Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Pintu kamar mandi perlahan terbuka. Aruni melangkah keluar dengan penampilan yang sudah jauh lebih rapi. Ia mengenakan celana kain longgar dan tunik sederhana berwarna putih gading, lengkap dengan cardigan yang senada dan menutupi tubuhnya yang sedikit berisi. Wajahnya tanpa riasan tebal, paras cantik alaminya terpancar begitu menawan di bawah lampu temaram ruko.
Edgar yang sedang berdiri menunggu seketika membeku. Pandangannya terkunci, matanya tak berkedip sedikit pun menatap wanita yang selama tujuh tahun ini hanya bisa ia lihat dari balik bingkai foto. Di matanya, Aruni terlihat jauh lebih anggun dan matang.
"Ayah... Ayo! Jangan dilihatin terus Bundanya!" goda Zayyan polos, menyikut pelan pinggang sang ayah.
Edgar tersentak, mendadak salah tingkah hingga berdeham canggung untuk menutupi rasa malunya. "A...ekhem... Ayo, Aruni. Jalan kaki sedikit ke depan tidak apa-apa?" tanya Edgar santai tapi merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Aku sudah biasa," jawab Aruni datar.
Mendengar panggilan 'Tuan' kembali meluncur tegar dari bibir Aruni, dada Edgar rasanya sedikit meringis. Ia ingin sekali melarang wanita itu memanggilnya seformal itu, namun ia sadar bahwa Aruni membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
‘Sabar Edgar, sabar... Semuanya akan berjalan seiring berjalannya waktu. Buktinya kau bisa sabar menunggu sampai tujuh tahun lamanya, kenapa sekarang tidak?’ keluh Edgar dalam hati sambil mengelus dadanya. ‘Tapi kalau kelamaan, aku keburu tua! Perbedaan usiaku dan Aruni memang cukup jauh, lebih dari sepuluh tahun. Aish... Aku serasa lebih pantas jadi Om nya saja. Dasar nasib!’
Mereka berempat kemudian berjalan keluar. Edgar dengan sigap membantu Aruni menarik dan mengunci pintu rolling door ruko.
Di seberang jalan, tak jauh dari ruko, sebuah mobil dinas kepolisian terparkir di bawah rindangnya pohon. Di dalam sana, Rama duduk mematung. Jemarinya mencengkeram kuat kemudi mobil hingga buku-buku jarinya memutih, menatap tajam ke arah interaksi hangat keluarga kecil di seberang sana.
"Aruni... Kenapa kau begitu mudah terkena bujuk rayu pria itu?" gumam Rama dengan nada getir dan napas yang memburu. "Rayyan dan Zayyan tidak bisa kau jadikan alasan untuk terus dekat dengannya!"
Rama memejamkan matanya sejenak, penyesalan mendalam menusuk dadanya.
"Sial! Kenapa aku bisa keduluan oleh Edgar Ganendra? Andaikan aku bisa lebih cepat mengungkapkan perasaanku, mungkin saat ini Aruni sudah menjadi milikku dan si kembar tidak akan membutuhkan sosok ayah kandungnya lagi..."
Rama menghela napas berat, matanya kembali terbuka menatap Aruni yang berjalan berdampingan dengan Edgar.
"Tapi... apakah Aruni juga memiliki perasaan yang sama denganku? Aih... Rama, jangan terlalu percaya diri dulu!" batinnya meringis membayangkan kenyataan. Sorot matanya mendadak berubah dingin dan penuh kewaspadaan. "Aku harus pantau terus pria itu. Aku takut kehadirannya benar-benar membawa bahaya untuk Aruni dan si kembar. Aku tidak akan pernah rela jika sampai hal buruk terjadi pada mereka!"
Dengan sorot mata tajam dan penuh ketegangan, Rama menyalakan mesin mobilnya, siap mengawasi dari jarak aman ke mana pun mobil mewah Edgar membawa wanita yang dicintainya itu pergi.
Atas desakan lembut kedua putranya, Aruni akhirnya tak kuasa menolak dan memilih duduk di jok depan, persis di samping Edgar. Mobil mewah yang dikendarai Edgar melaju mulus dengan kecepatan sedang. Karena jarak dari ruko menuju vila memang tak begitu jauh, dalam hitungan menit kendaraan mahal itu sudah memasuki gerbang utama vila yang dijaga ketat oleh belasan pengawal berjas hitam.
Begitu pintu mobil dibuka, para pengawal membungkuk hormat membukakan jalan.
"Selamat datang, Tuan Edgar. Selamat datang, Nyonya Aruni... Selamat datang, Tuan Muda," sapa para pengawal serempak.
Aruni tersentak canggung. Sebutan Nyonya Aruni terasa sangat asing dan membenturkan realita hidupnya. Sementara si kembar saling pandang dengan mata berbinar, dipanggil Tuan Muda mendadak membuat mereka merasa seperti sultan. Meski pada kenyataannya, Rayyan dan Zayyan memanglah pewaris tunggal dari perusahaan Ganendra grup, keluarga konglomerat dengan kekayaan melimpah dan tak akan pernah habis sampai tujuh turunan dan memiliki jaringan bisnis dari Sabang sampai Merauke hingga mancanegara.
Aruni memandangi sekeliling interior vila yang luar biasa megah, dipenuhi ukiran dan hiasan bernilai fantastis. Saat mereka melangkah ke ruang utama, Tuan Fernando Ganendra sudah menunggu di atas kursi roda, didampingi Asisten Dani. Wajah tua itu menyunggingkan senyum hangat.
"Jadi... ini Ibunya kalian?" tanya Tuan Fernando ramah.
"Iya, Kek! Ini Bunda kesayangan kami yang sudah membesarkan kami!" jawab Rayyan bangga.
Seketika, raut wajah Tuan Fernando berubah haru penuh penyesalan. "Aruni... kau pasti sangat menderita selama tujuh tahun ini membesarkan kedua cucuku sendirian. Maafkan putraku yang bodoh ini... Andaikan dia lebih cepat menemukan kalian, penderitaanmu tak akan sepanjang ini."
Disebut 'anak bodoh' oleh sang ayah, Edgar tak terima dan langsung memprotes. "Pah! Jangan seenaknya mengatai ku bodoh. Itu semua karena anak buah dan asistenku saja yang kerjanya tidak becus!"
Mendengar perdebatan konyol ayah dan anak itu, Aruni tak tahan untuk tidak terkekeh. Tawa kecil meluncur dari bibirnya, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Edgar yang secara tak sengaja menangkap momen indah itu seketika terpana, dadanya bergemuruh hangat dan berbunga-bunga melihat senyum tulus yang sangat dirindukannya.
Suasana kaku perlahan mencair. Aruni dan Tuan Fernando mengobrol akrab. Aruni bahkan tanpa ragu menceritakan kenakalan si kembar, terutama Zayyan.
"Zayyan itu kalau main bola sukanya di bawa sendiri bolanya sampai ke gawang lawan, Tuan... Sama sekali tidak mau mengoper ke teman satu timnya," cerita Aruni terkekeh.
Tawa Tuan Fernando seketika pecah memecah keheningan ruangan. "Wahahaha! Benar-benar mirip sekali dengan Edgar sewaktu kecil! Dia selalu seperti itu kalau main bola, nakalnya minta ampun sampai berapa kali ganti pengasuh!"
"Pah...! Jangan seenaknya membongkar aib masa kecilku di depan Aruni, bikin malu saja!" protes Edgar salah tingkah seraya melirik Aruni yang semakin lebar tersenyumnya.
Rayyan ikut tertawa geli. "Rupanya Ayah dan Zayyan sama-sama menyebalkannya kalau lagi main bola!"
"Eits... Walau sewaktu kecil Ayah begitu, tapi Ayah itu anak yang Genius!" Edgar membela diri penuh kebanggaan. "Usia tujuh tahun saja Ayah sudah berhasil membobol server akun perusahaan Papah, sampai Papah ngamuk dan mengirim Ayah sekolah ke luar negeri! Tapi bukannya berhenti, Ayah malah semakin jadi-jadi!"
Edgar tertawa terbahak-bahak mengingat masa lalunya. Tuan Fernando hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. "Ish! Jangan sampai kelakuan si kembar seperti bapak moyangnya... bisa kacau dunia!"
Di tengah gelak tawa orang tua mereka, Rayyan dan Zayyan yang duduk berdampingan di sofa empuk saling sikut. Zayyan mendekatkan wajahnya ke telinga sang kakak lalu berbisik pelan.
"Kak... kalau sampai Ayah dan Kakek tahu kemarin kita yang meretas akun perusahaan Ganendra Group dari rumah, bisa mati kita digantung di pohon toge sama Kakek!" bisik Zayyan menahan tawa menggelitik di dada.
Rayyan cepat-cepat menyikut lengan adiknya, matanya menyipit memberi peringatan tajam. "Ssssttt... Diam kau, Zayyan! Jangan sampai mereka tahu kalau kita yang melakukan peretasan itu. Bisa gawat nanti!"
Zayyan menyeringai lebar lalu mengacungkan kedua jempolnya. "Oke, siap Kak! Rahasia dijamin aman!"
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..