Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16: Puskesmas dadakan di markas dewa perang
Matahari pagi hari kedua baru saja mengintip dari balik celah pohon bambu hitam, namun ketenangan Shen Ruozi sudah terusik secara brutal. Alih-alih bangun dengan santai dan menikmati teh hangat seperti kemarin, Ruozi mendadak dikejutkan oleh suara derap langkah kaki massal yang bergemuruh di depan Paviliun Bambu Hitam.
TOK! TOK! TOK! TOK!
"Nona Tabib Sakti! Tolong hamba, Nona!" suara teriakan kompak dari luar membuat Ruozi yang masih mengenakan baju tidur sutranya langsung melompat dari ranjang dengan wajah dongkol.
Begitu Ruozi membuka pintu paviliun dengan sentakan kasar, matanya hampir copot melihat pemandangan di depannya. Halaman paviliunnya yang kemarin sepi, sekarang sudah dipenuhi oleh sekitar dua puluh prajurit berbadan kekar yang berbaris rapi layaknya antrean sembako gratis. Dan di barisan paling depan, berdiri Wakil Jenderal Lei Jin dengan senyum lebar tanpa dosa.
"Eh, Mas Lei Jin! Ngapain kamu bawa rombongan sirkus ke depan kamar ku pagi-pagi buta begini?!" semprot Ruozi ketus sambil berkacak pinggang, menatap tajam pria kekar yang kemarin baru saja ia sembuhkan dari radang usus buntu itu.
Lei Jin buru-buru membungkuk hormat dengan tubuh tegapnya. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kami mengganggu waktu istirahat Anda, Nona Shen. Tapi ini semua karena kehebatan obat ajaib Anda kemarin! Setelah perut hamba sembuh total, hamba tidak sengaja menceritakan mukjizat medis Anda kepada anak-anak di barak saat latihan malam. Dan ternyata... banyak dari mereka yang juga menderita penyakit tersembunyi yang gagal disembuhkan oleh tabib militer," jelas Lei Jin dengan mata berbinar penuh kekaguman.
Ruozi menepuk jidatnya sendiri. "Gila ya, kamu emak-emak berkedok tentara atau gimana? Ember banget itu mulut baru sehari sembuh!" gerutu Ruozi dalam hati.
Namun, melihat antrean prajurit yang menatapnya dengan pandangan penuh harapan dan rasa sakit, jiwa mahasiswi kedokteran modern di dalam dada Ruozi kembali meronta-ronta.
Lagipula, ini adalah kesempatan emas untuk mempraktikkan ilmunya dan memperluas relasi di kalangan militer sebelum ia membuka toko obatnya sendiri.
"Yaudah, yaudah! Tapi antre yang rapi! Hamba yang anggun ini mau cuci muka dan ganti baju dulu lima belas menit. Yang dorong-dorongan atau berisik, gak bakal aku kasih obat!" ancam Ruozi galak sebelum membanting pintu paviliunnya kembali.
Para prajurit di luar langsung berdiri siap grak tanpa berani mengeluarkan suara sekecil pun, takut dicoret dari daftar pasien sang tabib galak.
Dua puluh menit kemudian, Ruozi sudah duduk santai di teras paviliun dengan meja kecil di depannya, memulai sesi praktik klinik dadakan hari keduanya di kediaman Jenderal.
Satu per satu prajurit maju untuk diperiksa denyut nadinya. Dengan pengetahuan medis modernnya, Ruozi dengan cepat mendiagnosis berbagai penyakit fisik yang biasa diderita para tentara akibat latihan ekstrem yang salah kaprah.
"Nih, kamu cuma salah urat plus radang sendi kronis karena keseringan ngangkat gada besi. Ini salep ekstrak Daun Dewa dicampur minyak jahe liar. Olesin tiga kali sehari, jangan dipakai petak umpet dulu kakinya!" ucap Ruozi sambil melemparkan sebotol kecil salep herbal kepada prajurit pertama yang langsung menerimanya seperti menerima harta karun.
"Kalau kamu... wah, ini mah gejala asma bronkial akibat alergi debu barak. Minum air rebusan Akar Angelica ini seminggu berturut-turut biar paru-parumu gak kayak mesin diesel rusak!" ketus Ruozi pada prajurit berikutnya.
Sesi pengobatan gratis itu berjalan sangat lancar, dan setiap kali satu prajurit merasakan khasiat instan dari ramuan racikan Ruozi, tingkat kekaguman mereka langsung melejit drastis hingga menyentuh langit
Tepat saat matahari berada di puncaknya dan Ruozi baru saja menyelesaikan pasien terakhirnya, sebuah bayangan tinggi besar mendadak menutupi cahaya matahari di teras paviliun. Aura dingin yang sangat pekat seketika membuat para prajurit yang masih berkumpul di halaman langsung membeku dan buru-buru berlutut dengan tubuh gemetaran.
Long Tianxu berdiri tegak di sana, menatap halaman paviliunnya yang berubah fungsi menjadi puskesmas dadakan. Mata elangnya beralih dari para prajurit yang ketakutan, lalu mendarat tepat pada Ruozi yang sedang asyik menghitung sisa botol obatnya dengan santai. "Shen Ruozi," panggil Tianxu dengan suara baritonnya yang rendah dan berwibawa, sukses membuat suasana halaman seketika berubah mencekam dalam hitungan detik.
Mendengar suara bariton yang begitu dingin, seluruh prajurit yang tadinya sibuk berbisik langsung mengunci mulut rapat-rapat. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin ke tanah, tidak berani menatap langsung wajah sang Dewa Perang yang terkenal tanpa ampun jika aturan militernya dilanggar.
Suasana halaman Paviliun Bambu Hitam yang tadinya ramai dan heboh seperti pasar, seketika berubah menjadi sunyi senyap layaknya kuburan, menyisakan desau angin yang meniup dedaunan bambu di sekeliling mereka.
Namun, ketegangan itu sama sekali tidak berlaku bagi Shen Ruozi. Gadis modern itu malah menguap pelan, menutup botol obat terakhirnya dengan santai, lalu menatap Long Tianxu dengan tatapan judes andalannya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Aduh, Mas Jenderal, datang-datang mukanya jangan diseremin gitu dong, kasihan ini pasien aku pada jantungan semua," semprot Ruozi ketus sambil menunjuk para prajurit dengan dagunya. "Lagian tenang aja, aku gak lagi ngegosipin kamu kok. Ini murni kegiatan kemanusiaan buat ngobatin anak buah kamu yang pada penyakitan gara-gara latihan ekstrem."
Long Tianxu tidak membalas ucapan lancang Ruozi dengan amarah. Sepasang mata elangnya melirik ke arah belasan botol obat herbal yang tertata rapi di atas meja, lalu kembali menatap gadis unik di depannya dengan kilat takjub yang tersembunyi rapat di balik wajah datarnya.
Sang jenderal besar kemudian memberikan isyarat tangan yang pendek kepada para pasukannya. "Kalian semua, kembali ke barak masing-masing sekarang. Dan Lei Jin, potong jatah makan malammu nanti karena sudah membuat keributan di sini," perintah Tianxu dingin, yang langsung dijawab dengan anggukan patuh dan langkah kaki seribu dari para prajurit yang buru-buru membubarkan diri.
Setelah halaman kembali sepi, Long Tianxu melangkah mendekati meja praktik Ruozi dan meletakkan selembar akta kepemilikan tanah berbahan kain sutra tebal di depan gadis itu. "Aku sudah memerintahkan Lei Jin mencari tempat terbaik sebelum dia bertingkah bodoh pagi ini. Ini adalah akta sewa sebuah ruko berlantai tiga di pusat pasar utama ibu kota, tempat yang paling strategis untuk tokomu," ujar Tianxu dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Ruozi yang melihat kain sutra itu langsung melotot girang dengan mata berbinar-binar, menyadari bahwa langkah pertamanya untuk menjadi tabib sakti mandraguna yang kaya raya di ibu kota kini sudah resmi dimulai pada hari kedua ini.