NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:763.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

Tepat pukul delapan malam, satu per satu para tamu undangan mulai berpamitan pulang karena hari semakin larut. Kini, hanya tersisa Ningsih, Luna, dan tumpukan kado di ruang tamu. Lilin berangka 6 di atas kue istana cokelat itu masih berdiri tegak, belum sempat disulut api. Luna terus-menerus menolak untuk memulai prosesi tiup lilin.

“Ayo, Sayang,” bujuk Ningsih dengan suara yang teramat lembut, mencoba menyembunyikan rasa sesak di dadanya. “Kita tiup lilinnya sekarang, yuk? Keburu malam, nanti anak Mama ngantuk.”

Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Luna mau nunggu papa!”

“Nanti kalau papa datang, kita bisa pasang lilinnya lagi dan tiup lagi sama papa, oke?”

“Enggak mau! Pokoknya Luna mau tiup lilinnya bareng papa sekarang!” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah itu, membuat matanya yang bulat tampak berkilau menyedihkan. “Papa udah janji kelingking sama Luna tadi pagi, Ma... Papa janji...”

Kalimat sederhana yang keluar dari bibir mungil putrinya seketika membuat dada Ningsih serasa dihantam godam besar.

Sakit sekali.

“Papa pasti datang...” Ningsih mencoba menghibur.

“Papa bohong ya, Ma?”

“Sayang, jangan bilang begitu. Papa sedang bekerja.”

“Tapi papa belum datang! Papa bohong!” bibir mungil Luna bergetar hebat. Rasa kecewa yang dipendamnya sejak sore akhirnya pecah. “Papa nggak sayang lagi sama Luna!”

Deg!

Jantung Ningsih bagai diremas dengan kejam hingga ia kesulitan bernapas. “Sayang, jangan pernah ngomong begitu. Papa sayang banget sama Luna.”

“Kalau papa sayang, kenapa papa nggak datang ke pesta Luna? Kenapa papa biarkan Luna nunggu sendirian?” tangis Luna akhirnya pecah dengan histeris. Ia melempar boneka di tangannya dan memeluk erat leher Ningsih. “Mama... Luna mau papa... hiks... Luna mau papa pulang sekarang...”

Ningsih langsung mendekap erat tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Air matanya sendiri sudah mengambang di pelupuk mata, namun ia mati-matian menahannya agar tidak tumpah di depan sang anak.

Ia harus kuat. Untuk Luna. Selalu untuk Luna.

“Papa sayang Luna. Papa pasti pulang...”

“Bohong! Papa bohong!”

“Tidak, Nak...”

“Papa ingkar janji...”

Suara tangisan memilukan dari gadis kecil itu menggema memenuhi ruang tamu yang sunyi, menciptakan atmosfer perih yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Termasuk Ningsih, yang kini pertahanannya mulai goyah.

Dengan tangan yang gemetar, Ningsih akhirnya meraih ponselnya di atas meja. Rasa sabar dan pengertian yang selama ini ia agungkan runtuh seketika digantikan kemarahan yang membuncah. Ia bertekad harus meminta penjelasan dari Hendra malam ini juga.

Ningsih menekan tombol panggilan.

Panggilan pertama, nada sambung berdering panjang, namun tidak diangkat.

Panggilan kedua, langsung ditolak secara sepihak.

Panggilan ketiga, masih tetap dialihkan dan tidak dijawab.

Ningsih mulai didera rasa gelisah yang teramat sangat. Sementara di pangkuannya, Luna masih terus sesenggukan, menyembunyikan wajahnya yang basah di dada ibunya.

“Mama... telepon papa lagi... Luna mau dengar suara papa...” ratap Luna di sela isak tangisnya.

“Iya, Sayang. Mama telepon lagi ya,” ucap Ningsih menenangkan.

Ningsih menekan nomor suaminya untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, panggilan itu akhirnya terhubung. Ningsih seketika mengembuskan napas lega.

”Mas Hendra—”

Sialnya, kalimat yang sudah Ningsih susun mendadak terhenti di udara. Lidahnya mendadak kelu, karena suara yang terdengar dari seberang telepon sama sekali bukan suara Hendra. Melainkan suara seorang wanita.

“Halo? Siapa ya?” tanya wanita di seberang telepon.

Ningsih seketika membeku di tempat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas. Selama beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.

“Maaf... ini benar ponselnya Mas Hendra, kan?” tanya Ningsih, mencoba menstabilkan suaranya.

Wanita di seberang telepon terdengar terkekeh kecil, suara tawa yang teramat renyah dan santai. “Iya, benar. Ini hape nya mas Hendra kok. Kenapa?”

“Bisa saya bicara dengan pemilik ponselnya?” tuntut Ningsih, cengkeraman tangannya pada bodi ponsel mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

“Aduh, maaf ya, nggak bisa sekarang. Mas Hendra nya lagi mandi,” jawab wanita itu tanpa beban sedikit pun.

Deg!

Dunia di sekitar Ningsih seakan berhenti berputar seketika. Kepalanya berdenyut pusing, hantaman kenyataan itu terasa begitu menyakitkan.

Mandi? Malam-malam begini, di jam delapan lewat, suaminya berada di suatu tempat dan sedang mandi, sementara ada wanita lain yang memegang dan berhak mengangkat ponsel pribadinya?

“Halo? Ini siapa sih? Kok diam saja?” tanya wanita itu lagi dengan nada santai. Terlalu santai, seolah keberadaan si penelepon sama sekali tidak berharga dan tidak penting baginya.

Ningsih menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa anyir darah mulai tercecap, mencoba menahan air mata yang mendadak mendesak keluar dari pelupuk matanya.

“Saya istrinya.”

Hening merayap selama beberapa detik di seberang sana.

Bukannya merasa takut atau bersalah, wanita itu justru kembali mengeluarkan tawa kecil yang terdengar mengejek. Tawa yang seketika membuat seluruh darah di dalam tubuh Ningsih mendidih karena murka.

“Oh, istrinya toh. Soalnya nggak ada namanya,” ucap wanita itu. “Mau aku panggilkan mas Hendra nya sekarang? Bentar ya, aku ketuk pintu kamar mandinya dulu.”

Suara gesekan kain dan langkah kaki terdengar dari seberang telepon. Dan tepat di detik berikutnya, suara sayup-sayup seorang laki-laki yang sangat amat dikenalnya selama tujuh tahun terakhir ini terdengar jelas memanggil dari kejauhan.

“Siapa yang telepon, Sayang?” tanya Hendra dari seberang sana, suaranya terdengar begitu mesra, suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi Ningsih dengar di dalam rumah mereka.

Tubuh Ningsih kaku bak patung. Napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya terasa begitu sesak seperti dihantam ribuan jarum tak kasat mata. Sementara di pangkuannya, Luna masih terus menangis sesenggukan memeluk boneka beruang hadiah ulang tahunnya yang malang.

Anak itu menangis, mengharapkan kehadiran seorang ayah yang bahkan tidak ingat sedikit pun pada janji kelingking yang ia ucapkan tadi pagi. Seorang ayah yang tega menukar malam bahagia putrinya demi bersenang-senang di atas ranjang wanita lain.

Air mata akhirnya runtuh membasahi pipi Ningsih, jatuh menetes mengenai kening Luna.

Ningsih menangis bukan karena ia lemah atau kalah. Tapi karena malam ini, tepat di hari ulang tahun anaknya yang keenam, ia baru menyadari satu kenyataan pahit. Suaminya tidak sedang sibuk bekerja demi masa depan keluarga. Suaminya sedang membagikan tubuh dan cintanya pada wanita lain di luar sana, sementara putri kandungnya menangis kelaparan akan kasih sayang di rumah.

“Jahat kamu, Mas! Tega kamu mengkhianatiku,” batin Ningsih nelangsa.

“H—halo, Ningsih? Maaf, tadi Arumi sekretarisku yang angkat. Ada apa?” tanya Hendra terdengar gelagapan karena keceplosan memanggil Arumi sayang.

“Sekretaris?” Ningsih tersenyum getir.

Sejak kapan panggilan atasan ke bawahan semesra itu?

1
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
Dewi Sekar Khirani
ngakak sendiri aku ngebayang
in bagaimana wajah ningsih saat menghadapi kelakuan satria yg
diluar nurul itu
yuuuuj semangat thor 💪👌
A_ntalus
definisi sabar sesungguhnya 😭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!