan muak mendengarkan pertanyaan dari sang Mommy yang terus mendesaknya: Kapan kamu akan menikahi Florence? Kapan kamu membawa hubungan ini ke jenjang yang serius?

Bukan Dominic tidak ingin mewujudkannya. Pria itu justru menggebu-gebu. Namun gadis di hadapannya ini benar-benar membenci pernikahan sejak dulu.

Demi Tuhan, Dominic merasa muak. Perasaan cintanya yang begitu dalam kini beradu dengan rasa lelah yang amat luar biasa.

Florence meletakkan cincin itu begitu saja di atas meja, tepat di samping potongan kue tar yang belum habis. Dentang halus logam bertemu piring porselen terdengar bagaikan pukulan palu hakim di telinga Dominic.

"Flo... Tolong," bisik Dominic, suaranya parau. Ia mencoba meraih jemari Florence, namun wanita itu memundurkan tangannya perlahan. "Sepuluh tahun, Flo. Apakah sepuluh tahun masih belum cukup untuk membuatmu yakin padaku?"

Florence menghela nafas panjang. Wajah cantiknya tidak menunjukkan riak emosi yang berarti, hanya kepasrahan yang dingin.

"Dominic, kita sudah membicarakan hal ini ratusan kali," ujar Florence datar. "Aku mencintaimu. Aku di sini bersamamu malam ini. Apakah itu masih belum cukup?"

"Tidak! Ini tidak cukup lagi!" pangkas Dominic, ketenangannya mulai runtuh.

"Aku ingin kamu menjadi istriku. Aku ingin melangkah ke masa depan bersamamu dengan status yang jelas. Kenapa kamu begitu takut pada pernikahan?"

"Karena pernikahan adalah perangkap!" potong Florence dengan nada yang memuncak, matanya mulai menatap tajam.

Cekcok hebat yang selama ini selalu mereka hindari akhirnya meledak di antara dentang biola yang seketika berhenti karena pemusik merasa atmosfer telah berubah mencekam.

"Perangkap apa, Florence?! Aku tidak pernah mengurungmu!" bentak Dominic frustrasi. Tangan pria itu terkepal di atas meja.

"Aku juga selalu membebaskanmu untuk bersama siapapun!" seru Florence, berdiri dari kursinya hingga kursi itu bergeser keras menghantam lantai.

"Sejak dulu aku sudah katakan padamu, Dominic! Aku tidak ingin dikekang! Aku tidak ingin aturan murahan dalam hidup yang mewajibkan wanita harus menikah, harus memiliki anak, harus mengabdi, dan semacamnya! Aku benci hal itu! Aku benci semua Kepercayaan busuk itu!"

Dominic menganga hebat.

Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap Florence dengan tatapan tak percaya, lalu sebuah tawa miris keluar dari mulutnya—tawa yang sarat akan rasa sakit yang menghancurkan dada.

"Aturan murahan?" ulang Dominic lirih.

"Memiliki keluarga denganku kamu sebut aturan murahan?"

Dominic tertawa lagi, kali ini air mata menetes dari sudut matanya, membasahi pipinya yang tegas.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ia begitu memuja dan mencintai seorang wanita yang bahkan tidak pernah bermimpi untuk memiliki masa depan bersamanya?

Setiap impian indah yang dibangun Dominic dalam kepalanya selama sepuluh tahun ini mendadak runtuh menjadi debu di hadapan dinginnya prinsip Florence.

"Aku mencintaimu bertahun-tahun, Flo..." suara Dominic bergetar hebat. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia tahan lagi.

"Aku mengutuk perasaanku sendiri... Perasaan yang bertahun-tahun ini sama sekali tidak pernah kamu mengerti dan kamu hargai..."

Florence memalingkan wajahnya, menolak menatap mata Dominic yang hancur. "Aku menghargaimu, Dominic. Tapi aku tidak bisa memberikan apa yang tidak ingin kuberi."

Dominic mengangguk-angguk pelan. Ia menyapu air matanya dengan kasar, lalu menatap Florence dengan tatapan yang kini terasa asing—kosong dan terluka dalam.

"Baik," ucap Dominic tegar meski suaranya pecah. "Demi Tuhan, aku tidak akan memaksamu lagi, Flo. Tapi ingat baik-baik..."

Dominic menatap lurus ke dalam manik mata Florence. "Jangan pernah salahkan aku atas apa yang terjadi setelah ini."

Florence mengepalkan tangannya rapat-rapat.

Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi. Suara ketukan sepatu hak tingginya bergema di restoran yang sunyi itu, mengabaikan Dominic yang berdiri mematung di tempatnya.

Florence terus berjalan, mengabaikan perasaan pria yang selama sepuluh tahun ini selalu melindunginya.

Di balik meja yang kini berantakan oleh cincin lamaran yang terabaikan, Dominic berdiri sendirian. Pria 32 tahun itu memegangi dadanya yang terasa dihantam beban berat.

Entah berapa kali ia selalu mencoba meyakinkan gadis itu.

Entah berapa ribu kata manis dan janji yang sudah ia bisikkan. Bahwa setelah menikah nanti, ia tidak akan pernah menuntut apapun dari Florence.

Dominic bahkan tidak pernah memaksa untuk memiliki anak jika Florence memang tidak siap atau tidak menginginkannya. Lagipula, kehadiran anak-anak dari saudaranya sudah lebih dari cukup untuk meramaikan hidupnya.

Ia hanya ingin satu hal: Florence terikat padanya secara sah. Hanya itu.

"Arggggghhh!"

Dominic mengerang keras, membalikkan meja di hadapannya hingga piring porselen dan gelas kristal hancur berkeping-keping di atas lantai marble. Kue tar yang indah itu hancur berantakan, sama seperti hatinya malam ini.

"Demi Tuhan, Florence! Aku tidak akan memaksa apapun lagi padamu!" teriaknya pada ruangan kosong yang hampa.

Dominic jatuh berlutut di antara pecahan kaca. Matanya menatap cincin platinum yang kini tergeletak di dekat kakinya.

"Argh... Sialan perasaan ini..." bisiknya parau, menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat tangisnya pecah sepenuhnya di dalam restoran yang dingin dan sunyi itu.

...----------------...

Sequel Novel OVERRATED

1
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 💪🤗🤗
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
ya ampun kasian Ester 🥺🥺
Yusry Ajay
masih pagi dom😁😁😁
Isma Nayla
semoga flo,dapat mengikhlaskan Dominic bersama Ester dan semoga flo dapat pengganti Dominic .
Rosdianah 🌷: Amiin🫶
total 1 replies
Isma Nayla
di episode sebelumnya di katakan Ester sudah meminumnya tanpa ketahuan Dominic kok sekarang bilang belum meminumnya Thor?
Isma Nayla
Ester juga egois tidak mikir perasaan Dominic.
sudah jelas Dominic akan melindungi tp kayak gak percaya.
Asriani Rini
Tenang ester yg penting dominic sudsh percaya sama kamu hidupmu akan trrus dilinfungi
Asriani Rini
Apa kunilang ester kalu ksu jujur pd dominic tentang mada lalu pasti dia akan melindungimu
Isma Nayla
apa mungkin nanti Ester pergi dari hidup Dominic ? dan mengandung bayi dom2 ?
deg-degan nunggu up selanjutnya Thor
Mei TResna Rahmatika
wahh klimaks nya nih,lanjut thor💪
Yusry Ajay
ester sangat trauma dgn masalalu nya🥺🥺🥺
Yusry Ajay
kasian Ester Thor 🥺🥺
Asriani Rini
Jgn kawatir ester yg penting kamu mencitai Dominic dgn tulus apapun masalalumu klan asford akan menrrimamu tapi satu saranku jujurlah sama dominic tentang masa lalumu
Rosdianah 🌷: kasih tau Ester kak🤣
total 1 replies
Isma Nayla
sungguh tragis kehidupan Ester 😭😭😭
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🤭
total 1 replies
Isma Nayla
di tunggu kelanjutannya lagi ya Thor 🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
kasihan sebenarnya Tristan tapi lebih kasihan Ester karena ayah keluarga Ester satu2 telah pergi😭
makasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗🤗
Isma Nayla
kasihan Ester walaupun caranya salah dalam masuk kekeluarganya Dominic semoga bila Dominic mengetahuinya rencana Ester sebelumnya dom2 tidak meninggalkan Ester /Whimper//Sob/
Rosdianah 🌷: huhu😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!