Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 - Kilas Balik
Sheyra memperhatikan pemandangan di luar kaca jendela mobil. Terlihat lampu malam perkotaan begitu indahnya. Untungnya jalanan sedang lancar dan tidak macet sehingga ia bisa menikmati perjalanan. Malam ini di hari Jum’at, ia dan Bundanya sedang melakukan perjalanan ke luar kota untuk bertemu Papanya.
Rencananya besok di hari Sabtu dan Minggu saat kuliah Sheyra libur, ia akan menghabiskan waktu liburan bersama keluarganya. Papanya tinggal terpisah dengan Sheyra dan Bundanya karena sedang ditugaskan untuk bekerja di kota yang berbeda selama enam bulan. Sheyra dan Bundanya tidak bisa ikut tinggal di sana dikarenakan kota tersebut cukup jauh dari kampus Sheyra. Oleh karena itu, keluarga mereka memutuskan untuk tinggal terpisah sampai waktu penugasan Papanya selesai.
Sheyra tidak sabar ingin kembali berkumpul bersama keluarganya. Seperti dulu tinggal bersama bertiga. Namun ia harus bersabar. Bagaimanapun juga, Papanya melakukan ini agar hidupnya dan Mamanya bisa lebih terjamin.
Kali ini Sheyra naik taksi online yang dipesankan oleh Papanya. Sebenarnya Bundanya bisa menyetir mobil, namun Papanya melarang karena perjalanan ini dilakukan di malam hari. Takut Bunda Sheyra akan mengantuk di perjalanan apalagi jarak yang ditempuh sangat jauh. Oleh karena itu, Papa Sheyra memesankan taksi yang dipercaya bisa mengantarkan Sheyra dan Bundanya dengan selamat sampai ke tujuan.
Sheyra menoleh ke arah Bundanya yang duduk di sebelah. Bundanya terlihat sedang tertidur pulas. Sheyra mencoba memejamkan mata untuk tidur, namun tidak bisa karena ia merasa tidak mengantuk. Sheyra mengambil sebuah permen kiss dari sakunya. Ia membuka bungkus permen tersebut lalu memakannya.
Sesekali Sheyra membenarkan letak earphonenya apabila di rasa kurang nyaman. Ia mendengarkan lagu favoritenya sambil tetap memandang ke luar jendela. Mendengarkan musik sambil ditemani pemandangan lampu malam sangat menenangkan pikirannya. Ia merasa nyaman.
Sheyra melihat handphone untuk melihat google maps agar ia tahu lokasinya sekarang. Dari aplikasi itu Sheyra tahu bahwa tinggal sekitar satu jam lagi ia akan sampai di tempat Papanya. Sheyra sudah tidak sabar untuk segera bisa bertemu Papanya. Sudah dua bulan mereka tidak bertemu, wajar saja jika Sheyra merasa sangat rindu.
Perjalanan ini memakan waktu 4 jam. Waktu yang sangat lama dan seharusnya terasa melelahkan. Namun anehnya Sheyra justru menikmati perjalanan ini. Hati dan pikirannya merasa tenang. Sheyra menghela nafas, sepertinya keputusan untuk pergi bersama keluarganya ke luar kota adalah keputusan yang tepat. Ia yakin liburan kali ini akan membantunya untuk melupakan patah hatinya akibat Alvaro. Sheyra sangat berharap dengan hal itu.
***
4 tahun yang lalu…
“Al, Mama pengen punya cucu.”
Mendengar ucapan tersebut membuat Alvaro lantas menghentikan aktivitas makannya. Ia menatap Mamanya yang sedang duduk di depannya dengan heran.
“Mama gak lucu ah bercandanya. Al baru aja semester 3 loh Ma.” ujar Alvaro enggan. Ia kembali menyendokkan makanan ke mulutnya. Alvaro kesal dengan pembicaraan Mamanya yang selalu memintanya untuk segera menikah dan punya anak. Padahal usia Alvaro baru menginjak 20 tahun yang mana masih terlalu muda untuk menikah.
“Mama udah 58 tahun Al. Dulu Mama hamil kamu saat usia Mama udah tua. Di usia Mama yang sekarang ini pengen banget lihat kamu menikah dan punya anak. Mama takut kalau Mama gak bakal sempet lihat kamu menikah dan malah keduluan nyusul Papa.” Kata Mama Alvaro dengan tatapan sendu.
Alvaro segera menggeleng, ia meletakkan sendok dan garpunya. “Mama, stop bilang kayak gitu. Mama bakal berumur panjang. Mama sehat. Mama gak boleh bilang yang engga-engga. Al butuh Mama.. Mama harus temenin Al terus.” lirih Alvaro setelah mendengar ucapan orang tuanya.
Alvaro sangat sedih karena semakin hari Mamanya terlihat pesimis karena penyakitnya. Mama Alvaro didiagnosa gagal ginjal yang harus rutin melakukan cuci darah. Alvaro berharap Mamanya sembuh namun tampaknya Mamanya justru pesimis dengan hal tersebut. Mamanya sering bercerita tentang menyusul suaminya atau Papa Alvaro yang sudah pergi lebih dulu.
Hati Alvaro sakit. Ia tidak bisa membayangkan akan kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki. Alvaro tidak menghabiskan makanannya. Nafsu makannya tiba-tiba hilang.
Alvaro tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengatakan, “Al bakal menikah demi Mama. Tapi sejujurnya Al gak punya pacar Ma. Al gak tau siapa yang harus Al nikahi.” curhat Alvaro. Selama ini Alvaro hanya pernah berpacaran sekali saat duduk di bangku SMP itupun hanya bertahan tiga bulan. Oleh karena itu, Alvaro bingung dengan siapa ia akan menikah untuk mengikuti permintaan Mamanya.
Senyum tercetak di bibir Mama Alvaro. Wanita paruh baya itu terlihat senang dengan jawaban anaknya. “Kalau gitu Mama kenalkan Al sama anak teman Mama yaa. Anaknya cantik, baik, penyayang, sopan.” Cerita Mama Alvaro dengan semangat.
Alvaro hanya mengangguk saja mendengar cerita dari Mamanya. Sebenarnya ia tidak tertarik sama sekali. Menikah muda bukanlah keinginannya. Namun ia akan melakukannya agar Mamanya merasa bahagia.
Mama Alvaro tersenyum melihat anaknya yang penurut. Dalam hati wanita itu terus meminta maaf kepada Alvaro karena memaksakan kehendaknya. Sebenarnya di lubuk hatinya, ia merasa takut dan khawatir Alvaro akan sendirian apabila maut menjemputnya. Ia tidak ingin anaknya hidup seorang diri. Oleh karena itu Alvaro harus memiliki pendamping hidup yang akan menemaninya.
Pikiran buruk Mama Alvaro bukanlah tanpa alasan. Hari demi hari Mama Alvaro merasa bahwa tubuhnya semakin cepat letih. Ia merasa bahwa umurnya mungkin sudah tidak lama lagi.
Di malam harinya, Alvaro bertemu dengan Silva. Silva adalah anak dari teman Mama Alvaro. First impression Alvaro pada Silva adalah dia gadis yang pemalu. Silva banyak diam dan terus menundukkan kepalanya. Saat mata Silva dan Alvaro tidak sengaja bertemu, Silva akan memalingkan wajahnya ke arah lain. Gadis yang lucu.
Awal pertemuan tersebut tidak langsung membuat Alvaro jatuh cinta kepada Silva. Namun setelah sering menghabiskan waktu bersama selama sebulan penuh akhirnya membuat benih-benih cinta tumbuh di antara keduanya.
Mamanya benar, Silva adalah gadis yang baik, penyayang, manis dan cantik. Alvaro selalu kagum dengan perlakuan Silva yang lembut dan pengertian. Semua perlakuan tersebutlah yang membuat Alvaro jatuh cinta kepada gadis itu.
Tiga bulan setelah pertemuan pertama mereka, akhirnya Alvaro dan Silva memutuskan untuk menikah. Keluarga mereka berdua sangat mendukung pernikahan ini. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh anggota keluarga saja, private tanpa adanya orang luar sekalipun.
Setelah menikah, keluarga mereka sepakat akan membiarkan Alvaro tetap kuliah sedangkan Silva akan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Terkesan tidak adil, namun ini murni keinginan Silva. Silva tidak terlalu suka belajar. Sehingga ia sendiri memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Saat itu untuk pertama kalinya Alvaro melihat Mamanya tersenyum sumringah saat menyaksikannya duduk di atas pelaminan. Hati Alvaro merasa bahagia dan hangat. Ia melihat Silva yang duduk di sebelahnya.
“Cantik.” puji Alvaro seketika membuat Silva tersenyum malu-malu.
“Terima kasih Mas.” ucap Silva sembari salah tingkah.
Alvaro ikut tersenyum. Ia memantapkan hatinya. Ia tidak melakukan pernikahan ini dengan terpaksa karena sejujurnya ia telah mencintai Silva dengan sepenuh hati. Alvaro berharap agar pernikahannya ini selalu bahagia. Ia dan Silva akan terus bersama dan mencintai sampai kakek nenek. Sampai ajal menjemput mereka.
^^^Bersambung…. ^^^