NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Rokok Terakhir di Puncak

Batang rokok kedua puluh tiga habis ketika matahari mulai turun di belakang Gunung Gede.

Damar menjatuhkan puntungnya ke tanah dan menginjaknya. Di sekitar kakinya, puntung-puntung lain berserakan di rumput yang basah, seperti jejak orang yang sudah terlalu lama berdiri di satu tempat.

Dia sudah di sini sejak subuh. Setelah rapat darurat di kantor dengan Reza dan Tagih sampai lewat tengah malam, setelah semua telepon yang tidak membawa kabar baik, dia menyuruh Pak Ujang pulang dan menyetir sendiri ke Puncak. Ke lereng bukit milik keluarganya ini, dengan vila kecil di atasnya yang hampir tidak pernah dia datangi.

Pemilik lahan Bukit Selatan menolak tanda tangan, padahal alat berat sudah masuk seminggu. Kalau proyek itu mangkrak, kerugiannya bukan cuma uang. Dewan direksi akan bertanya. Eyang akan bertanya. Dan Gilang, yang dua malam lalu dipermalukan di depan empat puluh orang, akan tertawa.

Lalu Batam. Barang yang seharusnya tiba tiga hari lalu tidak pernah sampai. Orang yang harus dia temui di sana tidak mau bicara dengan siapa pun selain dia sendiri.

Lalu, di atas semua itu, sebuah kamar di lantai dua rumah Pondok Indah. Seorang perempuan yang duduk di tepi ranjang ketika dia pergi. Tunggu aku, katanya waktu itu. Lalu dia tidak kembali.

Dia mengeluarkan batang rokok kedua puluh empat dan menyalakannya.

Siang tadi, dia mengirim lokasinya ke satu nomor. Tanpa pesan. Hanya titik merah di peta. Dia tidak tahu kenapa dia melakukannya. Dia juga tidak tahu kenapa, setiap kali ada suara mesin mobil di jalan kecil di bawah lereng, kepalanya menoleh.

***

Suara mesin itu datang pukul lima lewat sepuluh.

Sebuah mobil kantor berwarna abu-abu berhenti di ujung jalan setapak. Pintu pengemudi terbuka.

Anala turun. Dia memakai kemeja putih yang lengannya digulung dan celana panjang hitam, rambutnya diikat seadanya, sepatunya tidak cocok untuk lereng berumput. Wajahnya lelah. Di tangannya ada sebuah map cokelat.

Dia berjalan menaiki lereng tanpa tergesa. Ketika sampai di depan Damar, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia mengulurkan tangan, mengambil rokok dari mulut Damar, dan melemparnya ke tanah.

Lalu dia menginjaknya.

"Dua setengah jam," katanya. "Jalur Puncak macet total. Ada truk mogok di Gadog."

"Kamu tidak perlu datang."

"Kamu kirim lokasi."

"Aku..."

Anala melangkah lebih dekat. Dia mengangkat kedua tangannya ke wajah Damar, ibu jarinya menyentuh tulang pipinya, dan dia berjinjit.

Dia mencium mata kirinya.

Lalu mata kanannya.

Pelan. Sangat pelan. Bibirnya hangat di kelopak mata Damar yang terpejam, dan dia menahannya di sana lebih lama dari ciuman mana pun yang pernah Damar terima. Seolah mata itu sesuatu yang sangat berharga. Seolah dia sudah lama ingin melakukannya.

Ketika dia melepaskannya, Damar membuka mata. Dunia di sekitarnya sudah mulai gelap, pinggir-pinggirnya sudah buram seperti biasa ketika malam turun. Tapi wajah Anala jelas. Wajah itu satu-satunya yang jelas.

"Kenapa matanya?" tanyanya. Suaranya serak oleh asap.

Anala tersenyum kecil. "Karena aku suka matamu."

***

Mereka duduk di bangku kayu tua di pinggir lereng. Di bawah sana, lampu-lampu kebun teh mulai menyala satu per satu.

"Aku pernah dengar cerita," kata Anala. "Dari nenekku, waktu aku kecil."

Damar menunggu.

"Ada seekor monyet yang terluka di punggungnya. Luka kecil saja, sebenarnya. Tapi setiap kali monyet lain bertanya kenapa, dia membuka lukanya untuk menunjukkan. Lalu monyet berikutnya bertanya, dan dia membukanya lagi. Lagi, dan lagi." Anala menatap lampu-lampu di bawah. "Lukanya tidak pernah sembuh. Akhirnya dia mati, bukan karena lukanya. Karena dia sendiri yang terus membukanya."

Damar diam.

"Bukit Selatan sudah beres," kata Anala. "Batam, nanti kamu urus. Tapi berhenti berdiri di sini menghitung semua yang salah. Itu bukan kerja. Itu membuka luka."

Damar menatap perempuan itu. Lalu, tanpa memikirkannya, dia merebahkan tubuhnya ke samping dan meletakkan kepalanya di pangkuan Anala.

Dia merasakan perempuan itu menegang. Hanya sebentar. Lalu jari-jarinya masuk ke rambut Damar, pelan, menyisir dari dahi ke belakang. Lagi. Dan lagi.

Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia tidur tanpa obat, tanpa lelah sampai pingsan, tanpa pintu yang dikunci dari dalam. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia memejamkan mata di dekat seseorang dan tidak memikirkan apa yang bisa orang itu lakukan kepadanya selagi dia tidur.

Dia tertidur di pangkuan itu, di lereng bukit yang dingin, dengan jari-jari perempuan itu di rambutnya.

Ketika dia terbangun, langit sudah hitam dan penuh bintang. Jari-jari itu masih bergerak di rambutnya.

"Kamu panggil namaku," kata Anala pelan, di atas kepalanya.

"Kapan?"

"Barusan. Dalam tidur."

Damar tidak menjawab. Dia tidak ingat mimpinya. Dia hanya ingat, samar-samar, sebuah suara yang memanggilnya dari tempat yang jauh, dan dia berjalan ke arah suara itu.

***

Vila kecil di atas lereng itu berbau kayu dan debu. Tidak ada yang tinggal di sini selama berbulan-bulan. Penjaga vila sudah pulang ke kampung, hanya meninggalkan seprai bersih di lemari dan termos air panas di dapur.

Anala menyalakan lampu ruang tengah. Damar mengunci pintu.

Lalu mereka berdiri di ruangan kecil itu, saling menatap, dan tidak ada telepon yang berbunyi.

Damar tidak bertanya. Dia sudah bertanya semalam, dengan sebuah kunci di telapak tangan perempuan itu, dan perempuan itu sudah menjawab. Malam ini dia hanya mengulurkan tangan.

Anala menyambutnya.

Ciuman itu tidak terburu-buru. Tidak seperti di lorong timur rumah Menteng, tidak seperti di tangga darurat kantor. Kali ini tidak ada yang mengejar mereka. Kali ini tidak ada yang perlu dibuktikan.

Di jari tengah tangan kanannya, cincin itu menyentuh tengkuk Damar ketika dia melingkarkan lengannya ke leher laki-laki itu.

Lampu ruang tengah dimatikan.

***

Damar terbangun sebelum subuh.

Kamar itu masih gelap. Hanya ada cahaya biru samar dari jendela, cahaya yang datang sebelum matahari. Dari luar, dia bisa mendengar ayam jantan di kampung di bawah lereng, dan sayup-sayup suara azan dari masjid yang jauh.

Sisi ranjang di sebelahnya kosong.

Dia tidak bergerak. Dia hanya membuka matanya sedikit.

Anala duduk di tepi ranjang, membelakanginya. Selimut melingkari bahunya. Rambutnya tergerai di punggung. Dia tidak bergerak sama sekali, hanya duduk di sana, kedua tangannya di atas pangkuan, kepalanya sedikit tertunduk.

Dia duduk seperti itu lama sekali.

Damar tidak tahu apa yang perempuan itu pikirkan. Dia tidak tahu apa yang perempuan itu lihat di lantai kayu yang gelap. Dia hanya tahu bahwa punggung itu tidak tegang, tapi juga tidak tenang. Punggung seseorang yang sedang menanggung sesuatu sendirian.

Azan di kejauhan selesai. Anala menunduk lebih dalam, sebentar, lalu menegakkan punggungnya lagi.

Damar memejamkan matanya dan pura-pura tidur. Dia tidak tahu kenapa. Hanya saja, dia merasa itu bukan saat yang boleh dia sentuh.

***

Pukul enam pagi, ketika dia keluar dari kamar mandi, map cokelat itu sudah ada di meja makan kecil di dapur vila.

Anala sedang menuang teh dari termos. Dia sudah berpakaian lagi, rambutnya diikat rapi, seperti sekretaris yang menunggu bosnya untuk rapat pagi.

"Buka," katanya.

Damar membuka map itu.

Kontrak pengalihan lahan Bukit Selatan. Bertanda tangan. Bermeterai. Dengan tanggal kemarin. Dan di halaman terakhir, sebuah lampiran yang tidak ada di draf awal: klausul denda kalau pemilik lahan membatalkan sepihak, dengan jumlah yang akan membuat siapa pun berpikir sepuluh kali.

Di bawah kontrak itu, sebuah flashdisk kecil.

"Rekaman," kata Anala sebelum dia sempat bertanya. "Pemilik lahan diam-diam bicara dengan pihak ketiga minggu lalu, menawarkan harga yang lebih tinggi kalau mereka bisa mencari alasan untuk membatalkan dengan kita. Dia lupa bahwa orang yang dia ajak bicara tidak bisa dipercaya." Dia meletakkan cangkir teh di depan Damar. "Kemarin siang aku putar rekaman itu di depannya. Setengah jam kemudian dia tanda tangan."

Ponsel Damar berbunyi. Reza.

"Mar! Mar, kamu di mana? Pemilik lahan barusan telepon aku. Pagi-pagi. Dia bilang semua beres, minta maaf, katanya salah paham. Suaranya kayak orang habis dikejar setan. Kamu apain dia?"

Damar menatap Anala di seberang meja. Perempuan itu meniup tehnya dengan tenang.

"Bukan aku," katanya.

Dia menutup telepon. Lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkus rokok. Masih tersisa separuh.

Dia menatapnya sebentar.

"Ini rokok terakhir," katanya.

Dia tidak menyalakannya. Dia meremas bungkus itu sampai rokok-rokok di dalamnya patah, dan melemparnya ke tempat sampah di sudut dapur.

Anala mengangkat alis, tapi tidak berkomentar.

***

Pukul tujuh, sopir kantor yang dikirim Reza sudah menunggu di ujung jalan setapak untuk membawanya ke bandara. Pesawat ke Batam berangkat siang ini.

Anala mengantarnya sampai pintu vila.

"Beberapa hari ini," kata Damar, "atur dirimu sendiri. Mobil kantor bawa pulang. Jangan ke Menteng."

"Baik, Pak."

Dia berjalan dua langkah ke arah mobil. Lalu dia berhenti dan menoleh.

"Rekaman itu," katanya. "Kamu dapat dari mana?"

Anala bersandar di kusen pintu, melipat kedua tangan di dada, dan tersenyum. Senyum yang sama seperti di ruang kerjanya malam sepuluh miliar. Senyum yang tidak pernah bisa dia baca.

"Rahasia sekretaris," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!