NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Nadira mampir lebih dulu ke kamar yang disiapkan untuk Bintang. Si kecil tidur lelap di ranjang bayi, berselimut kain lembut.

Cahaya kuning dari lampu meja membuat ruangan terasa hangat, kontras sekali dengan bagian lain mansion itu. Ia mendekat pelan.

Ia membelai rambut halus bayinya dan tersenyum tanpa sadar. Meski semua yang tengah ia jalani, Bintang seolah membawa kedamaian yang bisa menular pada siapa pun.

"Tidur yang nyenyak, Sayang."

Bayi itu hanya mendesah dalam tidurnya. Nadira memandanginya beberapa detik lagi sebelum keluar tanpa suara.

Tak lama kemudian ia masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu, dan duduk di tepi ranjang dengan jantung berdegup kencang.

Drilon menepati janjinya. Kini tinggal menunggu. Kurang dari dua menit kemudian, pintu diketuk.

Tok... tok...

"Masuk."

Seorang pelayan masuk membawa ponsel.

"Pak Drilon meminta saya menyerahkan ini."

Nadira langsung berdiri.

"Terima kasih."

Perempuan itu membungkuk sedikit.

"Teleponnya boleh berlangsung beberapa menit saja. Sesudah itu saya akan kembali mengambil ponselnya, Bu."

"Aku mengerti."

Begitu sendirian, Nadira menarik napas dalam. Tangannya gemetar. Ia mengetik nomor ibunya dari ingatan. Satu dering, dua, dan pada dering ketiga seseorang menjawab.

#TELEPON MULAI#

"Halo?"

Mendengar suara itu, Nadira memejamkan mata. Ia begitu rindu rumah sampai ingin menangis.

"Ma..."

Di seberang sana hening beberapa detik, lalu terdengar tangis haru.

"Ya Tuhan..."

"Ma..."

"Putriku..." Keduanya beberapa saat tak sanggup berkata apa-apa. "Kamu masih hidup..."

"Iya."

"Syukurlah..."

Nadira menyeka air mata diam-diam.

"Aku baik-baik saja."

"Mereka menyakitimu?"

"Tidak."

"Dan Intan?"

"Dia juga baik-baik saja."

Ratna menghela napas lega.

"Kamu tak bisa membayangkan betapa putus asanya kami."

"Aku bisa membayangkan..."

"Polisi masih terus mencari kalian."

"Aku tahu." Ia melirik cepat ke pintu yang tertutup. "Tapi aku tak boleh bilang di mana aku berada."

"Mama mengerti."

"Aku cuma ingin Mama tahu kami masih hidup."

"Itu saja sudah memberi Mama harapan."

Nadira tersenyum tipis.

"Kami belum tahu kapan bisa pulang."

Ratna menarik napas dalam.

"Yang penting kalian pulang."

"Pasti." Ia berhenti sejenak. "Semua akan baik-baik saja." Ratna terdiam beberapa detik, dan Nadira menyadarinya. "Ma..."

"Ya?"

"Di sana semua baik-baik saja?"

Di ujung sambungan kembali ada jeda panjang. Nadira kenal diam itu, diam seseorang yang sedang memikirkan cara menceritakan sesuatu.

"Ya, tapi ada satu hal besar terjadi."

"Apa yang terjadi?"

"Kamu ingat dulu sering bilang kakakmu hobi bikin masalah?"

Nadira terkekeh.

"Itu nggak mempersempit pilihan."

Ratna ikut tertawa.

"Betul juga." Ia menarik napas. "Beberapa hari lalu ada seorang perempuan datang ke rumah."

Nadira mengerutkan kening.

"Siapa?"

"Kami belum pernah melihatnya."

"Dia mau apa?"

Ratna menjawab langsung.

"Dia membawa bayi."

Nadira membelalak.

"Jangan..."

"Iya."

"Ma..."

"Dia bilang anak itu anak Dimas."

Nadira menepuk dahinya.

"Aku nggak percaya."

"Mama juga awalnya nggak percaya."

"Terus dia bagaimana?"

"Langsung pucat."

Nadira tertawa gugup.

"Itu sangat dia."

"Setelah banyak bicara..." Ratna menghela napas. "Ternyata memang ada kemungkinan anak itu anaknya."

Nadira menggeleng.

"Dimas memang selalu bisa melampaui dirinya sendiri."

"Selalu." Mereka tertawa bersama. "Singkatnya..." Ratna berhenti sejenak, penuh dramatisasi. "Kakakmu sekarang punya tiga anak."

"Ya Tuhan..."

"Dari tiga perempuan berbeda."

Nadira menyandarkan kepala ke belakang.

"Aku akan membunuh anak itu."

"Antre dulu."

Keduanya tertawa lagi, lalu tawa itu memelan.

"Dia baik-baik saja?"

"Sedang berusaha menghadapi semuanya."

"Bisa kubayangkan."

"Papamu hampir kena serangan jantung waktu tahu."

"Kasihan."

"Tapi sekarang kami mencoba menyelesaikan satu per satu."

Nadira tersenyum.

"Di rumah masih sama saja."

"Selalu begitu."

Mereka diam beberapa detik, hanya mendengarkan napas satu sama lain. Rasanya menyenangkan, seakan jarak menyempit untuk beberapa menit.

"Kamu makan dengan benar?"

"Iya."

"Tidur cukup?"

"Kalau bisa."

"Jangan lupa jaga diri."

"Baik."

"Dan Intan?"

"Dia sangat rindu keluarganya."

"Bilang semua orang mendoakan kalian."

"Akan kusampaikan."

Suara ibunya melembut.

"Mama bangga padamu."

Nadira memejamkan mata lagi.

"Aku cuma ingin pulang."

"Dan kamu akan pulang."

"Semoga segera."

"Mama juga berharap begitu."

Keheningan nyaman menyelimuti sambungan itu. Nadira melirik jam. Ia tahu waktunya tak bisa banyak lagi.

"Ma..."

"Iya, Sayang?"

"Kayaknya aku harus menutup."

Ratna menarik napas dalam.

"Baiklah."

"Aku janji, begitu bisa, aku telepon lagi."

"Mama tunggu."

"Dan jangan biarkan siapa pun kehilangan harapan."

"Tidak akan."

Nadira tersenyum.

"Aku sayang kalian."

"Kami juga sayang kamu, Nak."

"Peluk semua orang untukku."

"Pasti."

"Dan bilang ke Dimas supaya sadar."

Ratna tertawa keras.

"Tugas itu lebih sulit daripada yang lain."

Keduanya tertawa untuk terakhir kalinya.

"Sampai jumpa, Ma."

"Sampai jumpa, Nak."

"Kita akan bicara lagi segera."

"Mama percaya itu."

#TELEPON SELESAI#

Sambungan terputus. Nadira menurunkan ponsel perlahan. Meski masih jauh dari rumah, mendengar suara ibunya memulihkan tenaganya.

Untuk pertama kalinya sejak penculikan, ia merasa bahwa sejauh apa pun jaraknya, ikatan dengan keluarganya tetap utuh. Dan keyakinan itu memberinya keberanian untuk menghadapi satu hari lagi di dunia yang masih terasa begitu asing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!